Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku

Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku
BAB 21 ~ Pergi ~


__ADS_3

Radian mengungkap jati diri Leana yang sesungguhnya di hadapan ibu dan adiknya. Leana menatap suaminya, memohon untuk jangan meneruskan ucapannya. Namun Radian sudah tak sanggup melihat perlakuan Shanty dan Monica yang masih terus menyalahkan Leana. Sementara dia sendiri berusaha menahan kesedihannya, menerima kenyataan yang tak disangka-sangka.


Radian hidup dengan kebohongan ibu dan adiknya. Radian yang tak bisa melupakan Livia sejak gadis itu dinyatakan bunuh diri. Merasa menyesal karena tak bisa melindunginya, semakin hari semakin merasakan cintanya pada gadis itu. Kekecewaan semakin dirasakan oleh laki-laki itu karena ternyata orang-orang yang berusaha melenyapkan gadis yang dicintainya itu ternyata adalah ibu dan adik kandungnya sendiri.


Tak hanya itu, kesedihannya bertambah saat akhirnya Radian menyadari wanita yang sekarang dicintai ternyata menikah dengannya hanya untuk membalas dendam. Radian memutuskan meninggalkan semua harta milik keluarga Tn. Robert Chandra. Laki-laki itu juga menyatakan akan menyerahkan seluruh saham miliknya dan segera mengundurkan diri dari perusahaan. Radian memutuskan untuk pergi. 


Aku baru merasakan bahagia bisa bertemu denganmu lagi. Baru aku merasakan lega di hatiku karena ternyata kamu masih ada di dunia ini. Ini keajaiban bagiku, mencintai seseorang justru di saat dia sudah tidak ada. Tetap bertahan mencintainya meski merasa tak mungkin bisa bersama. Tapi ternyata kamu ada disisiku, tersenyum, membelaiku, memelukku dan bercinta denganku. Ini seperti sebuah hadiah yang datang tanpa diminta tapi aku harus membayarnya dengan sangat mahal. Dengan perpisahan … tapi apa aku sanggup berpisah denganmu Livia? Setelah kamu memberikan segalanya bagiku, hatimu, tubuhmu pada laki-laki yang tak pantas kamu sebut sebagai keluarga, batin Radian menangis saat satu persatu laki-laki itu menyusun pakaiannya di dalam koper.


"Apa yang Kakak lakukan? Kenapa Kakak menghukumku seperti ini? Kakak pergi artinya Kakak marah padaku. Aku memang salah menutupi jati diriku, maafkan aku. Tapi kita bisa memulai semuanya dari awal lagi," ucap Livia sambil memegang tangan suaminya, berharap laki-laki itu berhenti memasukkan pakaian-pakaiannya ke dalam koper.


"Aku tidak bisa Livia, keluargaku begitu kejam padamu, tak mungkin aku menutup mata dan telinga seolah-olah semua itu tidak pernah terjadi. Aku tidak akan bisa menatapmu lagi," jelas Radian.


Tidak! itu hanya alasan, Kakak pergi karena Kakak tidak menginginkan aku. Setelah mengetahui aku adalah Livia, Kakak berubah. Aku Livia yang selama ini tidak Kakak sukai. Kakak mungkin masih benci dan jijik padaku, tapi aku datang dalam wujud Leana. Kakak pasti berpikir aku telah menipu Kakak. Kak maafkan aku. Jangan pergi, aku butuh kehadiranmu, batin Livia.


Radian telah selesai berkemas pakaiannya. Laki-laki itu menoleh ke arah istrinya.


Kepergianku ini tak cukup membayar dosa dan kesalahan Mommy dan Monica. Aku juga tidak tahu, apa yang harus kulakukan untuk membayar lunas semua kejahatan itu. Aku mencoba untuk tetap berada di sisimu, tapi sekarang semua telah terbongkar sayang. Aku tidak bisa menjalani hidupku seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Maafkan aku Livia, aku harus pergi. Tapi aku berjanji, tidak akan melupakanmu. Tak akan pernah ada wanita lain yang akan menggantikan posisimu di hatiku, aku hanya akan mencintaimu, selalu mencintaimu, selamanya mencintaimu, batin Radian lalu mulai menarik kopernya keluar dari kamar.


Livia menahan tangan suaminya. Menggelengkan kepalanya menandakan dia tak rela laki-laki itu pergi. Radian menyentuh tangan Livia, tapi bukan untuk menggenggamnya tapi untuk mendorongnya agar Livia melepaskannya. Laki-laki itu melanjutkan langkahnya hingga akhirnya berhenti tak jauh dari ranjang bayi.


Radian mendekati bayi mereka, lalu tersenyum. Betapa bangganya Radian menatap buah cintanya itu. Radian mengangkat bayi yang sedang tertidur pulas itu lalu menciumnya seakan-akan untuk mempersiapkan dirinya yang tak akan mencium bayi itu dalam waktu yang cukup lama.


Radian menangis terisak saat mencium kedua pipi bayi itu. Livia berharap Radian mengurungkan niatnya untuk pergi tapi Radian tetap menjalankan niatnya. Setelah menaruh kembali bayinya pelan, laki-laki itu kembali melanjutkan langkahnya. Air mata mengalir deras di pipi Livia. Bahkan untuk berpamitan dengannya pun Radian tak sudi. Laki-laki itu tak mau mengalihkan pandangan ke arah Livia.

__ADS_1


Di lantai bawah telah menunggu Monica dan Shanty, keduanya terlihat enggan untuk pergi. Tapi tak mungkin bagi mereka untuk tetap tinggal di situ. Karena Radian telah memutuskan untuk meninggalkan Livia dan anaknya berikut semua harta milik keluarga Robert Chandra.


Dengan hati perih, Radian pergi dengan mengajak ibu dan adiknya. Meski keberatan namun kedua orang itu terpaksa mengikuti Radian karena mereka tak mungkin tinggal bersama atau menumpang dengan orang yang pernah mereka coba bunuh.


"Kita akan naik angkutan umum," ucap Radian.


"Apa? Kenapa?" tanya Monica.


"Kamu tahu? Kita tidak punya apa-apa. Sama seperti saat kita datang ke rumah ini. Mulai sekarang kita harus hidup hemat. Aku tak bisa menghambur-hamburkan uang yang aku punya sekarang ini hingga aku memiliki pekerjaan lagi," jawab Radian sambil terus berjalan menarik kopernya keluar dari halaman kediaman keluarga Robert Chandra.


Di teras, Livia menatap ketiga orang itu yang berjalan tertatih menarik koper mereka keluar dari gerbang. Livia menatapnya dengan hati yang hancur. Meski kejadian ini telah diduganya akan terjadi tapi Livia tetap merasa tak siap menerimanya.


Livia hidup dengan dendam di hatinya yang ingin merebut kembali harta yang menjadi haknya tapi tak terniat di hatinya untuk mengusir ketiga keluarga tirinya itu. Terlebih lagi Radian adalah orang yang sangat dicintainya. Dan kini, Radian pergi bersama ibu dan adiknya, hidup seadanya di sebuah kontrakan kecil.


"Kamu sudah menolak lima tawaran rumah kontrakan, alasanmu macam-macam, aku takut kita tidur di jalanan jika kamu menolak terus. Kamu pikir mudah mencari kontrakan dengan biaya minim. Kamu mau rumah yang bagus tapi menahan lapar," jawab Radian.


Monica tertunduk, tentu dia tak ingin menahan lapar. Gadis itu juga masih ingin memiliki modal untuk kegiatannya di agensi. Gadis itu berharap dalam waktu dekat terpilih menjadi model profesional dan memperoleh penghasilan dari kegiatannya di dunia modeling.


Radian mulai mencari pekerjaan di beberapa perusahaan. Dari hari ke hari menyerahkan berkas lamaran di berbagai perusahaan yang disinggahinya. Namun, sebagian besar menolaknya karena diam-diam mereka mengenal Radian yang mantan CEO dan merasa tak mampu menggaji laki-laki lulusan universitas di Amerika itu.


Padahal Radian tak melampirkan paklaring yang menunjukkan dia pernah bekerja di sebuah perusahaan besar dengan posisi pimpinan tertinggi di perusahaan itu.


Radian menangis di kamarnya, semakin panik karena tak kunjung ada yang mau menerimanya bekerja. Radian bahkan tak meminta gaji yang besar dalam surat lamarannya tapi tetap saja tak ada yang mau menerimanya. Kadang terpikir olehnya untuk kembali ke perusahaan Livia tapi merasa tak akan mampu untuk menatap wajah wanita yang dicintainya itu.

__ADS_1


Radian berjalan di jalan kecil di sebuah taman dengan pikiran yang kusut. Entah sudah berapa banyak perusahaan yang telah didatanginya. Entah sudah berapa lembar surat lamaran yang diserahkannya namun tak ada satu pun yang menerimanya bekerja.


Tiba-tiba Radian melihat seorang anak bersepeda di depannya. Laki-laki itu segera mengelak dan melanjutkan langkahnya namun tak lama kemudian terdengar jeritan. Anak itu dan seorang yang sudah tua terlihat duduk di jalan beton itu. Radian segera menghampiri mereka.


"Bapak tidak apa-apa?" tanya Radian pada bapak tua yang jatuh itu. Laki-laki itu juga bertanya pada anak yang bersepeda. "Kenapa bisa menabrak?" tanya Radian sambil membantu anak itu berdiri.


Beruntung anak itu mengenakan pengaman di lutut dan sikunya.


"Maaf Om, Adit baru belajar," ucap anak itu.


"Kalau masih belajar jangan di jalanan yang dilalui banyak orang, ya. Itu ada lapangan kamu bisa berlatih di situ dulu ya!. Sekarang ayo minta maaf sama bapak itu," ucap Radian mengajak anak itu menemui bapak yang ditabraknya tadi.


"Maafkan Adit ya Kek," ucap anak itu.


"Ya, tidak apa-apa," jawab bapak itu sambil berusaha berdiri.


Radian pun membantu bapak itu berdiri. Anak itu pamit mengendarai sepedanya menuju sebuah lapangan sementara itu Radian membantu bapak itu duduk di sebuah bangku di bawah pohon. Radian kembali ke tempat kejadian dan mengambil map nya yang tadi ditaruh karena menolong kedua orang itu lalu kembali menghampiri bapak itu.


"Apa bapak tidak apa-apa? Apa ada yang terluka? Maaf Pak kalau aku tahu ada bapak di belakang, aku tidak akan mengelak. Biar dia tabrak aku saja," ucap Radian sambil duduk di samping bapak itu dan tersenyum.


Bapak itu tertawa mendengar ucapan Radian, mengangguk-anggukan kepalanya sambil menepuk pundak laki-laki tampan itu.


...~  Bersambung  ~...

__ADS_1


__ADS_2