My Best Partner

My Best Partner
Bab 53


__ADS_3

Bab ini sedikit area dewasa dan buat para emak-emaak yang sudah punya suami. Jadi yang masih belum menikah, boleh skip aja. Kalau tetap. Baca, Dosa tanggung sendiri, soalnya sudah di beri peringatan. Oke๐Ÿ‘Œ


Tante Mirna'?


" Siapa, Bang?" tanya Dinda seraya menghampiri Kean yang mematung.


Dengan berat hati, Kean memberikan ponsel itu kepada Dinda. Ketika melihat nama siapa yang tertulis di layar ponsel itu, Dinda sedikit mengerutkan keningnya.


Dinda mengangkat telepon dari Tante Mirna dan menjelaskan apa yang sudah terjadi. Terkejut? Tentu saja terkejut, bagaimana tidak tekejut jika dalam waktu semalam Dinda sudah menjadi istri orang.


Tante Mirna hanya bisa memberikam selamat karena dia juga bukan siapa - siapa Dinda yang bisa berkomentar banyak. Melihat suaminya yang duduk di sofa seakan menahan gai*rahnya, membuat Dinda merasa kasihan


Sebelumnya, Kean tak seperti ini. Mungkin memang dia sudah tak mampu menahannya lagi, bagaimana juga Kean adalah pria dewasa yang normal. Tinggal berdua dalam satu kamar bersama seorang wanita yang sudah menjadi istrinya, tentu saja akan membangunkan g*airah *****nya. Apalagi mereka adalah dua orang yang saling cinta, rasa ingin memiliki pasti akan jauh lebih besar.


Tidak ada malam pertama, mungkin siang pertama juga tidak masalah. Selesai berbicara dengan tante Mirna, Dinda berjalan menghampiri Kean. Melihat Dinda yang tiba-tiba duduk di atas pahanya, membuat Kean sedikit terkejut.


"Apakah sudah selesai ngobrolnya?"


Dinda mengangguk.


"Maaf, kalau abang tadi sedikit kasar dan tak menepati ucapan abang sebelumnya. Apakah__" ucapan Kean terhenti tatkala jari telunjuk Dinda menyentuh bibirnya.


"Gapapa kok, lagian abang berhak meminta hal itu. Tapi, kenapa abang tiba-tiba bersikap kasar? Apakah ada sesuatu terjadi?"


Kean terdiam, dia sedikit malu ingin berkata kalau dia sebenarnya tidak suka melihat Dinda berbicara dengan seorang pria. Emosinya tiba-tiba begitu memuncak tatkala mendengar istrinya berbicara dengan seorang pria.


" Bang, kok diam saja?"


" Oh, Dion itu siapa?" bukannya menjawab, Kean justru melontarkan sebuah pertanyaan yang terus mengganggunya. Dia ingin tahu siapa pria yang menelpon Dinda tadi.


"Dion?" ulang Dinda.


Kean mengangguk. Sedangkan Dinda tersenyum bahagia, ternyata Kean bersikap liar seperti itu karena terbakar api cemburu. Melihat wajah Kean yang terlihat seperti sedang menunggu jawaban darinya, membuat Dinda mempunyai ide untuk menjahili suaminya itu.


"Oh, dia___"

__ADS_1


"Abang tidak perlu tahu dia siapa!" lanjut Dinda ketika melihat Kean sangat menunggu jawabannya.


Kean mengerutkan keningnya, dan menatap tajam mata Dinda.


"Siapa dia? Jawab jujur!" kini nada bertanya Kean semakin terlihat menuntut.


"Abang cemburu?"


Kean langsung membuang muka, dia terlihat salah tingkah. Kean tak ingin Dinda tahu kalau dia memang sedang cemburu dengan pria bernama Dion itu. Dikalahkan main game dua kali di depan keluarganya saja sudah membuat harga diri seorang Keane jatuh, apalagi di tambah kenyataan kalau dia sedang cemburu. Bukankah semakin memalukan? Kean seakan termakan oleh ucapannya sendiri. Dulu, dia mengatakan tak akan mencintai gadis ceroboh, tapi buktinya? Dia justru menikahi gadis ceroboh itu dan sudah mencintainya.


Dinda menakup wajah Kean untuk menghadap ke arahnya. Dia paling tidak suka melihat Kean membuang muka tatkala mereka sedang berbicara.


"Apa kamu benar seorang streamer game?" Kean mencoba mengalihkan pembicaraan.


Dinda merasa kesal melihat Kean justru mengalihkan pembicaraan mereka ke sesuatu yang sama sekali tak ingin Dinda ingat dan bicarakan. Mendengar kata streamer game membuat Dinda mengingat masa lalu yang sangat menyakitkan.


"Din jangan banyak bergerak!" ujar Kean ketika Dinda terus bergerak membuat sesuatu yang sudah tertidur bangun kembali.


Dinda menarik sudut bibirnya, pikiran nakal menghinggapi dirinya. Dia ingin memberi pelajaran bagi orang yang sudah mengalihkan pembicaraan. Tanpa malu, Dinda memasukkan tangannya kedalam baju Kean. Otot perut yang begitu sixpack membuat Dinda semakin ingin meraba dan memberikan sentuhan sensual.


Kean sempat menggelinjang saat tangan Dinda menyentuh kulitnya. Spontan Kean menahan tangan Dinda agar berhenti melakukannya.


Kean masih ingat betul ucapannya yang akan melakukan hal itu setelah pernikahan mereka sah secara hukum. Namun, Kean juga pria normal yang mempunyai hasrat pada lawan jenis. Jika Dinda terus bersikap seperti ini, dia takut tak kuat menahannya lagi.


Dinda mendekati telinga Kean dan berbisik dengan nada sensasional. "Memangnya kenapa? Apakah Abang berhasrat?"


Meskipun polos, dan tak pernah memperaktekkannya. Dinda sering menonton drama adegan pemeran wanita yang menggoda si pemeran pria, dan dia sedikit belajar dari itu. Semalam Kean juga sempat mengatakan bahwa setelah menikah, apapun yang mereka lakukan selama itu hal baik adalah bentuk ibadah dan akan mendapatkan pahala.


Jadi, anggap saja kalau saat ini dia sedang mencari pahala sebanyak-banyaknya dengan cara melayani suami. Dinda juga ingat pesan aunty Sinta agar dia lebih bersifat agresif jika bersama pria cuek dan dingin seperti Kean.


Mendengar bisikan Dinda yang begitu sensasional, membuat tubuh Kean seperti tersengat aliran listrik. Hawa panas kembali menghampirinya, membuat hasratnya kembali menggebu-gebu ingin di puaskan.


Tiba-tiba Kean bangun dari duduknya dan menggendong Dinda ala koala berjalan menuju ranjang mereka. Lalu, meletakkan Dinda berlahan dia tas kasur. Jakun Kean sudah naik turun, wajahnya terlihat memerah menahan hawa panas.


"Apa kamu yakin___"

__ADS_1


Sebelum Kean menyelesaikan ucapannya, Dinda justru sudah menciuminya rakus. Kean yang sudah di ambang pertahanan, mulai goyah dan membalas ciuman itu tak kalah buasanya.


Selang beberapa menit kemudian, Kean sudah melepaskan kaos dan celana panjangnya, tersisa pembungkus terakhirnya saja. Dinda menelan salivanya dalam-dalam ketika melihat ada sesuatu yang sudah membesar di balik kain itu.


Sumpah! Kenapa itu___ sakit nggak ya? Kenapa aku jadi takut seperti ini! Dasar Dinda, kamu benar-benar sudah membangunkan Harimau yang sedang tidur. Sok-sok an bersikap agresif, di tengah jalan ketakutan sendiri! Dinda terus merutuki kecerobohan dan kebodohannya itu.


Kean mengambil selimut untuk menutupi tubuh mereka. Melihat rambut Dinda yang berantakan, membuat Kean merapikannya terlebih dahulu.


"Apa kamu yakin sudah siap? Jika belum, kita bisa berhenti sampai di sini dulu. Abang tidak mau memaksakannya," ungkap Kean saat melihat ketegangan di wajah Dinda.


Di dalam hati sedikit menolak, tapi tubuhnya menerima setiap sentuhan yang di berikan oleh Kean. Sekarang atau nanti bukankah sama saja, Dia tetap harus menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri.


Soal pernikahan secara hukum juga sudah di urus, tinggal menunggu buku nikah jadi. Penghulu yang menikahkan mereka kemarin, merupkan petugas kantor urusan agama, begitu juga dengan salah satu saksinya. Jadi, mereka tak perlu melakukan akad lagi, hanya melengkapi data-data mengurus dokumen pengajuan pernikahan secara hukum.


"Dinda siap, hanya sedikit takut kalau sakit saja!" pungkas Dinda dengan polosnya.


"Abang akan pelan-pelan."


Kean mulai menuntun Dinda untuk membaca doa terlebih dahulu agar apa yang mereka lakukan tidak ada campur tangan setan.


Rasa takut Dinda mulai menghilang seiring sentuhan lembut yang di berikan oleh Kean. Meskipun belum berpengalaman, Kean terlihat pandai dalamnya memberikan sentuhan yang bisa membuat Dinda melayang.


" Nda, apakah aku salah lubang?" tanya Kean polos yang langsung membuyarkan kenikmatan Dinda.


" Salah lubang?"


" Ya, soalnya belum bisa masuk!"


Dinda menepuk jidat, dan menutup wajahnya yang memerah karena malu. Baru saja dia memuji Kean pandai, tapi ternyata sifat kepolosannya datang lagi.


Jujur, Kean memang belum selesai mempelajari panduan berhubungan intim dengan istri. Karena dia berpikir akan melakukannya beberapa hari lagi. Jadi, persiapannya belum selesai. Namun, godaan terus saja datang membuat hasratnya terus menggebu.


...****************...


Ciye ... Jangan traveling dulu ya ...

__ADS_1


Mohon maaf ceritanya di sini Kean kan memang pria polos dan minim pengetahuan soal begituan. Jadi harap maklum yah... ๐Ÿ™๐Ÿ™


Jangan lupa like, hadiah, komen dan votenya. Mumpung hari senin๐Ÿ˜. Nanti kalau banyak, bakalan author kasih bonus


__ADS_2