My Best Partner

My Best Partner
Partner Terbaik ~ Bab 100


__ADS_3

Selepas turun dari panggung, Lean segera menghampiri Anne untuk menanyakan di mana Nala.


" Anne, Nala sama Nathan mana?" tanya Lean saat tak melihat ada keberadaan Nala dan Nathan.


" Oh, mereka sudah pulang."


" Kenapa mendadak?"


" Oma Sekar masuk rumah sakit, dan kondisinya sudah sangat kritis. Jadi, mau tidak mau om Rian sekeluarga terbang ke Belanda malam ini juga," jelas Anne.


Oma Sekar adalah ibu dari Rian. Sejak setahun yang lalu, Oma Sekar pindah ke Belanda ikut suami barunya. Ayah Rian sudah meninggal sekitar sepuluh tahun lalu, itu juga yang membuat Rian harus merelakan profesi Dokternya demi meneruskan perusahaan milik keluarganya.


" Jadi, sekarang mereka__"


" Mungkin sudah hampir sampai bandara. Karena mereka langsung berangkat ke Belanda menggunakan jet pribadi Papa," ungkap Anne.


Nala pergi, tepat saat Lean berjalan menaiki panggung, sehingga membuat Lean tidak tahu kapan kepergian mereka. Yang dia tahu, Nala sudah tidak ada tatkala sorot matanya terus mencarinya.


Papa Ken memang tidak bisa mengantarkan sampai keluar gedung, tapi dia sudah menyiapkan satu jet pribadi yang akan membawa sahabatnya ke Belanda.


" Kenapa? Udah kangen ya ...," ledek Anne.


" Apaan sih!" ucap Lean yang segera pergi ke luar dari gedung acara.


Ketika sudah berada di luar, Lean terus berusaha menghubungi Nala. Namun, nomor ponselnya sudah tidak aktif.


" Masak iya, sudah take off?" gumam Lean yang mencoba menghubungi Nathan, tapi tidak di jawab.


" Kemana sih mereka?"


" Lean," panggil seseorang dari kejauhan.


Mendengar ada yang memanggilnya, membuat Lean membalikkan badan.


" Lea," lirih Lean saat melihat siapa yang datang menghampirinya.


" Kamu kenapa di luar sendirian?"

__ADS_1


" Oh, lagi cari angin," dusta Lean.


" Oh, iya Le... Aku manggil kamu hanya ingin memberikan ini." Lea menyodorkan sebuah kertas undangan pada Lean.


" Kamu mau bertunangan?" tanya Lean selepas membaca isi kartu undangan itu.


Lea mengangguk." Aku harap kamu bisa datang, bagaimana juga kita pernah menjadi teman dekat, walaupun sudah renggang, " cicit Lea pada kata 'renggang'.


" Selamat ya, in sya Allah kalau tidak ada halangan aku akan datang."


Lea tersenyum, lalu berlalu pergi. Karena merasa canggung dengan sikap Lean yang begitu dingin padanya. Bahkan, Lean tidak tersenyum sedikitpun seperti dulu saat berbicara dengannya.


Kamu benar-benar berubah Le, batin Leandra.


...☘️☘️☘️...


Hari demi hari telah berlalu, namun tak kunjung ada kabar dari Nala. Lean terus menatap layar ponselnya, chatnya ke Nala dari seminggu yang lalu belum di balas juga.


Kamu kemana sih, Nal? Kenapa tidak ada kabar sama sekali coba? Kenapa aku bisa serindu ini dengan gadis kecil itu?


Karena tidak ingin berlarut-larut dalam kerinduan pada lawan jenis yang belum menjadi mahramnya, membuat Lean menyibukkan diri dengan pekerjaan.


" Anne," panggil Lean seraya berjalan menghampiri adiknya itu.


" Ada apa, Kak?"


" Nala ada menghubungi kamu nggak?" tanya Lean to the poin.


Anne tersenyum, lalu mencoba mengendus-endus mendekati Lean.


" Sepertinya aku mencium aroma kerinduan yang sangat mendalam," goda Anne.


" Kebiasaan deh, di tanya apa jawabannya apa! "kesal Lean.


Anne hanya terkekeh melihat wajah kesal kakaknya itu.


" Memangnya aku bakalan dapat hadiah apa kalau kasih informasi ke kakak?" mode licik bin jahil Anne kembali.

__ADS_1


Lean hanya bisa menghembuskan nafas kesal ketika mencium aroma matre dari adiknya ini. Padahal, jatah jajan dia juga cukup banyak, tapi masih aja suka morotin kakaknya.


Lean segera membuka dompetnya, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah.


" Ni, cukupkan?"


Anne menggeleng, Lean kembali menambah jumlah uangnya. Namun, anne tetap geleng kepala.


" Nih semuanya!" Lean mengeluarkan semua uang di dalam dompetnya.


" Aku bukan mau uang! Uang jajanku masih banyak," tukas Anne setelah diam dan hanya menjawab dengan gelengan kepala.


Lean mengerutkan keningnya.


" Kenapa nggak bilang dari tadi, sih. Buang-buang waktu saja!" sungut Lean.


" Kakak aja yang nggak peka." Anne mencebik.


" Yaudah cepat bilang, kamu mau apa!"


Anne tersenyum penuh arti, akhirnya kakaknya ini masuk ke dalam jebakannya.


" Aku___ mau Kakak bantuin bilang ke Papa untuk izinin aku kuliah di luar Negeri."


" Tidak! "tolak Lean dengan keras.


Anne menekuk wajahnya kesal." Yaudah kalau gitu tidak bakalan ada informasi! " ancam Anne yang berlalu pergi.


" Anne ..., " panggil Lean namun tidak di hiraukan oleh Anne.


Lean mengejar Anne yang terus berjalan tanpa henti.


" Yang lainnya deh, bakalan kakak kasih. Asalkan bukan untuk sekolah ke luar Negeri, " bujuk Lean. Namun, Anne tidak menghiraukannya.


"Anne ... ayolah ... Jangan seperti itu. Kalau sampai kakak bantu kamu yang itu bisa kena amukan Papa dan Kak Kean" jelas Lean.


Papa Ken memang tidak membiarkan Anne untuk kuliah di luar Negeri. Karena baginya kuliah di Indonesia juga sudah sangat bagus. Sifat over protektif dari Papa Ken, membuat dia tidak ingin putrinya tinggal jauh dari dirinya.

__ADS_1


"Ini bukan pasar jadi tidak ada tawar menawar!" ketus Anne.


...****************...


__ADS_2