My Best Partner

My Best Partner
Partner Terbaik ~ Bab 112


__ADS_3

Nala benar-benar tidak pernah menyangka, bahwa akan di lamar dengan seromantis ini sampai tanpa terasa buliran bening jatuh dari pelupuk matanya.


Terharu, dan bahagia


Itu yang sedang di rasakan oleh gadis berusia 16 tahun itu. Di usianya yang bisa di bilang cukup belia, sudah ada pria tampan, mapan, melamar dirinya dengan sangat romantis. Yang tak kalah penting lagi ialah, dia juga sangat mencintai pria itu.


Melihat Nala yang hanya diam saja, membuat Lean berjalan menghampirinya. Lalu berlutut di hadapan Nala dengan memberikan cincin berlian.


" Nal, aku tanya sekali lagi. Apakah kamu mau menikah dengan Kakak?"


Nala mengangguk.


" Ya, aku mau," jawab Nala yang membuat aura kebahagiaan tercetak jelas di wajah Lean dan keluarga besar.


Di ruangan lain, terlihat keluarga Lean dan Nala sedang menyaksikan lamaran itu secara live lewat kamera tersembunyi yang merekam kejadian di sana. Mereka memang sengaja hanya menyaksikan lewat kamera karena tak ingin mengganggu acara itu.


" Lean romantis sekali ...," ucap Dinda dengan wajah kagum. Membuat Kean sedikit cemburu.


" Bukankah Kamu juga sudah pernah Abang lamar?"

__ADS_1


" Iya, tapi kaku! Tidak romantis sama sekali seperti Lean," ujar Dinda yang membuat semua orang tertawa.


Awalnya mereka masih dalam kondisi terharu dengan ungkapan cinta dari Lean untuk Nala. Tapi, tiba-tiba menjadi gelak tawa saat mendengar pengakuan dari Dinda bahwa Lean kaku saat melamar dirinya dulu.


" Yaudah, Din? Suruh Kean lamar aja lagi yang romantis," saran Mami Senja.


" Nggak perlu, Tan. Hanya buang-buang uang dan waktu karena Abang Kean emang dasarnya nggak bisa romantis seperti itu!" tukas Dinda.


"Memangnya aku tidak romantis?" tanya Kean yang tidak terima di katakan tidak romantis. Padahal, selama ini dia sudah berusaha untuk belajar romantis sesuai keinginan Dinda.


" Abang itu hanya romantis kalau di atas ranjang saja!" Kean tergelak, Dinda segera menutup mulutnya yang sudah keceplosan berbicara seperti itu.


Kean yang merasa malu segera pergi begitu saja, tanpa mengajak Dinda. Melihat Kean yang marah, membuat Dinda segera mengejarnya.


Kembali ke pasangan yang sedang melakukan lamaran. Selepas memakaikan cincin, tiba-tiba Nala memeluk Lean karena bahagianya. Hal itu sontak membuat Lean dan para keluarga kaget.


" Kenapa putriku bisa agresif dengan memeluk duluan?" ucap Papi Rian yang tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.


" Sepertinya putriku, benar-benar bahagia dan sangat mencintai Lean," timpal Mami Senja.

__ADS_1


" Sepertinya, mereka harus segera di nikahkan! " tukas Papa Ken.


" Nikah? Bukankah hanya pelukan saja, apakah harus segitunya ?" sanggah Mami Senja


" Tentu saja, berawal dari berpelukan nanti bisa___"


" Aku setuju," respon Papi Rian.


" Pi ...," seru Mami Senja yang cukup terkejut saat mendengar respon suaminya yang setuju.


" Apa salahnya, Mi? Lagian, dari awal juga mereka tujuannya akan menikah, kan? Hanya waktunya saja yang memang belum di tentukan," jelas Papi Rian.


" Ya ... Tapi, biarkan Nala lulus dulu sekolahnya," lirih Mami Senja yang belum siap jika Nala menikah sebelum lulus. Karena dari perkataan segera itu, menandakan bahwa pernikahan itu akan di laksanakan dalam waktu dekat.


" Itu, tergantung nanti keputusan mereka maunya gimana, " jelas Papi Rian.


" Nal, jangan seperti ini. Malu di lihatin orang," lirih Lean.


Nala yang menyadari hal itu segera melepaskan pelukannya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2