My Best Partner

My Best Partner
Mengenalmu lebih dalam


__ADS_3

Di dalam kamarnya, Dinda terus memandangi cincin berlian yang di berikan oleh Kean. Hatinya hari ini sangat bahagia, ternyata kali ini Tuhan berbaik hati membuat pria yang dicintainya juga mencintainya.


Dinda mencoba memasangkan cincin itu ke jari manisnya, dan ternyata sangat pas.


"Kok bisa Pas? Kenap dia bisa tahu ukuran jariku? Bukankah kita tak pernah berpegangan tangan? Pegangan tangan? Hahahaha, menatapku saja dia tak berani!" gumam Dinda sendiri.


"Dasar pria kulkas dua pintu! Kenapa sih, kami nggak bisa romantis dikit gitu. Masak ngelamar, cueknya minta ampun! Tapi bodohnya, aku tetap menyukaimu!"


Dinda terus berbicara sendiri seraya memandangi cincin yang sudah tersematkan di jari maninya. Ingatan saat kejadian beberapa jam yang lalu, terus saja menari-nari dalam pikirannya. Andai Kean bisa sedikit romantis, mungkin Dinda sudah menerimanya.


Namun, pria itu sangat kaku dan dingin sekali. Raut wajahnya tidak ada bedanya saat menyuruh memberikan pekerjaan yang menumpuk, dan melamar sama-sama datar tanpa ekspresi. Hanya ada tatapan yang penuh dengan keseriusan.


Ucapan Kean saat di dalam mobil, seakan melekat pada hati Dinda.


"Din, mulai sekarang bolehkah aku mengenalmu lebih dalam?"


"Mengenal lebih dalam?" ulang Dinda. "Apa yang ingin pak Kean kenal dari saya?"


"Jangan panggil Pak jika berdua. Saya terlalu muda untuk panggilan itu."


"Lalu anda ingin saya panggil apa?"


Kean terdiam, dia juga bingung panggilan apa yang pantas selain pak. Setelah lama terdiam, akhirnya Dinda berbicara.


"Bang Kean," panggil Dinda.


"Iya."


Dinda tersenyum saat melihat wajah Kean yang terlihat sedikit kaget. "Aku panggil Abang saja, boleh?"


Kean mengangguk, panggilan itu terdengar lebih akrab daripada 'Pak'.


Perjalanan mereka tidak seperti biasanya yang begitu hening, Kean sudah mulai aktif berbicara. Dia memang benar-benar ingin mengenal Dinda lebih dalam lagi. Karena dalam islam diperbolehkan untuk mengenal siapa orang yang akan di nikahi. Tapi, bukan dalam arti pacaran, melainkan pengenalan untuk menuju ke jenjang lebih serius.


Tanpa sadar, Dinda tertidur dengan cincin yang masih tersemat di jari manisnya.


...☘️☘️☘️...


Di tempat yang lain, terlihat tiga serangkai yang sudah menunggu kedatangan Kean. Mereka ingin mengintrogasi Kean tentang acara lamaran malam ini.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Kean pun datang. Melihat adik, Mama dan papanya sedang duduk di ruang keluarga membuat Kean mengernyitkan dahi.


"Kalian kenapa masih ada di sini?" tanya Kean saat melihat tatapan tajam mereka ke arah Kean.


"Duduk." Mama Dira memberikan kode kepada Kean agar dia duduk di sofa depan mereka. Dengan ragu-ragu Kean melangkah menghampiri mereka berdua, dan duduk di sofa yang di tunjuk Dira.


"Bagaimana lamarannya? Apakah lancar?" tanya Dira dengan ekspresi datar.


"Em ...," Kean menggaruk tengkuknya yang tak terasa gatal.


Melihat Kean yang kebingungan, membuat trio serangkai langsung melempari Kean dengan bantal sofa, membuat Kean terkejut. Lalu mereka duduk di samping Kean. Kebetulan sofa tempat duduk Kean panjang sehingga muat untuk mereka berempat.


Dira mencubit gemas pipi Kean, membuat dia meraung kesakitan


"Mama apaan sih? Sakit loh," gerutu Kean.


"Itu belum seberapa! Sebenarnya Mama tuh gemes sekaligus gedek banget sama kamu! Bisa-bisanya mama punya anak dingin, dan kaku banget kayak es batu!" cerca Dira.


"Maksud Mama apa?" tanya Kean yang masih tak paham dengan ucapan Dira.


Kini, Dira sudah berkacak pinggang dan geleng-geleng kepala.


"Bener kata Mama! Papa tahu kamu itu cuek dan mau menundukkan pandangan, tapi ya nggak gitu juga konsepnya," timpal Ken. " Semalam kamu itu berniat melamar seorang wanita. Jadi ya, jangan terlalu dingin. Kata readernya author suruh kasih gula, garam, penyedap rasa biar ada manis dan gurihnya.


"Itu mah mau masak Pa!" imbuh Lean.


"Bener juga, ya?" Ken mencoba mencerna ucapan Lean yang menurutnya benar, dasar authornya tukang masak jadi bumbu dapur di bawa-bawa.


"Intinya kamu tuh yang sweet dan romantis dikit masak nggak bisa, Kak?" pungkas Ken.


Kean menggeleng karena dia memang tidak bisa seperti itu. Ken, Lean dan dira kembali tepuk jidat bersama. Gelar Papa bucin yang sangat romantis pada Papa Ken, ternyata tidak tersalurkan dengan baik pada Kean. Mungkin gen romantisnya gak sampek? Jadi, ya begini cuek dan dinginnya over load.


Melihat Kean yang seperti ini, membuat Lean malas untuk ikut-ikutan lagi.


"Sudahlah, Ma, Pa. Pria kulkas sepuluh pintu ini memang dari sononya kayak begini! Jadi harap maklum."


"Memangnya ada kulkas sepuluh pintu, Le?" tanya Mama Dira dengan polosnya.


Kean geleng-geleng kepala saat mode tidak bisa di ajak bercanda mamanya sedang off.

__ADS_1


"Itu hanya perumpamaan Mama ...," jawab Lean.


"Oh ...."


"Yasudah, Lebih baik Lean pergi tidur saja, ngantuk soalnya. Selamat malam Mama cantik dan papa ganteng,"pamit Lean sebelum beranjak pergi meninggalkan mereka.


Dira juga sudah capek jadi dia ikut-ikutan pergi menuju kamarnya. Melihat istrinya yang ikut pergi, membuat Ken ikut menyusul.


" Kean, besok les privat dulu sama Papa! "ujar Ken sebelum pergi menyusul Dira.


Melihat semuanya pergi, membuat Kean mengusap wajahnya kasar. Dia jadi berpikir, apakah ini alasan Dinda menolak dan mengatakan kalau Kean tidak serius? Apakah semua wanita suka yang sweet dan romantis? Tapi, Kean hanya mau bersikap romantis ketika bersama kekasih halalnya, sedangkan Dinda belum halal baginya.


...☘️☘️☘️...


Malam penuh keheningan mulai pergi, kejadian kemarin sudah menjadi sebuah memori dan kenangan. Kini, mulai membuka lembar baru untuk menulis kisah yang baru. Kean bersyukur masih bisa terbangun dari tidurnya, menandakan bahwa dia masih di berikan kesempatan untuk hidup.


Seperti biasanya, Kean masih melakukan aktivitas yang sama karena hidup Kean begitu monoton dan di atur dengan rapi.


Selesai sarapan, Kean langsung pamit berangkat ke kantor. Sebelum berangkat, Dira menyiapkan tiga kotak makan camilan untuk di bawa oleh Kean.


"Ini untuk apa, Ma?" tanya Kean saat Mama Dira memberikannya paper bag.


"Bagikan kepada Aksa dan Dinda. Punya Dinda yang warna pink jangan sampai salah!"


"Memangnya beda?"


"Tentu saja beda, makanya jangan sampai ketukar. Mama memberikan Aksa juga biar tidak terlihat pilih kasih!" jelas Mama Dira.


Kean mengangguk, dan mengucapkan terimakasih. Lalu mencium tangan dan pipi Dira. Ini Adalah rutinitas pagi dari anak-anaknya. Jika anak akan mencium pipi karena kening khusus untuk suami, kadang juga bonus bibir🙈


Melihat Kean mendapatkan paper bag, Lean, Anne dan juga Ken menatap ke arah Dira. Dira yang peka tahu akan arti dari tatapan mereka.


"Mama juga sudah siapkan untuk kalian juga, kok! Tenang saja," ungkap Mama Dira.


Mendengar ucapan Dira semuanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Dira memang tidak mau membedakan satu sama lin. Jadi, dia menyamaratakan.


...****************...


Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya ya...

__ADS_1


__ADS_2