
Ketika Kean ingin memberi pelajaran kepada Lean yang sudah berani meledeknya, terdengar panggilan untuk sarapan bersama dari Mama Dira. Akhirnya Kean hanya bisa menahan rasa kesalnya itu.
Ini adalah kedua kalinya Dinda makan di meja makan ini. Pertama di saat dia masih belum menjadi asisten Kean dan sekarang statusnya naik pangkat menjadi seorang istri dan bagian dari keluarga ini. Selama ini tak pernah terlintas pikiran bahwa dia bisa menjadi menantu dari orang kaya raya. Karena Dinda sadar diri, dia itu siapa dan berasal dari mana.
Melihat keharmonisan dua keluarga ini, membut Dinda kembali mengingat Ibu dan adiknya. Tapi, Dinda mencoba untuk menutupi kesedihannya itu. Selesai sarapan bersama, para orang tua melanjutkan obrolan mereka yang sempat tertunda. Begitu juga dengan para anak muda yang melanjutkan bertanding mai PS.
Kini, pembalasan dari Kean di mulai. Karena rasa kesalnya, Kean membuat Lean kalah dalam waktu dua menit.
"Kak, apakah kamu tak bisa mengalah sedikit?"
Kean hanya menautkan kedua alisnya.
Karena tak terima kalah hanya dalam dua menit permainan, Lean terus mencoba melawan sampai di ronde ke lima dan tetap kalah. Sebenarnya Kean bisa saja mengalahkan Kean di menit pertama, tapi dia tak setega itu.
Semua mata di buat terkagum-kagum oleh permainan Kean, dari kecil dia memang tak ada tandingannya. Damage dinginnya saat main tidak pernah berubah dari kecil sampai sekarang.
"Sudahlah kak Lean, kamu akan tetap kalah dengan raja game kita!" ledek Nathan yang merasa puas karena Lean terus saja kalah.
"Boleh aku ikut main?" pinta Dinda.
Semua mata tertuju ke arah Dinda ketika mendengar dia ingin ikut main. Selama permainan, Dinda sudah menganalisis bagaimana cara Kean bermain. Jadi, dia ingin mencoba apakah bisa mengalahkan pria dingin itu.
"Kakak bisa main?" tanya Anne.
"Iya Kak, kakak yakin mau main?" timpal Nathan yang sedikit ragu saat mendengar seorang wanita ingin bermain game.
"Boleh nggak?" tanya Dinda lagi.
Kean memicingkan matanya ketika melihat seringai Dinda yang seakan ada makna lain di dalamnya.
"Boleh saja, mau melawan siapa?" ujar Lean antusias.
"Terserah, mau melawan siapa dulu!"
"Yaudah, yang permainannya rendah dulu deh. Sama lo Nath!" Lean menyodorkan Nathan terlebih dahulu.
"Siapa takut!" jawab Nathan sedikit menyombongkan diri.
Kean menatap ke arah Dinda seakan ingin tahu apa maksudnya ingin ikut bermain? Kean tahu, Dinda jago dalam hacker tapi apakah dia juga jagi dalam bermain game?
Mula-mula, Dinda mulai merenggangkan otot tangannya sebentar. Sudah lama dia tak memegang stik game. Jadi, butuh peregangan sebentar agar otot-otot jarinya tak.kaku. Tatkala melihat cara Dinda memgang stik game, Kean bisa melihat kalau dia bukan pemula.
Kean jadi penasaran, apakah dia beneran jago juga dalam bermain game atau tidak. Dan... Dalam waktu dua menit, dia juga bisa mengalahkan Nathan. Semua di buat terperangah ketika Dinda ternyata jago juga. Bawaanya terlihat santai, tapi ternyata mematikan.
"Wow, ternyata kakak pandai?" puji Nathan yang masih tak percaya dia kalah dalam dua menit oleh Dinda.
__ADS_1
Dinda hanya tersenyum tipis, Karena penasaran. Lean langsung menyerobot stik game di tangan Nathan. Dia juga ingin mencoba melawan Dinda, dan kalah dengan cara permainan yang berbeda.
Ketika menganalisis cara bermain Dinda, Kean tahu kalau Dinda memakai trik permainan yang berbeda.
Melihat dia juga kalah dalam dua menit, membuat Lean langsung menyodorkan Kean untuk bertanding.
"Boleh, tuh! Kita lihat siapa yang akan menang di antara pasangan suami istri yang hebat ini" ungkap Nathan.
"Apa kalian yakin menyuruhku bertanding?" lontar Kean.
"Yakin!" seru semuanya serentak.
"Mau bertanding?" tantang Dinda.
"Siapa takut!"
"Sepertinya bakalan ada pertarungan sengit," pungkas Anne yang ikut antusias saat melihat Dinda juga pandai dalam bermain game.
Ketika Dinda dan Kean bermain, semua mata fokus melihat siapa yang akan menang di antara mereka berdua. Melihat Dinda yang ternyata jago juga, membuat Kean memicingkan mata. Dia tak mau kalah dari seorang wanita, apalagi istrinya sendiri, bisa malu. Begitupun dengan Dinda, dia ingin mengalahkan pria dingin yang katanya si raja game.
Setelah selama lima menit permainan, akhirnya Dinda yang menang. Semua mata kembali tercengang dan bersorak gembira karena akhirnya ada yang bisa mengalahkan Kean.
Kean sendiri benar-benar tidak percaya kalau dia bisa kalah melawan Dinda. Mendengar suara sorak teriakan yang begitu kencang dari dalam ruang tengah, membuat seisi rumah penasaran apa yang sebenarnya terjadi.
Apalagi saat melihat Lean, dan Nathan besorak gembira memicu rasa penasaran dari Ken dan Rian untuk melihatnya.
"Boleh, aku juga ingin tahu ada apa sebenarnya sampai membuat mereka bersorak gembira seperti itu!"
Setelah itu, Ken dan Rian berjalan menghampiri tempat anak-anaknya yang sedang bermain game.
Melihat Dinda tersenyum puas karena menang, membuat Kean malu sekaligus ingin bertanding lagi.
" Mau main lagi?" tantang Kean yang tak terima kalah.
" Boleh!"
" Sepertinya akan ada perang dunia kedua nih!" gumam Lean dengan menaikkan sudut bibirnya.
" Bukannya perang dunia kedua sudah terjadi pada masa penjajahan, ya kak?" timpal Nathan dengan polosnya.
Lean menghembuskan nafas panjang, dan geleng-geleng kepala ktatkala melihat Nathan lola dalam menanggapi pribahasa Lean.
"Itu hanya perumpamaan, Nathan ...," seru Anne dan Nala yang paham maksud dari Lean.
"Oh ..,"
__ADS_1
Kembali ke permainan sepasang suami istri yang lagi sengit-sengitnya. Kean mencoba trik lain, tapi Dinda juga punya trik yang dia sebut dengan 'manipulasi' . Yaitu, membuat lawan merasa menang terlebih dahulu agar kewaspadaannya berkurang. Apalagi saat ini, Kean dalam kondisi emosi yang tak stabil membuat dia mudah masuk ke dalam perangkap.
Kean menaikkan sudut bibirnya saat melihat dia sudah hampir menang, tapi___ di detik-detik terkahir Dinda langsung mengeluarkan semuanya sampai membuat Kean kalah kembali.
Semua kembali di buat takjub saat melihat permainan Dinda yang sangat hebat. Dia bisa menang dua kali saat melawan Kean.
Sedangkan papa Ken tersenyum bahagia melihat Kean sudah bertemu dengan pawangnya.
Kean mengerutkan keningnya, lalu menatap tajam ke arah Dinda.
Ini tidak mungkin! Masak iya akau kalah dengan istriku sendiri, siapa dia sebenarnya?
"Sumpah Kak Dinda, kamu benar-benar top!" Nathan memberikan dua jempol tangannya kepada Dinda.
"Iya benar, akhirnya si raja game kalah juga!" ledek Lean lagi.
"Apa ada yang salah Tuan suami?" Dinda menautkan alisnya dengan seringai tipis di bibir.
"Siapa kamu?" sontak Kean langsung menanyakan pertanyaan itu kepada Dinda.
Dinda mendekatkan wajahnya ke Kean. "Mau tau aja, atau mau tau banget?" goda Dinda.
Kean menyipitkan matanya. "Dinda___!" Nada suara Kean sudah berubah geram.
Dinda tersenyum. "W-h-i-t-e WOLF!" tukas Dinda. Lalu, dia segera bangun dari duduknya. Melihat ada ayah mertua dan sahabatnya ada di tempat itu juga, membuat Dinda merasa canggung dan segera pamit pergi dari tempat itu.
"White wolf?" Kean mencoba mengingat siapa nama akun itu.
Nathan jadi ikut berpikir, nama itu sungguh tak asing baginya. Setelah mengingatnya. ...
"Kak, kamu seriusan white wolf," teriak Nathan.
Dinda menghentikan langkahnya, lalu membalikkan badan menghadap ke Nathan.
"Ya, itu aku!" jawab Dinda yang kembali melanjutkan langkahnya.
"Siapa dia Nath?" tanya Lean saat melihat Nathan termenung dan senyum-senyum sendiri.
"Streamer game misterius yang menang kompetisi GPX Esport, tahun lalu. Tapi. setelah acara lomba selesai, dia tak ada kabarnya lagi. Hilang bagaikan di telan bumi dan tidak ada yang tahu seperti apa wajahnya."
"Pantes saja jago!"
Mendengar ucapan Nathan, Kean segera pergi menyusul Dinda. Jika dia memang benar seorang streamer game, kenapa ekonomi keluarganya tidak membaik? Padahal Gaji seorang streamer game itu cukup besar.
...****************...
__ADS_1
Oh ya, kalau ada yang salah mohon di maklumi ya..
Jangan lupa like, komen, vote, dan hadiahnya.