
Leana istirahat di ruang rawat inap selama tiga hari. Selama itu, banyak kenalan dan sahabat yang datang mengunjungi. Tak pernah absen mengunjungi adalah Ezra, setiap hari mendatangi ruangan itu saat istirahat makan siang. Membawakan makan siang untuk mereka semua lalu menikmatinya bersama.
Monica sangat bahagia karena bisa bertemu dengan Ezra setiap hari. Gadis itu menepis prasangka kalau Ezra sebenarnya berniat datang hanya untuk menatap Leana. Monica ingin membebaskan pikiran buruk agar tak menimbulkan masalah lagi, menepis dan menepis terus pikiran buruk yang menghasut dikepalanya.
Setiap kali timbul saat Ezra menyapa, bersikap baik, atau memuji Leana, perasaan kesal itu muncul tapi segera diatasinya agar kejadian seperti kemarin bisa terhindar. Monica tak bisa menjamin Ezra akan memaafkannya lagi dan mau menerimanya. Bagi Monica, biarlah dadanya sedikit perih daripada harus kehilangan pujaan hatinya.
"Jadi siapa nama putri cantik ini?" tanya Ezra sambil menatap bayi dalam gendongan Monica.
"Revani Putri Radian," jawab Shanty Rahayu.
"Kalau Reno?" tanya Ezra penasaran.
"Revano Radian Putra," jawab Revano spontan sambil berteriak. Semua tertawa, Ezra membelai rambut anak laki-laki tampan itu.
"Jadi semua anak Radian? Yang satu putri Radian, yang satu lagi Radian Putra lalu yang anak mama Leana yang mana?" tanya Ezra.
"Ini anak mama Leana, ini juga anak mama Leana," jawab Revano lagi.
"Tapi nggak ada namanya?" tanya Ezra balas bertanya.
"Ya aneh Om, nanti namanya jadi panjaaang," jawab Revano lengkap dengan gerakan tangannya. Kembali semua tertawa.
__ADS_1
"Itu bisa dianggap nama keluarga kami. Papanya Radian, bernama Ridwan Putra jadi semua keturunannya akan diberi nama Putra bagi laki-laki dan Putri bagi perempuan. Itu rencana Mommy, Livia setuju kan?" tanya Shanty Rahayu.
"Ya Mom," jawab Leana menyetujui karena hal itu juga pernah dibahas saat kelahiran Revano.
Hati Leana sedikit sedih karena nama ayahnya terlupakan begitu saja. Tetapi itu dulu, di saat Shanty Rahayu benar-benar ingin menghapus semua jejak Tn. Robert Chandra. Bagi Leana, nama masih bisa dipahaminya tetapi menghilangkan seluruh bekas ayahnyalah yang lebih membuat hatinya terasa pedih.
Kini di saat Leana telah kembali menguasai seluruh harta kekayaan ayahnya, tak ada lagi yang bisa melenyapkan kenangan-kenangan ayah dan ibunya. Sementara Shanty Rahayu telah menjadi ibu mertua yang dianggap sebagai ibu kandungnya.
Setelah tiga hari berlalu, Leana diizinkan pulang, saat itulah Ezra tak setiap hari lagi datang menemui. Hanya di saat Monica ada waktu dan Ezra pun punya waktu luang. Ezra mampir ke rumah kediaman Tn. Robert Chandra itu setelah makan malam berdua dengan Monica.
Semakin hari, perasaan Monica semakin terbiasa, begitu juga dengan Radian. Kedekatan Ezra dan Leana di masa lalu tak menjadi masalah lagi, hanya sesekali timbul rasa cemburu dan segera dapat diatasi. Mengingat itu Ezra mantap untuk menikahi Monica.
Di depan semua keluarga Monica. Saat berkumpul bersama di ruang tengah setelah makan malam, Ezra melamar Monica. Gadis bukannya menjawab tetapi langsung menjerit dan memeluk Leana. Semua tertawa melihat tingkah lucu Monica. Bahkan Revano pun tertawa.
"Kak Monica bukannya jawab dulu," ucap Leana mengingatkan.
Gadis itu segera melepaskan pelukannya. Dengan wajah yang merona merah, Monica segera berdiri di hadapan Ezra. Namun, tetap saja gadis itu masih memegangi dadanya yang berdebar-debar kencang. Semua kembali tertawa melihat tingkah Monica yang masih saja menoleh ke arah Leana.
"Monica!" panggil Ezra seperti tak sabar.
"Itu Kak Monic,!" tunjuk Leana.
__ADS_1
"Aku gemetar Kak Livia, padahal waktu itu juga hampir menikah–"
"Ya tapi waktu itu nggak ada acara melamar, cuma jadi pengantin pengganti," jawab Leana.
"Oh iya ya," jawab Monica.
"Masih lama diskusinya nona-nona, tanganku mulai pegal," ucap Ezra yang masih menyodorkan kotak berisi cincin kawin itu.
"Ah ya! Aku mau," jawab Monica langsung menyambar cincin itu memeluk Ezra sambil menggenggamnya. Semua terpana.
"Di pasang dulu Tante, makanya kalau nonton film yang ada melamarnya jangan tutup muka," ucap Revano.
"Lho melamar itu kan nggak seram, kenapa tutup muka juga?" tanya Ezra heran yang juga punya pengalaman menonton bersama Monica.
"Karena Tante Monica jadi ikut teriak I do gitu, penonton jadi ketawa semua. Sejak itu nggak mau lihat lamaran lagi, takut gregetan katanya," jelas Revano.
Semua kembali tertawa, Monica yang malu rahasianya dibongkar, langsung mengejar Revano. Mampir sebentar ke arah Ezra, minta dipasangkan cincin lalu kembali mengejar Revano. Saat anak itu tertangkap, tiba-tiba terdengar bunyi bel.
Monica pun langsung membukakan pintu karena mengejar Revano hingga tak jauh dari pintu masuk rumah. Dengan senyum di bibirnya, Monica membukakan pintu. Namun, raut wajahnya langsung berubah begitu melihat tamu yang datang. Senyumnya pun menghilang, Monica langsung memanggil ibunya untuk datang menemui tamu di depan pintu itu
...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...
__ADS_1