
Aldert memberanikan diri untuk berkata jujur saja, karena Nala sepertinya belum terlalu paham dengan sikap perhatiannya selama ini karena Moe Sekar sedang menjodohkan mereka berdua.
Moe Sekar memang sedang menjodohkan mereka agar hubungan Aldert lebih dekat lagi dengannya. Bukan hanya sekedar anak angkat saja, lagi pula Aldert juga masih berusia 26 tahun. Masih terlihat pantas jika besanding dengan Nala.
Bola mata Nala membulat sempurna tatkala mendengar ucapan Aldert yang mengatakan bahwa mereka sedang di jodohkan.
" Maksud, Oom Al apa?" Nala mencoba memastikan kembali bahwa apa yang dia dengar benar.
" Moe sedang menjodohkan kita berdua!" jelas Aldert.
Deg
Jantung Nala seketika berhenti berdetak, hatinya seakan tersambar petir di malam hari. Nala benar-benar tidak menyangka bahwa omanya mempunyai pemikiran itu. Ingatan pembicaraannya dengan Oma Sekar beberapa hari yang lalu seakan berputar kembali.
" Nal, boleh oma bertanya sesuatu?" tanya Oma Sekar pada sang cucu kesayangannya.
Nala yang masih mengupaskan buah apel, hanya bisa menganggukkan kepalanya.
" Karena sekarang kamu sudah hampir lulus SMA, Oma mau tanya ... Apakah kamu mempunyai kekasih?"
Nala terdiam sejenak, mencoba berpikir.
Apakah Kak Lean termasuk kekasih? Tapi, kan dia menolak untuk pacaran. Jadi, sepertinya tidak.
Nala menggeleng. " Memangnya kenapa,Oma?" Nala bertanya balik karena ingin tahu kenapa Omanya tiba-tiba menanyakan pacar padanya. Padahal, dulu oma Sekar selalu memperingati dirinya untuk tidak pacaran sebelum lulus sekolah.
Oma sekar tersenyum, ternyata cucu kesayangannya ini mendengarkan nasehatnya.
" Gapapa, hanya ingin tahu saja. Terus, apakah kamu sudah punya kriteria pria idaman?" Oma Sekar mencoba memancing agar Nala memberitahukan seperti apa pria idamannya.
" Sepertinya ada," jawab Nala malu-malu.
"Seperti apa?" tanya Oma lagi.
__ADS_1
" Seperti, Papa," jawab Nala dengan seringai di bibir.
Oma sekar tertawa saat mendengar jawaban cucunya. Ternyata Rian pandai dalam mendidik anak, sampai dia bisa menjadi tolak ukur pria idaman bagi anak perempuannya.
" Kenapa kamu menggunakan papamu sebagi tolak ukur?"
" Karena Papa adalah pria yang pintar, baik, tampan, setia sama pasangannya, dan masih banyak lagi. Setidaknya jangan sampai di bawah Papa lah, kalau bisa di atas Papa ya ... alhamdulillah," jelas Nala polos.
Oma Sekar hanya bisa tersenyum sembari mengelus puncak kepala Nala.
" Kalau Aldert, menurut kamu dia seperti apa? "
" Oom, Al? "
Oma Sekar mengangguk.
" Dia cuek, tidak bisa bercanda, masakannya cukup enak___"
" Em ... lumayanlah, " jawab Nala singkat.
Nala tersenyum kecut ketika menyadari bahwa pembicaraannya dengan oma sekar tempo hari, adalah untuk mencari tahu tentang ini. Pantes saja akhir-akhir ini, Aldert sedikit berubah sikapnya dari sebelumnya. Dia mencoba untuk mengajak Nala bercanda, namun garing. Karena pada dasarnya, dia bukan pria humoris, melainkan pria cuek dan irit bicara.
" Sekarang kamu sudah paham?" tanya Aldert mencoba memastikan bahwa Nala sudah paham kenapa dia mengajaknya ke tempat ini. Karena Aldert tidak menganggap Nala sebagai keponakan, melainkan wanita yang sedang di jodohkan dengannya.
" Tapi, Maaf Oom. Nala hanya menganggap Oom Al sebagai paman, tidak lebih," ucap Nala dengan wajah serius.
" Oh ya? Bukankah, kamu pernah menulis nama Aurora ❤️ Albert di gembok sebuah kotak berbentuk love?" tanya Al yang tanpa sengaja, memang pernah melihat kotak itu sehingga dia bisa tahu.
Aurora adalah nama inggris Nala, karena dia sangat menyukai cahaya Aurora yang sangat cantik.
Dan, Aldert mengira bahwa nama Albert itu adalah nama dirinya dalam bahasa inggris. Karena kedua nama itu memiliki arti yang sama hanya beda penulisan saja.
Albert \= Inggris.
__ADS_1
Aldert \= Belanda.
Nala mengerutkan keningnya, ternyata Al sudah salah paham.
" Maaf, sepertinya Oom sedang salah paham. Tulisan di gembok itu bernama Albert bukan Aldert, dan kalian beda orang." jelas Nala.
Entah mengapa tiba-tiba dada Al terasa sesak saat mengetahui kebenaran bahwa dia sudah salah paham.
" Jadi ... Maksud kamu___?" Al tak mampu meneruskan ucapannya karena terasa berat di tenggorokan.
" Ya, Nala memang sudah mencintai seseorang, dan namanya Albert, bukan Aldert. Jadi, maaf ... Nala tidak bisa menerima perjodohan ini. " Nala mencoba bangkit dari tempat duduknya untuk pergi. Namun tangannya sudah di cekal dengan Al terlebih dahulu.
" Oom, lepaskan, " pinta Nala dengan sopan.
Al ikut berdiri dari tempat duduknya.
" Bukankah kamu mengatakan bahwa tidak punya kekasih?" tanya Al untuk memastikan kembali.
Nala mengangguk. " Apakah cinta itu harus pacaran?" tanya Nala yang membuat Al bungkam. Benar, cinta memang tidak melulu soal pacaran.
" Jadi, kalian bukan sepasang kekasih? "
" Kita memang belum menjadi sepasang kekasih, tapi dia yang mengisi hati ini. Jadi, sudah tidak ada tempat lagi untuk menerima orang lain," jelas Nala yang segera pergi meninggalkan Aldert.
Sakit? Tentu saja sakit, karena Aldert sudah memiliki perasaan pada Nala. Bukan hanya sakit saja, melainkan malu juga karena sudah salah paham jika Nala mempunyai perasaan yang sama.
Awalnya Aldert juga bingung, kenapa bisa dia menyukai seorang gadis kecil. Padahal, begitu banyak wanita dewasa di sekelilingnya. Tapi, tak mampu membuat pria tampan itu jatuh hati. Dan ketika dia bisa jatuh cinta pada seorang wanita, ternyata dia sudah mencintai pria lain.
...****************...
Oh ya ... Kalian pasti sudah bisa menebak kan siapa Albert?
Kasihan sekali Oom Al salah paham dan patah hati.
__ADS_1