Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku

Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku
BAB 31 ~ Perintah ~


__ADS_3

Radian membalik badan dan berjalan dengan tertunduk. Tak mampu lagi menatap pasangan bahagia itu. Radian telah memutuskan untuk mengikhlaskan Leana bersama Ezra. Mau tidak mau, suka tidak suka, Radian terpaksa membiarkan istrinya menjalin hubungan dengan atasannya.


Keputusannya meninggalkan Leana dan putranya memang sangat berat di pilihnya. Namun begitu banyak alasan yang membuatnya harus mengambil langkah itu. Rasa malu atas perbuatan ibu dan adiknya menuntut Radian berbuat adil pada keluarganya. Tak mungkin membiarkan orang-orang bersalah seperti ibu dan adiknya tetap hidup enak memanfaatkan kebaikan hati Livia.


Dan yang paling membuatnya harus pergi adalah tak mampu menahan kesedihannya, mendapati istri yang dicintainya, menjadikannya sebagai jembatan untuk membalaskan dendam. Radian menggagalkan pertemuan hari ini karena belum siap untuk bertemu dengan wanita yang masih dicintainya itu.


"Kita cari waktu yang lain untuk perkenalkan kamu dengannya," ucap Ezra sambil menyantap makan siangnya.


"Kenapa begitu ingin aku berkenalan dengannya?" tanya Leana.


Ezra tercenung, sejujurnya laki-laki itu merasa tak mampu untuk menjawabnya. Apa yang menjadi alasannya begitu ingin mengenalkan Leana dan Radian, dia sendiri tak tahu jawabannya.


"Mungkin … karena aku merasa dekat dengannya. Dia datang padaku, membuatku merasa nyaman bicara dengannya. Aku … entah kenapa bisa leluasa menumpahkan isi hatiku padanya. Aku merasa mirip dengannya, sama-sama menderita karena seorang gadis. Aku pikir … aku ingin menunjukkan padanya kalau aku bisa bahagia sekarang," jelas Ezra.


"Kenapa? Apa yang membuatmu bahagia?" tanya Leana.


"Kamu,"


"Apa?" 


"Kehadiranmu dalam hidupku membuat segalanya terasa berbeda. Aku merasa lebih bahagia," ungkap Ezra.


"Aneh sekali! Aku tidak melakukan apa-apa padamu. Kita melakukan kontrak kerjasama perusahaan itu juga saling menguntungkan satu sama lain. Kenapa aku merasa biasa saja tapi kamu merasa bahagia?" tanya Leana.


"Leana ... aku rasa ... aku menyukaimu--"


"Terima kasih, aku juga menyukaimu," jawab Leana begitu ringan.


Leana menjawab dengan begitu mudah membuat Ezra merasa ungkapan perasaannya tak dihargai. Ezra meraih tangan Leana dan menggenggamnya, Leana tercenung menatap tangannya yang masih digenggam Ezra. Wanita itu mengangkat wajahnya menatap laki-laki yang juga sedang menatapnya itu.


Leana mencoba menarik tangannya namun Ezra tetap menggenggam jemari wanita itu. Leana merasa heran dengan sikap Ezra.


"Kenapa Tuan Ezra?" tanya Leana heran.


"Kenapa? Aku sedang mengungkapkan perasaanku. Kenapa kamu tidak peduli? Kenapa menganggap enteng ungkapan perasaanku ini?" tanya Ezra.


"Aku sudah membalas ucapanmu," ucap Leana.


"Kamu tahu bukan itu maksudku," ucap Ezra dengan serius menatap tajam ke arah Leana.


"Aku tidak ingin salah paham," ucap Leana.

__ADS_1


"Baiklah aku jelaskan dengan sejelas-jelasnya. Aku menyukaimu, rasa sukaku adalah rasa suka seorang pria terhadap seorang wanita. Aku yakin kamu mengerti sekarang," ungkap Ezra.


"Aku tidak bisa seperti itu, aku … sudah menikah," ungkap Leana.


"Apa? Tidak mungkin? Semuda ini?" tanya Ezra.


Leana tak menjawab, hanya menoleh ke jari tangannya yang digenggam Ezra. Reflek laki-laki itu mengangkat jemari Leana. Terlihat cincin pernikahan yang terselip di jari manis wanita itu.


"Aku tak percaya! Kamu pasti sengaja mengenakan cincin ini untuk mengelabui laki-laki yang ingin mendekatimu," ucap Ezra sambil menggelengkan kepalanya.


"Itu sungguh-sungguh, aku tidak bohong!" seru Leana.


"Baiklah! Kalau begitu kenalkan aku padanya," pinta Ezra.


"Tidak bisa!" tegas Leana.


"Kenapa? Karena dia sebenarnya tidak ada, bukan? Katakan padaku, kalau sebenarnya kamu belum bersuami," ucap Ezra dengan wajah tegang.


"Dia ada, tapi tidak bersamaku," ucap Leana pelan


"Kenapa? Kalian bercerai?" tanya Ezra.


"Tidak, dia meninggalkan aku. Tapi kami tidak bercerai, kami hanya berpisah," ungkap Leana.


"Aku akan menunggumu--"


"Tidak perlu, aku tidak akan bisa menerimamu," ucap Leana.


"Kenapa?" 


"Aku mencintai suamiku," ucap Leana.


"Suami yang telah meninggalkanmu? Kamu tetap mencintai laki-laki yang telah meninggalkanmu? Kenapa? Mungkin saja saat ini dia sudah bahagia bersama wanita lain," ucap Ezra.


"Aku tidak tahu, tapi yang jelas saat ini aku masih mencintainya," ucap Leana sambil menghela napas berat.


"Tetap mencintai laki-laki yang telah meninggalkanmu? Bodoh! Kamu wanita bodoh!" ucap Ezra lalu memalingkan wajahnya.


"Ya, aku memang bodoh, tapi tidak apa-apa! Jika kamu menilai aku seperti itu. Kamu tidak tahu apa-apa tentang aku. Aku tidaklah seperti apa yang kamu lihat. Jika kamu tahu siapa aku. Mungkin kamu akan sama seperti suamiku. Pergi meninggalkan aku," ucap Leana memalingkan wajahnya menyembunyikan kesedihannya.


"Bodoh! Tetap setia pada laki-laki yang telah meninggalkanmu. Kamu wanita bodoh! Dan satu lagi, aku tidak sama seperti suamimu. Aku memang tidak tahu apa-apa tentang dirimu karena kita memang baru saling kenal. Tapi aku tidak peduli ... seperti apa pun dirimu, aku tidak akan meninggalkanmu, apa pun sebabnya. Aku tidak akan meninggalkanmu," ungkap Ezra kesal.

__ADS_1


Kamu bodoh tapi aku yang lebih bodoh lagi, setelah mendengar ini aku masih saja tetap menyukaimu. Meski aku tahu kamu telah menikah tapi aku tetap menyukaimu. Apa yang tejadi padaku? Apa karena aku tidak ingin kehilangan untuk kedua kalinya? Aku tidak peduli Leana, jika dia tidak lagi bersamamu, aku akan menunggumu, hingga ada keputusan mengenai status pernikahan kalian, batin Ezra lalu menunduk.


"Aku akan menunggumu," ucap Ezra pelan hampir tak mendengar.


Kak, jangan menungguku! Aku tidak bisa menerimamu. Aku mencintai suamiku, aku tidak bisa berpaling darinya. Aku akan menunggunya, aku akan tetap menunggunya kembali," batin Leana.


Ezra meriah jemari Leana, wanita itu menatap heran pada apa yang dilakukan Ezra. Laki-laki itu mengusap cincin yang melingkar di jari manis Leana.


"Akan menyelipkan cincin milikku suatu saat nanti," ucap Ezra lalu menatap mata Leana.


Wanita itu hanya menunduk, menolak pun tak ada gunanya. Ezra hanya mengungkapkan apa yang menjadi haknya. Melarang Ezra menyukainya tentu tak bisa dilakukan Leana tapi setidaknya wanita itu mencoba mengingatkannya.


"Jangan menungguku Kak, aku tidak bisa menerimamu," ungkap Leana.


Ezra terkejut dengan panggilan yang terasa begitu akrab baginya. Tapi dari nada suara itu terselip rasa sedih saat mendengarnya, merasakan sesuatu yang tak bisa diucapkan dengan kata-kata. Hatinya bergetar, Ezra merasa bahagia bercampur sedih mendengar ucapan Leana. Seperti mendengar kembali sesuatu yang telah lama dirindukannya.


Mendengar itu Ezra bertekad untuk bertahan. Ezra merasakan sesuatu yang dirindukannya semakin terasa dekat. Ezra bertekad tak akan tunduk pada permintaan Leana karena Ezra bukanlah orang yang bisa tunduk dalam masalah hati. Ezra tidak akan bertahan di New York seorang diri jika hatinya tidak terluka. Ezra bukan orang yang mudah melupakan begitu saja apa yang dirasakan. Ezra adalah tipe laki-laki yang berusaha mengejar cintanya.


"Tidak apa-apa, aku akan menunggumu. Aku akan menunggu suamimu melepaskanmu. Aku akan menunggu hingga kamu menerimaku," ucap Ezra dan menarik tangan Leana.


Laki-laki itu mengecup buku jari wanita cantik itu kemudian tersenyum. Untuk sementara waktu laki-laki itu tak peduli dengan kegagalannya meraih cinta Leana. Yang ingin dilakukannya sekarang hanyalah mengisi hari mereka dengan kenangan manis dan berusaha untuk meraih cinta wanita yang ada dihadapannya itu.


Keesokan harinya, Ezra memanggil Radian ke ruangannya. Radian mengira dirinya akan ditegur karena tak bisa memenuhi permintaan Ezra untuk berkenalan dan makan siang bersama dengan Leana. Tapi tidak sesuai dengan yang dipikirkannya, Ezra bukannya menegur Radian tapi justru mencurahkan isi hatinya.


"Radian, ternyata dia sudah menikah. Dia masih terikat pernikahan. Suaminya meninggalkannya begitu saja, dia ditinggalkan tanpa kepastian. Tega sekali bukan? Membuat wanita cantik sepertinya harus hidup sendiri, tak bisa memulai hidup baru. Tak bisa merasakan kebahagiaan hidup bersama laki-laki lain. Suaminya benar-benar jahat, jika tak menginginkannya lagi. Harusnya menceraikannya--"


"Cerai?" Kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulut Radian.


Tidak, aku tidak sanggup menceraikannya. Aku tidak akan bisa mengucapkan kata-kata itu padanya. Aku mencintainya, aku sangat mencintainya bagaimana aku bisa menceraikannya. Tidak Ezra, aku tidak melakukan itu. Aku tidak bisa! Aku tidak bisa! batin Radian.


"Radian aku butuh bantuanmu. Bantu aku mencari suaminya dan bantu aku untuk mendapatkan pernyataan cerai darinya," ucap Ezra.


"Apa? Tidak mungkin Tuan, aku sama sekali tak mampu mengerjakan hal seperti itu. Aku sendiri … kehidupan rumah tanggaku sendiri tak berjalan dengan lancar. Bagaimana mungkin aku mengerjakan tugas seperti itu. Berikan tugas yang lain padaku, aku akan mengerjakan dengan sepenuh hati tapi tolong jangan berikan tugas seperti ini Tuan. Aku tidak mampu," ucap Radian memohon.


Bagaimana aku mencari diriku sendiri, bagaimana aku akan mengungkapkannya? Tuan ternyata suaminya adalah aku. Aku tak bisa menceraikannya Tuan karena aku sangat mencintainya, aku tak ingin dia bersamamu. Aku tak suka dia berada di dekatmu. Aku benci padamu yang mencoba mendekati istriku, batin Radian.


"Kalau begitu temui Leana, gantikan aku untuk pertemuan besok. Lakukan tugasmu ini dengan sebaik-baiknya baik! Silahkan Radian!" ucap Ezra dengan raut wajah yang kecewa karena Radian menolak permintaannya untuk membantu mencari jati diri suami Leana.


Kata-kata terakhir Ezra menunjukkan laki-laki itu ingin Radian segera meninggalkan ruangan itu. Radian merasakan kekecewaan yang dalam dari nada suara atasannya itu. Sangat kecewa karena orang yang diandalkannya menolak untuk membantunya mengatasi masalah urusan pribadinya. Hingga mencari cara lain untuk membuat laki-laki itu bertemu dengan Leana.


Radian terkejut, karena tugas yang tadi maupun tugas yang sekarang adalah sama beratnya. Untuk menolak kedua kalinya dia pun tak berani. Ezra pasti murka, jika Radian kembali menolak menjalankan tugas darinya kali ini.

__ADS_1


Radian keluar dari ruangan itu dengan wajah tertunduk dan perasan yang berat karena sekarang dia harus bertemu dengan Leana, istrinya yang dicintainya namun telah ditinggalkannya.


...~  Bersambung  ~...


__ADS_2