
"Jadi apa yang akan kamu lakukan? Tidak mungkin kan kamu membunuh putriku di depanku!?" ujar Mahendra yang membuat semua orang tua dan ketiga wanita muda itu terkejut. Mereka semua memang tidak tahu seperti apa kejamnya keluarga Fabio.
" Deb, sepertinya dugaanku benar kalau orang ini jauh lebih kejam dari Ayah Stasya! Aku kira Ayah Stasya orang paling kejam dan menakutkan, ternyata ..."
" Bisa diam nggak? Berisik tau!" ketus Stasya yang mulai geram mendengar celotehan Cika.
Papa Ken, manarik sudut bibirnya membentuk sebuah seringai yang tak bisa di artikan.
" Saya sudah tidak sekejam itu! Saya hanya akan memberikan dua pilihan untuk kalian semua. Bangkrut atau membiarkan saya mengirim mereka sebagai relawan ke palestina."
Ketiga ayah dan anak itu benar-benar terkejut mendengar sebuah pilihan yang di berikan oleh Ken. Tangan Mahendra sudah mengepal kuat, mencoba menahan emosi. Andai masuk ke dalam ruangan ini tidak di periksa lebih dulu, mungkin dia sudah menembak Ken dengan pistolnya. Namun, itu hanya bisa menjadi angan-angannya saja.
Karena kekayaan dan kekuatan Mahendra Radjasa di bawah satu tingkat dari keluarga Fabio. Mahendra memang orang kaya nomor dua, banyak orang takut padanya karena dia terkenal kejam dan tidak segan-segan membunuh orang jika mau.
Sedangkan keluarga Fabio, dia bukan hanya di takuti, tapi juga di segani oleh semua kolega-koleganya. Dia terkenal loyal, dan baik kepada kolega yang juga baik padanya. Namun, dia bisa menjadi menyeramkan pada orang yang berani menyentuh keluarganya. Bagi keturunan Fabio, keluarga adalah harga mati yang tidak bisa di sentuh.
Hanya membuat perusahan ketiga orang itu bangkrut, sangatlah mudah baginya. Apalagi, sekarang perusahaan Radjasa sedang bekerjasama dengan perusahaan PT Fabio grup. Tentu jauh lebih mudah.
Awalnya Mahendra ingin melakukan pernikahan bisnis dua keluarga agar kekuatannya di dunia bisnis semakin kuat. Tapi, siapa sangka hubungan mereka justru menjadi seperti ini.
" Ken, kita sudah saling kenal begitu lama. Bahkan, sampai sekarang masih bekerjasama dan berhubungan baik. Apakah tidak ada keringanan? Mereka hanya anak muda yang masih belum bisa memikirkan sebab dan akibat dari perbuatannya. Jadi, saya mohon, janganlah seperti ini demi hubungan baik kita."
" Justru karena hubungan kita yang terjalin baik, maka dari itu saya memberikan dua pilihan. Andai kita tidak kenal baik, mungkin saya sudah memberikan hukuman mati seperti wanita paruh baya yang mereka bayar! " tukas Papa Ken dengan santainya.
" Ken, Negara palestina adalah negara yang sampai saat ini masih di jajah. Di sana sangatlah berbahaya, benar ... Kamu memang tidak menghukum mati mereka, tapi dengan mengirim mereka ke sana untuk menjadi relawan, itu sama saja kamu membunuh mereka secara perlahan! " Ujar Mahendra yang diangguki semua orang. Mahendra terus berusaha untuk bernegosiasi, namun keputusan Papa Ken sudah bulat.
" Benar, bukankah kamu tahu betul bagaimana jargon keluarga Fabio. Darah akan di bayar juga dengan darah. Tapi, saya tidak akan membunuh mereka dengan tanganku sendiri, karena itu hanya akan sia-sia, dan menambah dosa. Mengirim mereka menjadi seorang relawan, sama halnya saya membantu mereka berbuat kebajikan sebelum meninggal. "
__ADS_1
"Dua pilihan itu adalah sesuatu keputusan yang sangat tepat agar mereka tidak bisa semena-mena lagi terhadap orang lain. Masih muda saja, sudah berani melakukan hal seperti ini. Bagaimana jika mereka sudah memiliki kekuatan seperti dirimu?"
Papa Ken tahu betul seperti apa Mahendra Radjasa, meskipun dia pebisnis kejam yang berdarah dingin, itu tidak akan membuat Papa Ken takut sama sekali.
Mendengar petuah dari Ken yang sok bijak, membuat amarah Mahendra semakin memuncak. Jika dia menyerang, pasti bodyguard yang menjaga Ken akan menghabisi mereka.
" Apakah itu semua sepadan, membunuh beberapa orang dewasa secara perlahan hanya demi sebuah janin yang baru tumbuh di dalam perut ibunya? Itu tidak fer, Kenzo! Bayi keguguran itu sudah biasa, tinggal buat lagi! Tapi, anak yang sudah di besarkan sampai___"
Bug
Sebuah bogeman mendarat ke pipi Mahendra. Sejak tadi, Papa Ken sudah mencoba menahan emosinya, namun dia tidak terima jika seseorang menyepelekan permasalahan seperti ini. Meskipun calon cucunya masih sangatlah kecil, dia sama seperti mereka yang mempunyai hak untuk hidup.
Mungkin calon cucunya yang bisa lahir menjadi manusia yang jauh lebih baik dari mereka. Tapi, dia sudah di bunuh saat baru saja mulai hidup di dalam rahim sang ibu.
Ken bukanlah orang baik, dia pernah menjadi orang yang sangat kejam dulunya. Tapi, dia mau berubah dan menjadi orang yang jauh lebih baik dan bermanfaat. Di atas langit masih ada langit, jadi janganlah sombong kepada orang yang berada di bawah kita. Karena derajat semua makhluk itu sama di mata sang pencipta alam semesta ( Allah SWT).
" Sepertinya, sifat anak-anak itu menurun dari orang tuanya. Maka dari itu, saya akan___ tetap mengirim mereka ke Negara palestina sebagai relawan, dan hubungan kerjasama antara perusahaan PT Fabio grup dengan perusahaan Radjasa selesai sampai di sini. Dalam beberapa hari, akan ada orang yang mengirimkan surat pemutusan kontrak. Karena saya tidak ingin memiliki kolega yang tidak bisa menghargai orang lain. Pribadi seseorang itu sangatlah penting, dan untuk kalian berdua. Perusahaan kalian akan masuk daftar hitam perusahaan saya! " ucap Papa ken sebelum pergi dari tempat itu.
Mahendra tercengang, dia benar-benar tidak mengira bahwa Kenzo bisa berbuat seperti ini hanya demi sebuah janin yang baru tumbuh. Sedangkan, orang tua Deby dan Cika tiba-tiba merasakan sesak di dalam dada saat mendengar mereka sudah masuk daftar hitam perusahaan Kenzo. Otomatis, mereka tidak akan bisa melakukan kerjasama.
Sejak tadi, mereka tidak berani berbicara karena seorang Mahendra Radjasa saja kalah telak. Apalagi mereka? Tentu akan di bantai habis-habisan.
Cika dan Deby seketika pingsan, setelah mendengar hukuman apa yang akan mereka terima. Menjadi relawan di Negara Palestina, sungguh tak pernah terbayangkan dalam benak mereka.
Negara yang tiap harinya selalu ada pembunuhan, pengeboman harus menjadi tempat mereka tinggal? Mereka benar-benar mati secara mengenaskan di sana.
Mahendra menatap tajam ke arah Stasya, dia benar-benar tidak mengira bahwa perusahaan yang ia bangun dengan keringat, serta kerja kerasnya akan hancur di tangan putrinya itu.
__ADS_1
...☘️☘️☘️...
Di sebuah ruangan rumah sakit, terlihat seorang wanita cantik mulai mengerjapkan matanya. Sepasang mata itu mulai mengedarkan pandangan untuk melihat di mana dia berada.
" Kamu sudah bangun sayang?" tanya Kean saat melihat istrinya sudah siuman.
"Aku ada di mana, Bang?" lirih Dinda.
" Kami ada di rumah sakit sayang."
" Rumah sakit?" ulang Dinda sembari mencoba untuk bangun dari tidurnya.
" Sayang, pelan-pelan. Kamu berbaring saja ya, karena kondisi tubuhmu masih sangat lemah," ucap Kean dengan wajah yang terlihat begitu khawatir.
Ketika mengingat kejadian tadi, tiba-tiba Dinda baru teringat bahwa dia mengalami pendarahan.
" Bang, anak kita gimana? Apakah dia baik-baik saja? "tanya Dinda yang seketika membuat wajah Kean pucat.
...****************...
Gimana? Apakah hukumannya setimpal?
Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya ya...
Makasih juga yang sudah setia membaca, dan memberi dukungan pada karya Novi dari karya pertama sampai sekarang. Serta doa-doa baik dari kalian semua. Tanpa kalian, Novi bukan siapa-siapa.
Yang ingin lebih dekat Novi, bisa follow ig Novi ya... Novi_Rahajeng. Terima kasih🙏
__ADS_1