My Best Partner

My Best Partner
Lamaran?


__ADS_3

Saat mendengar suara ketukan heels dengan lantai, membuat Kean mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang datang.


Kean tercengang saat melihat siapa yang datang, selama ini dia tidak pernah memperhatikan bahwa Dinda ternyata sangat cantik. Melihat tatapan Kean yang tak berkedip sedikitpun, membuat Dinda merasa gugup.


"Pak Kean," sapa Dinda yang langsung membuyarkan lamunan Kean.


"Astagfirullah hal adzim." Kean mengucapkan kalimat dzikir saat tersadar kalau dia menatap perempuan yang bukan mahramnya begitu lama.


"Silahkan duduk." Kini Kean sudah kembali pada mode dinginnya.


Melihat Kean yang terlihat dingin kembali, membuat Ken, Dira dan Lean berdecak kesal.


"Apakah lamaran hari ini akan berhasil?" tanya Lean yang mulai pesimis saat melihat sikap dingin kakaknya.


"Kita lihat saja!" sahut Ken.


"Semoga saja berhasil!" timpal Dira.


"Papa juga inginnya seperti itu, biar mereka cepat halal. Karena Papa melihat Kean sudah jatuh cinta dengan Dinda. Jika mereka sudah menikah kan, biar gak dosa lagi cintanya!" ujar Ken yang di angguki oleh Kean dan Dira.


Sedangkan di meja makan, Kean memberikan buku menu kepada Dinda agar dia memesan makanan. Melihat kean yang tanpa reaksi atau memujinya, membuat Dinda sedikit kecewa.


Apakah aku tak cantik? Aduh Dinda, lagian kamu juga kenapa berharap pria kulkas dua pintu ini memujimu. Kalau sampai dia memujimu mungkin akan turun salju di Indonesia. Batin Dinda.


Ma sya Allah dia cantik, kenapa aku baru sadar kalau dia ternyata secantik ini? Kenapa jantung ini juga semakin berdetak tak karuan? Duhai hati berdamailah!



Adinda Larasati


Mereka berdua terdiam dan hanyut dalam pikiran masing-masing. Tak lama kemudian, menu utama mereka datang. Sang pelayan dengan hati-hati meletakkan makanan itu di atas meja.


Melihat Kean yang diam tanpa, membuat Dinda menjadi bingung. Jika ingin saling diam, kenapa mengajak makan malam bersama?


Karena sudah tak bisa menahan rasa penasarannya, akhirnya Dinda yang memulai pembicaraan.


"Pak, Kean," panggil Dinda.


"Iya, ada apa?"


"Kenapa bapak Diam saja?"


"Saya masih menikmati makanan," dusta Kean. Padahal dia sedang mencoba untuk meredam rasa gugupnya.


"Oh, saya boleh tanya sesuatu?"


Kean mengangguk. "Silahkan," jawab Kean singkat.


Dinda merasa sangat kesal saat melihat Kean hanya menjawabnya dengan singkat.


Melihat Kean yang hanya diam dan tetap bersikap cuek, membuat Dira, Ken dan lean geleng-geleng kepala.


"Kenapa pria dingin itu, tetap saja seperti kulkas 10 pintu! Sebenarnya dia ingin melamar atau bersikap diam sih!" kesal Lean.

__ADS_1


Dia merasa geram sekali kepada sikap dingin kakaknya yang tak hilang. Andai saja Lean adalah Dinda, pasti sudah di coret dari list pria idaman dan langsung tolak jika dia mengajak makan.


" Sabar Le, kakakmu itu lagi menutupi perasaan gugupnya," ujar Ken.


"Papa tahu darimana?" tanya Lean.


Ken menghembuskan nafas panjang, tentu saja Ken tahu. Karena Kean itu hampir mirip seperti dirinya dulu. Cuek, dingin, tapi bucin dan hangat saat bersama orang yang di cintai. Ken tahu betul bagaimana gugupnya saat ingin langsung melamar seorang wanita yang baru di kenal tanpa pacaran.


"Pengalaman!" jawab Ken singkat.


"Oh ya, sebenarnya apa alasan bapak tiba-tiba mengajak saya Dinner?" tanya Dinda.


Kean tersedak saat mendengar pertanyaan Dinda. Kemudian dia meneguk air putih terlebih dahulu.


"Apa tidak kita selesaikan makannya dulu!" Kean mencoba mengulur waktu.


Dinda mengerutkan keningnya. "Memangnya kenapa kalau sekarang, Pak?" tanya Dinda dengan polosnya.


"Apa kamu ingin dengar sekarang?"


Dinda mengangguk karena dia memang sudah sangat penasaran apa alasan Kean mengajaknya Dinner seperti ini.


Kean meletakkan garpu di tangannya, kemudian mengambil sebuah kotak berwarna biru dalam saku jasnya.


Melihat Kean sudah mengeluarkan kotak persegi, membuat Dira, Lean, dan Ken menjadi ikut deg degan. Sedangkan Dinda bingung kenapa Kean menyodorkan sebuah kotak persegi itu padanya.


"Ini apa, Pak?"


Kean menarik nafas panjang.


Mendengar Kean yang seperti sedang ingin berbicara serius, membuat jantung Dinda mulai berdetak tak menentu.


"Din, saya memang bukan pria romantis yang bisa berlutut di depanmu atau berkata manis. Tapi, Saya serius ingin mengajakmu menuju hubungan yang halal, bukan sekedar pacaran. Jadi, Adinda Larasati ... will you marry me?"


Seketika dunia Dinda terasa berhenti, apa yang dia dengar beberapa detik lalu bagaikan sebuah mimpi. Pria yang sudah mengobrak abrik hatinya sejak beberapa hari lalu, tiba-tiba melamarnya? Jika ini mimpi, bisakah dia tak bangun terlebih dulu dari mimpi itu?


Melihat Dinda yang hanya terdiam, membuat jantung Kean berdetak semakin kencang. Entah kenapa ada rasa takut di tolak oleh Dinda.


"Din," panggil Kean yang membuat lamunan Dinda buyar.


"Iya, Pak kenapa?"


"Bagaimana jawabannya?"


"Jawaban?" ulang Dinda.


"Iya, jawaban dari lamaran saya. Apakah kamu menerimanya atau me___" bibir Kean tiba-tiba terasa kelu saat ingin mengucapkan kata menolak.


Lamaran? Jadi apa yang gue dengar barusan itu bukanlah hanya mimpi? Tapi kenapa tiba-tiba melamar? Bukankah selama ini dia selalu bersikap dingin, cuek, bahkan tidak mau menatapku, lalu kenapa tiba-tiba melamar. Tidak, bukankah ini sangat aneh sekali?


"Jika kamu belum bisa menjawab dan membutuhkan waktu, saya siap menunggu," lanjut Kean.


"Kenapa Bapak tiba-tiba melamar saya?" Kini Dinda mulai berbicara.

__ADS_1


"Karena Kamu adalah wanita yang muncul atas jawaban dari sholat istikharah saya."


"Sholat istikharah?" ulang Dinda. "Sholat apa itu?"


Dinda memang tidak tahu apa sholat itu istikharah, karena yang dia tahu hanya sholat lima waktu saja, itupun kadang dia juga masih lalai dalam melaksanakannya. Dinda bukanlah lahir dari keluarga yang didik ilmu agama. Jadi, ilmu agamanya sangat minim.


"Sholat Istikharah adalah sholat sunnah yang dilakukan untuk meminta petunjuk kepada Allah SWT, ketika kita sedang dalam kondisi ragu-ragu dalam memutuskan sesuatu."


"Lalu kenapa saya bisa muncul dari jawaban sholat istikharah anda?" tanya Dinda yang benar-benar masih bingung dengan perkataan Kean.


Kean menghembuskan nafas panjang, lalu mengatakan apa alasan dia melakukan sholat istikharah.


"Apa bapak cinta sama saya?" Dinda mencoba memastikan kembali.


"Hmm."Kean mengangguk.


"Hmm?" ulang Dinda.


"Kenapa seperti tidak serius? Lalu apa yang membuat bapak cinta sama saya? Kita baru kenal belum ada sebulan, itupun juga kita tidak terlalu dekat, dan tiba-tiba melamar? Pernikahan itu bukanlah permainan loh, Pak," ungkap Dinda.


" Saya tidak pernah menganggap pernikahan itu sebagai permainan, dan apa yang bisa saya lakukan agar kamu percaya kalau saya itu serius dengan kamu? Saya memang bukan tipe pria yang suka berpacaran bertahun-tahun, lalu entah di ajak nikah atau tidak."


" Saya adalah pria yang ketika menyukai seorang wanita, sholat istikharah minta petunjuk sama Allah. Jika jawabannya baik, maka saya akan langsung melamar untuk menikahinya, "lanjut Kean.


Dinda lagi-lagi di buat tertegun oleh pria ini, tapi dia tidak mau Kean mendapatkan jawabannya dengan mudah. Dia ingin melihat seberapa serius Kean dengan ucapannya.


"Tapi saya belum bisa menjawabnya sekarang." Dinda mengembalikan kotak persegi itu kepada Kean.


Dan Kean kembali menyodorkan kotak itu ke Dinda.


"Saya beri waktu kamu tiga hari untuk memikirkannya. Jika kamu menerima lamaran saya, pakailah cincin di dalam kotak itu."


"Jika tidak?"


"Kamu bisa memberikan kepada orang lain atau menyedekahkannya, itu terserah kamu."


Dinda mengerutkan Keningnya, dia benar-benar tidak habis pikir dengan pria ini. Kenapa gak ada sweet - sweet nya sama sekali.


"Baiklah, saya akan mempertimbangkannya dan melihat seberapa serius bapak dengan saya!" tantang Dinda.


Di tempat yang sedikit jauh, terlihat Lean, Ken dan Dira menghela nafas panjang.


"Pinter Dinda, jangan biarkan pria dingin itu mendapatkanmu dengan mudah!" gumam Lean yang seketika mendapat tatapan tajam dari Mama dan Papanya.


"Kamu kok gitu sih, Le?" ujar Mama Dira.


"Ya ... Habisnya kakak ngelamar cewek, sikapnya dingin banget! Kayak orang nggak serius gitu!" gerutu Kean.


"Bukan nggak serius, tapi dia tidak bisa mengekspresikannya!" tukas Ken.


"Apa Papa sebelumnya tidak briefing kean dulu?" tanya Mama Dira dan di angguki Lean.


Ken menggeleng. Membuat Dira dan Lean tepok jidat, seharusnya Ken yang sudah berpengalaman harus mengajari Kean terlebih dulu.

__ADS_1


...****************...


Jangan lupa like, komen, vote, dan hadiahnya ya... Maaf kalau telat munculnya


__ADS_2