My Best Partner

My Best Partner
Partner Terbaik ~ Bab 96


__ADS_3

" Bang, anak kita gimana? Apakah dia baik-baik saja? "tanya Dinda yang seketika membuat wajah Kean pucat.


" An-nak____" Kean gugup harus mengatakan apa.


Dinda mengangguk. " Iya, Bang. Anak kita, dia baik-baik saja kan? Soalnya___" tenggorokan Dinda tercekat. Dadanya terasa sesak, ketika mengingat kejadian tadi siang. Dimana ada serangan bertubi-tubi sampai membuat dirinya jatuh tersungkur di lantai, dan merasakan sakit yang begitu hebat.


Meskipun tak sepenuhnya sadar, Dinda bisa melihat wajah-wajah jijik dari orang-orang yang tak mau membantunya sedikitpun. Padahal, dia tidak tahu apa salahnya, namun semua orang menghakimi bahwa dia seorang pelakor.


Tanpa terasa, air mata Dinda kembali menetes, membuat Kean semakin panik dan bingung. Kean menakup wajah Dinda yang sudah basah. " Kamu kenapa sayang?" tanya kean dengan wajah panik saat melihat Dinda tiba-tiba menangis.


" Apakah aku terlihat seperti seorang pelakor?" tanya Dinda di tengah isak tangisnya.


" Kenapa kamu bisa bilang seperti itu? Siapa yang berani mengatakan kamu sebagai pelakor? " tanya Kean yang semakin penasaran. Karena dia tidak tahu apa yang telah terjadi pada istrinya.


Bukannya menjawab, Dinda justru semakin menangis sesegukan jika mengingat kejadian tadi. Melihat hal itu, Kean segera menenggelamkan wajah istrinya ke dalam dada bidangnya.


Hati Kean ikut teriris saat melihat tangisan istrinya pecah seperti ini.


Apakah kejadian tadi sangat menakutkan? Tapi, apa yang sebenarnya terjadi? Batin Kean yang masih mengusap punggung Dinda guna menenangkannya.


Setelah melihat Dinda mulai tenang, Kean memberanikan diri untuk bertanya apa yang sudah terjadi. Pelan-pelan, Dinda menceritakan kejadian kilat tapi sangat menyakitkan dan membekas di hati.


Tangan Kean sudah mengepal erat, matanya memerah, saat mendengar cerita sekilas dari Dinda. Ingin rasanya Kean pergi untuk menanyakan sekaligus memberi pelajaran kepada mereka semua yang sudah berani-beraninya menyakiti istri dan calon bayinya.


"Bang, tadi abang belum jawab pertanyaan Dinda. Apakah anak kita baik-baik saja?" tanyanya lagi yang sudah sangat penasaran.


Kean yang sudah tersulut amarah, berubah menundukkan kepalanya, lalu menggeleng.


" Jadi, dia sudah tidak ada di dalam perut ini lagi?" ucap Dinda seraya mengusap perutnya.


Kean mengangguk.


Dinda tersenyum, namun senyuman itu terlihat sangat menyakitkan. Karena bukan senyum bahagia, melainkan senyum kesedihan. Meskipun dia belum siap menjadi ibu, tapi mengetahui bahwa semua orang bahagia saat mendengar kehamilannya. Membuat Dinda semakin menyayangi anak itu, bahkan dia terus mengusap perutnya sesekali ketika mengingat bagaimana sikap Kean yang terus mencium dan mengusap perutnya dengan raut wajah bahagia.


" Maafin Minda ya, karena tidak bisa menjaga kamu dengan baik," lirih Dinda. Konyol memang berbicara seperti itu pada perut yang sudah tak ada lagi janin di dalamnya.


Hati Kean semakin teriris, melihat kesedihan istrinya. Dia yang tak mengandung saja sangat sedih, apalagi Dinda ... Kean kembali memeluk Dinda.

__ADS_1


" Maafin Dinda ya bang ... Dinda nggak bisa jagain anak kita dengan baik, hiks... hiks ...."


" Sudah, kamu nggak salah, mungkin memang bukan rezeki kita. Jangan menyalahkan diri sendiri, karena nggak ada yang ingin hal ini terjadi."


Tiba-tiba, suara ketukan pintu terdengar dari luar.


" Siapa, Bang? "tanya Dinda.


Kean menggeleng, karena dia juga tidak tahu siapa yang datang. Karena tak kunjung ada yang membukakan pintu, Mama Dira dan Anne segera menerobos masuk.


" Mama, Anne, " lirih Kean dan Dinda bersamaan ketika melihat siapa yang datang.


Mama Dira segera memeluk Dinda dengan erat. Selepas mendengar kabar dari Papa Ken bahwa Dinda masuk rumah sakit dan keguguran, Mama Dira langsung berangkat ke rumah sakit bersama Anne, karena kebetulan Anne juga sudah pulang dadi sekolah.


" Yang sabar ya sayang ...," ucap Mama Dira.


Mendapatkan pelukan hangat dari mama Dira, seperti mendapatkan pelukan dari almarhum ibunya. Dinda merasa bersyukur sekali, memiliki keluarga baru yang menganggapnya seperti anak sendiri, bukan anak mantu.


" Terus, sekarang bagaimana kondisimu? Apakah masih ada yang sakit? Terus kenapa wajah menantu kesayangan mama jadi lebam-lebam seperti ini?" ujar Mama Dira sembari meneliti wajah Dinda dengan seksama.


"Kean, kamu jadi suami gimana sih? Kamu kemana saja, kenapa istrimu bisa jadi seperti ini?" amuk Mama Dira dengan tatapan tajamnya.


" Ma, jangan salahin abang, Bang Kean___"


" Gimana Mama nggak nyalahin Kean, orang kalian sekantor kok. Masak Mama mau nyalahin pak mansur!" ketus Mama Dira.


" Memangnya Pak Mansur siapa, Ma?" tanya Anne dengan polosnya. Karena setahu Anne nama supir di rumah tidak ada yang namanya Mansur.


" Penjual cilok mungkin!" ketus Mama Dira.


Dinda dan Anne seketika tertawa mendengar ocehan Mamanya. Sedangkan Kean hanya diam saja karena Mama Dira masih menatap tajam ke arahnya.


" Kalau kamu tidak bisa menjaga Dinda, bilang. Biar dia di rumah saja sama Mama, "lanjut Mama Dira.


Belum saja selesai mengomel, sudah terdengar suara ketukan pintu dadi luar. Anne segera pergi untuk membukakan pintu.


" Papa, "lirih Anne saat melihat Papanya yang datang.

__ADS_1


" Kamu sudah ada di sini? "tanya Papa ken yang diangguki Anne seraya mencium tangan Papanya.


" Kenapa suasananya canggung sekali? "tanya Papa ken yang merasa aneh karena semua orang menatap ke arahnya.


" Ya karena Papa datang di waktu Mama masih ngomelin Kean! "pungkas Mama Dira.


" Oh, kalau begitu Papa keluar saja," ucap Papa Ken yang sudah ingin pergi. Namun, di hentikan oleh Mama Dira.


" Sudah di sini saja! Mumpung Papa sudah datang, mama mau tanya bagaimana dengan cecunguk yang sudah mendzolimi menantu kesayangan Mama? "tanya Mama Dira penasaran.


Papa ken, mengerutkan keningnya ketika mendengar istrinya sekarang lebih ceplas ceplos dari pada dulu. Mungkin karena sudah lama tinggal di luar negeri, atau lingkungannya yang berbeda sehingga membuat tata bicaranya jauh berbeda dari dulu.


Kean dan Dinda hanya bisa saling pandang mendengar Mama Dira yang tidak bicara elegan seperti biasanya.


" Sudah Papa beri hukuman yang setimpal," jawab Papa Ken.


Mama Dira memicingkan matanya, lalu mendekati Papa Ken. Mencoba mencari arti dari perkataan itu.


" Hukuman yang setimpal?" ulang Mama Dira. "Papa tidak membunuh mereka, kan?" tanya Mama Dira yang membuat semua orang terkejut mendengarnya.


Papa bisa membunuh orang? Batin Kean, Anne, dan juga Dinda.


" Astagfirullah hal adzim, Ma. Mana mungkin Papa melakukan hal itu. Coba lihat, gara-gara Mama bicara sembarangan, membuat anak-anak kita ketakutan semua." Papa Ken mencoba mengalihkan pembicaraan. Dia tidak mau kekejamannya di masa lalu di ketahui oleh anak-anaknya.


Mama Dira menengok ke arah anak-anaknya yang memang terlihat tegang. Karena terbawa emosi, membuat Mama Dira sampai keceplosan.


" Ya, Mama hanya bercanda. Siapa tahu seperti di film-film," Mama Dira membantu mengalihkan pembicaraan.


Anne, Kean dan Dinda seketika bernafas lega saat mendengar bahwa Mama Dira hanya bercanda. Kemudian, Mama Dira menarik tangan Papa Ken untuk pergi menjauh. Dia masih benar-benar penasaran apa hukuman yang di berikan oleh Papa Ken kepada penjahat itu.


" Papa yakin? "lirih mama Dira yang sekarang tidak mau berbicara keras-keras.


" Apa Mama masih meragukan Papa? Papa kan sudah janji untuk tidak membunuh orang lagi, " pungkas Papa Ken.


" Pa, Ma, kenapa menyendiri di situ? Kita juga ingin tahu Papa memberi hukuman apa sama orang yang sudah mencelakai kak Dinda," ujar Anne yang juga ikut penasaran.


Papa Ken hanya bisa menghela nafas panjang, sepertinya dia akan di interogasi oleh anak-anaknya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2