
Lean mendongakkan wajah Nala yang tertunduk agar menatapnya. " Nggak usah berpikiran yang aneh-aneh. Mana mungkin Kakak berciuman dengan wanita yang bukan muhrim," pungkas Lean.
" Lalu, yang di atap?"
Lean tak mau menjelaskannya dengan perkataan karena itu akan sia-sia. Dia segera mengajak Nala untuk turun dari ranjang, lalu menyalakan kamera ponselnya untuk merekam adegan yang mereka lakukan dari belakang.
" Bagaimana, apakah sudah paham? "tanya Lean saat Nala sudah Melihat apa yang terekam di kamera.
" Jadi___"
" Ya, kamu sudah salah paham. Apa yang kita lakukan barusan, sama dengan apa yang terjadi di atap," jelas Lean.
" Terus, kenapa kalian bisa berada di atap dan __" Nala sudah tak sanggup melanjutkan ucapannya lagi. Dia penasaran, tapi malu juga sudah ketahuan salah paham, tapi masih saja kepo. Namun, Lean sudah paham sehingga membuat dia segera menjelaskan semuanya yang telah terjadi agar istri kecilnya itu tidak negatif thinking lagi padanya.
Nala terdiam, dan mendengarkan cerita Lean dengan seksama.
" Lain kali, jangan kabur dan marah-marah sebelum tahu apa yang sebenarnya terjadi, oke? Itu nanti jatuhnya malah jadi fitnah! Apakah kamu tahu kalau kakak tadi sangat khawatir karena kamu tidak bisa di hubungi dan menghilang entah kemana?"
Maaf." Nala tertunduk, dia merasa bersalah karena sudah salah paham dan cemburu buta.
Lean mengangkat dagu Nala agar menatapnya. Sebenarnya Lean sudah tidak ingin membahas soal masa lalu, karena itu kisah sebelum bersama Nala. Tap
" Sekarang kakak mau tanya, apakah kamu tahu arti dari ijab Qabul yang sudah kaka ucapkan saat menikahimu?"
__ADS_1
Nala menggeleng.
" Ucapan ijab qabul yang kakak ucap itu, tidak hanya tentang menikahimu di depan papi, Mami dan keluarga. Melainkan sebuah perjanjian Kakak sama Allah, di mana Kakak akan menanggung semua dosa-dosa kamu dan calon anak-anak kita kelak, dari tidak menutup aurat hingga meninggalkan sholat.
Bukan hanya itu saja, kakak juga mempunyai tanggung jawab untuk mendidik, menafkahi lahir batin, mencintai, menjaga, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kamu dari di dunia sampai akhirat. "
" Jadi, jangan pernah meragukan lagi cinta kakak. Sejak melamarmu, kakak sudah berjanji pada diri sendiri hanya akan mencintaimu seorang. Tidak akan ada wanita lain di hati ini, karena kamu adalah tulang rusuk sekaligus belahan jiwa kakak. "
Air mata Nala jatuh menetes begitu saja saat mendengarkan ucapan lean yang penuh dengan keseriusan. Nala segera memeluk Lean dengan erat, dia juga sangat mencintainya. Maka dari itu, Nala takut jika Lean akan pergi meninggalkan dirinya.
Malam ini, mereka memang tidak jadi kencan di luar. Tapi, lebih ke belajar berkomunikasi yang baik antar suami istri.
Setelah masalah salah paham selesai, Lean mengajak Nala untuk tidur.
" Hem," jawab Lean yang sudah hampir memejamkan matanya.
" Aku boleh tanya sesuatu?" tanya Nala takut-takut. Tapi, dia juga masih penasaran karena belum menanyakan hal ini.
" Mau tanya apa?" ucap Lean tanpa membuka matanya.
" Tadi Kaka bilang sudah move on dan hanya mencintai aku seorang. Tapi, Kenapa___ sampai sekarang kakak tidak pernah meminta hak sebagai suami pada Nala?"
" Hak suami? " Lean mencoba mencerna perkataan Nala. Lalu, dia tersenyum saat paham apa maksud dari perkataan istrinya.
__ADS_1
Lean merenggangkan pelukannya agar bisa menatap wajah Nala.
" Apakah kamu sudah siap memberikannya? " Bukannya menjawab, Lean justru kembali bertanya.
" Ya___" entah kenapa Nala jadi gugup sampai bingung mau menjawab apa.
Lean merasa gemas saat melihat wajah istri kecilnya yang terlihat sangat gugup.
" Kalau kamu belum siap, kenapa bertanya? Itu sama saja dengan membangunkan singa yang tidur!" goda Lean.
" Ha? Singa?" ucap Nala bingung kenapa suaminya itu justru membahas singa tidur?
Lean mencubit gemas pipi Nala, lalu mengecup bibir ranum yang sudah menjadi candunya. Nala yang terkejut saat menerima serangan tiba-tiba, hanya bisa membalas sesuai instingnya saja. Kecupan itu, kini sudah berubah menjadi *******, sampai perang lidah. Ternyata benar, berciuman membuat ga*irah sek*s menjadi sangat cepat meningkat.
Lean dan Nala sama-sama menghirup oksigen banyak-banyak. Saat ini, Ga*irah di dalam tubuh Lean benar-benar memuncak, seakan membuat dia tak sanggup lagi menahannya.
" Nal, sebenarnya Kakak ingin melakukan malam pertama kita dengan suasana yang sangat romantis. Tapi___"
Nala menunggu ucapan Lean selanjutnya.
" Tapi kenapa, Kak?"
...****************...
__ADS_1
Udah ya... Besok lagi.... Kasih like, dan hadiahnya yang banyak oke