Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku

Mengubah Takdir Kakakku Jadi Suamiku
BAB 67 ~ Kabar Sedih dan Bahagia ~


__ADS_3

Telah dua bulan Leana di New Zealand, menemani ayahnya medical check up dan berisitirahat. Leana meminta ayahnya agar jangan terlalu aktif lagi di rumah sakit. Usia dokter senior itu yang telah cukup tua membuat Leana khawatir dokter itu akan mudah jatuh sakit.


"Di rumah sakit itulah Daddy merasa sehat, sayang. Jika di rumah, apa yang akan Daddy lakukan?" tanya Djamal.


"Daddy boleh ke rumah sakit tapi jangan setiap hari. Jika sudah di sana Daddy seperti lupa waktu. Kalau tidak, Daddy ikut denganku tinggal di rumah Papa. Dengan begitu Daddy tak akan kesepian," usul Leana.


"Daddy mau tinggal di rumahmu, tapi Daddy tak bisa menetap di sana. Daddy juga punya kehidupan sendiri Leana," ujar dokter itu sambil menatap pemandangan dengan pohon-pohon yang tumbuh di sekitar rumah sakit itu.


Leana tertunduk menangis, wanita itu merasa begitu sedih. Leana merasa satu-satunya keluarganya sekarang hanyalah dokter yang telah mengangkatnya sebagai anak itu. Jika terjadi apa-apa wanita itu akan merasa seorang diri. Leana sangat khawatir dan takut kehilangan dokter itu namun Dr. Djamal merasa kesehatannya tak perlu dikhawatirkan.


"Jangan menangis anakku sayang! Setiap orang yang telah tua akan mengalami hal seperti Daddy. Tubuh tak selalu sehat apalagi jika sudah lama dipakai. Kadang-kadang baik kadang-kadang drop, itu adalah hal yang biasa. Daddy merasa bisa bertahan selama ini berkat hadirnya kamu dalam hidup Daddy. Jika tidak, sejak dulu Daddy tak peduli dengan kesehatan Daddy sendiri. Daddy merasa sudah banyak menerima bonus umur dalam hidup Daddy. Daddy merasa lebih muda lima belas tahun sejak menemukanmu. Daddy serasa seorang yang berumur 36 tahun karena Daddy memiliki anak gadis berumur dua belas tahun. Apa kamu ingat itu? Padahal Daddy waktu itu telah berumur 51 tahun. Waktu seperti berjalan mundur, Daddy seperti merasakan saat-saat Leana masih hidup. Saat itu umur Daddy baru 36 tahun. Kesehatan, semangat hidup Daddy seperti baru lagi. Seperti baru habis di charge. Dan sekarang umur Daddy sudah berapa? Baterai juga tak selamanya bisa di charge. Sudah tak bisa full seperti dulu lagi," jelas Djamal panjang lebar.


Mendengar itu Leana menangis keras. Tiga belas tahun menjadi putri dari orang tua yang baik hati itu membuat Leana sangat takut kehilangannya. Ditambah lagi Leana merasa dirinya sekarang ini seorang diri. Tak ada orang yang akan menghiburnya lagi. Leana merasa akan terpuruk sendiri jika dokter pergi meninggalkannya.


"Jangan menangis! Kamu itu bukan anak kecil lagi. Kamu itu seorang ibu, dan sekarang akan bertambah satu lagi tanggung jawabmu. Kamu harus tegar Leana. Jangan menyerah dengan keadaan. Lupakan Radian atau raih dia sekalian. Jika orang yang tak saling mengenal saja bisa saling memaafkan kenapa kalian yang saling mencintai justru sulit untuk saling memaafkan? Kamu sudah menghubunginya? Setidaknya beri kabar dia tentang putranya. Jika menurutmu dia tak peduli lagi padamu tapi dia pasti masih peduli pada putranya. Daddy berharap masalah kalian cepat selesai. Apalagi ini hanya sebuah kesalahpahaman suatu saat dia pasti akan mengetahui kebenarannya," jelas Djamal.


Dokter usia senja itu memeluk putrinya yang sesenggukan. Sedih dengan kehidupannya sendiri juga sedih melihat ayahnya yang telah renta. Di saat dokter itu sehat, Leana melihat semangatnya seolah-olah Dokter itu tak akan pernah tua. Namun di saat sakit barulah wanita itu sadar kalau Dokter itu ternyata telah lanjut usia.


"Kamu sudah menghubungi orang-orang di perusahaanmu?" tanya Djamal ingin mengalihkan kesedihan putrinya.


"Sudah Daddy, Nesya bisa mengerjakan tugasnya dengan baik. Tak ada yang perlu dikhawatirkan," jawab Leana.


"Bagaimana dengan keadaan rumahmu? Apa baik-baik saja?" tanya Djamal.

__ADS_1


"Tak ada yang harus ditanyakan pada pelayan di rumah itu Daddy. Mereka paling hanya mengerjakan kegiatan sehari-hari saja. Aku telah meninggalkan gaji beberapa bulan juga biaya operasional rumah," jelas Leana.


"Tapi tetap saja harus ditanya. Bukan maksud tak percaya, tapi … itu tandanya kamu peduli dengan mereka. Tanyakan kesehatan mereka, apa ada masalah atau apa saja bisa kamu tanyakan pada mereka. Sebagai majikan kamu jangan hanya bisa memberikan tugas dan gaji. Mereka juga tak hanya menjalankan tugas mereka 'kan? Mereka kadang juga menolong dan berbuat baik padamu?" tanya Djamal.


Leana mengangguk, teringat bagaimana kepedulian para pekerja di rumahnya itu pada dirinya dan putranya.


Jika mereka tak peduli, Revano mungkin telah berada di tangan Kak Radian sekarang, batin Leana.


Teringat itu Leana berjanji akan segera menelpon mereka. Saat ayahnya kembali ke ranjang rumah sakit. Leana segera menelpon orang-orang yang dipercayainya. Menelpon Nesya yang melaporkan keadaan di perusahaannya. Kemudian beralih menelepon ke rumahnya. Segera salah seorang pelayan mengangkat panggilan teleponnya. Begitu mendengar suara Leana yang menanyakan keadaan rumah, pelayan itu segera memanggil pelayan yang dianggap sebagai kepala pelayan atau pelayan yang dituakan di rumah itu.


Kenapa harus Bi Iyah yang menjawab teleponku, tanya Leana dalam hati.


Menunggu seseorang kembali menjawab panggilan telepon darinya. Tak lama kemudian orang yang dipanggil pun datang dan langsung menyapa Leana.


"Kami tak tahu bagaimana cara menelpon nyonya saat di luar negeri. Panggilan telepon kami selalu tertolak. Kami berharap nyonya menelpon kami. Agar bisa melaporkan pada nyonya kalau tuan Radian datang ke sini dan menangis saat tahu nyonya pergi hari itu," jelas Bi Iyah.


Tak terasa air mata Leana langsung mengalir, yang dirasakannya antara sedih dan bahagia. Sedih dan menyesal karena laki-laki itu datang terlambat. Bi Iyah menceritakan hanya beberapa jam setelah kepergian Leana, Radian mencarinya ke rumah.


Rasa bahagia juga merasuki relung hatinya saat mengetahui kemarahan suaminya telah reda. Entah apa sebabnya namun saat mendengar Radian menangis karena kepergiannya, Leana merasa laki-laki itu kembali ingin bersamanya.


"Kasihan Tuan Radian, nyonya. Tuan Radian tak percaya nyonya sudah berangkat. Tuan Radian mencari ke seluruh ruangan bahkan hingga ke taman. Saat yakin nyonya benar-benar tak ada di rumah barulah Tuan Radian menangis sendiri," jelas Bi Iyah.


"Baiklah Bi, terima kasih atas penjelasannya ya? Saat ini Daddy sedang sakit mungkin sebulan lagi kami baru bisa pulang. Aku akan menemui Kak Radian nanti setelah tiba di sana," jelas Leana.

__ADS_1


"Tuan dokter sakit nyonya?" tanya Bi Iyah.


"Ya! Awalnya Daddy cuma ingin medical check up tapi tak lama kemudian kondisinya justru drop. Daddy saat ini sedang istirahat di rumah sakit. Sudah mulai membaik tapi jika dalam waktu dekat melakukan perjalanan yang memakan waktu tiga belas jam, kasihan Daddy. Aku takut nanti Daddy bisa ngedrop lagi," jelas Leana.


"Mudah-mudahan tuan Dokter cepat sembuh ya nyonya. Mudah-mudahan nggak ada halangan untuk bisa kembali secepatnya ke rumah," ucap Bi Iyah.


"Terima kasih Bi, untuk doanya," ucap Leana. 


Wanita itu pun menutup sambungan teleponnya. Hatinya terasa berbunga-bunga saat mendengar Radian mencarinya. Wanita itu rasanya sangat ingin menelepon suaminya namun masih ada ragu-ragu di hatinya.


Leana tak ingin memberi harapan di mana keadaan ayahnya tak bisa diprediksi. Hari ini direktur rumah sakit itu menyatakan kondisi ayahnya bisa stabil setelah beristirahat sekitar sebulan lagi namun tentu semua tak bisa dipastikan. Leana tak ingin memberi harapan bahwa mereka bisa pulang dan bertemu lagi sebulan yang akan datang.


Pagi itu Leana bahagia, menatap ayahnya yang sedang beristirahat. Jika bukan karena saran ayahnya, hingga kini Leana tak ada niat untuk menelepon ke rumahnya. Dan hingga kini pula tak mengetahui kalau Radian telah mencarinya.


Jika Leana menelepon di pagi hari, namun di Indonesia telah menunjukkan jam setengah dua siang. Tepat saat jam makan siang habis, Camelia datang menghadap Radian. Dengan napas yang tersengal-sengal wanita itu menyerahkan sehelai kertas di hadapan laki-laki itu.


"Aku hamil! Kamu harus tanggung jawab!" ucap Camelia tak lagi memperhatikan norma kesopanan.


Setelah diabaikan Radian dua bulan lalu. Wanita itu semakin merasa jengkel. Rencana Camelia ingin membuat laki-laki itu terikat padanya karena harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi padanya di kamar hotel malam itu. Tapi kenyataannya Radian tetap saja mengabaikannya.


Semua karyawan yang berada di ruangan itu langsung tercengang. Pasalnya mereka tak pernah melihat Radian bicara atau peduli pada Camelia namun kenyataan mengejutkan justru terjadi di hadapan mereka. Radian ternyata telah menghamili Camelia.


...~  Bersambung  ~...

__ADS_1


__ADS_2