My Best Partner

My Best Partner
Bab 88


__ADS_3

Beginilah jika punya sahabat yang pendiam, dan polos harus di paksa dulu agar bisa lebih berani lagi. Untungnya Anne itu cukup peka, andai di tak peka, sudahlah mungkin Nala hanya akan diam saja memilin majunya seraya menatap kakaknya.


Nala berjalan menghampiri Lean yang masih dikerubungi para wanita-wanita genit yang butuh belaian lelaki tampan.


" Kak Lean," panggil Nala yang seketika membuat Lean menoleh.


" Nala!"


" Apakah masih lama?" tanya Nala dengan tangan yang mengepal.


" Dia adik kamu?" tanya salah satu dari wanita yang ada di dekat Lean. Melihat Nala yang masih sangat muda, membuat mereka mengira bahwa Nala adalah adik dari pria tampan yang ada di samping mereka.


Nala mengerutkan keningnya ketika mendengar ada salah satu dari wanita - wanita itu mengira bahwa dia adalah adiknya.


" Eh, dek bisa minta tolong fotoin kita dulu nggak?" pinta seorang wanita yang justru meminta Nala memfotokan dia bersama Lean dan teman-temannya.


"Saya?" tunjuk Nala pada dirinya sendiri.


Wanita itu mengangguk, membuat Nala semakin merasa kesal.


" Kalian kira saya tukang foto!" ketus Nala.


" Yaelah, kalau ngomong yang sopan dikit sama orang dewasa!" ketus wanita itu.


Bukannya menjawab, Nala justru menyingkirkan para wanita yang berdiri di depan Lean. Dia segera menarik lengan Lean secara paksa.


" Lagian saya datang kesini mau mengambil pacar saya! Bukan mau membatu memfoto kalian! "tandas Nala yang mengajak Lean segera pergi dari temlat itu.


" Loh, Nal. Es creamnya____"


" Udah nggak nafsu!" bentak Nala yang terus berjalan dengan menarik tangan Lean.


Para wanita itu melongo melihat seorang gadis kecil membentaknya, dan mengatakan bahwa pria tampan itu adalah pacarnya. Berbagai bisikan keluar dari mereka.


" Apakah benar dia pacarnya? Kok masih kecil, sih! " ucap salah satu wanita yang masih terdengar oleh Nala.


Memangnya kenapa kalau masih kecil? Dasar betina centil! "gerutu Nala.


Sedangkan Lean hanya mengulas senyumnya ketika melihat Nala yang menarik tangannya posesif dari kerumunan para wanita itu. Sebenarnya Lean juga ingin pergi dari sana, tapi tidak bisa karena begitu banyak wanita yang mengerumuninya.


Lean sudah bagaikan gula yang dikerumuni para semut betina. Ternyata ketampanannya masih bisa menarik perhatian para wanita.


" Nal, tunggu!"

__ADS_1


" Apa lagi sih? " bentak Nala yang membuat Lean sedikit terkejut.


" Lepasin tangan kakak, "pinta Lean.


Nala baru sadar jika yang memanggilnya adalah Lean dan dia masih memegang tangan pria itu dengan erat. Nala segera melepaskan tangan Lean, dia benar-benar malu sekali karena sudah menyentuh, membentak, dan mengatakan bahwa Lean adalah pacarnya di depan para wanita tadi.


Kini, Lean sudah berdiri di depan Nala yang sedang menunduk. Ingin rasanya Nala menenggelamkan diri ke dasar lautan karena tak sanggup menahan malu.


" Kamu cemburu?" tanya Lean yang tak di hiraukan oleh Nala.


" Nal, jawab pertanyaan kak Lean," ulangnya.


Nala hanya menggeleng, dia tak sanggup untuk bicara.


" Jika tidak cemburu, kenapa tadi marah-marah di sana? Dan mengatakan bahwa kakak ini pacarmu lagi? " Lean mencoba mengingatkan kembali bagaimana sikap Nala tadi.


Bukannya menjawab, Nala justru pergi meninggalkan Lean dengan berjalan menunduk sampai tidak sengaja menabrak seseorang.


" Maaf," ucap Nala ketika menyadari bahwa dia menabrak seseorang.


Melihat yang menabraknya adalah gadis cantik, membuat pria tampan itu tersenyum.


" Tidak apa-apa, saya sudah terbiasa dengan trik seperti ini!" narsis pria itu.


Nala melongo dan bingung mendengar perkataan pria itu.


Melihat ada pria yang sedang menebar pesona di depan Nala, membuat Lean segera merengkuh tubuh Nala sampai membuat gadis kecil itu jatuh ke dada bidangnya.


" Kita pergi dari sini!" ucap Lean dengan nada dingin.


" Hey, tunggu! " teriak pria itu, namun tak di hiraukan oleh Lean.


Siapa pria itu, kakaknya atau kekasihnya? Gumam pria tampan yang di tabrak oleh Nala.


Lean terus berjalan, tanpa melepaskan Nala dalam dekapannya. Anne yang melihat hal itu dari kejauhan hanya bisa melongo dan geleng-geleng kepala. Karena ini pertama kalinya kakaknya itu merangkul seorang wanita yang bukan muhrimnya di tempat umum lagi.


Tiba-tiba Kean yang baru saja menemani Dinda ke toilet datang menghampiri Anne.


" Anne, kok sendirian? Lean, Nala dan Nathan mana?" tanya Dinda.


Anne hanya memberikan kode agar mereka melihat ke arah depan. Di sana terlihat Lean berjalan dengan melingkarkan tangannya di pundak Nala dengan wajah dingin tanpa ekspresi.


" Sepertinya ada yang harus segera menikah! " gumam Kean yang ikut tak percaya.

__ADS_1


" Siapa bang?" tanya Dinda yang tak mengerti maksud dari suaminya.


" Ya ... Dua orang yang ada di depan itu!" ucap Kean santai.


" Nala dan Lean?" tanya Dinda untuk memastikan kembali benar atau salah.


Kean mengangguk.


" Bukankah Nala masih terlalu kecil untuk menikah? Dan apa mereka ada hubungan?" Dinda masih saja bingung. Bagi Dinda sikap Lean dan Nala saat ini terlihat biasa saja, tidak ada yang istimewa. Hanya seorang kakak yang berjalan dengan merangkul adiknya, apalagi mereka sudah bersama sejak kecil. Itu jauh lebih lumrah lagi, tapi tidak bagi Kean dan juga Anne.


Dulu, ketika mereka masih kecil, itu masih hal biasa. Tapi, seiring berjalannya waktu, dan mereka juga mulai tumbuh dewasa, hal itu sudah tidak di lakukan lagi. Karena pada dasarnya mereka bukan muhrim karena karena tak ada hubungan darah.


Ehm ...


Dehem Kean untuk menyadarkan adiknya, ketika Lean dan Nala sudah berdiri di depan mereka. Melihat Lean yang belum sadar juga, membuat Kean memberikan kode agar Lean melepaskan tangannya pada pundak Nala.


Ketika sadar, Lean segera melepaskannya dengan wajah malu dan canggung. Dia terus beristighfar di dalam hati karena sudah khilaf. Sepertinya, mulai besok dia harus jaga jarak aman sampai Nala lulus sekolah. Kalau tidak, makin khilaf saja Lean. Karena Lean juga hanya manusia biasa yang bisa salah, khilaf dan berbuat dosa.


Setelah itu, mereka berempat kembali melanjutkan untuk main wahana. Tiba-tiba Dinda ingin sekali naik Biang lala. Kean yang mendengar hal itu menolak keras.


" Abang ... ayok naik itu," rengek Dinda seperti seorang anak kecil meminta sesuatu pada papanya.


" Yang lain aja ya, jangan bianglala." Kean mencoba bernegosiasi.


" Memangnya kenapa?"


" Ya ... Pokoknya yang lainnya saja, ya ...." Kean tak mungkin bilang kalau dia takut ketinggian.


" Kak Kean itu takut ketinggian kak," tukas Anne.


" Ha, seriusan? "tanya Dinda yang sedikit syok mendengar bahwa Kean takut ketinggian.


Wajah dingin, dan tubuh kekar seperti ini, takut ketinggian?


" Anne ..., " tatapan tajam menghunus ke arah Anne. Tapi, gadis itu biasa-biasa saja.


" Serius lah kak, bukan hanya kak Kean saja! Tapi, kak Lean juga!" ini bukan Anne yang berbicara, melainkan Nala.


Dinda semakin di buat tercengang lagi ketika mengetahui mereka berdua sama-sama takut ketinggian.


Sekarang giliran Lean yang menatap tajam ke arah Nala karena sudah membuka kartunya.


Inilah alasan kenapa Kean dan Lean tak suka pergi ke dufan atau wahana yang ekstrem. Tapi, para wanita kesayangan mereka memaksa jadi mau tidak mau tetap pergi.

__ADS_1


Sebelumnya Kean memang sempat menolak, tapi Dinda merengek ingin pergi, bahkan sempat ngambek segala. Jadi, terpaksa Kean menurutinya, hitung-hitung cari pahala karena membahagiakan istri. Tapi, tak menyangka bahwa rahasia takut ketinggian terbongkar.


...****************...


__ADS_2