My Best Partner

My Best Partner
Bab 138


__ADS_3

Di suatu tempat, terlihat seorang wanita cantik tengah berjalan memasuki kantor PT Fabio grup. Dari pertama masuk kantor ini, semua orang yang berpapasan dengannya akan menundukkan kepala serta menyapanya dengan hormat, tidak seperti dulu.


Kejadian penyerangan itu melekat dalam benak Dinda, dimana dia di caci, di tampar, di dorong sampai jatuh ke lantai tidak ada yang peduli. Justru mereka memberikan tatapan jijik kearahnya karena mengira bahwa dirinya memang adalah seorang pelakor, Tapi, setelah mereka tahu bahwa itu hanyalah fitnah, dan dia adalah menantu dari pemilik perusahaan ini, dunia seakan terbalik.


Langkah Dinda seketika terhenti saat berada di tempat di mana dia mengalami keguguran. Ingatan kejadian itu seakan kembali berputar sampai tak terasa sudah membuat mata Dinda mengembun. Menyadari hal itu, Dinda segera mengusap matanya agar tidak ada yang melihatnya. Kemudian, Dinda kembali melanjutkan langkahnya menuju kantor suaminya.


Hari ini, Dinda memang sengaja datang untuk mengirimkan makan siang untuk Kean.


" Selamat siang, Nyonya," sapa Aksa saat melihat istri bossnya datang.


" Siang Pak Aksa, ini ada makanan untuk anda," ucap Dinda dengan memberikan satu paper bag yang dia bawa.


"Terimakasih Nyonya, seharusnya anda tidak perlu repot-repot," ucap Aksa yang jadi tidak enak.


Dinda tersenyum. " Tidak usah terlalu formal saat bicara sama saya, lagian tidak repot kok! Hanya menambahkan satu porsi lagi," tukas Dinda yang segera berlalu pergi memasuki ruangan suaminya.


" Assalamualaikum, Suamiku," salam Dinda dengan senyum yang mengembang.


Kean mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang datang.


" Waalaikumsalam salam Istriku, " jawabnya dengan senyuman.


Dinda berjalan menghampiri meja kerja suaminya, lalu meletakkan Paper bag yang ia bawa di atas meja.


" Apakah masih sibuk?" tanya Dinda yang kini sudah mengalungkan tangannya pada leher sang suami.

__ADS_1


Kean meraih pinggang Dinda, lalu mendudukkannya di pahanya.


" Kenapa tidak bilang kalau mau ke sini?" bukannya menjawab, Kean justru melontarkan pertanyaan.


" Kalau bilang, bukan surprise dong namanya" ujar Dinda dengan tersenyum manis. Dinda memang sengaja tidak memberitahukan bahwa dia akan datang, karena jika tahu, Kean akan melarangnya.


Kean melakukan itu bukan tanpa sebab, dia hanya takut istrinya akan merasa sedih jika datang ke kantor. Karena, awal - awal, Kean juga merasa seperti itu saat berada di lobi. Dia akan teringat bahwa di tempat itu istrinya teraniaya sampai membuat mereka kehilangan calon bayinya.


Apalagi Dinda yang mengalaminya? Bukankah justru akan lebih sedih lagi?


" Terus, kenapa kamu tiba-tiba datang ke kantor? Apakah merindukanku?" goda Kean yang sudah memajukan wajahnya.


" Dasar narsis!" Dinda mengusap wajah suaminya. " Aku datang kesini karena mau mengirimkan makan siang," lanjutnya.


" Makan siang?" ulang Kean dan di angguki oleh Dinda.


" Oh, Sebelum makan siang, makan kamu dulu boleh nggak?" goda Kean yang sudah menciumi Dinda dengan gemas.


"Abang ... geli ...," racau Dinda yang berusaha menghindar, namun tidak bisa pergi karena Kean memeluk pinggangnya dengan erat.


" Habisnya Abang gemas, dan apakah kamu tidak sadar akan sesuatu?"


Merasakan ada sesuatu yang mengganjal di bawah bokongnya , membuat Dinda paham ke arah mana pembicaraan suaminya itu.


" Abang ...," Dinda tak melanjutkan ucapannya karena Kean lebih dulu mengangguk. Seakan dia paham apa yang akan di katakan istrinya.

__ADS_1


" Boleh, ya ...," pinta Kean.


" Tapi, inikan di kantor. Masak iya mau melakukan itu!"


" Ya memangnya kenapa? Apakah ada larangan? "


Dinda terdiam, dia hanya bisa pasrah jika suaminya sudah mupeng seperti ini karena Kean akan terus berusaha membujuk sampai Dinda setuju.


Tanpa aba-aba, Kean langsung meraup bibir mungil yang sudah menjadi candunya. Entah kenapa jika berdekatan dengan Dinda seperti ini, otaknya seketika berubah menjadi mesum.


Kean menggendong tubuh istrinya menuju kamar pribadi yang ada di ruangan itu tanpa melepaskan tautan mereka.


Perlahan, Kean meletakkan tubuh Dinda di atas ranjang. Sepasang mata Kean sudah tertutup kabut gairah yang ingin segera di puaskan. Dan...


*


*


*


Terjadilah pergulatan kenikmatan di dalam kamar itu.


...****************...


Hehehe... Jangan minta yang hareudang ya... Karena itu akan mempengaruhi penilaian NT. Buat yang minta adegan action, sepertinya tidak akan ada lagi. Soalnya itu akan memperpanjang alurnya lagi, ini sudah mau tamat tapi belum tamat2 juga 😁🤭

__ADS_1


Jadi, bisa baca novel author yang judulnya Mengejar cinta dokter galak, di sana ada adegan tembakannya. Terus yang tanya soal Anne dan Brian, sepertinya akan ada novel mereka sendiri. Tapi, belum jelas kapan rilisnya. Jadi, di tunggu saja oke!


__ADS_2