
" Abang ...," Dinda terus mengejar dan memanggil suaminya yang sedang marah itu. Namun, Kean terus berjalan lurus tanpa memperdulikan Dinda.
Kean segera masuk ke dalam mobilnya, dan di ikuti oleh Dinda.
" Bang, jangan marah dong ... Dinda tadi kan hanya becanda," ujar Dinda dengan menggoyangkan tangan Kean.
Sedangkan Kean hanya diam tanpa kata, ekspresinya datar dan dingin. Begitulah si kulkas dua pintu kalau lagi ngambek.
" Bang, kok diam saja sih?" rengek Dinda sudah seperti anak kecil.
Kean melepaskan tangan Dinda dari lengannya, kemudian dia mengemudikan mobilnya melaju ke jalanan.
Sepertinya Abang ngambek beneran deh ... Batin Dinda sembari berpegangan dengan erat karena Kean mengemudikan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi.
" Bang pelan-pelan ... Jangan ngebut," pinta Dinda di sela-sela ketakutannya.
Dinda membuka matanya sedikit untuk melihat bagaimana ekspresi wajah suaminya saat ini, dan ternyata masih sama.
Tak lama kemudian, mereka sampai juga parkiran apartemen. Kean turun dari mobil, kemudian lanjut pergi menuju apartemennya tanpa membukakan pintu untuk Dinda seperti biasanya.
Ketika ingin mengejar Kean, tiba-tiba Dinda terjatuh dan keseleo.
Auu ....
Teriak Dinda, membuat Kean menghentikan langkahnya.
__ADS_1
" Abang ... Bantuin Dinda," teriak Dinda saat dia tidak bisa bangun sendiri karena kakinya terasa sangat sakit.
Bola mata Kean membulat sempurna saat melihat istrinya sudah terduduk di tanah sambil memegangi kakinya. Kean segera berlari menghampiri Dinda untuk mengecek bagaimana kondisinya. Meskipun masih dalam mode ngambek, dia juga tidak setega itu meninggalkan sang istri.
" Kamu kenapa?" tanya Kean dengan wajah dingin.
" Masih tanya lagi? Tentu saja jatuh lah? Gendong, kaki Dinda sakit sepertinya keseleo," rintih Dinda dengan mengulurkan kedua tangannya minta untuk fi gendong.
Kean hanya bisa menghembuskan nafas panjang, melihat istrinya jatuh di jalan datar. Dia berjongkok agar bisa menggendong tubuh Dinda.
" Mangkanya kalau jalan itu hati-hati, masak gitu aja jatuh! " Nasehat Kean yang membuat Dinda tersenyum dan mencium pipinya.
Kean mengerutkan keningnya saat Dinda tiba-tiba mencium pipinya.
" Gitu dong, bicara! Jangan diam aja seperti orang bisu," protes Dinda.
" Maaf ... Lain kali Dinda janji tidak akan seperti itu lagi, deh ... Maafin ya .... " Dinda masih terus mencoba meminta maaf dengan memasang wajah menggemaskan. Tapi, itu belum berhasil membuat Kean tersenyum.
" Ini jadi di gendong apa nggak? "tanya Kean mengalihkan pembicaraan.
Dinda mengangguk, membuat Kean segera menggendong tubuh ramping itu.
Dinda mengalungkan tangannya pada leher jenjang sang suami. Melihatnya seperti ini, membuat Dinda terus tersenyum. Meskipun dalam mode ngambek, ternyata Kean masih peduli dan perhatian dengannya, hanya masih memasang wajah dingin.
Sesampainya di apartemen, Kean menurunkan tubuh Dinda dengan perlahan ke atas sofa, lalu dia mengambilkan kompres instan dan obat semprot nyeri untuk mengobati kaki Dinda yang keseleo.
__ADS_1
" Apakah masih sakit?" tanya Kean sesudah mengobati kaki Dinda.
" Masih," lirih Dinda.
Kean segera duduk di sofa, lalu memijat perlahan kaki Dinda yang keseleo.
" Au ... Sakit Bang," rintih Dinda untuk mendapatkan perhatian. Padahal, kakinya sudah tidak terlalu sakit lagi. Dia hanya ingin cari perhatian, berharap Kean tidak akan marah lagi.
" Masih sakit?" tanya Kean untuk memastikan.
Dinda mengangguk dengan memasang wajah kesakitan.
" Kalau masih sakit, berarti harus di bawa ke rumah sakit, apa jangan-jangan butuh di amputasi!" ungkap Kean mencoba menakut-nakuti Dinda.
" Ha? Nggak perlu kok, udah mendingan," elak Dinda yang tak mau kakinya di amputasi.
" Loh, katanya masih sakit. Jadi bawa saja ke rumah sakit, biar di obati agar tidak ___"
" Udah nggak gapapa kok sekarang." Dinda segera menarik kakinya dari paha Kean. Sedangkan Kean hanya menatap heran kepada istrinya ini. Sebenarnya, Kean sudah tahu kalau Dinda hanya berpura-pura, makanya dia berkata seperti itu.
" Mangkanya jangan suka menipu suami!" ketus Kean yang segera bangun dari duduknya. Lalu, berjalan pergi masuk ke dalam kamar.
" Bang...," panggil Dinda yang tidak mendapat respon dari Kean.
Dia hanya bisa menghembuskan nafas lemas saat melihat suaminya seperti semakin marah karena dia sudah berbohong.
__ADS_1
...****************...