
" Kenapa kalian diam saja?" tanya Nino saat melihat ketiga wanita itu sudah tak bersuara lagi.
Tak lama kemudian, terdengar pintu basecamp terbuka, memperlihatkan pria paruh baya yang penuh wibawa masuk ke dalam ruangan tersebut dengan wajah dingin, penuh amarah.
" Selamat datang, Tuan," sapa para bodyguard dan juga Nino sebagai bentuk hormat.
Melihat pria paruh baya itu mendekati mereka, membuat ke empat wanita itu menelan saliva.
Apakah dia yang bernama Kenzo Clarence Fabian? Gumam mereka dalam hati.
Papa Ken berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan ke empat wanita yang sudah mencelakai menantu dan calon cucunya. Jika mengingat bagaimana wajah Dinda yang penuh luka lebam, serta rasa sedih karena kehilangan calon cucunya, ingin sekali dia menghabisi orang-orang ini.
Tapi, Papa Ken bukanlah Hungry Lion berdarah dingin seperti dulu sehingga akan menghukum tanpa harus membunuh dengan tangannya sendiri.
Melihat tatapan menghunus dari pria paruh baya yang masih terlihat garis ketampanannya itu, membuat mereka bergidik ngeri. Dia sudah seperti seorang mafia dingin yang siap memenggal kepala orang dengan sadis.
Apakah dia yang justru akan memenggal kepala kita? Batin Cika sembari menatap Deby.
" Siapa kalian?" pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Papa Ken, seusai diam dengan tatapan tajam.
Mereka masih diam saja, karena bingung mau menjawab apa.
" Wanita yang tepat di depan anda adalah Putri dari Mahendra Radjasa, Tuan," ungkap Nino.
Papa Ken menaikkan sudut bibirnya membentuk seringai tipis. " Mahendra Radjasa ... panggil dia ke sini, sekaligus kedua orang tua yang lainnya! " titah Papa Ken.
"Baik Tuan," jawab Nino yang segera memanggil ayah Stasya dan teman-temannya.
Dari raut wajah pria ini yang dengan santai ingin memanggil ayahnya, membuat nyali Stasya menciut. Sepertinya pria ini lebih menakutkan dan berkuasa dari ayahnya.
" Kenapa kalian melakukan hal itu pada menantu saya?" tanya Papa Ken lagi. Namun, stasya dan the geng hanya diam saja.
__ADS_1
Karena tidak mendapatkan jawaban apapun dari kedua gadis muda yang terlihat seumuran dengan Dinda, membuat Papa Ken beralih pada wanita paruh baya yang menghalanginya saat ingin membantu Dinda.
Wanita paruh baya itu menunduk saat tidak berani menatap wajah menakutkan dari papa Ken.
" Siapa sebenarnya kamu, huh? Kenapa bisa-bisanya mengatakan bahwa menantu saya adalah seorang pelakor yang merebut suamimu? Apakah suamimu jauh lebih hebat dan tampan dari putraku sampai bisa membuat menantuku tertarik?"
Saat di dalam perjalanan menuju basecamp, Papa Ken sempat meminta petugas keamanan untuk mengirimkan rekaman cctv guna mencari tahu apa yang telah terjadi sebelumnya.
" Jawab! Jangan hanya diam saja!" bentak Papa Ken dengan nada tinggi." Apa kalian tiba-tiba berubah menjadi bisu sehingga tidak bisa menjawab pertanyaan saya?" lanjutnya.
" Sa_saya hanya di suruh dengan ketiga wanita itu! Ka__katanya dia adalah sugar baby yang mu_nafik dan suka merebut suami orang! " ucap wanita itu dengan suara terbata-mata.
Papa Ken memicingkan matanya, lalu menatap dengan ekor matanya tajam ke arah ketiga gadis muda itu.
" Jadi, kamu di bayar untuk mencelakai menantu saya, begitu? " tanya Papa Ken yang di balas anggukan kepala oleh wanita paruh baya itu.
" Nino, bawa wanita ini ke kantor polisi dengan hukuman seumur hidup, kalaupun bisa hukum mati sekalian! Katakan pada polisi bahwa dia telah mencemarkan nama baik, melakukan kekerasan sampai mengakibatkan seseorang terbunuh!" titah Papa Ken dengan penuh penegasan.
Bola mata wanita itu membulat sempurna saat mendengar perkataan Papa Ken.
Dia tidak mengira hidupnya akan berakhir seperti ini, hanya karena sejumlah uang yang tidak terlalu besar jika di bandingkan dengan hukuman itu.
Cika, Deby, dan Stasya menatap tajam ke arah wanita paruh baya itu. Begitulah orang tamak dan tidak setia. Sudah mengambil bayarannya, tapi ketika ada masalah langsung cuci tangan, tidak mau di salahkan.
" Saya tidak peduli, karena kamu juga tidak peduli dengan kebenarannya sebelum melakukan hal itu! Yang saya tahu, kamu telah melukai menantu dan calon cucu saya sampai meninggal."
Semua mata terbelalak ketika mendengar Papa Ken mengatakan bahwa calon cucunya meninggal.
Apakah Dinda sedang hamil? Ketiga wanita muda itu saling berpandangan. Mereka benar-benar tidak tahu jika Dinda sedang hamil, bahkan dia adalah menantu dari orang yang sangat kaya raya.
Tubuh ketiga wanita itu semakin bergetar, wanita paruh baya itu saja mendapatkan hukuman yang sangat berat, apalagi mereka? Apa yang akan mereka dapatkan? Akankah langsung di penggal? Oh no, mereka masih muda, masih banyak keinginan yang ingin mereka capai.
Setelah itu, Papa Ken melangkah pergi untuk duduk sebentar sambil menunggu kedatangan orang tua dari ketiga gadis itu. Sebenarnya Papa Ken sudah tahu siapa mereka semua, karena seusai melihat cctv, dia langsung menyuruh mencari biodata dari ketiga perempuan muda itu.
__ADS_1
Papa Ken tidak mau salah dalam mengambil tindakan, oleh karena itu, dia mengumpulkan semua bukti terlebih dahulu bahwa menantunya benar-benar tidak bersalah. Dan, ternyata mereka memang anak-anak orang kaya yang suka menindas anak miskin semaunya.
" Deb ... Sya ... Kenapa pria tua itu pergi? Apakah dia tidak jadi menghukum kita?" ucap Cika.
" Entahlah. Jika pria tua itu tidak jadi menghukum, kenapa dia tidak melepaskan kita saja?" sahut Deby.
Sedangkan Stasya hanya diam saja, tidak menanggapi obrolan kedua temannya. Dia merasa bahwa akan ada sesuatu yang lebih menakutkan akan datang.
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah seseorang yang datang ke basecamp. Saat pintu terbuka, memperlihatkan Mahendra Radjasa serta orang tua dari Cika dan juga deby.
Mereka semua terkejut saat melihat putri-putrinya tengah di ikat dengan tali.
" Selamat datang," sapa Papa Ken yang sudah berjalan menghampiri mereka.
" Kenzo!" lirih Mahendra ketika melihat siapa pria yang duduk di sebuah sofa dengan di kelilingi beberapa bodyguard.
Begitupun dengan orang tua yang lain, ikut terkejut saat melihat pebisnis nomor satu di Indonesia berada di hadapan mereka.
" Ada apa ini sebenarnya?" tanya Mahendra yang langsung to the poin.
" Seperti apa yang kamu lihat! Mahendra Radjasa."
Mahendra mengerutkan keningnya, dia masih belum paham dengan maksud dari Papa Ken. Setelah itu, seorang bodyguard memutarkan rekaman cctv di mana ada ketiga putri mereka sedang memantau serta merekam wanita paruh baya yang tengah menyakiti wanita muda.
Selesai cctv itu di putar, Seseorang kembali menjelaskan bahwa putri mereka adalah dalang di balik semua kejadian di vidio itu. Mereka telah membayar seorang wanita untuk menyiksa, memfitnah cucu menantu dari keluarga Fabio sampai dia mengalami keguguran.
Bola mata Mahendra membulat sempurna, ketika mendengarnya. Dia tahu betul bagaimana sifat keluarga Fabio jika ada yang menyakiti keluarga mereka.
" Jadi apa yang akan kamu lakukan? Tidak mungkin kan kamu membunuh putriku di depanku!?" ujar Mahendra yang membuat semua orang tua dan ketiga wanita muda itu terkejut. Mereka semua memang tidak tahu seperti apa kejamnya keluarga Fabio.
...****************...
__ADS_1
Maaf baru up, karena kemarin kondisi author masih belum sehat. Doakan saja semoga sehat agar bisa up banyak.
Buat yang penasaran dengan Papa Ken, bisa langsung ke novelnya Papa bucin yang posesif.