
Kean masih terus menggenggam erat tangan istrinya yang belum juga sadarkan diri. Hari ini, Dinda sudah dua kali mengalami pingsan. Sepertinya Dinda belum bisa menerima ini semua, sehingga membuat dia terlalu shock. Apalagi Dinda baru mengetahui ketika kondisi bu Nada sudah sangat kritis.
Sebelumnya, Kean juga sempat bertanya kepada Lean tentang bagaimana kondisi bu Nada yang sebenarnya. Awalnya Lean mengatakan bahwa umur bu Nada masih bisa bertahan beberapa tahun lagi jika mau menjalani pengobatan. Tapi, ternyata ajalnya begitu cepat dari perkiraan.
Di ruangan lain, para tim medis sedang mengurus jenazahnya Nada. Papa Ken meminta pihak rumah sakit mengurus jenazahnya sesuai syariat islam, dan menyuruh salah satu bodyguardnya untuk mengurus tempat pemakaman bagi Nada.
Melihat Bambang yang terlihat biasa saja, membuat papa Ken merasa heran.
Apakah dia tidak merasa kehilangan sedikitpun? Batin Papa Ken.
Sedangkan Dira yang tidak terlalu mengenal bu Nada saja menangis dan merasa sedih. Tapi, kenapa dia tak ada tatapan sedih sama sekali? Apakah hatinya sudah mati?
Setelah merasa cukup menangisinya, Dira dan ken pergi ke ruangan sebelah untuk. Melihat kondisi menantu mereka.
"Sebaiknya kita biarkan mereka berdua saja ya," ujar papa Ken dan di angguki mama Dira.
Melihat wajah Kean yang terlihat begitu khawatir, membuat Dira dan Ken sadar kalau putranya memang sangat menyayangi Dinda.
Tak lama kemudian, sepasang mata yang terlihat sembab itu terbuka.
" Kamu sudah sadar, Din?" tanya Kean.
Dinda menoleh ke arah Kean dengan tatapan sendu. Lalu buliran bening, kembali jatuh dari pelupuk matanya. Membuat Kean mengusap air mata itu.
"Ibu di mana, Bang?" lirihnya. Rasanya tubuh Dinda sangat lemah sekali, energinya seakan terkuras habis. Dia tidak pernah menyangka akan kehilangan Nada secepat ini, serta di saat hari pernikahannya.
Awalnya Dinda berpikir pernikahannya akan menjadi penyemangat bagi Nada untuk sembuh, tapi ternyata tidak.
"Sepertinya masih di mandikan."
Dinda hanya terdiam, lalu tatapannya kembali kosong. Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu dadi luar. Memperlihatkan Dira dan Ken.
"Mama, Papa."
Ken dan Dira mencoba untuk masuk ke dalam ruangan itu karena Jenazah bu Nada sudah siap untuk di kebumikan. Mendengar berita itu, Dinda menguatkan dirinya untuk bangun. Dia ingin ikut mengantarkan jenazah Ibunya untuk terakhir kalinya.
"Apakah kamu kuat, Din?" tanya Kean saat melihat tubuh Dinda terlihat begitu lemas.
Dinda mengangguk.
Dengan hati-hati, Kean membantu Dinda berjalan keluar dari ruangan itu. Banyak sorot mata yang melihat ke arah mereka karena berita tentang pernikahan dadakan mereka telah menyebar ke penjuru rumah sakit.
"Kasihan banget ya, pasti sedih banget jadi anaknya."
__ADS_1
"Tentu saja, pernikahan yang harusnya penuh rasa bahagia, justru menjadi tangis kesedihan."
Ketika melihat Bambang yang terlihat biasa saja, membuat Dinda semakin membencinya. Andai energinya masih banyak, pasti dia akan memukul pria itu. Namun, itu semua tidak bisa Dinda lakukan karena berjalan saja dia harus di topang oleh suaminya.
" Bang," panggil Dinda.
"Iya ada apa?"
"Bisakah pria itu langsung bawa saja ke penjara? Aku tak mau dia ikut pergi ke makam Ibu."
Papa Ken yang mendengar samar-samar perkataan Dinda segera mengabulkannya. Dia menyuruh bodyguard itu untuk membawa Bambang ke kantor polisi.
"Papa kenapa melakukan itu? Ini masih dalam keadaan berduka Pa, kasihan ..., " ujar mama Dira yang bingung kenapa suaminya tega bersikap seperti itu.
"Dia tidak sedang berduka, Ma. Coba perhatikan, apakah dia memiliki mimik kesedihan di wajahnya? Tidak, Kan? Lagipula itu juga keinginan menantu kita. Jadi, Papa hanya ingin membantu mengabulkannya saja,"ungkap Papa Ken.
Dira hanya bisa diam saja saat mendengar penuturan Ken. Karena Dira tahu kalau Ken akan bersikap tak punya hati hanya kepada orang yang berhak mendapatkannya saja.
" Baiklah. "
Selama dalam perjalanan, Dinda hanya terus berdiam diri tanpa mengeluarkan sepatah katapun sampai akhirnya mereka sampai juga di tempat pemakaman.
Kini, giliran Dira yang memeluk Dinda karena Kean ikut terjun untuk membantu meletakkan jenazah Nada ke liang kubur.
"Yang tabah ya sayang, ikhlaskan ibumu. Doakan saja semoga beliau di tempatkan di tempat yang paling indah di sisi-Nya."
Dinda hanya terdiam, pandangannya kosong menatap jenazah ibunya yang mulai di tutup oleh papan dan tanah.
Selesai dari acara pemakaman, mereka semua pulang ke kediaman keluarga Fabio. Saat mendengar suara mobil datang, Anne segera berlari untuk melihat siapa yang datang.
"Mama," seru Anne segera menghambur ke dalam pelukan Mama Dira.
"Mama dari ma__na?" ucapan Anne terhenti saat melihat kakak sulungnya sedang menggendong seorang wanita.
"Itu siapa, Kak?" tanya Anne.
"Emm ... Kita masuk ke dalam dulu, ya. Nanti Mama ceritain." Mama Dira merangkul Anne dan membawanya masuk ke dalam rumah.
Begitupun dengan kean yang membawa Dinda masuk ke dalam rumah. Melihat Dinda yang masih tertidur dalam gendongannya, Kean pamit untuk membawa Dinda ke kamarnya.
Melihat Kean membawa wanita itu ke kamarnya, membuat Anne semakin bingung dan penasaran. Siapa wanita itu? Kenapa kakak membawa ke kamarnya? "
" Ma, cepat jelasin ke Anne siapa wanita itu? kenapa kakak membawanya ke kamar dan Mama mengizinkannya."
__ADS_1
" Dia istri kakakmu, tentu saja mama mengizinkannya. "
" Istri? "ulang Anne dengan wajah terkejut." Mama nggak sedang bercanda, kan? Memangnya sejak kapan kakak punya istri? "
" Sejak hari ini, kakakmu sudah memiliki istri. "
Anne mencoba mencerna ucapan mamanya, dia. Masih merasa bingung kenapa kakaknya tiba-tiba mempunyai istri dan dia tidak tahu. Melihat Anne yang kebingungan, membuat mama Dira menjelaskan semua yang telah terjadi.
...☘️☘️☘️...
Sesampainya di kamar, Kean meletakkan tubuh Dinda secara perlahan ke atas kasur,.lalu menyelimuti tubuhnya.
Dia tatap wajah sendu itu, hari ini berlalu begitu cepat. Baru saja kemarin dia melamar gadis itu, dan kini dia sudah sah menjadi istrinya.
"Selamat tidur istriku, semoga kamu bisa melalui ini semuanya. Kamu tenang saja, abang akan menemanimu melewati ini semua karena sekarang kamu adalah tanggung jawabku."
"Janji?"
Kean mengerutkan keningnya saat mendengar Dinda berbicara.
"Kamu sudah bangun?" tanya Kean.
Setelah itu, Dinda membuka matanya. Lalu mengulurkan jari kelingkingnya.
"Apa ini?" tanya Kean yang masih tak mengerti kenapa tiba-tiba Dinda mengulurkan jari kelingking ke arahnya.
Melihat Kean yang diam saja, membuat Dinda mengambil tangan kean dan menautkan jari kelingking mereka.
"Abang harus berjanji akan selalu menemaniku di saat sedih maupun senang. Karena sekarang hanya Abang yang Dinda punya."
Kean mengangguk.
Tiba-tiba Dinda langsung memeluk Kean, membuat pria itu sedikit terkejut. Entah kenapa, Kean masih terkejut jika Dinda tiba-tiba memeluknya seperti ini
"Terimakasih, Bang karena sudah hadir di saat hidup Dinda sedang terpuruk."
Kean mengusap kepala Dinda lembut.
"Iya, sama-sama. Kamu juga harus kuat menjalani ini semua. Ingat kamu tidak sendiri, ada Abang, mama, papa dan semuanya. Karena kamu sekarang adalah bagian dari keluarga kami."
...****************...
Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya ya...
__ADS_1