My Best Partner

My Best Partner
Bab 82


__ADS_3

Melihat Lean yang pergi dengan wajah penuh kekecewaan, membuat Anne merasa bersalah. Sebenarnya dia juga tak ingin membentak, namun kakaknya juga sudah kelewatan masak berantem di depan umum seperti ini. Jika ada masalah, seharusnya bisa di selesaikan baik-baik, bukan dengan kekerasan.


Anne melihat ke arah di mana Hans masih terduduk di lantai dengan wajah babak belur. Dia berjalan menghampirinya, lalu duduk berjongkok di depan Hans.


" Apa perlu aku bantu bawa ke rumah sakit?" tawar Anne.


" Aku tidak butuh rumah sakit, tapi butuh kantor polisi untuk melaporkan kakakmu yang suka main tangan itu!" sungut Hans yang menahan rasa perih karena sudut bibirnya sobek.


Anne menyeringai. " Apa kamu yakin mau melapor ke polisi? "tanya Anne.


" Yakinlah! " tukas Hans penuh dengan keyakinan. Dia tidak terima di pukul sampai babak belur seperti ini, dia ingin pria itu di hukum.


" Kalau begitu silahkan, aku akan bantu. Karena aku yakin, kakakku tak akan menyakiti orang jika tidak ada penyebabnya. Dan kamu sendiri pasti paham apa penyebab dari amarah kakakku itu! "pungkas Anne.


Deg.


Ucapan Anne bagaikan anak panah yang menancap tepat pada sasarannya, sampai membuat Hans terdiam.


Anne tahu betul seperti apa Lean, dia bukan orang yang suka main tangan. Meskipun kakak kembarnya yang satu itu mudah emosian, dia tak akan memukul orang sembarangan jika orang itu tidak menyentuh batas kesabarannya.


Hans masih terdiam, dia mencoba mencerna ucapan Anne. Apa yang di ucapkan Anne ada benarnya, Lean memukulnya karena Hans membicarakan tentang Anne dan juga Nala. Jika masalah ini di laporkan ke polisi, kira-kira siapa yang menang?


"Cih, ban*gsat!" umpat Hans yang seketika bangun dari duduknya, lalu pergi meninggalkan Anne.


Melihat Hans yang pergi tanpa kata dan tidak jadi melapor ke polisi, membuat Anne semakin merasa bersalah.


Ternyata benar, Hans sudah menyentuh batas kesabaran kakak! Pantas saja, kak Lean sampai mengumpat padanya. Astagfirullah, Anne ... ternyata kamu sudah salah karena membentak kakakmu.


Tak butuh waktu lama, Anne juga segera pergi menemui kakaknya untuk meminta maaf. Dari kejauhan, Anne bisa melihat jika Nala sedang mengobati luka kakaknya.


"Sepertinya Aku jangan ke sana dulu, deh. Biarkan mereka berdua sebentar. Kemudian, Anne mengirim pesan ke Nala.


Anne : Manfaatkan waktu yang ada untuk menyelesaikan masalah antara kalian. Jika sudah selesai, chat aku.


...☘️☘️☘️...


" Apa yang membuat kakak semarah ini?" tanya Nala yang penasaran kenapa Lean dan Hans bisa berantem di tempat umum.


Lean masih terdiam, dia bingung harus jujur apa tidak. Jika jujur, pasti akan membuat Nala sakit hati karena sudah di gunakan sebagai bahan taruhan. Lalu jika tidak bicara, alasan apa yang harus dia ucapkan?

__ADS_1


" Kenapa kakak diam saja? Jawab, kak? Apa dia sudah berbuat jahat sama kakak?"


Lean mengernyitkan dahinya. " Kamu percaya kalau bukan kakak yang salah duluan?"


"Tentu saja, aku ingat betul wajah menyeramkan itu sama seperti wajah ketika kakak menghabisi para pria hidung belang yang sudah mencelakai aku! Walaupun samar-samar dan gelap, tapi dadi cara kakak memukul Hans hampir sama."


"Aku tahu, kakak bukan tipe orang yang suka memukul orang tanpa alasan. Jadi, kenapa kakak memukul Dia? Jawab yang jujur! "ucap Nala penuh penegasan. Dengan mata yang terus menatap ke arah Lean.


" Hanya buaya buntung yang secara tidak langsung, telah melecehkan kamu dan Anne. "


" Maksudnya? "tanya Nala yang kurang faham dengan perkataan Lean.


" Pokoknya, dia itu bukan pria baik. Jadi, kamu jangan sampai deket-deket atau ke makan rayuannya! "pungkas Lean.


Entah kenapa, ada rasa senang melihat Lean yang terlihat peduli dengannya seperti ini. Sebelumnya, dia dan Anne pernah mempelajari bagaimana sikap cowok yang cemburu, cinta, marah dan lain sebagainya.


" Kalau dekat dengan kak Lean, apakah boleh?"


Apa yang Nala ucapkan atau lakukan saat ini, seperti gerak refleks yang tiba-tiba keluar sendiri.


"Ke-napa jadi bahas kakak?" tanya Lean yang jadi sedikit gugup.


"Nal, lain kali jangan bersikap seperti ini pada cowok!"


"Kenapa?"


" Nanti akan menimbulkan salah pahaham."


" Oh, ya? Tapi, Nala kan hanya bicara sama kakak yang katanya menganggap Nala sebagai adik sendiri. Jadi, tidak mungkin akan ada salah paham, kan?" pancing Nala.


"Meskipun Kakak sudah menganggap kamu seperti adik sendiri, tapi kakak itu pria dewasa yang normal dan___" Lean seketika menghentikan ucapannya saat menyadari bahwa dia susah berbicara terlalu jauh. Bahkan bisa di katakan keceplosan karena tak bisa mengontrol. Begitulah Lean, mudah sekali kepancing.


" Dan kenapa? Kakak juga bisa salah paham? Kalau begitu, kakak tidak sepenuhnya menganggap Nala


sebagai seorang adik dong?"


"Kenapa kamu berbicara seperti itu?"


"Ya ... Karena kalau kakak benar-benar hanya menganggap adik, tidak akan ada salah paham ataupun yang lainnya, begitupun sebaliknya," ungkap Nala.

__ADS_1


Lean benar-benar di buat bungkam oleh ucapan Nala. Dia tidak mengira bahwa gadis yang di anggap sebagai anak kecil ini, bisa memutar balik ucapannya tempo hari. Lean juga bingung dengan perasaanya sendiri. Dulu, dia selalu menganggap Nala itu sama seperti Anne. Entah sejak kapan, dia menjadi seperti ini. Apalagi setelah sholat istikharahnya semalam, membuat Lean semakin bingung sendiri.


Akankah Nala memang jodohku? Tapi, dia masih terlalu kecil, bahkan masih di bawah umur dan sekolah juga belum selesai. Bukankah aku harus menunggu lama jika ingin menikah? Sumpah, author buat aku pusing memikirkannya. Gumam Lean yang bingung dengan hatinya sendiri.


(author juga sama pusingnya Le, udah berusaha rajin update, masih aja banyak reader silent tidak mau memberikan dukungan. Padahal dukungannya gratis😪)


(Kok jadi curhat sih, thor?)


(Ah, Iya maaf, kita lanjut saja ya ...)


(authornya memang somplak🤣🤣)


(Hei, tentu saja kalau tidak somplak tidak bisa buat karakter yang somplak!)


"Kak Lean," panggil Nala yang seketika membuat lamunan Lean buyar.


"Iya, ada apa?"


"Kakak kenapa diam saja, jawab pertanyaanku dengan jujur. Kakak anggap aku ini sebagai wanita atau adik?"


"Jangan jawab dengan sebuah pertanyaan!" tukas Nala sebelum Lean menjawab.


Benar-benar, sekarang Nala sudah jauh lebih pintar membuatku diam. Padahal dia dulu pendiam, kenapa bisa jadi seperti ini? Pasti dapat pengaruh dari Anne yang berani memberontak! Gerutu Lean dalam hati.


Lean menghembuskan nafas panjang, sebelum menjawab pertanyaan dari Nala.


" Tentu saja kakak menganggap kamu wanita, masak iya kakak menganggap kamu pria atau waria?" canda Lean.


"Kakak!!!" seru Nala dengan berkacak pinggang dan tatapan tajam. Dia tak habis pikir dengan Lean, di ajak serius malah bercanda seperti ini.


Ya Allah ... Kuat kan hambamu ini menghadapi pria yang ... Masya Allah ganteng tapi menyebalkan sekali!


"Iya, kakak menganggap kamu itu seperti wanita, kenapa? Tapi kamu itu terlalu kecil buat kakak Nal. Nanti kakak akan di kira pedofil gimana? Gara-gara pacaran sama anak di bawah umur!" pungkas Lean.


"Pacar? Kakak menganggap aku pacar?" tanya Nala dengan tersenyum.


Lean terdiam, dia mencoba mengingat kembali apakah di berkata pacar? Astagfirullah ... Keceplosan lagi ni mulut memang lemes banget. Gerutu Lean sambil memukul mulutnya.


...****************...

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya ya... Author udah up banyak jadi kalian juga dukungannya harus banyak😁 biar semangat.


__ADS_2