My Best Partner

My Best Partner
Bab 58


__ADS_3

Sepulang dari kos kosan, Kean terus menatap wajah Dinda yang terlihat biasa-biasa saja. Seperti tak ada sesuatu yang salah.


"Nda ...," panggil Kean ketika melihat istrinya hanya diam saja seraya memainkan ponsel.


"Em ...," jawab Dinda datar karena sedang membalas pesan dari Ratna dan Ernita yang merasa kesal karena Dinda pergi tanpa bertemu mereka terlebih dahulu.


" Lagi chat - chetan sama siapa sih? Sampai suami di kacangin?" kesal Kean.


"Sama temen!"


"Oh."


Setelah itu, Kean fokus menyetir saja daripada bicara dengan sang istri yang sedang tak fokus di ajak bicara.


Sesampainya di rumah, Kean terus saja diam tanpa kata.


"Abang," panggil Dinda ketika melihat Kean tak ikut masuk ke kamar justru berjalan terus menuju ke sebuah ruangan lain.


"Ada apa?" tanya Kean singkat dengan wajah datar dan dingin seperti dulu.


Dinda mengernyitkan dahinya. "Abang kenapa?" tanya Dinda penuh dengan tatapan menyelidik. Dia bingung dengan perubahan sikap Kean, bukankah tadi masih baik-baik saja. Lalu, kenapa tiba-tiba kembali menjadi Kean si bos dingin dengan wajah datar?


"Abang mau lihat beberapa pekerjaan!" pungkas Kean yang segera masuk ke dalam ruang kerjanya.


Dinda juga ikut masuk ke dalam ruangan itu. Dinda kembali di buat tercengang ketika melihat benda-benda yang ada di ruangan itu. Ada sebuah Astronomical teleskop, peralatan seorang gamer yang begitu lengkap, serta buku-buku berjejer rapi di rak buku.


Alat-alat ini, adalah barang-barang yang sejak dulu Dinda ingin dan impi impikan saat dia masih menjadi seorang streamer game. Namun, mimpi itu harus ia kubur dalam-dalam. Bahkan dia harus merelakan hobinya itu, mengingat kembali siapa dia.


"Bang?" panggil Dinda lagi.


"Em," jawab Kean masih datar.


Melihat Kean yang terus saja bersikap dingin, membuat Dinda segera berjalan menghampirinya. Dinda menarik kursi Kean, lalu duduk di atas pahanya serta tangan yang dikalungkan ke leher Kean.

__ADS_1


"Abang kenapa berubah jadi dingin lagi? Apa tadi kesambet jin jendes?" ketus Dinda dengan meniup wajah Kean agar jin yang melekat pada tubuh suaminya hilang.


Kean tersedak sekaligus merinding ketika Dinda meniup wajah dan tengkuknya. Kean mencoba menghentikan aksi Dinda jika di teruskan, Kean tak akan tahan lagi. Padahal dia lagi dalam mode ngambek.


" Nda, stop! Abang merinding kamu tiup seperti itu,!" titah Kean.


Bibir Dinda mengerucut melihat wajah suaminya yang masih saja datar tak ada ekspresi.


" Dinda nggak mau berhenti sampai jin jendesnya menghilang dari tubuh Abang!" protes Dinda.


Kean mengerutkan keningnya ketika mengetahui Dinda meniup wajah dan tengkuknya karena ingin menghilangkan sesuatu yang tidak ada. Kean sedikit memijat keningnya.


" Sudah ya, nggak ada yang namanya jin jendes seperti yang kamu bilang! Kalaupun ada juga bukan begitu cara menghilangkannya," pungkas Kean.


Mana ada jin yang menempel pada tubuh manusia akan hilang hanya dengan di tiup. Andai saja semudah itu, tak akan ada orang yang sampai di ruqyah untuk menghilangkannya.


" Terus gimana caranya? Dinda pengen menghilangkan jin itu biar suamiku kembali seperti semula. Tidak seperti manusia robot atau kulkas dua pintu,"ungkap Dinda dengan polosnya.


Kean kembali di buat tercengang oleh sikap istrinya ini. Bagaimana dia bisa berpikir bahwa Kean cuek dan dingin karena ada jin yang menempel pada dirinya. Alih-alih introspeksi diri kenapa Kean bisa berubah seperti itu. Apakah Dinda memang tak peka sama sekali? Atau bodoh? Jika bodoh tak mungkin, dia jago dalam melawan Kean main game dan jago hacker juga.


"Peka?" ulang Dinda. "Justru aku sangat peka, makanya menyadari kalau Abang berbeda. Jadi kembali seperti dulu, dingin dengan wajah yang datar," jelas Dinda.


"Jika kamu peka, pasti tahu kenapa abang diem!" pungkas Kean. Lalu, dia menyuruh Dinda turun dari pangkuannya karena Kean mau melanjutkan pekerjaannya.


Berdebat adalah hal yang paling tidak di sukai Kean, maka dari itu dia memilih diam. Kean juga masih merasa kesal mengingat kembali bagaimana Dinda tak menghiraukannya. Justru tertawa dan fokus sambil menatap layar ponsel. Bahkan saat Kean ingin mengambil handphonenya, Dinda langsung menyembunyikan handphone itu. Seakan dia tak mau jika Kean mengambil ponselnya.


Dinda mencoba mengingat kembali, apa yang sebenarnya terjadi sampai membuat Kean berubah seperti ini. Padahal sebelumnya, dia baik-baik saja. Sampai pada akhirnya dia ingat kalau Kean berubah sejak dia chat-chatan dengan Ernita dan Ratna.


"Bang," panggil Dinda.


"Em."


"Abang lagi marah sama aku?" tanya Dinda untuk memastikan lagi.

__ADS_1


"Tidak."


Kini Dinda kembali duduk di pangkuan Kean, lalu dia menangkup wajah Kean dan menatap matanya lekat-lekat.


"Sekarang jawab yang jujur, Abang marah atau tidak?"


Kean berusaha melepaskan tangan Dinda yang menakup wajahnya, namun Dinda justru menatapnya dengan sorot mata tajam serta mengeratkan cakupannya sampai membuat bibir Kean mengerucut.


"Nda ... Le-pasin," ucap Kean dengan susah payah.


"Jawab dulu pertanyaan ku dengan jujur!" titah Dinda.


Sebenarnya Kean bukannya marah, dia hanya ingin Dinda tahu kalau Kean tak suka di abaikan seperti tadi. Apalagi Kean tak tahu siapa orang yang membuat Dinda tertawa sekaligus mengabaikannya. Kean mencoba melepaskan tangan Dinda ketika merasa wajahnya mulai terasa kebas.


"Kamu mau buat wajah abang rusak?"


"Lagian, wajah abang asli, kan? Bukan palsu. Jadi, tak akan mudah rusak hanya digituin!" pungkas Dinda.


Kean semakin di buat pusing dengan istri labil, sekaligus tak pekanya ini.


"Baiklah, abang bukannya marah. Hanya kesal karena kamu tadi ___" Kean tak bisa melanjutkan ucapannya karena Dinda sudah membungkam bibirnya dengan ciuman. Tapi, Kean masih diam saja karena bingung harus membalas atau tidak. Sedangkan Dinda, justru ******* rakus bibir Kean dan semakin menuntut untuk di balas.


Dinda ingat satu pesan tante Mirna. Cara paling ampuh untuk mengatasi suami yang marah cukup beri perhatian dan berikan tubuhmu saja. Karena kelemahan laki-laki adalah wanita. Jadi, setelah mengetahui bahwa Kean memang marah. Dinda menciumnya untuk meredakan kemarahan suaminya itu.


Sejak menikah, Dinda juga paling tidak bisa jika Kean bersikap dingin. Dia jadi tidak bisa bermanja dengan pria yang sudah membuatnya candu.


...☘️☘️☘️...


Di tempat lain, terlihat seorang pria tampan tengah mempersiapkan Dinner istimewa bersama wanita pujaan hatinya. Setelah persiapan selesai, Lean segera membenahi penampilannya. Malam ini, adalah malam istimewa baginya. Jadi, dia ingin terlihat tampan di depan wanita pujaannya itu.


Restoran dengan nuansa romantis, buket bunga mawar merah, serta cincin berlian yang sangat cantik telah ia siapkan semua. Jika Kean pria yang dingin dan tak romantis. Berbeda dengan Lean, pria ramah, narsis, dan juga romantis.


Dia benar-benar menyiapkan semua sendiri, di sela kesibukannya. Lean berharap bahwa usahanya kali ini tidak akan sia-sia.

__ADS_1


" Sepertinya semua sudah perfek! Ah ... Dari dulu, aku memang terlihat sangat tampan saat memakai setelan jas seperti ini. Et ... tunggu dulu, sepertinya kata-kataku sedikit salah. Karena aku selalu tampan, walau hanya memakai kaos polos saja! Tapi, ketampananku akan bertambah 5 tingkat jika memakai setelan jas. Sepertinya kata itu lebih cocok! "


Lean masih terus memuji dirinya sendiri lewat pantulan cermin. Sifat narsisnya memang sudah sangat tinggi. Tapi, Kean memang tampan. Jadi masih sah-sah saja jika narsis. Asalkan kenarsisannya masih berada di tahap wajar.


__ADS_2