My Best Partner

My Best Partner
Bab 81


__ADS_3

" Nal, kita mau belanja atau main di time zone?" tawar Anne.


" Makan dulu, aku lapar!" jawab Nala yang di luar pilihan.


Anne hanya geleng-geleng kepala melihat sahabatnya ini yang tak akan jaim soal makan. Nala memang seperti itu jika soal makan, dia punya penyakit maag jadi sudah terbiasa makan teratur dan tidak telat.


Karena takut temannya itu sakit, Anne terpaksa untuk mencari makan terlebih dahulu sebelum makan dan juga berbelanja. Kebetulan selera Anne, Nala dan juga Lean itu sama, suka japanese food. Jadi, mereka makan di restoran japanese food karena Hans juga ngikut saja.


Melihat ada makanan favoritnya, membuat Lean ingin makan lagi. Padahal dia baru saja makan sebelum berangkat menjemput Anne. Begitulah Lean, dia juga termasuk pria yang doyan makan, sekaligus pintar masak juga. Tapi, badannya masih bagus karena dia rajin olahraga.


" Oh, ya. Kakak kerja apa?" tanya Hans pada Lean agar mereka tak canggung dan lebih akrab.


" Dokter," jawab Lean singkat.


" Wow, hebat. Apa kakak tidak punya pacar?" tanya Hans lagi yang mulai kepo.


Lean dan Nala tersedak bersamaan ketika mendengar Hans menanyakan soal pacar kepada Lean. Melihat hal itu, Hans sedikit bingung kenapa mereka bersua bisa tersedak bersamaan.


Apakah pertanyaanku aneh? Tapi, bukankah itu pertanyaan yang umum di tanyakan? Batin Hans.


Sedangkan Anne menahan tawanya melihat kakak dan sahabatnya tersedak bersamaan hanya karena Hans bertanya soal pacar.


"Ciye ... yang sehati," bisik Anne di dekat telinga Nala. Mendengar Anne yang sedang menggodanya membuat pipi Nala memerah karena malu.


"Kenapa kamu berbicara seperti itu?"


" Ya, hanya tanya saja kak. Soalnya aku jarang melihat seorang kakak mau menemani adiknya jalan-jalan seperti ini. Apalagi kakak yang seorang Dokter, jika ada waktu luang pasti akan lebih memilih pergi kencan bersama pacarnya, " jelas Hans.


" Kan aku limited edition! Jadi beda dengan kakak yang lain, " tukas Lean dengan sikap narsisnya.


Anne mencebik ketika melihat kakaknya yang mulai narsis lagi. Sedangkan Hans hanya tersenyum canggung mendengar jawaban Lean.


Karena tak ada yang ingin di beli, mereka tak jadi belanja justru pergi menonton. Awalnya Lean ingin menonton film action, tapi Anne menolak. Karena masih ada yang di bawah umur mereka hanya bisa menonton film horor.


Mereka memesan kursi berjejer 4, yang cewek berada di tengah, dan tentunya Hans minta duduk di sebelah Nala karena dia berharap Nala bisa memeluknya ketika ketakutan. Tapi nyatanya, Nala terus memeluk Anne tanpa menoleh ke Hans, membuat dia kecewa. Sedangkan Lean hanya bisa tersenyum tipis.

__ADS_1


Selesai menonton dan sholat ashar, mereka main di time zone sebentar sebelum Lean pergi. Melihat sikap Nala yang terus dingin padanya membuat Lean merasa bingung.


Nih anak kenapa jadi dingin seperti ini? Apa masih marah? Tapi, marah kenapa? Tidak biasanya dia bersikap seperti ini!


Di tengah permainan, Hans izin pamit pergi ke toilet. Selang beberapa menit, Lian juga ingin ke kamar mandi. Saat dia ingin ke kamar mandi, tanpa sengaja dia mendengar Hans sedang berbicara dengan seseorang di telepon.


" Halah, gue nyerah deh sama tantangan yang lu berikan! Ternyat Nala sangat mdmbisankan, dia tak bisa di ajak romantis. Masak nonton film horor meluk ke temannya terus!"


Mendengar Hans membicarakan tentang Nala, membuat Lean menghentikan langkahnya, dan mencoba menguping.


" Iya, seriusan! Gue lebih baik bayar uang taruhan daripada harus mendekati dia. Sama, lebih baik mendekati temannya saja yang jauh lebih cantik dan sepertinya lebih menyenangkan daripada si Nala."


Lean mengerutkan keningnya, tangannya sudah mengepal mendengar bahwa Nala hanya di buat bahan taruhan, bahkan pria bajingan itu ingin mendekati adiknya. Jangan harap bisa, karena ada ketiga pawang yang harus dia hadapi sebelum mendekati Anne.


" Sumpah gue nggak bohong, temennya itu jauh lebih cantik sepeeti boneka hidup. Meskipun memakai hijab, tapi gue bisa menerawang bahwa tubuhnya jauh lebih seksi daripada Nala!"


Mata Lean memerah dan membulat sempurna, dadanya bergemuruh, kini amarahnya sudah tak bisa di bendung lagi. Dia segera berjalan menghampiri Hans dan memberikan satu bogeman keras sampai membuatnya jatuh tersungkur di lantai.


Melihat Lean yang tiba-tiba memukulnya, membuat Hans melawan balik. Terjadilah pertarungan antara mereka berdua. Tapi, Lean yang lebih jago, tentu saja memimpin.


" Kurang ajar! Berani-beraninya kamu menerawang tubuh adik-adikku, huh?" bentak Lean dengan menarik kerah baju Hans.


Hans menaikkan sudut bibirnya. " Kamu mendengarnya? Memangnya kenapa? Kamu tidak suka? Pria sepertimu yang hanya mengikuti kemana adiknya pergi, pasti jomblo! "


Satu bogeman hampir saja melayang jika Anne tidak segera menghentikannya.


"Kakak sudah, apakah kakak tidak malu di lihatin banyak orang?!" bentak Anne.


Lean melihat ke sekeliling, ternyata sudah banyak orang yang melihat ke arahnya.


" Sudah ayo bangun," Anne membantu Lean bangun dari tubuh Hans. Sedangkan Nala mencoba membantu Hans, tapi Ldan segera menarik tangan Nala.


" Jangan pernah menyentuh pria bajingan seperti dia!" titah Lean dengan penuh penegasan. Melihat wajah Lean yang penuh Ameah, membuat Nala takut. Dia yang biasanya suka bercanda, ternyata menakutkan ketika marah.


" Kakak kenapa, sih? Nala kan hanya membantu Hans! Kasihan dia babak belur karena Kakak! Kenapa kakak memukulnya, huh? Apa mau jadi preman?" bentak Anne.

__ADS_1


Lean menyipitkan matanya ketika adik yang dia bela justru membela bajingan itu. Memang begitulah Lean, dia tak bisa menahan emosinya jika menyangkut keluarga.


" Kamu bentak kakak Anne, hanya demi pria bajingan itu? Oke, fine! Kakak kecewa sama kamu." Lean segera pergi dari tempat itu.


" Kak ...," panggil Anne, namun sudah tak di hiraukan oleh Lean.


Sebenarnya dia bukan mau membela siapapun, tapi dia tak suka kakaknya yang main tangan seperti ini. Nala yang menyadari bahwa ada sesuatu segera mengejar Lean, apalagi dia melihat wajah Lean juga terluka.


Lean masuk ke dalam mobilnya, dia memukul stir kemudia karena merasa. Kesal dan kecewa. Tiba-tiba Nala juga sudah masuk ke dalam mobil, dan duduk di kursi sampi kemudi.


" Nala," lirih Lean.


" Kakak terluka, di mana saja?" tanya Nala seraya melihat wajah tampan Lean guna melihat di mana saja lukanya. Sedangkan Lean hanya terdiam melihat wajah panik Nala.


Nala segera mencadi kotak p3k yang beberapa hari lalu dia masukkan ke dalam laci dashboard, Nala terdiam sejenak ketika melihat masih ada kotak cincin di sana.


" Ada apa?" tanya Lean ketika melihat Nala hanya terdiam menatap laci dashboard.


Nala tersadar dadi lamunanya, lalu segera mengambil kotak kecil p3k. Lalu, dia ingin mengobati luka Lean.


" Kakak diam! Jangan menghindar, apa kakak mau lukanya infeksi?" tukas Nala ketika Lean berusaha menolak di obati.


Karena tak sanggup jika harus menatap wajah Nala yang begitu dekat, Lean memutuskan untuk memutuskan menutup matanya.


" Ish,"lirih Lean ketika meraskan perih saat obat bertemu dengan lukanya.


" Tahan, masak gitu aja sakit! "


Selesai mengobati wajah Lean, Nala beralih mengobati tangan Lean yang sedikit terluka.


" Apa yang membuat kakak semarah ini?"


...****************...


Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya ya....

__ADS_1


__ADS_2