My Best Partner

My Best Partner
Bab 142


__ADS_3

Hari ini adalah hari di mana Nala di nyatakan telah selesai menempuh pendidikan strata sekolah menengah atas, sekaligus acara wisuda. Semalam, tiba-tiba Lean ada panggilan darurat dari rumah sakit yang mengatakan bahwa ada kecelakaan beruntun sehingga membuat dia harus kembali ke rumah sakit. Padahal, dia sudah meminta cuti karena akan menghadiri acara wisuda Nala.


" Ayo sayang, kita berangkat," ajak Mami Senja dan Papi Rian yang sudah siap.


" Apa kita tidak menunggu kak Lean dulu, Pi, Mi?" tanya Nala yang masih terus khawatir dengan suaminya yang tak kunjung ada kabar.


" Sudah, nanti Lean biar langsung datang ke sekolah kamu. Kalau nunggu Lean, keburu telat. Apalagi kamu akan membawakan pidato, kan? " ujar Papi Rian yang mencoba mengingatkan bahwa putrinya itu akan berpidato mewakili mahasiswa berprestasi.


Nala mengangguk.


Dengan berat hati, Nala pergi tanpa menunggu suaminya datang. Dia terus berharap bahwa Lean bisa datang dan melihat dia berpidato di atas podium. Karena, tanpa bantuan Lean yang mengajarinya dia tidak akan bisa mengalahkan si juara satu berturut-turut.


Selama ini, Nala selalu berada di peringkat dua atau tiga, dan tidak pernah menyangka bisa berada di peringkat 1 apalagi saat ujian IB.


...☘️☘️☘️...


Di tempat lain, terlihat seorang Dokter yang masih terus mengoperasi pasien. Konsentrasinya mulai menurun akibat terus memikirkan janjinya pada sang istri yang akan datang di acara wisudanya. Mendengar suara jarum jam yang terus berdetak tanpa henti, membuat Lean berusaha agar cepat segera selesai mengoperasi.


Tak lama kemudian, akhirnya operasi telah selesai di lakukan.


" Bi, untuk laporan aku serahkan padamu!" ucap Lean pada sahabat sekaligus partner kerjanya itu.


" Oke, tapi kamu mau kemana? Sepertinya buru-buru?" tanya Abi yang tak tahu.

__ADS_1


" Menghadiri wisuda istri!" jawab Lean yang segera melangkah pergi keluar dari ruangan operasi.


Lean! Apakah dia sadar kalau sudah keceplosan? Batin Abi.


Istri?


Bisik semua orang yang berada di ruangan itu, mereka cukup terkejut saat mendengar Lean mengatakan istri.


" Dokter Abi, apakah Dokter Lean sudah menikah? "tanya seseorang yang sudah penasaran.


Ah... Jadi aku yang kena 'kan? Aku harus jujur atau bohong? Gumamnya dalam hati. Dia takut salah bicara karena sahabatnya itu jika marah sangat menakutkan.


" Seperti yang kalian dengar! " pungkas Abi yang mencari aman. Toh, Lean sendiri yang keceplosan.


" Seriusan, Dok? Bukankah katanya masih tunangan?" tanya seseorang untuk memastikan kembali.


...☘️☘️☘️...


Di aula tempat acara wisuda di gelar, terlihat acara sudah di mulai. Nala terus saja menatap layar ponselnya, namun tetap tidak ada pesan masuk balasan dari Lean.


" Kakak kemana sih? Kenapa belum datang?" cemas Nala.


Tak lama kemudian, terdengar Mc sudah memanggil Nala untuk naik ke atas podium. Pikirannya yang tidak fokus membuat Nala tidak mendengar panggilan itu.

__ADS_1


" Nal, kamu sudah di panggil," ujar teman yang duduk di samping Nala.


" Ha?" tanya Nala bingung dan terkejut.


" Nama kamu sudah di panggil terus sama mc. Jadi, buruan naik ke podium sana!" jelas temannya itu.


" Oh, Iya." Setelah itu, Nala segera bangun dari tempat duduknya dan berjalan menuju podium.


Papi Rian dan Mami Senja yang terus memantau, akhirnya merasa lega saat melihat putrinya sudah berjalan menuju ke podium.


" Sebenarnya apa sih yang membuat Nala sampai tidak mendengar panggilan dari Mc!" gerutu Mami Senja.


" Tentu saja memikirkan suaminya yang tak kunjung datang," sahut Papi Rian.


Saat berada di atas podium, Nala masih saja celingukan mencari - cari di mana keberadaan suaminya.


Apakah Kak Lean belum datang? Batinnya yang tak melihat ada suaminya di ruangan itu.


" Nala ... Nala. ... kenapa masih diam saja, " tegur seorang Mc saat melibat Nala masih terdiam tanpa sepatah kata.


Mendengar teguran itu, membuat Nala memulai pidatonya.


Kak, aku harap kamu datang! Gumamnya.

__ADS_1


Bruk ...


...****************...


__ADS_2