
Monica menunggui Ezra yang mengalami kecelakaan karena menolongnya. Dengan sabar gadis itu menunggu hingga akhirnya tertidur. Saat Ezra sadar, laki-laki itu justru hanya diam menatap Monica yang terlihat lelah menunggu. Ezra yang telah pegal tak bergerak agar tidur Monica tak terganggu akhirnya tak tahan lagi.
Gadis itu pun terbangun merasakan ada gerakan di atas ranjang rumah sakit itu. Mereka pun saling meminta maaf karena merasa telah menyusahkan. Ezra yang melihat Revano tertidur akhirnya tak kuasa menyimpan isi hatinya. Menyatakan rasa sukanya pada Revano, hal yang sama pun diungkapkan Monica.
"Kamu menyukainya? Aku juga menyukainya, aku sangat sayang padanya, dia tampan, lucu, cerdas dan baik dan … ahhk pokoknya aku ingin punya anak seperti dia–"
"Aku juga ingin punya anak seperti dia," ucap Ezra sambil tersenyum lalu menoleh pada Monica.
Pandangan mata mereka bertemu dan senyum itu sama-sama menghilang. Berganti dengan sikap yang sama-sama canggung. Mereka saling mengalihkan pandangan. Suasana canggung itu terjadi cukup lama hingga tiba-tiba mereka dikejutkan dengan bunyi pintu yang terbuka.
"Sayang, kamu kecelakaan? Apa yang terjadi? Kamu nggak apa-apa?"
Monica terbelalak, mulutnya menganga saat melihat Camelia yang datang memanggil Ezra dengan panggilan mesra. Monica heran bagaimana wanita itu bisa datang dan mengetahui keadaan Ezra. Monica mengingat nama kontak terakhir yang dihubungi Ezra adalah 'sayangku'. Monica mengira kalau itu adalah nama pacar baru Ezra.
Monica bingung harus menghubungi siapa, berharap satu kontak yang diberitahunya itu akan mengabarkan kondisi Ezra pada semua orang yang mengenalnya. Akan tetapi saat melihat siapa yang datang Monica langsung terkejut. Begitu juga dengan Camelia yang kaget saat Monica berteriak.
"Kamu? Jadi yang tertulis di kontak 'sayangku' itu adalah dia? Ular betina ini?"
"Monica hati-hati kalau bicara! Dia tunanganku sekarang–"
"Apa? Tunangan? Apa tak ada lagi perempuan baik-baik di dunia ini? Kenapa harus dia?"
"Monica!"
__ADS_1
"Aku nggak rela! Kalau kamu cuma mendapatkan perempuan ular seperti ini! Aku nggak rela! Dia sudah memfitnah Livia! Kakakku berpisah dengan istrinya karena ular betina ini! Dia mengambil foto pelecehan yang kamu lakukan terhadap Livia dan menyerahkan pada Kakakku seolah-olah kalian sedang berselingkuh. Aku bukan perempuan baik tapi tidak sejahat dia. Tega membiarkan seorang perempuan dilecehkan di depan mata, bukannya menolong tapi mengambil kesempatan untuk memfitnah demi merebut suami Livia–"
"Bohong! Bohong! Itu bohong!" seru Camelia membela diri.
"Terserah padamu Ezra, kamu percaya pada ucapan ular ini karena begitulah cara dia menjebak semua laki-laki bahkan menjebak Kakakku untuk menikahinya–"
"Kakakmu menikahinya tapi lalu mengabaikannya. Kakakmu berlaku tidak adil karena dia–"
"Ya benar! Kakakku tak akan pernah tertarik padanya. Dia tak tertarik untuk menyentuhnya hingga dia menjebak Kakakku. Kakakku terpaksa menikahinya karena terlanjur hamil padahal itu bukan hasil perbuatan Kaakku. Tapi hasil perbuatannya dengan seorang pelayan Night Club," tutur Monica.
"Kamu hamil? Kamu bilang Radian tidak pernah menyentuhmu. Tapi ternyata kamu hamil?" tanya Ezra.
"Nggak itu bohong! Aku nggak hamil!" sanggah Camelia.
"Entah mana yang benar dari dirimu? Di depan karyawan kantor Kakakku kamu menyatakan hamil dan minta pertanggungjawaban Kakakku hingga dia terpaksa menikahimu. Tapi akhirnya terbongkar, seorang pelayan Night Club lah yang tidur denganmu. Ezra kalau kamu tak percaya, tanyakan saja, semua saksi masih hidup. Silahkan kamu tanyakan sendiri pada mereka. Aku pulang! Aku tak tahan satu ruangan dengan biang kerok dalam rumah tangga Kakakku ini," ucap Monica langsung menggendong Revano yang masih tertidur.
Monica terkejut. Kata-kata Ezra seakan-akan masih ingin bertemu dengannya lagi. Dengan ragu-ragu gadis itu menganggukkan kepalanya.
"Baiklah! Jangan lupa bawa Reno ya!" ucap laki-laki itu sambil tersenyum.
Awalnya ada rasa bahagia di hati Monica karena Ezra masih ingin bertemu dengannya lagi. Namun, setelah Ezra menanyakan Revano akhirnya Monica tahu, yang diinginkan Ezra adalah kedatangan Revano. Dengan hati perih, gadis itu keluar dari ruang rawat inap itu.
Camelia tersenyum melihat perubahan raut wajah Monica. Wanita itu tahu Monica merasa kecewa. Dalam hati bersyukur karena ternyata Ezra tak ingin bertemu dengan Monica lagi tetapi ingin bertemu dengan keponakannya itu. Hatinya bahagia dan lega karena Monica telah menyingkir dari hadapannya.
__ADS_1
"Dia memang tak pernah suka padaku. Dari dulu selalu bersikap tak sopan padaku. Padahal aku adalah Kakak iparnya. Sekarang malah memfitnahku," ucap Camelia mengadu.
"Jadi kamu hamil atau tidak?" tanya Ezra langsung membuat Camelia terkejut.
"Katakan padaku sebelum aku tahu sendiri semua kebohonganmu," ucap Ezra tegas.
"Aku … itu … sebenarnya–"
"Cukup! Sekarang kamu pergi dari hadapanku. Jangan coba-coba muncul lagi dihadapanku. Pernikahan kita dibatalkan–"
"Apa? Nggak bisa seperti itu. Kamu dengarkan aku dulu–"
"Apa katamu? Berani sekali kamu memanggil seperti itu padaku. Aku sudah meminta penjelasan padamu tapi kamu tidak bisa menjawabnya. Jangan sampai aku bertanya hal yang lain yang membuatmu semakin sulit untuk menjawab. Berani sekali kamu datang dan menjebakku. Membuat aku menjadi ayah dari bayi yang kamu kandung? Kurang ajar! Untung saja belum terjadi. Kalau sempat aku masuk dalam jebakanmu hingga menikahimu seperti yang kamu lakukan pada Radian. Aku tak akan segan-segan mengirimmu ke penjara. Radian dan Livia cukup baik melepaskanmu. Sekarang kamu ingin memangsaku. Mulai sekarang jangan pernah menampakkan wajahmu di hadapanku atau aku akan memproses hukum penipuan yang kamu lakukan padaku!" tutur Ezra dengan sorot mata yang tajam.
Camelia ketakutan, dengan air mata yang bercucuran wanita itu mencoba mendekati dan membujuk Ezra. Namun, Ezra justru kembali meminta penjelasan yang sejujurnya pada Camelia. Wanita itu tak bisa menceritakan kejadian yang sebenarnya. Setiap kata yang diucapkannya selalu bertentangan sehingga membuat Ezra geram.
"Aku akan memberikan kompensasi atas pembatalan pernikahan kita. Sebenarnya aku tak perlu melakukan itu karena kamu menjalin hubungan denganku atas dasar kebohongan. Aku yang harusnya menuntut atas penipuanmu itu tapi aku kasihan padamu. Rencanamu gagal menjeratku. Kamu pasti sedih, karena itu terimalah kompensasi dariku dan dengan uang itu kamu sadarlah, berubahlah menjadi orang yang lebih baik. Jangan berlaku curang lagi karena jika bukan sekarang maka suatu saat tetap akan ketahuan. Dan balasannya akan lebih berat dari saat ini. Kamu bersyukurlah karena belum terjadi, aku masih bisa memaafkanmu. Aku tak sama seperti Radian. Tertipu olehmu hingga terpisah dari istri yang dicintai, kalau aku tak akan diam saja. Aku yakin semua itu karena kebaikan hati Livia hingga Radian tak lanjut memperkarakanmu. Tapi ingat! Aku bukan Radian, aku tak akan diam kalau kamu masih macan-macam. Sekarang terimalah kompensasi itu dan hiduplah dengan baik!" tutur Ezra dengan sorot mata yang tajam bahkan dengan menunjuk-nunjuk wajah Camelia.
Melihat itu Camelia tak berani lagi mencoba merayu Ezra. Hati laki-laki itu telah tertutup untuknya. Tak ada kesempatan baginya untuk mencoba mendapatkan simpati dari laki-laki yang menjadi pimpinan tertinggi di perusahaan tempat dia bekerja itu. Wanita itu akhirnya memutuskan untuk pergi.
Sepeninggalan Camelia, Ezra termenung. Mengingat kehidupannya yang berubah dalam seketika. Setelah pasrah mencoba membuka hatinya pada wanita lain. Kini harus menghadapi kenyataan dirinya yang hampir tertipu.
Terima kasih Monica. Aku beruntung bisa bertemu denganmu hingga kebohongan Camelia bisa terbongkar, batin Ezra.
__ADS_1
Lalu tersenyum menatap ke luar jendela ruang rawat inap mewah itu. Pikirannya melayang, teringat saat duduk sendiri, tersenyum melihat lucunya tingkah Monica dan Revano yang berebut popcorn. Laki-laki itu pun tertawa sendiri saat teringat Monica yang memeluknya erat setiap kali adegan mengejutkan di layar bioskop.
...~ Bersambung ~...