Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku

Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku
BAB 34 ~ Pergilah ~


__ADS_3

Ezra berdiri di balkon sambil menatap langit gelap. Radian menghampirinya setelah menatap wajah istrinya dengan perasaan rindu yang sangat dalam. Radian berdiri di samping Ezra dengan pikiran yang hampa. Hanya ingin diam menatap lurus ke depan namun tiba-tiba Ezra bicara. Sebuah pertanyaan yang justru membuatnya dilema.


"Ada hubungan apa antara kamu dan Leana?"


Radian terkejut setengah mati, sebuah pertanyaan yang tak disangka-sangka. Radian ingin menutupi hubungannya dengan Leana sejak mendengar cerita Ezra tentang cinta masa kecilnya.


"Kamu menolak tugas yang aku berikan padamu. Kamu juga tidak hadir saat aku ingin memperkenalkanmu dengan Leana dan kemarin kamu juga berbohong padaku," ucap Ezra.


Radian terkejut, sontak menatap wajah laki-laki yang menjadi atasannya itu. Radian berpikir kebohongan mana yang telah diketahui Ezra, pikirannya langsung kalut. Radian hanya bisa tertunduk tak mampu membalas tatapan laki-laki dihadapannya itu.


"Kamu pikir aku tidak tahu, kalau kemarin kamu tidak menemui Leana? Aku tahu Leana pergi ke Kuala Lumpur. Saat kamu pamit ke perusahaan itu, aku hanya berpikir apa yang akan kamu lakukan nantinya," ucap Ezra lalu menoleh ke arah Radian.


Radian tertunduk, laki-laki itu merasa bersalah. Teringat ekspresi wajah Ezra yang begitu dingin saat Radian menyodorkan berkas yang ingin dibawanya ke perusahaan Leana. Ezra yang biasanya bersikap hangat padanya hari itu sama sekali tidak memandangnya.


Radian merasakan itu, merasakan sikap dingin atasannya itu namun tak menyangka semua itu karena Ezra telah mengetahui niatnya yang hanya berpura-pura datang ke perusahaan Leana. Radian pasrah, tidak tahu apa yang harus dilakukannnya untuk menjawab ucapan atasannya.


"Aku tahu kamu orang baik, aku tidak tahu kenapa kamu berbohong padaku," ucap Ezra lagi.


Radian semakin tertunduk seperti seseorang yang ketahuan mencuri. Hanya bisa pasrah menanti hukuman. Terbayang di masa yang akan datang dia harus mencari pekerjaan lain karena telah dipecat dengan tidak hormat dari perusahaan ini. Dan paling membuatnya menyesal adalah kesempatan yang diberikan Tn. Adam padanya dibalas dengan perbuatannya yang tidak pantas.


"Katakan padaku! Apa hubungan kalian? Apakah Leana adalah wanita yang pernah kamu ceritakan padaku? Yang menikahimu demi balas dendamnya?" tanya Ezra.


Radian kaget bukan main, tubuhnya langsung bergetar, matanya terasa panas. Tak menyangka wanita yang pernah diceritakannya pada Ezra muncul di hadapan mereka. Dan kenyataannya Ezra pun menyukainya. Radian bingung ingin menjawab apa, hingga akhirnya pasrah ingin berkata jujur.


"Dia … dia me--"


"Kak!" 


"YA" jawab Ezra dan Radian serentak.


Begitu mendengar suara dari dalam, kedua laki-laki itu langsung menjawab. Ezra memandang Radian dengan raut wajah heran. Radian menjawab panggilan itu seolah-olah panggilan itu untuknya. Radian reflek menjawab karena Leana memang terbiasa memanggilnya seperti itu.


Begitu sadar Ezra langsung masuk ke dalam menemui Leana. Radian hanya bisa mengikuti dari belakang. Leana terlihat hendak duduk, Ezra segera melarangnya. Meminta wanita itu untuk tetap beristirahat.

__ADS_1


"Kak, kenapa aku ada di sini, sebaiknya aku pulang," ucap Leana pada Ezra.


"Jangan Leana tubuhmu masih lemah, kamu belum boleh pulang," jawab Ezra.


Leana menoleh pada Radian yang berdiri di belakang Ezra. Lalu kembali beralih menatap Ezra.


"Tapi aku mau pulang Kak, aku akan istirahat di rumah. Aku tidak mau di sini sendirian," ucap Leana.


"Jangan khawatir, aku akan menemanimu di sini--"


"Tapi …"


"Leana, aku juga telah memberitahu tentang keadaanmu pada personal assistant-mu. Sekarang aku yang bertanggung jawab menjagamu. Jangan khawatirkan apa pun, aku selalu ada di sisimu," jawab Ezra sambil menggenggam tangan wanita itu.


Radian tertunduk, dengan wajah sedih. Jika tak peduli dengan kesopanan dia mungkin telah pergi begitu saja meninggalkan mereka tanpa berkata apa-apa. Namun kedua orang di hadapannya itu adalah para atasan yang dihormatinya. Meski harus menggigit bibir dan mengepalkan tangannya agar lebih kuat menatap pemandangan di hadapannya.


Istrinya tak lagi mau menoleh padanya. Leana sudah menganggapnya tak ada. Ezra sibuk menghibur Leana, mengambilkan minum untuk wanita yang dicintainya. Menepis helaian rambut yang menutupi sebagian wajahnya dan menyelipkannya di belakang telinga sambil tersenyum.


Ezra lupa pada Radian yang masih berdiri di belakangnya. Saat laki-laki itu ingin mengecup telapak tangan Leana. Wanita itu reflek menarik tangannya dan menoleh pada Radian. Saat itulah Ezra teringat pada laki-laki itu. Ezra menoleh ke belakang, dengan jelas melihat raut sedih di wajah laki-laki itu.


Radian tak sanggup menatap Leana yang begitu dimanjakan oleh Ezra. Perlakuan lembut laki-laki itu terhadap istrinya seperti pisau yang menghujam tepat di hatinya. Namun, saat laki-laki itu menyuruhnya pergi, Radian justru merasa lebih tak rela. Menatap pemandangan yang membuat dadanya terasa perih itu lebih dipilihnya dibandingkan disuruh pergi menjauh.


Radian melangkah ke luar dari rumah sakit dengan tatapan kosong. Terbayang wajah Leana yang tak mau lagi menatap ke arahnya. Tiba-tiba langkahnya terhenti, Radian jatuh berlutut. Kakinya tak sanggup menahan bobot tubuhnya. Dengan sebelah tangannya bertumpu di trotoar yang hanya di terangi lampu jalan, Radian menangis terisak.


Penyesalan, penyesalan atas apa yang dilakukannya. Rasa tak berani menghadapi kenyataan Leana menikahinya karena balas dendam. Membuat laki-laki itu merasa menyesal karena tak mampu menahan diri untuk pergi.


Di sebuah halte tak jauh dari rumah sakit, Radian duduk di bangku kosong itu seorang diri. Teringat kembali masa-masa pertemuan dengan Leana. Hingga akhirnya mereka menikah, semua hal yang mengingatkannya pada Livia kembali terulang dalam ingatannya hingga masa bahagia mereka setelah menikah.


Benarkah Leana? Tuluskah kamu menikah denganku? Tuluskah kamu mencintaiku, aku sangat ingin percaya itu Livia. Aku sangat ingin percaya aku tak masuk dalam rencana balas dendammu, jerit hati Radian menangis.


Laki-laki itu tak kunjung pergi dari tempat itu, hanya bisa termenung dengan sesekali menghapus air matanya. Hingga akhirnya di pertengahan malam Radian memutuskan untuk kembali ke rumah sakit. Suasana di rumah sakit telah sunyi, Radian berdiri menatap ke dalam melalui lobang kaca di pintu rawat inap itu.


Ezra tak terlihat lagi, Radian masuk ke ruang rawat inap Leana. Menatap wajah wanita yang dicintainya itu sedang tertidur. Radian tak tahan ingin mendekati istrinya. Laki-laki itu langsung mencium kening istrinya dengan air mata yang masih mengalir.

__ADS_1


"Kenapa Livia? Kenapa kita jadi seperti ini? Kenapa hidup kita jadi seperti ini?" tanya Radian berbisik.


Laki-laki itu tak sanggup menjauh dari istrinya, menyatukan kening dengan kening Leana hingga air matanya menetes di pipi wanita itu membuat Leana terbangun.


"Kenapa kita jadi seperti Livia? Kenapa hidup kita jadi seperti ini Livia? Kenapa?" tanya Radian tak mampu menahan kesedihannya saat mengingat Leana yang tak mau lagi menatap wajahnya.


"Bukankah ini yang Kakak inginkan?" tanya Leana pelan.


Radian kaget, langsung mundur menatap wanita yang dicintainya itu. Tak menyangka wanita itu terbangun olehnya.


"Apa?" tanya Radian yang tak yakin dengan pertanyaan Leana.


"Kehidupan seperti ini yang Kakak inginkan. Aku meminta Kakak jangan pergi, tapi Kakak tetap pergi. Sekarang Kakak sudah punya pacar baru. Kenapa bertanya padaku, hidup kita jadi seperti ini?" tanya Leana dengan mata yang berkaca-kaca.


"Livia!" ungkap Radian.


"Ya! Aku Livia, gadis buruk rupa yang sangat Kakak benci. Begitu mengetahui aku adalah Livia, Kakak langsung ingin meninggalkan aku. Kakak sudah tahu sejak dulu, jika tidak ada Revano, aku yakin sejak dulu Kakak sudah meninggalkan aku," ungkap Leana.


"Itu tidak benar Livia--"


"Pergilah! Pergi! Kejarlah pacar Kakak yang masih muda dan sangat manis itu. Jangan temui aku lagi, jangan mengenal aku lagi--"


"Livia--"


"Pergi! Pergilah!" ucap Leana sambil menutup wajahnya.


"Livia aku tidak seperti itu, aku tidak membencimu. Kamu salah Livia! Aku tidak pernah membencimu," ucap Radian menggenggam tangan Leana.


"Pergilah! Apa pun yang aku lakukan tak artinya bagi Kakak. Meski aku harus hidup sekian lama dengan orang yang membenciku, aku lakukan semua itu demi Kakak. Tapi apa yang aku dapatkan, begitu semuanya terbongkar dalam hitungan menit Kakak memutuskan pergi meninggalkan aku. Pergilah ... pergilah! M laemang beginilah kehidupan kita sekarang. Semua itu adalah keputusan Kakak sendiri. Aku bahagia hari ini kita bisa bicara hingga aku bisa menyampaikan isi hatiku. Aku tidak bisa memaksa Kakak tetap mencintaiku, aku tahu sejak awal Kakak tidak pernah mencintaiku. Kakak mencinta Leana yang sempurna bukan Livia," ungkap Leana.


"Livia dengarkan aku! Aku--"


"Maaf Tuan, sebaiknya pasien dibiarkan istirahat," ucap seorang perawat tiba-tiba datang menegur Radian.

__ADS_1


Laki-laki itu terdiam, Radian menatap istrinya yang memalingkan wajahnya. Meski tak rela tapi Radian terpaksa memutuskan untuk pulang. Berharap suatu saat bisa bertemu Leana kembali untuk menjelaskan seperti apa perasaanya yang sesungguhnya pada wanita yang dicintainya itu.


...~  Bersambung  ~...


__ADS_2