Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku

Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku
BAB 29 ~ Bimbang ~


__ADS_3

Leana hendak melangkah pergi setelah mengucapkan kata-kata itu. Ezra yang terpaku mendengar kata-kata itu langsung meraih lengan Leana untuk menghentikannya. Leana reflek melihat tangan Ezra yang menggenggam lengannya, merasa bingung dengan sikap laki-laki itu. Ezra hanya diam menatap wajah cantik itu dari dekat. Menatap Leana dengan lekat-lekat.


Siapa kamu sebenarnya? Berhutang maaf? Ya aku berhutang maaf pada Livia tapi tidak ada tahu tentang itu, hanya aku yang tahu tentang itu, batin Ezra.


"Apa maksudmu aku adalah orang yang suka berhutang maaf? Kenapa mengatakan kalau aku ingin menambah hutangku padamu?" tanya Ezra melunak akhirnya.


Setelah dibentak, wanita itu justru terlihat tenang menatapnya. Ezra kehilangan akal agar membuat wanita itu bicara. Semakin dibentak wanita itu semakin berani bahkan mengeluarkan kata-kata mengancam.


Melihat wajah Ezra yang terlihat gusar, Leana pun surut tak lagi menatap tajam pada laki-laki itu.


"Kamu sudah berhutang maaf karena membiarkan aku menunggu. Berhutang maaf karena menuduhku perempuan sok berani tapi aku putuskan, terserah padamu menilai aku seperti itu. Tapi sekarang yang pasti kamu berhutang maaf padaku karena kamu melanggar hakku untuk pergi dari sini. Kamu juga berhutang maaf karena berani menyentuhku tanpa seizinku."


Ezra langsung melepas genggaman tangannya.


"Maaf," ucap Ezra pelan.


Leana hanya diam, lalu melangkah pergi.


"Tunggu! Kamu tidak memaafkan aku?" tanya Ezra.


Leana melanjutkan langkahnya.


"Aku tidak mau berhutang maaf padamu," ucap Ezra menghalangi wanita itu melangkah ke pintu.


"Terlambat! Kalau sekedar berkata aku maafkan kamu apa ada gunanya? Kamu sudah mengacaukan jadwalku, aku harus pergi sekarang!" ucap Leana mendorong dada laki-laki itu minggir.


Rasanya Ezra sangat ingin menggenggam kedua tangan yang menyentuh dadanya itu. Tangan Ezra sudah siap terangkat untuk menyentuhnya tapi dengan santai wanita melepas dorongannya dan pergi. Ezra tak mau tinggal diam, laki-laki itu berjalan mengikuti.


"Baiklah aku yang akan ke kantormu. Kapan kamu bisa menyediakan waktu untukku?" tanya Ezra.


"Tanyakan pada personal assistant-ku. Atau mungkin besok aku bisa mengirim personal assistant-ku ke mari kalau kamu keberatan berurusan denganku. Aku--"


"Tidak aku ingin jadwalkan pertemuan denganmu! Jangan kirim personal assistant-mu. Pokoknya besok aku datang!" ucap Ezra.


"Kamu tahu? Aku datang ke sini karena aku pikir kamu akan sama seperti ayahmu. Dia seorang yang berhati lembut dan hangat, berbeda denganmu. Sebenarnya aku sudah malas berurusan denganmu," ucap Leana melangkah di lorong kantor yang di batasi dinding kaca di kanan dan kirinya itu.


Para karyawan memperhatikan kedua eksekutif muda yang cantik dan tampan itu. Mereka berdecak kagum melihat kedua orang yang terlihat begitu serasi.


"Wah lihatlah kedua pimpinan perusahaan itu, mereka begitu serasi. Aku tidak akan iri jika Tuan Ezra-ku memilihnya. Dia sangat pantas jadi pendampingnya," ungkap seorang karyawati yang mengintip kedua eksekutif muda itu berdebat.


"Yang satu sangat tampan, yang satu sangat cantik. Entah seperti apa anak-anak mereka nanti," timpal karyawati lain sambil tersenyum-senyum.

__ADS_1


"Sepertinya Tuan Adam juga sangat menyukai Nona itu. Apa mungkin mereka memang sudah dijodohkan oleh Tn. Adam?" sahut yang lainnya.


Semua karyawan dan karyawati di kantor itu sibuk membicarakan Ezra dan Leana. Hanya Radian yang terpaku menatap mereka. Tak ada yang peduli dengan hatinya yang terluka menatap istri dan atasannya sedang didukung semua orang untuk bersatu.


Sejak tadi laki-laki itu hanya bisa termenung membayangkan apa yang dilihatnya tadi. Radian yang ingin menemui atasannya untuk satu urusan melihat dengan mata kepalanya sendiri. Ezra menatap Leana begitu dekatnya. 


Laki-laki itu membatalkan niatnya menemui atasannya. Melangkah tertunduk kembali ke ruangannya dengan mata yang berkaca-kaca. Dengan jelas melihat Leana yang cantik akan sangat mudah membuat atasannya itu terpesona.


Radian terduduk di ruang kerjanya tanpa bisa mengerjakan apa pun. Radian telah mendengar seperti apa perasaan Ezra terhadap Livia. Mereka nyata-nyata mencintai wanita yang sama. Dan sekarang, kenyataan itu terjadi di depan matanya membuat hati Radian terasa sangat terguncang.


"Pak Radian, Bapak kenapa?" Apa Bapak sakit?" tanya seorang karyawati yang manis itu.


"Tidak apa-apa, hanya sedikit sakit kepala," jawab Radian berkilah.


"Oh, saya ambilkan obat sakit kepala Pak?" tanya karyawati itu lagi.


"Tidak usah! Nanti akan sembuh sendiri," jawab Radian lagi.


Karyawati itu seperti tidak percaya namun tak bisa berkata apa-apa lagi. Segera menyerahkan laporan yang diminta oleh personal assistant CEO itu. Radian memeriksa lembaran-lembaran kertas berisi informasi yang dibutuhkan oleh pimpinan mereka.


Sebagian besar telah sesuai dengan keinginannya namun ada beberapa bagian yang harus di revisi.


"Oh baik Pak, akan saya kerjakan segera," ucapnya sambil meraih laporan yang disodorkan Radian.


"Siapa namamu?" tanya Radian.


"Oh, saya Camellia Pak," jawab gadis itu segera.


"Baiklah Camell kalau bisa segera serahkan pada saya secepatnya. Jika Tn. Ezra menginginkannya, aku bisa serahkan segera," jelas Radian.


"Baik Pak," jawab Camellia.


Gadis itu pamit untuk kembali ke meja kerjanya. Segera mengerjakan sesuai dengan keinginan atasannya yang tampan itu.


Sementara itu, Radian kembali menatap ke arah Ezra dan Leana tadi. Namun mereka tidak terlihat lagi. Radian penasaran, sangat ingin melihat apa yang dilakukan keduanya. Laki-laki itu melangkah menuju lobby. Dan benar saja terlihat Ezra sedang menemani Leana menunggu mobilnya.


Rasa rindu Radian terhadap istrinya harus dibayar dengan rasa perih di dadanya. Melihat atasannya dan istrinya sedang tertawa bersama. Tanpa terasa Radian menitikkan air mata. Teringat masa-masa bahagia mereka yang berlalu dalam waktu yang singkat.


Leana telah pergi, Radian pun melangkah menuju ruangannya. Tak lama kemudian Ezra memanggilnya. Radian pun segera menemui atasannya itu.


Begitu Radian datang, Ezra langsung memeluknya. Radian yang separuh hatinya mengetahui penyebab kebahagiaan yang terpancar dari wajah atasannya.

__ADS_1


"Aku tidak menyangka Radian, dia begitu cantik dan menyenangkan. Awalnya aku mengabaikannya, dia protes dan anehnya ... dalam waktu singkat aku berhasil ditaklukkannya. Saat bicara dengannya, aku merasa dia seperti mengenalku, seperti begitu memahamiku. Aku merasa begitu dekat dengannya. Radian, aku rasa aku menyukainya, aku merasa dekat dengannya," tutur Ezra dengan bersemangat.


Radian hanya diam mendengar cerita atasannya itu. Sebagian besar apa yang dirasakan Ezra juga dirasakan olehnya saat pertama kali bertemu dengan Leana. Merasa ditaklukan, dikuasai lalu dengan bahagia mengikuti keinginan wanita itu.


Tuhan, apa aku sanggup menjalani ini. Atasanku nyata-nyata menyukai istriku. Apa yang harus aku lakukan? Mengungkap kenyataan yang sebenarnya bahwa yang disukainya adalah wanita yang aku cintai? Apa aku berhak berbuat seperti itu setelah meninggalkannya. Apa adil untuk Leana, jika aku menghalanginya meraih kebahagiaan baru. Tapi aku juga tak sanggup melihatnya bahagia bersama dengan Ezra. Aku--.


"Radian! Radian! Kamu kenapa? Dari tadi aku lihat kamu selalu melamun, apa yang mengganggu pikiranmu?" tanya Ezra.


"Maaf Tuan, tapi bagaimana dengan Livia? Apa Tuan ingin melupakan tujuan awal Tuan kembali ke Indonesia, adalah untuk mencarinya," ungkap Radian yang akhirnya disesalinya sendiri.


Untuk apa aku mengingatkan itu, bukankah Leana dan Livia adalah orang yang sama. Kedua nama itu tetaplah orang yang sama, wanita yang pernah mengisi hari-hariku. Wanita yang aku rindukan setiap hari, wanita yang sangat aku cintai, batin Radian.


"Radian, kamu melamun lagi. Kamu bertanya padaku tapi kamu tak peduli dengan jawabanku. Kamu sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Apa kamu ada masalah?" tanya Ezra.


"Ya Tuan, baru-baru ini aku melihat istriku--" 


"Benarkah? Lalu apa yang kamu lakukan? Apa kamu menemuinya? Kalian bersatu lagi?" tanya Ezra.


"Aku tidak sanggup menemuinya Tuan," ungkap Radian.


"Kenapa? Harusnya kamu mengakui tak bisa kehilangannya dan ingin kembali bersamanya. Kamu berhak untuk bahagia Radian, kamu harus berusaha untuk meraihnya kembali ke sisimu," ucap Ezra memberi semangat.


Benarkah? Bolehkah aku melakukan itu? Jika aku kembali bersamanya. Bagaimana denganmu? Apa kamu akan rela kehilangan gadis yang dari kecil kamu sukai? bisik hati Radian bertanya-tanya.


"Aku berencana akan mengenalkan kalian jika dia datang lagi ke kantor ini. Aku--"


"Tuan belum menjawab pertanyaanku, apa Tuan telah melupakan Livia? Tuan mengalihkan rasa suka Tuan pada Nona itu?" tanya Radian.


"Aku rasa iya, aku begitu bahagia di sisinya. Aku seperti mengenalnya, aku seperti melihat Livia di dirinya. Aku rasa aku bisa melupakan Livia melalui dirinya--"


Sama sepertiku, aku langsung tak bisa menahan rindu untuk bertemu lagi dengannya. Livia kenapa seperti ini, kenapa kamu membuat kami menyukaimu padahal kamu tahu siapa kami, batin Radian.


"Aku putuskan, besok kita makan siang bersama. Aku ingin kamu mengenal wanita yang aku sukai," ungkap Ezra.


Radian tertunduk, tak bisa menolak namun jelas-jelas tak ingin pergi.


Entah apa yang akan terjadi jika kami bertemu lagi, batin Radian.


Radian termenung seharian, bahkan hingga sampai ke rumahnya. Saat ibu dan adiknya bertanya penyebab Radian terlihat murung, laki-laki itu menceritakan pertemuannya dengan istrinya. Ibu dan adiknya berharap Radian kembali ke sisi Leana agar bisa hidup bersama kembali ke rumah mewah milik wanita kaya raya itu.


...~  Bersambung  ~...

__ADS_1


__ADS_2