
Radian memeluk Leana dari belakang dan memanggil Leana dengan nama Livia. Mata Leana yang terpejam langsung terbuka lebar bahkan membulat. Leana yakin Radian telah mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya. Leana pun semakin ketakutan hingga tubuhnya gemetar. Ketakutan yang amat sangat mengingat kehancuran rumah tangganya yang semakin dekat di depan matanya.
"Apa? Kenapa Kakak memanggilku dengan nama itu?" tanya Leana berpura-pura tak mengerti.
"Aku tidak memanggilmu dengan nama itu, aku hanya teringat padanya. Apa kamu tahu? Dia sebenarnya sangat manis namun wajahnya rusak karena sebuah kecelakaan," jelas Radian.
"Apa? Tidak! Aku aku tidak tahu," ucap Leana bersikeras mempertahankan dirinya.
"Ya, tentu saja kamu tidak tahu. Kamu adalah orang yang baru bagiku sementara Livia telah lama meninggal," jawab Radian.
Leana semakin panik menunggu apa yang akan diucapkan suaminya. Radian seperti sedang menghubung-hubungkannya dengan Livia. Leana merasa takut jika Radian tahu dia adalah Livia maka suaminya itu akan membencinya.
Tanpa Leana sadari, hal itu tak masalah bagi Radian. Laki-laki itu justru seperti mendapatkan kembali cintanya yang telah hilang. Radian membalik tubuh Leana ke hadapannya, dengan cepat Radian membenamkan bibirnya ke bibir wanita cantik itu.
Leana tentu kaget, dalam hatinya semakin yakin kalau Radian belum mengetahui siapa dia sebenarnya. Leana membalas ciuman yang menggebu dari Radian. Menggebu-gebu seperti sebuah ciuman yang telah tertahan sekian lama. Leana membalasnya, Radian begitu menikmatinya.
Livia, ternyata dibalik wajah Leana ada kamu di sana. Ternyata tubuh yang aku peluk selama ini adalah tubuhmu. Aku … aku pikir … aku telah jatuh cinta pada wanita lain. Ternyata aku kembali jatuh cinta padamu. Aku bahagia Livia, ini keajaiban, keajaiban kamu bisa kembali ke hadapanku meski dengan wajah yang berbeda, batin Radian.
Dengan ciuman yang semakin memburu membuat Leana sendiri merasa heran. Wanita itu semakin yakin bahwa suaminya belum mendapatkan informasi tentang dirinya.
Radian masih terus menciumi Leana dari mulut hingga beralih ke lehernya. Jika saja Leana tidak habis melahirkan, Radian ingin menciumi seluruh tubuh wanita yang sangat dirindukannya itu. Radian melepas ciuman yang membuat napasnya tersengal-sengal lalu menatap wajah Leana.
"Aku mencintaimu," ucap Radian menatap lurus ke mata Leana.
Di balik wajah ini, mata itu tetaplah mata Livia, lidahnya tetaplah lidah Livia. Rasanya aku tidak percaya selama ini aku menikmatinya, menyesap dan bermain dengan lidah Livia. Terima kasih sudah kembali padaku, sayang, batin Radian.
Leana merasa heran. Namun tak menemukan jawabannya. Leana yang mendapatkan laporan dari Nesya mulai memperhatikan gerak-gerik suaminya. Namun tak terlihat perubahan apa pun. Radian tetap menyayanginya bahkan justru terlihat semakin menyayanginya. Tatapan mata Radian justru semakin lembut padanya.
Sejak kapan kamu menyukaiku? Apa saat kita masih bersama? Atau merindukanku setelah berpisah denganku? Batin Radian bertanya-tanya.
Namun tentu tak mendapatkan jawabannya. Hati Radian yang berbunga-bunga mengabaikannya. Laki-laki itu hanya memikirkan masa lalu dan bukan masa depan. Sejak kapan Livia mulai menyukainya bukan kenapa Livia menyukainya. Sejak kapan Livia menginginkannya bukan untuk apa Livia menginginkannya. Semua itu seperti untuk menutupi alasan kenapa Livia kembali mendatanginya.
Kebahagiaan Radian karena wanita yang dicintainya di masa lalu telah kembali padanya hanya sebentar dirasakannya. Saat Radian kembali bertemu dengan personal assistant-nya, Radian mendapati kenyataan yang justru membuat hatinya hancur.
"Maaf Tuan Radian, apa tidak terpikirkan oleh Tuan kalau Livia kembali untuk membalas dendam?" tanya Syasko.
Radian terkejut, karena bahagia bisa bertemu lagi dengan wanita yang dicintainya. Radian lupa apa yang menjadi tujuan Leana mendekatinya hingga akhirnya mereka menikah.
Apa cinta ini hanya sebuah kepalsuan? Apa kamu hanya berpura-pura mencintaiku? batin Radian sambil menunduk meneteskan air mata.
Sementara itu, Nesya yang berhasil mendekati Syasko akhirnya mengetahui dari Personal Assistant itu kalau Radian telah mengetahui bahwa Leana adalah Livia.
__ADS_1
"Bagaimana cara kamu mengetahui semua itu?" tanya Leana heran.
"Aku mendekati personal assistant Tuan Radian. Sementara dia tidak mengenaliku sebagai personal assistant Nona Leana. Kami berpacaran, hingga dia semakin terbuka padaku. Berkat rayuanku, dia menceritakan semua informasi yang dia dapatkan," jelas Nesya.
"Apa? Kamu hingga seperti itu? Kamu bermain-main dengan perasaan Nesya. Itu tak baik bagimu," ucap Leana menasehati.
"Aku mengerti Nona, tapi … aku ingin melakukan apa pun untuk membantu Nona. Mengenai perasaanku jangan dipikirkan aku bisa mengatasinya," ucap Nesya sambil tersenyum menunduk.
"Tidak bisa Nesya kamu berpura-pura menyukai seseorang demi mendapatkan informasi itu hal yang berat. Lalu bagaimana dengan perasaan orang itu, berarti kamu hanya mempermainkannya. Jika dia tahu, dia akan sangat membencimu," ucap Leana mengkhawatirkan orang kepercayaannya itu.
"Awalnya aku mendekatinya hanya untuk mendapatkan informasi itu tapi ... setelah dijalani aku benar-benar menyukainya. Jika suatu saat dia mengetahui aku mendekatinya untuk mendapatkan informasi itu, aku akan pasrah jika dia membenciku," ucap Nesya sambil tersenyum simpul.
Gadis itu menyadari konsekuensi berhubungan dengan tujuan tertentu dibaliknya.
"Nesya," ucap Leana prihatin lalu memeluk gadis itu.
"Kita ini hampir sama Nona, mendekati seseorang untuk suatu tujuan namun dibalik semua itu sebenarnya kita sungguh-sungguh tulus mencintai orang itu," ucap Nesya yang masih dalam pelukan Leana.
Ucapan gadis itu membekas di hati Leana. Wanita itu membenarkan ucapan Nesya. Mereka memang sama, karena itu Leana justru merasa khawatir pada gadis itu karena dia sendiri juga merasakan kekhawatiran, jika semuanya terbongkar maka cinta mereka pun akan kandas.
Sementara itu, setelah diingatkan Syasko tentang tujuan Livia mendekatinya, hati Radian terasa hancur. Laki-laki itu merasa ditipu dan dimanfaatkan demi ambisi Livia yang ingin merebut kembali harta milik ayahnya. Namun begitu, hatinya tak cukup kuat untuk membongkar ambisi Livia. Laki-laki itu memilih untuk menepis rasa perih dihatinya dan bertindak seolah-olah tidak mengetahui tujuan wanita itu mendekatinya.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, Radian bertahan menyembunyikan bahwa dia telah tahu siapa Leana dan tujuan Leana mendekatinya. Setiap kali menatap Leana, Radian selalu lupa tentang dendam Livia yang ingin merebut kembali semua harta miliknya, dia hanya ingin hidup bersama dengan wanita yang dicintainya itu. Hanya ingin hidup bahagia bersamanya.
Leana membalik badan dan menatap suaminya yang baru pulang dari kantor. Pelukan dan ciuman hangat selalu hadir, seolah-olah merasa itu adalah pelukan dan ciuman terakhir bagi mereka. Setiap saat melepaskan hasrat seolah-olah itu kesempatan terakhir bagi mereka untuk melampiaskan rasa cinta menggebu mereka. Setelah bercinta mereka akan termenung, memikirkan entah sampai kapan masa bertahan seperti ini bisa berlanjut.
Radian meraih selimut untuk menutupi tubuh polos istrinya lalu memeluk wanita yang dicintainya itu.
"Sayang, kamu pernah bilang kalau keluarga tirimu berniat membunuhmu. Apa yang mereka lakukan?" tanya Radian dengan suara yang sangat pelan.
Leana kaget usapan di punggung Radian pun terhenti. Leana tak menyangka mendapat pertanyaan seperti itu. Namun tak bisa berpura-pura tidur atau tidak mendengarkannya.
"Mereka mendorongku hingga jatuh ke jurang," jawab Leana pelan.
"Mereka kejam sekali, apa kamu membenci keluarga tirimu itu?" tanya Radian lagi.
Tidak semua, aku justru mencintaimu, batin Leana.
"Kamu tak menjawabnya, aku anggap jawabannya adalah iya," ucap Radian lalu menghela napas berat sambil memejamkan matanya.
Laki-laki itu mempererat pelukannya, Leana pun tenggelam dalam pelukan laki-laki yang dicintainya itu. Mereka tertidur setelah merasa bersyukur karena hingga malam menjelang mereka masih bisa bersama.
__ADS_1
Seperti biasa, pagi itu mereka sarapan bersama, Leana yang telah kembali bekerja pun bersiap-siap untuk ke kantor.
"Kak Leana ternyata baik-baik saja, tidak terjadi kelumpuhan. Kenapa tidak mengembalikan saham kami," ucap Monica yang langsung membuat Leana dan Radian terkejut.
"Apa kamu terbiasa meminta kembali apa yang sudah kamu beri?" tanya Leana.
"Bukan begitu, Kak Leana meminta saham itu karena Kak Leana takut hidup miskin karena lumpuh tapi kenyataannya sekarang, Kakak justru bertambah kaya," ucap Monica.
Sekian lama akhirnya gadis itu protes berkat hasutan ibunya.
"Monica, apa-apaan kamu, ini?" tanya Radian dengan nada keras.
"Masalahnya kami sudah tidak punya apa-apa lagi," gerutu Shanty menambahkan.
Monica ditegur Radian sementara ibunya juga ikut mengeluhkan. Membuat Monica semakin merasa kesal, Radian sebagai Kakak bukannya membela adik dan ibunya tapi justru membela istrinya. Membuat Monica tak berpikir lagi apa yang diucapkannya.
"Sebenarnya tujuan Kak Leana menikah dengan Kak Radian dan masuk ke dalam keluarga kami ini apa? Hanya untuk menguasai harta kami 'kan? Apa kekayaan yang kamu miliki sekarang ini masih belum cukup hingga ingin menguasai seluruh harta kami," tuduh Monica dengan suara keras.
"CUKUP MONICA!" bentak Radian.
Monica dan yang lainnya kaget. Leana menoleh pada Radian yang duduk di sampingnya.
"Apa kamu tidak sadar? Apa kamu lupa, apa yang kalian lakukan padanya? Justru kalianlah yang ingin merebut seluruh hartanya," jawab Radian.
Shanty dan Monica saling pandang tak mengerti sementara Leana sekarang menyadari kalau suaminya benar-benar telah mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.
"Aku bertahan menutupi selama ini karena kalian bersikap baik padanya. Tapi sekarang, kalian terus mendesak dan menyalahkannya, terpaksa aku mengungkapkan semua ini. Agar kalian sadar diri atas perbuatan kalian yang tidak manusiawi," bentak Radian.
"Kak?" tanya Leana yang tak ingin Radian meneruskannya.
"Apa kalian tahu siapa dia? Dia adalah pewaris sah seluruh harta kekayaan milik Tn. Robert Chandra. Dia adalah Livia yang kalian bunuh dengan mendorongnya ke dalam jurang!" bentak Radian yang tak bisa menahan diri lagi bahkan hingga berdiri dari kursinya.
Shanty dan Monica kaget luar biasa sementara Leana menggelengkan kepalanya memohon agar Radian berhenti membongkar rahasianya.
"Semuanya sudah terungkap Livia, kamu ingin Mommy dan Monica terus menghujatmu sebagai orang yang ingin menguasai harta mereka? Kamu tidak tahu kalau selama ini dibelakangmu mereka menuduhmu sebagai orang serakah yang ingin menguasai harta mereka. Aku tidak bisa lagi menahannya. Membayangkan perbuatan mereka terhadapmu, kamu pikir aku bisa melupakannya begitu saja?" tanya Radian.
Menikmati tubuhmu dengan melupakan apa yang keluargaku lakukan padamu, kamu pikir itu mudah? Kamu mendekatiku, memanfaatkanku untuk merebut kembali semuanya hartamu, apa menurutmu itu tidak sulit bagiku? Itu adalah kenyataan pahit, wanita yang aku cintai hanya berpura-pura mencintaiku demi ambisi balas dendamnya. Selama ini aku hanya menutup mata, telinga dan hatiku, demi bisa bertahan bersamamu, batin Radian menangis.
"Aku … akan menyerahkan seluruh sahamku padamu dan dalam waktu singkat aku akan melayangkan surat pengunduran diriku dari perusahaan ayahmu, aku pergi Livia," ucap Radian akhirnya meninggalkan meja makan mewah itu.
Leana tercenung, Radian telah memutuskan untuk meninggalkannya dan anaknya berikut semua harta milik keluarga Robert Chandra. Dengan hati perih, Radian pergi dengan mengajak ibu dan adiknya. Meski keberatan namun kedua orang itu terpaksa mengikuti Radian karena mereka tak mungkin tinggal bersama dengan orang yang pernah mereka coba bunuh.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...