
Leana menunjukkan cincin pemberian Radian pada Monica. Wanita itu ingin Monica tahu kalau Radian tetap akan menikahinya meski tanpa izin darinya. Leana ingin Monica tahu diri bahwa Monica tidak ada artinya dibanding dirinya di mata Radian.
Leana mengingatkan sikap angkuh Monica terhadapnya, membuat Monica tertunduk. Tiba-tiba Leana melepas cincin pemberian Radian dan meletakkannya di telapak tangan Monica.
"Kembalikan cincin ini, aku sudah tidak berminat lagi. Aku menerima ini hanya untuk membuktikan padamu aku bisa mendapatkan Kakakmu tanpa izin darimu. Katakan pada Kakakmu kalau rencana pernikahan kami batal. Aku sudah terlanjur sakit hati," ucap Leana yang langsung ingin berbalik melangkah meninggalkan Monica.
Tapi Monica segera menghalangi, masih memegang cincin itu dan meraih tangan Leana.
"Bagaimana aku bisa mengatakan ini? Apa yang akan dipikirkan Kakakku. Kak Radian pasti sangat sedih," ucap Monica dengan wajah memelas.
"Karena siapa dia bersedih? Aku ingin dia bahagia tapi kamu menghalanginya. Kamu pikir karena menerima cincin itu aku melupakan begitu saja sikap angkuhmu kemarin padaku? Anggap saja dia terpaksa menderita karena sikap adiknya yang manja dan tak punya otak untuk berpikir," ucap Leana lalu kembali ingin pergi.
Monica tertegun, tak bisa berkata-kata apa-apa lagi. Leana yang melangkah meninggalkannya tiba-tiba menghentikan langkahnya dan berbalik. Monica langsung menatap ke arah wanita cantik itu.
"Ah ya, tadi apa kamu bilang? Semudah itu aku membantumu untuk bisa diterima di agensi ini? Aku rasa kamu perlu tahu semudah itu juga aku bisa membatalkannya," ucap Leana lalu tersenyum dan meninggalkan Monica yang panik sendiri.
Dan benar apa yang dikatakan Leana, dengan mudah dia membuat Monica di terima di agensi dan dengan mudah juga dia membatalkannya. Monica berjalan sambil termenung saat mendapati namanya tak tercantum dalam daftar model yang diterima di sebagai bagian dari acara peragaan busana bergengsi itu.
Hingga saat makan malam pun Monica masih tak sanggup menyerahkan cincin milik Radian yang dikembalikan Leana. Monica yakin dia pasti akan disalahkan atas rasa sakit hati Leana hingga membatalkan rencana pernikahan Radian dan Leana.
"Monic, cobalah kamu mengenal Leana. Dia itu gadis yang baik. Setelah sekian lama, baru kali ini Kakakmu mengenalkan seorang gadis pada kita. Itu artinya Kakakmu serius dengan gadis itu. Kamu jangan mempersulit hidupnya," kata Shanty.
Membujuk Monica di awal perkenalan keluarga itu dengan Leana secara resmi oleh Radian. Tapi Monica bersikeras tak menerimanya dengan berbagai alasan. Karena rasa tak sukanya pada wajah Leana yang lebih cantik darinya atau karena hal sepele lainnya.
Dan kini saat Monica ingin merestui hubungan Kakaknya dengan wanita yang sangat berkuasa itu. Leana justru ingin batal menerima pinangan dari Kakaknya karena sakit hatinya terhadap Monica.
Kakak mengira kalau Leana masih ingin menikah dengannya. Aduh bagaimana ini? Aku tak sanggup mengembalikan cincinnya ini, batin Monica sambil sebentar-sebentar menoleh pada kakaknya.
"Kamu kenapa Monic?" tanya Shanty yang melihat Monica seperti orang yang sedang bingung.
"Kakak kenal dengan Leana itu di mana?" tanya Monica ingin mencoba memulai pembicaraan tentang Leana.
"Perusahaan kita dan perusahaan Leana bekerja sama. Aku pertama kali bertemu dengannya saat menjemputnya di bandara," jawab Radian sedikit heran dengan sikap adiknya yang tiba-tiba bertanya tentang gadis yang dicintainya.
"Oh … lalu kenapa Kak Radian bisa suka padanya?" tanya Monica lagi.
Shanty merasa heran dengan sikap Monica yang seperti peduli pada Leana. Baginya itu sangat bagus karena terlihat Monica seperti telah membuka hati pada wanita kaya yang sedang memegang sertifikat rumah mereka itu tanpa sepengetahuan siapa pun di ruangan itu.
"Entahlah kalau ditanya kenapa aku suka padanya. Bisa dikatakan waktu itu aku seharian bersamanya. Mungkin timbul rasa dekat dan rasa suka padanya saat itu," jelas Radian sambil terus menyantap makanannya.
Tidak! Bukan saat itu aku mulai menyukainya. Tapi justru di saat aku tidak melihatnya lagi, aku jadi merindukannya, batin Radian.
"Kenapa tiba-tiba kamu bertanya tentang dia?" tanya Radian.
"Itu … itu, kalau seandainya dia tak ingin bersama dengan Kakak lagi bagaimana?" tanya Monica.
"Aku tidak akan menikah seumur hidupku."
"Apa?"
"Kamu tahu 'kan? Aku tidak berminat mencari wanita? Leana ... dia datang dalam hidupku dan kebetulan aku suka padanya. Apa mungkin bisa kejadian seperti itu terjadi sekali lagi? Seseorang datang dalam hidupku dan aku menyukainya? Aku kira, tidak akan ada lagi," tutur Radian.
Monica kembali tertunduk, setelah mendengar ucapan Radian, gadis itu kembali merasa bersalah. Di dalam kamar sebentar-sebentar melihat kembali cincin yang dikembalikan Leana.
Bagaimana cara aku membujuknya agar kembali pada Kak Radian? Sebelum Kak Radian tahu kalau Leana telah membatalkan keinginannya untuk hidup bersamanya. Kasihan Kak Radian jika tiba-tiba mengetahui kalau Leana telah batal menerima pinangannya, batin Monica.
Bermacam pemikiran dan pertanyaan bergelayut di benak gadis itu hingga akhirnya memohon pada Leana untuk bertemu.
"Benarkah kamu kasihan pada Kakakmu atau kasihan pada dirimu sendiri yang batal menjadi salah seorang model profesional di agensi itu?" tanya Leana saat mereka bertemu di Cafe.
__ADS_1
"Aku benar-benar kasihan dengan Kak Radian karena dia orang yang tak mudah jatuh cinta. Jika hubungannya kali ini gagal dia tidak akan pernah menikah seumur hidupnya. Tidak ada yang akan bisa memaksanya," ucap Monica dengan sungguh-sungguh.
Namun jujur dalam hatinya juga membenarkan ucapan Leana. Monica menyesali sikapnya yang telah lalu hingga akhirnya membuat dia batal di terima di agensi itu.
"Aku sudah terlanjur patah hati, aku orang yang tidak pernah ditolak sebelumnya. Untuk melanjutkan hubungan yang telah ditentang, aku tidak mood lagi. Aku lebih baik mencari yang lain …"
"Jangan! … jangan tinggalkan Kak Radian, aku bersedia melakukan apa saja agar Kak Leana mau kembali pada Kak Radian," ucapnya memohon sambil menunduk namun melirik pada Leana yang duduk di hadapannya.
"Benarkah? Melakukan apa saja?" tanya Leana demi menyakinkan hatinya.
Leana menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya dengan sebelah kaki yang juga menyilang. Dengan santai Leana bertingkah seperti seseorang yang sangat berkuasa. Sementara Monica mengangguk dengan takut-takut, meski dia terlihat seperti peduli pada kakaknya tapi di dalam hatinya. Berharap Leana juga akan membantunya untuk diterima di agensi yang bergengsi itu.
"Baiklah! Kalau begitu aku bersedia, asalkan kamu menyerahkan seluruh harta atas namamu padaku … semuanya," ucap Leana sambil tersenyum.
"Apa? Itu tidak mungkin, jika aku menyerahkan semuanya lalu apa yang aku miliki? Lagipula jika Kak Radian tahu, dia pasti tidak akan setuju. Dia pasti marah padaku," jawab Monica dengan keras.
"Tentu saja, jangan sampai dia tahu dan lagi pula jika kamu telah menjadi seorang model profesional, kamu bisa membeli aset-aset yang lebih baik lagi dibandingkan dengan aset yang kamu serahkan padaku," jawab Leana.
"A-apa jadi model profesional?" tanya Monica.
"Jika aku menjadi Kakak Iparmu mana mungkin aku tidak menolongmu masuk ke salah satu agensi yang bergengsi bukan? Kamu tinggal pilih ingin masuk agensi yang mana, aku bisa atur kamu diterima di sana," jelas Leana sambil menyesap minumannya.
Mendengar itu, Monica yang awalnya menolak memberikan seluruh harta warisan Tn. Robert yang dibagikan atas nama dirinya langsung diserahkan pada Leana. Gadis itu datang ke perusahaan Leana dengan membawa surat-surat kepemilikan seluruh harta itu.
Baginya keinginan untuk menjadi terkenal lebih ingin diwujudkannya dibanding menyimpan harta berupa tanah, Villa dan mobilnya karena dalam hatinya jika telah terkenal dia bisa membeli semua yang diinginkannya seperti yang diucapkan Leana.
Serah terima semua kepemilikan aset itu langsung di lakukan di depan notaris. Monica menyerahkan semuanya tanpa ada rasa terpaksa. Gadis itu pun segera menyerahkan cincin pemberian Radian kembali pada Leana.
"Ini cincin pertunangan kalian, tolong jangan beritahu Kak Radian tentang kesepakatan kita ini, ya," ucap Monica memohon.
"Tentu, dan ini kunci mobilmu aku mengizinkan kamu mengendarai mobil itu. Tapi hanya hak pakai, kamu tidak ingin Radian bertanya kemana perginya mobil itu bukan?" tanya Leana.
"Kamu boleh memakainya seperti biasa," ucap Leana. Monica mengangguk.
Kasihan sekali kamu Monica seperti kerbau yang dicocok hidungnya, batin Leana.
"Sebutkan saja agensi yang kamu inginkan, aku akan menelpon pimpinannya dan besok kamu boleh bekerja di sana," ucap Leana sambil melihat surat-surat kepemilikan yang dibawa Monica.
"Benarkah? Agensi mana saja? Agensi yang paling besar?" tanya Monica takjub. Leana mengangguk.
"Aku bilang jangan yang kecil, aku tidak terbiasa berurusan dengan perusahaan kecil," jawab Leana.
Monica semakin kagum, gadis itu pun segera menyebutkan nama agensi ternama yang biasa menaungi model-model papan atas yang telah terkenal dan menjadi idolanya.
"Baiklah, besok datanglah kesana. Belajar dan bekerja dengan giat di sana. Jangan sampai mempermalukan aku. Mengerti!" seru Leana.
Monica mengangguk-angguk dengan cepat. Setelah menyelesaikan kesepakatan mereka, Monica pamit pulang dengan perasaan lega. Sementara Leana memasang kembali cincin pemberian Radian di jari manisnya.
Huuff, bagaimana jika dia tidak setuju dengan kesepakatan itu? Aku kehilangan cincin Kak Radian? Apa aku benar-benar akan memutuskan hubungan dengan Kak Radian? Tidak akan, aku tidak akan mau kalah darinya, jika dia tetap tidak setuju, aku akan cari cara lain untuk mendapatkan kembali semua harta Papa. Sementara Kak Radian, tentu saja aku akan tetap bersamanya. Siapa yang ingin putus dengannya? Satu-satunya laki-laki yang ada di dalam hatiku? Batin Leana sambil tersenyum memandang cincin pemberian Radian.
Wanita itu mengumpulkan semua surat-surat kepemilikan aset-aset yang telah berpindah tangan menjadi miliknya. Mobil Shanty yang di belikan Papanya, sebidang tanah yang luas dan Villa milik Papanya di mana terakhir kali saat mereka berlibur ke sana, mereka mengalami kecelakaan yang menyebabkan wajah Livia rusak parah.
Leana menatap surat-surat dalam brangkas itu. Satu persatu harta milik Papanya kembali menjadi miliknya. Setitik bening menitik dari pelupuk matanya mengingat perjuangannya untuk mendapatkan semua itu.
Livia tetap belajar dengan giat sambil menjalani tahap demi tahap rekonstruksi wajahnya. Tetap bersekolah meski tatapan-tatapan jijik atau tatapan kasihan tertuju padanya. Livia dengan tabah menjalani semua itu demi bisa mencapai posisi seperti saat sekarang ini. Di mana segala sesuatu berada dalam genggamannya dan segala sesuatu dapat dikendalikannya.
Sementara itu di ruangannya Radian hanya duduk sambil memandangi jendela kaca di ruang kerjanya.
Hari ini tidak ada pertemuan dengannya, oh aku merindukannya. Jika menemuinya di kantor apa tidak apa-apa? Apa alasan aku ke sana? Hanya ingin menemuinya? Leana aku merindukanmu, batin Radian akhirnya tertunduk bertumpu dengan kedua tangannya menyatu di bawah keningnya.
__ADS_1
Tiba-tiba Radian dikagetkan oleh bunyi pintu diketuk. Radian mempersilahkan masuk dan terkejut saat melihat Leana yang tersenyum sambil melangkah menghampirinya. Tak menunggu hingga gadis itu sampai ke mejanya. Radian langsung menyongsong gadis itu dan langsung memeluknya.
"Aku merindukanmu sayang," bisik Radian.
"Oh ya, kok bisa sama ya?" tanya Leana.
Mereka tertawa, namun setelah itu Radian menjadi kesal.
"Kenapa?" tanya Leana sambil memeluk pinggang Radian.
"Aku rindu padamu, kamu juga rindu padaku. Aku ingin bertemu denganmu, kamu juga ingin bertemu denganku tapi kenapa kamu duluan yang melakukannya? Kenapa semua yang ingin aku lakukan, selalu kamu yang melakukannya lebih dulu. Kenapa kamu selalu mendahuluiku? Kenapa aku selalu kalah denganmu?" tanya Radian kesal. Leana tertawa.
"Karena Kak Radian terlalu banyak berpikir. Sementara aku, saat merindukanmu aku akan langsung bergegas ke sini," jawab Leana.
Sebenarnya bukan itu Kak, aku telah memulai semuanya sejak bertahun-tahun yang lalu. Aku mencintaimu sejak bertahun-tahun yang lalu, aku merindukanmu sejak bertahun-tahun yang lalu, dan saat ini aku tidak pernah ingin menunda apa pun lagi. Itu sebabnya aku lebih cepat darimu, karena aku sudah memulai sejak dulu, batin Leana yang langsung membenamkan bibirnya ke bibir laki-laki tampan di hadapannya.
"Aku kalah lagi, padahal setiap kali memikirkanmu, aku ingin langsung melakukannya," ucap Radian setelah Leana melepaskan ciumannya.
"Apa itu?" tanya Leana.
"Menciummu, harusnya aku lebih dulu melakukan itu. Aku menginginkannya sejak tadi, aku sudah mengkhayalkannya sejak tadi. Tapi kenapa aku masih kalah cepat darimu?" tanya Radian, lagi-lagi kecewa. Leana kembali tertawa.
"Itu karena Kak Radian masih kaget dengan kedatanganku, sementara aku sudah bersiap-siap bisa bertemu denganmu," ucap Leana akhirnya.
"Oh ya, bisa jadi seperti itu," ucap Radian akhirnya sambil tertawa.
Kali ini Radian yang membenamkan bibirnya ke bibir Leana. Gadis itu tertawa, mereka saling bermain lidah dengan napas yang semakin memburu.
"Aku tidak sabar ingin menikahimu, aku rasa Monica mulai bisa menerimamu," ucap Radian.
"Oh ya? Kenapa Kak Radian bisa begitu yakin?" tanya Leana.
"Tadi malam saat kami makan malam bersama dia banyak bertanya tentangmu. Bagaimana kita bertemu dan kenapa aku menyukaimu. Aku bilang jika aku gagal menikahimu, selamanya aku tidak akan menikah. Aku rasa dia melunak karena mendengar itu," tutur Radian.
"Oh ya?" tanya Leana seolah-olah tak percaya.
Benarkah dia memikirkanmu? Atau dia hanya memikirkan karir model-nya? Batin Leana bertanya-tanya.
Radian menatap Leana dengan tatapan yang lembut, begitu bahagia dengan kehadiran wanita yang sangat dirindukannya itu. Hingga tak pernah sedikit pun melepaskan rangkulannya di pinggang wanita cantik itu. Leana mendekat hingga tubuh mereka menempel erat.
"Kak, datanglah ke rumah malam ini, Daddy berangkat ke Thailand. Aku tidak mau tinggal di rumah sendirian. Aku janji akan melayanimu malam ini," bisik Leana.
"APA?" tanya Radian cepat dengan napas yang langsung memburu.
"Maksudku, aku akan melayanimu untuk makan malam yang spesial untukmu," ucap Leana sambil menahan tawa.
Radian pun tertawa, tak menyangka gadis itu mengerjainya dengan ucapan-ucapan yang menantang.
"Baiklah … tapi kalau aku tidak puas dengan layananmu kamu harus membayarnya dengan tubuhmu …"
"APA?"
Sekarang giliran Leana yang terkejut mendengar ucapan Radian, laki-laki itu tersenyum puas.
"Ya, tubuhmu harus dijadikan bayaran untuk menemaniku menatap bintang-bintang di pinggir kolam," jawab Radian.
Leana tertawa begitu juga dengan Radian. Mereka pun sepakat akan makan malam bersama dan menatap bintang hingga tengah malam.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1