
Melihat Dinda yang tak kunjung berhenti menangis, membuat Kean semakin merasa bersalah.
"Abang minta maaf ya, sudah dong nangisnya." Kean mencoba menenangkan Dinda.
Kemudian, Dinda melepaskan diri dari pelukan Kean. Kean mencoba merapikan rambut Dinda yang berantakan, lalu menopang wajah Dinda dengan kedua tangannya.
"Sudah nangisnya, lihat wajahnya sampai bengkak kayak gini."
"Apakah aku terlihat jelek?" tanya Dinda dengan polosnya.
Kean tersenyum. "Memangnya kamu cantik?" goda Kean.
"Abang ...," rengek Dinda dengan wajah kesal.
Lalu Dinda memukul dada bidang Kean sampai membuat dia tersungkur kebelakang dan Dinda bertumpu di atas badan Kean. Jantung Dinda dan Kean berdetak begitu kencang ketika posisi mereka begitu intens.
Menyadari hal itu, Dinda ingin bangun dari posisinya saat ini, namun Kean justru menarik pinggangnya, membuat jarak wajah mereka semakin dekat.
"Kamu cantik jika tersenyum."
Blush
Pipi Dinda langsung memerah mendengar pujian dari Kean. Ini adalah pertama kalinya pria itu memuji dirinya cantik.
"Kamu malu?" goda Kean.
"Abang apaan sih,"elak Dinda yang berusaha untuk bangun kembali.
Setelah berhasil bangun, Dinda ingin pergi ke kamar mandi, tapi tangannya sudah di cekal oleh Kean.
" Mau kemana? "tanya Kean.
" Mau ke kamar mandi. "
" Oh." Kean melepaskan tangan Dinda.
Kemudian, Dinda segera berlari menuju kamar mandi. Sesampainya di dalam, Dinda memegang pipinya yang panas dan memerah di depan kaca.
" Astaga! Wajahku kenapa kucel seperti ini!" Dinda segera mencuci wajahnya. Ketika ingin mengambil facial wash, ia baru sadar kalau sekarang sedang tidak berada di kamar mandi kos kosan. Dinda di buat takjub saat melihat kamar mandi yang begitu bersih dan semua barang tersusun rapi.
" Sumpah, ini seriusan kamar mandi cowok? Apakah suamiku pria OCD?" Dinda bermonolog seraya melihat-lihat kamar mandi yang luas dan juga bersih.
Oh iya. Aku kan pulang ke sini nggak bawa apa-apa sama sekali. Terus nanti ganti baju, mandi, gosok gigi pakai apa?" apa pulang ke kosan dulu, ya?
Karena terlalu bersedih, Dinda sampai lupa tentang semuanya.
Melihat waktu ashar sudah dari tadi, Kean bangun dari tempat duduknya, berjalan menuju kamar mandi.
" Din, apa masih lama? Wudhu sekalian ya. Kita sholat ashar berjamaah," seru Kean dari balik pintu.
"Iya, Bang. Sebentar lagi."
Saat menyadari kalau Dia belum mandi dan masih memakai baju yang sama saat akad dan pergi ke makam tadi, membuat Dinda keluar dari kamar terlebih dahulu.
"Sudah selesai?"
__ADS_1
Dinda menggeleng.
" Dinda boleh pinjam baju Abang? Soalnya Dinda mau mandi tapi nggak punya baju ganti. Masak iya sholat pakai baju dari makam?"
"Iya, juga. Sebentar ya."
Kean pergi ke ruang walk in kloset untuk mencari baju yang sekiranya bisa di pakai oleh Dinda sementara. Jika pinjam ke mama dan Anne pun ukuran mereka jauh berbeda. Meskipun Anne masih berusia 17 tahun, tapi postur tubuhnya juga lebih tinggi dan besar dari Dinda.
Setelah mencari-cari, ternyata baju-bajunya juga sangat besar jika di pakai oleh Dinda.
"Din, coba deh kesini?" panggil Kean.
Mendengar Kean memanggilnya, membuat Dinda berjalan menghampirinya.
"Ada apa, Bang?"
"Coba kamu pilih sendiri, apakah ada baju yang bisa kamu pakai sementara gitu. Habis sholat, baru abang suruh seseorang untuk membawakan kamu pakaian.
Lagi-lagi, Dinda di buat takjub dengan isi lemari suaminya yang begitu tertata rapi, tidak seperti dirinya.
"Sepertinya kaos itu saja bang." Dinda menunjuk kaos berwarna hitam. Setidaknya kaos itu masih bisa ia pakai.
"Kaos?" Kean mengambilkan kaos berwarna hitam yang Dinda maksud.
"Terus celananya gimana?"
Dinda memperlihatkan kepada Kean kalau baju kaosnya saja sudah bagaikan dress selutut baginya. Jadi tak perlu lagi celana Kean yang pastinya sangat kebesaran jika di pakai tubuh mungil Dinda.
"Kamu yakin hanya mau pakai seperti itu? Atau abang pinjamkan__"
"Sabun, sikat gigi dan handuk baru ada di lemari kamar mandi," ucap Kean.
Tiba-tiba Dinda teringat dengan sesuatu yang dia perlukan juga. Lalu Dia membalikkan badan ke arah Kean.
"Oh ya, Bang. Dinda juga butuh mukena."
Kean mengangguk, lalu keluar dari kamarnya, dan berjalan menuju kamar Anne. Sesampainya di depan kamar Anne, Kean mengetuk pintu perlahan.
" Iya, sebentar, "teriak seseorang yang ada di dalam kamar.
Tak lama kemudian, pintu pun terbuka.
" Kak Kean? Ada apa? "
" Boleh pinjam mukenanya? "
" Oh, buat istri Kakak? "
Kean mengangguk.
" Cuek banget! Kakak nggak ada yang mau di omongin dulu gitu sama Anne?"
Kean mengerutkan keningnya. "Bukankah Mama sudah menceritakannya?"
Anne berdecak kesal saat melihat kakaknya tidak peka sama sekali. Kemudian dia pergi untuk mengambil mukena untuk sang kakak ipar.
__ADS_1
"Nih!" Anne menyodorkan mukena kepada Kean.
Melihat bibir manyun Anne, membuat Kean merasa gemas dan mencubitnya.
"Kakak! Sakit tau," gerutu Anne seraya melepaskan tangan Kean yang mencubit pipinya.
"Habisnya kakak gemas sekali! Kamu marah sama kakak?" tanya Kean yang sadar kalau Anne sedang ngambek.
"Tumben, sadar!"
"Marah kenapa sih?" kini Kean sudah melingkarkan tangannya di pundak sang adik.
"Pikir aja sendiri!" Anne melepaskan tangan Kean, lalu menutup pintunya sedikit keras membuat Kean mengelus dada karena kaget.
Kean hanya geleng-geleng kepala saat melihat adiknya itu ngambek tak jelas apa masalahnya.
Apakah karena aku tidak memberitahunya tentang pernikahannya ini? Tapi, bukankah mama tadi bilang mau menjelaskannya ke Anne. Jadi seharusnya dia kan bisa memaklumi, batin Kean. Kemudian, dia beranjak pergi meninggalkan kamar Anne untuk kembali ke kamarnya.
Di dalam kamar, Anne sudah duduk di atas ranjang dengan tangan yang menyilang di depan dada. Dia merasa kesal sekali dengan sikap kakaknya yang dingin dan tidak peka itu!
Hari ini, Anne sedang datang bulan sehingga mudah sekali marah dan sensitif. Hal ini di sebabkan oleh naik turunnya kadar hormon esterogen dalam tubuh wanita.
...☘️☘️☘️...
Sesampainya di kamar, Kean di buat terperangah dengan penampilan Dinda yang hanya memakai kaos oversize selutut, serta rambut yang tergerai.
Kean menelan salivanya dalam-dalam. Dulu, dia tak pernah benar-benar memperhatikan Dinda jika dia memakai rok pendek di bawah lutut, tapi sekarang ....
Kean langsung memberikan mukena itu kepada Dinda. Lalu segera pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Di dalam kamar mandi, Kean langsung mencuci wajahnya yang terasa panas. Kean juga laki-laki normal, apalagi saat ini Dinda sudah halal baginya. Membuat has*ratnya bangun juga. Tapi, Kean akan menahan itu sampai kondisi mereka lebih membaik, dan mental Dinda juga jauh lebih siap. Karena Saat ini, Dinda masih dalam kondisi berduka, di tambah mereka juga belum mendaftarkan pernikahan secara hukum. Jadi, pernikahan mereka belum di lindungi oleh hukum.
Setelah semuanya siap, Kean segera memimpin sholat. Mereka berdua sholat jamaah di dalam kamar. Ketika mendengar bacaan sholat Kean yang merdu, membuat hati Dinda terasa sejuk sekali. Dinda merasa bersyukur sekali karena Allah, memberikan lelaki sholeh untuk menjadi suaminya.
Selesai sholat, Dinda mencium tangan Kean, lalu di balas dengan ciuman kening oleh Kean. Dinda tidak pernah menyangka bahwa sholat berjamaah dengan suami terasa begitu romantis. Jujur, Dinda tak pernah melihat pemandangan seperti ini. Karena keluarganya bukanlah keluarga taat agama.
"Kamu kenapa, Din?" tanya Kean saat melihat Dinda masih menundukkan kepala.
Dinda menggeleng. "Oh, iya Bang. Anterin Dinda pulang ke kos sebentar ya. Soalnya baju dan barang-barang Dinda masih ada di sana semua."
"Kalau ke sana besok saja gimana? Soalnya Mama bilang mau ngadain pengajian ba'da maghrib."
Waktu di dalam mobil setelah pulang dari pemakaman, Dira memang sempat bilang mau mengadakan pengajian di rumah untuk kirim doa bagi bu Nada. Jadi, mereka tidak bisa pergi, apalagi jarak kos kosan Dinda sangat jauh dari kediaman Fabio.
" Tapi__"Dinda takut sekaligus malau mau bicara ke Kean karena ini termasuk privasi wanita.
" Tapi kenapa? Bilang aja sama abang, kamu butuh apa? Nanti biar abang suruh bawa sekalian ke orangnya."
Dinda masih terdiam, tapi gapapa lah ya bilang. Toh mereka juga sudah jadi suami istri yang nantinya___"
"Ada pakaian dalam juga, nggak?" Karena malu Dinda langsung mengatup wajahnya rapat-rapat. Begitupun dengan Kean yang wajahnya langsung memerah saat mendengar Dinda mengatakan pakaian dalam.
...****************...
Jangan lupa like, komen, vote, dan hadiahnya ya...
__ADS_1