
Radian menatap cincin milik Leana yang tadi dikembalikan wanita itu. Tak kuat memandang cincin itu lebih lama. Laki-laki itu menggenggamnya kuat lalu tertunduk hingga menelungkupkan wajahnya di atas meja kerja sederhana di kamarnya itu.
Camelia yang baru selesai mengganti pakaiannya mengusap punggung suaminya. Radian kaget dan langsung terbangun karena merasakan sentuhan di punggungnya. Segera berdiri dari tempat duduknya dan menatap ke arah Camelia dengan tajam.
"Kakak kenapa?" tanya Camelia.
"Jangan lakukan itu lagi!" bentak Radian.
"Apa yang tak boleh aku lakukan?" tanya Camelia justru semakin maju mendekat.
"Mendekati dan menyentuhku–"
"Kenapa tidak boleh? Kak Radian itu suamiku. Aku sah menjadi istri Kakak, kenapa aku tidak boleh mendekati Kakak?" tanya Camelia dengan raut kesal bercampur sedih.
"Aku tidak menganggapmu sebagai istriku. Kamu ingin aku bertanggung jawab terhadap kehamilanmu, agar kamu tidak merasa malu. Tapi aku … tidak bisa menganggapmu sebagai istri. Aku hanya memiliki seorang istri, selama hanya satu itu. Jadi jangan paksa aku untuk menjadi suami bagimu," jelas Radian dan langsung ingin melangkah menuju luar kamar.
"Tapi dia telah meninggalkanmu! Dia tidak begitu mencintaimu. Dia tidak bersedia berkorban berbagi cinta demi tetap bersamamu–"
"Justru karena terlalu mencintaiku, dia tak sanggup berbagi cinta. Tidak! Aku tidak berbagi cinta! Aku tidak berbagi cinta dengan siapa pun. Cintaku utuh untuknya, sedikit pun aku tidak mencintaimu. Aku tidak berbagi cinta dengan siapa pun, kamu mengerti itu? Cintaku hanya untuk istriku. Aku hanya mencintai istriku–"
"Tapi aku ini istrimu, aku sekarang yang jadi istrimu. Dia telah meninggalkanmu, dia bukan lagi istrimu," ucap Camelia memelas.
Wanita itu berusaha membujuk Radian dan mengingatkan status pernikahan mereka.
"Aku menikahimu bukan untuk dijadikan istriku. Tapi karena permintaanmu yang mengatasnamakan kehamilan itu. Jika … anak itu memang anakku. Aku tak akan mengelak untuk mengakuinya. Aku akan bertanggung jawab terhadapnya. Tapi kamu, tetap tidak akan pernah menjadi istriku–"
"NGGAK! AKU NGGAK TERIMA! KAMU JAHAT! KAMU EGOIS! Dulu kamu minta tolong padaku untuk menjauh dari Leana. Setelah semua keinginanmu terwujud, kamu tinggalkan aku begitu saja. Aku tidak menyangka ada laki-laki sejahat kamu!" ungkap Camelia dengan keras.
Membuat Shanty dan Monica bahkan mendengar pertengkaran mereka. Mereka terperangah mendengar cara Camelia memanggil Radian dengan tidak sopan. Tapi sepertinya Radian tidak peduli. Baginya lebih suka jika Camelia bersikap kasar padanya dari bersikap manja. Panggilan kakak dari Camelia justru membuatnya mual.
"Aku menyesal! Aku sangat menyesal hari itu meminta bantuan padamu karena ternyata … semua itu sia-sia, seperti apa pun aku mengelak aku masih tetap mencintainya. Sebesar apa pun usahaku untuk menghindar, hatiku tetap mengarah padanya. Bantuanmu sama sekali tidak ada artinya. Hanya membuat aku terikat hubungan yang dipaksakan. Aku menyesal! Ternyata kamu menganggap serius permintaan bantuanku. Tapi harusnya setelah itu kamu tahu, aku … tidak bisa mencintai wanita lain selain istriku!" ungkap Radian ingin berlalu dari kamar itu.
__ADS_1
"Tapi dia sudah tidak mencintaimu! Dia sudah meninggalkanmu. Sedikit pun dia tidak ingin mempertahankanmu. Dia jahat! Setelah meninggalkanmu dia masih saja menguasaimu. Dia jahat! Dia egois–"
"TUTUP MULUTMU! Sekali lagi aku mendengar kamu menjelekkan istriku. Aku ceraikan kamu! Aku sudah melakukan tugasku untuk menutupi aibmu. Aku sudah menolongmu agar anak dalam kandunganmu itu bisa terdaftar sebagai hasil sebuah pernikahan. Tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya memaksa aku menjadi suamimu–"
"Kak Radian jahat, hanya mau enaknya saja!" ucap Camelia melunak dan ekspresi wajah yang terisak.
"Aku bahkan tidak merasakan apa-apa. Mau enaknya bagaimana? Kamu pikir aku bernafsu padamu? Selagi aku sadar aku tidak akan tertarik padamu–"
"Kakak jahat–"
"Maafkan aku! Tapi cinta tidak bisa dipaksakan. Aku mencintainya sejak aku mulai merasakan cinta. Hingga detik ini … aku masih tetap mencintainya. Aku akan mencintainya selama-selamanya. Aku bahkan tetap mencintainya saat dia mati. Aku tidak bisa menerima wanita lain di hatiku, jadi … jangan berharap rumah tangga ini berjalan seperti rumah tangga normal lainnya. Kamu hanya akan menderita memaksa orang yang tidak mencintaimu untuk tetap berada di sisimu," jelas Radian lalu mengambil bantal dan membawanya keluar kamar.
Apa yang diungkapkan Radian tidaklah bohong. Laki-laki itu tetap mencintai Leana yang mana adalah Livia meski sepengetahuannya Livia telah meninggal. Tetap menutup diri sepenuhnya pada gadis-gadis lain. Walaupun setiap kali menatap pohon di taman belakang itu mengingatkan pada Livia yang telah tiada. Tapi cinta Radian tetap terjaga hingga akhirnya bertemu dengan Leana.
Camelia menunduk menitikkan air mata. Sejak awal Radian telah menyatakan tak bisa menerima cintanya tapi dirinya tetap memaksakan diri. Camelia mengira jika Radian dan Leana hidup terpisah, dengan mudah mengalihkan cinta Radian padanya. Ditambah dengan kondisi dirinya yang telah hamil, Camelia berharap ada rasa yang timbul dalam diri Radian, jika laki-laki itu membayangkan aksi bercinta mereka di hotel.
Camelia tidak tahu, Radian mencintai Leana sejak laki-laki itu mengenalnya sebagai Livia, adik tirinya. Camelia juga tidak tahu, Radian tetap mencintai Livia meski telah dinyatakan meninggal. Berpisah seperti ini sama sekali tak mengurangi rasa cinta Radian pada cinta pertamanya itu.
"Ada tamu Nyonya, Tn. Ezra datang," ucap seorang pelayan.
Leana menghembuskan napas berat. Meski saat bersedih harusnya ditemani seseorang tapi mendapati Ezra datang menemui, Leana justru merasakan beban.
Kenapa Kak Ezra tiba-tiba datang? Apa dia tahu tentang pernikahan Kak Radian? Mau apa Kak Ezra datang ke sini? tanya Leana dalam hati.
Meski enggan bertemu, Leana tetap saja melangkah menemui Ezra di ruang tamu. Terlihat laki-laki itu sedang mengamati lukisan keluarga Shanty dan anak-anaknya. Leana bahkan tak berniat menurunkan lukisan itu. Hanya sekarang lukisan ayah dan ibunya juga telah terpampang di sisi yang lain.
Ezra menoleh begitu merasakan kehadiran Leana. Laki-laki itu tersenyum, meski terlihat ragu-ragu. Sejak kejadian di kantor Leana, Ezra tak pernah muncul lagi di hadapan wanita itu. Selain merasa bersalah, dia sendiri merasa perlu menata hatinya sendiri.
"Maaf! Kedatanganku mungkin mengganggumu," ucap Ezra memulai pembicaraan.
Leana hanya tersenyum lalu melangkah menuju kursi tamu. Ezra menatap Leana, terutama perut wanita itu yang telah semakin membesar. Leana mempersilahkan Ezra duduk, laki-laki itu melangkah duduk di samping Leana. Wanita itu tak menyangka Ezra memilih duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Aku minta maaf atas apa aku lakukan padamu waktu itu. Berkali-kali aku ingin ke sini untuk meminta maaf padamu tapi … aku rasa ... tak melihat wajahku lebih kamu sukai dibanding mendengar permintaan maaf dariku," ucap Ezra dengan raut sedih.
Leana hanya menunduk, entah bagaimana dia harus bersikap. Apa yang diungkapkan Ezra tak semuanya salah. Bertemu dengannya memang menjadi beban baginya. Tak ingin menyalahkan Ezra tapi tetap saja apa yang dilakukan laki-laki itu membuat Radian salah paham hingga akhirnya memutuskan meninggalkannya.
Tapi Leana juga tak bisa menyalahkan Ezra sepenuhnya. Ezra bahkan tidak tahu kalau kelakuannya di manfaat Camelia untuk menghancurkan rumah tangganya. Dan jika Radian lebih percaya padanya, fitnah apa pun tak akan berpengaruh pada rumah tangga mereka. Leana merasa cinta Radian yang besar tak dibarengi dengan rasa percaya yang tak cukup besar.
"Kenapa tidak menjawab? Apa permintaan maafku tidak kamu terima?" tanya Ezra dengan raut wajah sedih.
Leana tertunduk sambil tersenyum tipis. "Kenapa harus dijawab? Bukannya sekarang aku bersedia menemui Kakak?" ucap Leana balik bertanya.
"Tapi aku masih merasa bersalah padamu. Kamu mau menemuiku itu karena kebaikan hatimu. Kamu tidak suka menyakiti atau mengecewakan hati orang. Sementara kesalahanku itu adalah yang berbeda. Kamu belum tentu bisa memaafkanku, iya 'kan?" jelas Ezra.
"Apa maksud Kakak datang ke sini?" tanya Leana mengalihkan pembicaraan.
Ezra tertunduk, laki-laki itu sadar Leana masih belum bisa memaafkannya.
"Aku dengar Radian menikah lagi? Apa itu benar?" tanya Ezra.
Leana kaget, hal yang sangat ingin dilupakannya justru diingatkan kembali oleh Ezra. Air mata wanita itu langsung tak bisa tertahankan lagi. Entah kenapa di hadapan Ezra, wanita itu menjadi sangat lemah. Seperti seorang adik yang mengadu pada abangnya. Ezra meraih tengkuk Leana dan membenamkannya ke dada bidang laki-laki itu.
Tanpa disadari kejadian saat di SMP itu terlintas kembali. Meski tak diminta, Ezra selalu menyediakan dadanya untuk tempat menangis bagi Leana dan anehnya sikap itu sama sekali tak membuat Leana keberatan saat dulu atau pun saat sekarang.
Ezra memeluk Leana, dan membiarkan wanita itu menangis. Sementara dirinya mengusap punggung wanita itu dan membelai rambutnya.
Hanya ini yang ini yang kamu butuhkan dariku. Sejak dulu hingga sekarang, cuma dadaku, tempat kamu menangis. Sementara cinta, hanya kamu harapkan dari Radian, batin Ezra.
Ezra semakin erat memeluk Leana, membuat wanita itu semakin menangis sejadi-jadinya hingga tubuhnya berguncang. Ezra bisa merasakan kesedihan Leana. Laki-laki itu sangat mengerti bagaimana perasaan Leana. Wanita itu berusaha sekuat tenaga mempertahankan pernikahannya.
Tetap mencintai suaminya meski sekian lama berpisah. Tapi tak disangka, laki-laki yang begitu dicintainya justru mengkhianati cinta dan pernikahan mereka. Leana tak menyadari, dirinya tak menangis sendiri. Ezra pun menangis untuk cintanya yang tak pernah mendapat sambutan.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1