
Kini, Lean dan Nala sudah kembali ke Jakarta bersama Lora dan juga Ibunya. Melihat kondisi Lora yang semakin membaik sejak bertemu Lean, membuat mereka membawanya untuk berobat di rumah sakit tempat Lean bekerja. Setidaknya, pengobatan di rumah sakit ini lebih lengkap dengan Dokter yang jauh lebih berpengalaman dalam mengobati penyakit Leukimia.
Sebelum melakukan pengobatan, Lora akan melakukan Magnetic Resonance ImagingĀ atau biasa disingkat MRI terlebih dahulu, guna mengetahui lebih jelas lagi jenis Leukimia yang dialami oleh Lora dan cara pengobatannya.
Setelah mengetahui hasilnya, Dokter akan menyembuhkan komplikasi yang di derita Lora terlebih dahulu sebelum ke pengobatan selanjutnya.
Dokter Hematologi yang sekarang akan melakukan pengobatan dengan terapi radiasi atau radioterapi yang menggunakan sinar berenergi tinggi untuk menghancurkan sel kanker. Selain itu, terapi ini juga bermanfaat untuk mencegah sel kanker menyebar ke seluruh tubuh.
" Terimakasih ya, Dokter Lean. Jika tidak ada Anda dan___" Zaskia audah tidak sanggup berkata apa-apa lagi.
Nala mencoba membantu menenangkan Zaskia yang saat ini sedang menangis.
" Tante yang kuat, jangan sedih seperti ini," ucapa Nala sembari mengusap punggung Zaskia.
Zaskia mengangguk, lalu memeluk Nala. Dia benar-benar berterima kasih pada mereka yang suka rela membantunya mengobati Lora. Bagi Zaskia, ini benar-benar anugerah terbesar yang hadir dalam hidupnya. Bisa bertemu dengan orang kaya yang baik hati.
" Bu Zaskia harus kuat agar Lora juga kuat," ujar Lean menguatkan.
__ADS_1
Zaskia mengangguk. " Sekali lagi, saya benar-benar berterima kasih dengan kalian. Jika tidak ada kalian, mungkin saya tidak akan bisa melanjutkan pengobatan untuk Lora."
" Kami hanya perantara saja, karena sesungguhnya bantuan ini datangnya dari Tuhan. Tanpa campur tangan-Nya, kita tidak akan bertemu dan tergerak hatinya untuk membantu. Jadi berterima kasih lah pada Tuhan yang maha tahu, dan pemberi segalanya. "
Nala terpana mendengar ucapan suaminya yang begitu bijak baginya. Di saat seperti ini, dia benar-benar menjadi orang yang berbeda dari biasanya. Ternyata seperti ini sikap Lean jika sedang bekerja. Pantas saja banyak orang yang menyukai dirinya karena dia bukan hanya Dokter yang hebat, tapi baik, ramah, dan juga bijaksana.
Jadi makin cinta aku sama kamu Kak. Batin Nala.
Setelah itu, Nala dan Lean pamit untuk pulang terlebih dahulu. Di tengah perjalanan, tanpa sengaja mereka berpapasan dengan Lea. Senyum Nala yang mengembang, tiba-tiba memudar tatkala bertemu dengan wanita yang pernah di cintai suaminya.
Melihat wanita itu berdiri di hadapannya saat ini, membuat Nala semakin mengeratkan genggaman tangannya pada sang suami. Bahkan dia memeluk lengan Lean intens seakan memperlihatkan bahwa pria ini adalah miliknya.
" Hm," sahut Lean.
" Hai, salam kenal. Aku Leandra, kamu istrinya Lean, 'kan?" tebak Lea dengan. Mengulurkan tangannya. Dia mencoba mengajak Nala berkenalan.
Awalnya Nala ragu, tapi dia juga tidak ingin menjadi wanita jahat. Jadi, terpaksa Nala meraih uluran tangan itu.
__ADS_1
" Nala! "
" Selamat ya, buat pernikahan kalian. Semoga langeng sampai maut memisahkan," ucap Lea dengan menahan hatinya yang terasa sesak dan sakit.
Entah, kenapa dia merasa sedikit cemburu melihat keromantisan Lean dan istrinya.
" Kamu tidak kerja, Lea? " tanya Lean saat melihat Leandra tidak memakai jas kerjanya.
" Oh, tidak! Aku ke sini mau memutus kontrak kerja sekaligus berpamitan soalnya aku akan pindah keluar negeri," jelas Lean.
" Kamu mau pindah? Kenapa?" tanya Lean yang terlihat terkejut dan perhatian. Melihat hal itu sontak membuat Nala mencubit kecil pinggang Lean.
" Au ... Sakit, Bee," protes Lean dengan menatap ke arah sang istri yang berada di sampingnya. Sedangkan Nala sudah memasang wajah tak suka.
Lean yang paham akan ekspresi wajah itu, hanya bisa menahan nafas kesal.
Leandra tersenyum geli melihat tingkah mereka berdua.
__ADS_1
...****************...