
Si sebuah rumah yang bak istana, terlihat pemuda tampan sedang duduk dengan wajah cemberut. Selama kedatangannya di rumah ini, pemuda itu tak pernah tersenyum. Pikirannya terus melayang teringat kepada Ibu dan sang kakak. Meskipun di tempat ini, kehidupannya penuh kenyamanan dengan fasilitas yang tak pernah ia dapatkan jika masih hidup bersama ibunya, namun hal itu tetap tak bisa membeli kebahagiaan batinnya.
" Tuan muda, waktunya makan malam," ucap seorang maid yang memanggil pria itu.
" Saya belum ingin makan!" jawabnya datar.
" Tapi, Tuan dan Nyonya sedang berada di rumah, dan meminta Anda untuk makan bersama mereka," jelas sang maid yang mengatakan apa perintah dari Tuan dan Nyonya besarnya.
Pemuda tampan itu menghembuskan nafas panjang, mau tidak mau dia harus turun ke lantai bawah untuk makan bersama dengan ibu dan ayah angkatnya. Jika tidak, dia pasti akan kena amarah dan hukuman lagi.
Ya, begitulah ibu dan ayah angkatnya. Jika ia tak mau mematuhi perintahnya, sang ayah atau ibu akan memberikan hukuman agar membuatnya jera untuk tidak mengulanginya. Jika ingin bertahan hidup dan bisa keluar dari rumah ini, dia harus bersikap baik.
Sesampainya di meja makan, pria muda itu segera menarik sebuah kursi tempat biasanya di duduk. Melihat wajah putra angkatnya itu masih saja murung, membuat prasetya kesal.
" Apakah kamu tidak ingin menyapa kedatangan Mom and dad Ray?" sindir Pras. Namun, tak kunjung mendapatkan jawaban dadi putra angkatnya itu.
" Apa kau bisu dan tuli, huh?" bentak Pras yang membuat istrinya mencoba untuk menenangkannya. Ana mengusap lengan pras agar dia lebih tenang. Ana terlihat lebih sabar dalam menghadapi putra yang mereka angkat dua minggu lalu.
Mungkin karena putra angkatnya itu sudah memasuki usia remaja sehingga sulit untuk beradaptasi. Tapi, saat melihat pria muda itu Ana langsung jatuh hati dan ingin mengangkatnya sebagai anak sekaligus di gunakan sebagai umpan agar dia bisa segera hamil. Para orang tua, memang ada yang menyarankan hal itu agar kepada meraka yang sudah menikah 10 tahun, namun belum di berikan keturunan.
Setelah diam beberapa detik, pemuda itu badu bersuara. " Jika kalian ingin aku merespon, jangan memanggilku dengan panggilan Ray atau Raymon. Karena namaku adalah Devano bukan Raymon!" pungkasnya.
Ya, pria itu adalah Devan, adik Dinda yang telah di jual oleh ayahnya. Sekarang, hidup Devan bagaikan pangeran yang hidup di sangkar mewah karena tak. Bisa bebas seperti dulu.
Brakk!!!
__ADS_1
Suara meja yang di pukul dengan keras, membuat beberapa orang kaget dan terkesiap. Pras sudah benar-benar muak mendengar Devan terus saja menolak di panggil Raymon. Anak itu benar-benar sulit di taklukan, padahal kehidupan rumah ini sangat jauh lebih baik dari kehidupannya dulu. Tapi, kenapa dia masih saja mengingat dirinya di masa lalu dan tak mau menikmati kehidupannya yang sekarang dengan nyaman?
" Ingat Ray, selama kamu masih berada di rumah ini tak ada lagi nama Devan. Apa kamu lupa kalau kamu itu sudah di jual oleh ayahmu? Lalu kenapa. Kamu tidak mau move on dari kehidupan menyedihkan dan menyusahkan itu, huh?"
" Honey, sabarlah sedikit. Mungkin Ray masih butuh waktu untuk menyesuaikan diri," ucap Ana.
" Itu ayahku, tidak dengan Ibu dan kakakku. Saat ini mereka pasti sangat khawatir dan mencoba mencari di mana keberadaanku. Karena meraka sangat menyayangiku lebih dari apapaun!"pungkas Devan.
Pras mengangkat sudut bibirnya." Ingat Ray, ibumu itu sudah meninggal, dan kakakmu itu tidak akan bisa menemukan keberadaanmu! " tandas Pras dengan penuh penekanan pada setiap ucapannya.
Pras memang sudah mengubah semua identitas milik Dewan kalaupun ada yang mencarinya itu akan sulit di temukan.
Devan terkejut saat mendengar pras mengatakan bahwa ibunya telah meningga. Dia tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh papa tirinya itu, pasti itu hanya tipuan agar Devan mau melupakan keluarganya.
" Anda pazti berbohong, kan? Mana mungkin Ibuku sudah mrninggal!"
Meskipun kehidupannya dulu selalu kekurangan, tapi Devan tak kekurangan kasih sayang tulus dari Ibu dan kakaknya. Berbeda dengan kehidupannya sekarang, tak ada rasa kasih sayang yang tulus karena dia hanya di gunakan sebagai alat pemancing keturunan.
...☘️☘️☘️...
Di tempat lain, terlihat sepasang kekasih tengah menikmati kebersamaan mereka dengan menonton film bersama di apartemen miliknya. Dinda duduk bersandar di dada bidang suaminya sambil terus mengunyah camilan yang ada di tangan. Tiba-tiba ada adegan tentang seorang adik yang hilang, membuat dia kembali teringat pada adiknya. Tidak terasa, butiran bening menetes dari pelupuk matanya.
Dia merasa bersalah karena sampai sekarang belum bisa menemukan di mana keberadaan adiknya itu. Di saat dia sudah hidup bahagia karena memiliki suami yang sangat baik dan menyayanginya, dia juga merasa sedih karena tak tahu bagaimana nasib adik semata watangnya itu sekarang.
Apakah hidupnya juga bahagia? Apakah dia bisa makan dan tidur nyenyak? Apa keluarga barunya sangat menyayanginya? Begitu banyak pertanyaan dalam pikirannya.
__ADS_1
Menyadari bahwa istrinya diam saja, serta ada air menetes jatuh ke tangannya, membuat Kean menatap wajah Dinda.
" Kamu kenapa, Nda?" tanya Kean seraya mengusap air mata yang jatuh membasahi pipi Dinda.
" Aku keinget Devan? Apakah belum ada kabar terbaru mengenai pencariannya?"
Kean menggeleng karena tadi, dia mendapatkan berita bahwa anak buah papanya belum menemukan keberadaan Devan. Bahkan, Kean sendiri yang sudah mencoba melacak identitas atas nama Devan tak menemukan jejak devan adik Dinda.
" Maaf ya, karena Abang belum bisa.menemukan Devan. Tapi, kamu tenang saja kita akan terus mencafinya sampai ketemu. Kamu berdoa saja agar dia dalam kondisi baik-baik saja."
Dinda mengangguk.
Setelah itu, Kean memeluk istrinya untuk memberikan kekuatan dan ketenangan. Kean tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang di sayangi. Tapi, dia juga sudah berusaha membantu dengan sekuat tenaga. Sekarang hanya bisa pasrah sama Tuhan, semoga memberikan petunjuk atau titik terang agar segera bisa menemukan di mana keberadaan Devan. Kean ikut sedih jika melihat istrinya sedih seperti ini.
" Bang," panggil Dinda
" Ya, kenapa, Nda?"
" Apakah aku kakak yang tak baik?"
Jean mengerutkan keningnya, lalu menakup wajah istrinya dan menatapnya lekat-lekat.
" Jangan berbicara seperti itu. Jika kamu bukan kakak yang baik, kamu tidak akan peduli dengan keberadaan adikmu. Kamu akan acuh dan tidak mencarinya seperti ini. Jadi, jangan bicara seperti itu lagi ya," ucap Kean dengan penuh keseriusan.
Kean memang benar-benar suami yang bisa menjadi penenang di kala pasangannya sedih.
__ADS_1
...****************...
Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya.