My Best Partner

My Best Partner
Bab 89


__ADS_3

Di karenakan kedua pria tampan itu takut ketinggian, membuat para wanita memilih untuk bermain wahana yang tidak berhubungan dengan ketinggian.


Karena ingin meluapkan emosi, Nala mengajak untuk main wahana kora-kora dufan atau di sebut dengan perahu ayun.


Semua wanita setuju, dan itu tidak berhubungan dengan ketinggian. Jadi para pria harus setuju, akhirnya mereka bermain bersama.


Sorak teriakan terdengar menggema. Selesai bermain, tiba-tiba Dinda merasa bahwa perutnya kram. Membuat Kean panik, lalu mencoba mencari tempat yang nyaman agar Dinda bisa duduk dan merilekskan otot tubuhnya.


Untungnya ada Lean, dia menyuruh Dinda tarik nafas dan buang perlahan agar lebih rileks. Kemudian menanyakan bagaimana rasa sakitnya. Jika di lihat dari definisi sakit kram yang di rasakan oleh Dinda, Lean seperti curiga akan sesuatu.


" Din, apakah kamu sudah telat datang bulan?" tanya Lean untuk memastikan diagnosa. Meskipun bukan dokter kandungan, tapi Lean sedikit tahu tentang hal itu.


Dinda terdiam, mencoba mengingat kembali kapan seharusnya dia menstruasi.


" Memangnya kenapa, Le? "tanya Kean yang tak mengerti kenapa Lean menanyakan tentang menstruasi istrinya.


" Sepertinya sih iya, "jawab Dinda ragu-ragu.


Kemudian Lean menanyakan hal-hal umum yang biasanya di tanyakan oleh Dokter kandungan.


" Apakah akhir-akhir ini ada yang aneh atau berbeda dari kamu? Seperti mual, muntah di pagi hari, terus lebih doyan makan kah, emosi tak terkendali, atau lebih suka tidur, pokoknya sesuatu kebiasaan yang biasanya tidak terjadi." Papar Lean.


" lebih doyan makan, suka tidur, sama emosian memang ada. " Itu bukan Dinda yang menjawab, melainkan Kean. Karena Kean merasakan ada perubahan itu pada diri Dinda.


Lean tersenyum mendengar jawaban dari Kean, sedangkan yang lain menatapnya heran karena bukannya melanjutkan mendiagnosa, Lean justru senyum-senyum sendiri.


" Kak, jangan senyum-senyum sendiri. Cepat kasih tau kak Dinda kenapa!" desak Anne yang diangguki semuanya.


" Kakak ipar tidak apa-apa, mungkin hanya terlalu capek bermain. Nanti pulang dari sini, beli tes kehamilan,"pungkas Lean.


Kean mengerutkan keningnya." Le yang jelas kalau menerangkan! Jangan setengah-setengah, terus kenapa kamu justru menyuruh membeli tes kehamilan? Bukannya obat atau ___"


" Apa kak Dinda hamil?" sela Anne yang membuat Kean terdiam dan sedikit terkejut.


" Kakak belum bisa memastikan, di tes saja dulu. Nanti baru bisa tahu apakah sudah ada Kean junior apa belum," jelas Lean.


Meskipun belum tahu pasti, Kean sudah merasa bahagia. Sedangkan Dinda masih terdiam dan sedikit shock. Tanpa berpikir panjang, Kean segera membawa Dinda pulang terlebih dulu. Dia tak mau melanjutkan bermain lagi, takut terjadi sesuatu pada Dinda atau calon bayi yang belum jelas ada apa belum.

__ADS_1


Bahkan Kean tak membiarkan Dinda berjalan, dia menggendong Dinda ala bridal style berjalan menuju parkiran yang cukup jauh jaraknya. Awalnya Dinda menolak dan meminta di turunkan karena malu di liatin orang. Tetapi, Kean tak peduli, dalam pikirannya asalkan istrinya dan calon bayinya tidak kenapa - kenapa itu sudah lebih dari cukup.


" Kak, apakah kita masih lanjut bermain?" tanya Nala yang masih ikut menatap kepergian Kean dan Dinda.


" Harus lanjut dong!" seru Anne yang tak mau berhenti sekarang.


" Tapi, kita hanya tinggal bertiga."


" Udah nggak masalah, asalkan masih ada satu atm berjalan, kita tetep lanjut saja mainnya!" tukas Anne dengan menautkan alisnya.


" Atm berjalan?" tanya Nala yang tak mengerti maksud Anne.


Anne mengangguk, dan memberi kode dengan ekor matanya ke arah kakaknya. Sedangkan Lean hanya menghembuskan nafas panjang ketika Anne lagi-lagi menyebutnya sebagai atm berjalan.


" Yasudah, jalan kalau masih mau di lanjut," ajak Lean yang sudah jalan lebih dulu. Hanya mengajak dua gadis kecil main saja tidak akan menghabiskan isi dompetnya.


Setelah itu, mereka bertiga benar-benar main bertiga sampai malam. Hari ini rasa penat sehabis ujian benar-benar hilang seketika. Meskipun kakaknya entah hilang ke mana, setidaknya masih ada Lean yang siap siaga menjaganya dari apapun.


Memiliki kakak yang lebih dewasa memang lebih menyenangkan, daripada kakak kembar yang masih labil. Hanya memikirkan dirinya sendiri. Selesai bermain, Nathan baru menelpon menanyakan di mana mereka.


" Oh ya, kalian pulangnya gimana?" tanya Nala.


" Makasih banyak ya Kak Lean, Anne untuk hari ini," ucap Nala seraya memeluk Anne sebagai salam perpisahan.


" Sudah pelukannya, cepat pulang. Besok masih harus sekolah, kan?" ujar Lean yang diangguki oleh Nala.


" Bilang aja iri karena nggak bisa peluk! "gerutu Anne yang kesal karena Lean mengganggu salam perpisahan mereka.


Lean menjitak kening Anne, membuatnya meringis kesakitan.


" Kalau ngomong itu harus ada remnya! Jangan rem blong terus! " tandas Lean.


Nala hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat interaksi mereka berdua.


" Nal, ayo!" ajak Nathan yang sudah berada di dalam mobil.


" Iya, sabar...," sahut Nala.

__ADS_1


Setelah itu, Nala ikut masuk ke dalam mobil dan melambaikan tangan pada Lean dan Anne.


Tak lama kemudian, taksi online yang sudah Lean pesan juga datang. Membuat mereka berdua segera masuk ke dalam mobil.


"Sesuai aplikasi ya, Pak."


" Baik Tuan."


Belum lama mobil berjalan, Anne sudah tertidur pulas di pundak Lean. Mungkin karena terlalu kecapekan bermain. Tiba-tiba bunyi notifikasi pesan masuk.


Lean mengerutkan keningnya ketika melihat siapa yang mengirim pesan. Padahal, mereka baru saja berpisah beberapa menit, sudah mengirim pesan saja.


Nala : Terima kasih banyak atas liburan yang sangat menyenangkannya kak.


Lean : Sama-sama, bukankah tadi sudah bilang?


Nala : Hehe, apakah sudah datang mobilnya?


Lean : Ini sudah ada di dalam mobil.


Nala : Oh, kalau begitu hati-hati dijalan.


Lean hanya geleng-geleng kepala, dekat dengan gadis kecil memang berbeda.


Lean : Iya, jangan main ponsel terus nanti pusing. Sampai rumah langsung mandi, sholat dan istirahat.


Nala masih mengetik lalu hapus, dia bingung harus menjawab apa, sampai pada akhirnya pesan terkirim. Nala terkejut saat melihat pesan apa yang sudah terkirim, ketika ingin menghapusnya, Lean sudah membaca pesan itu lebih dulu.


Astaga Nala ... Pasti dia akan terbang melayang di puji ganteng. Dasar jari yang lebih cepat dari otak! Gerutu Nala seraya menggigit ujung kukunya, dia benar-benar malu dan ingin menghilang saja.


Sedangkan Lean tersenyum bahagia ketika membaca balasan pesan dari Nala.


Astagfirullah ... Kenapa aku bisa sebahagia ini hanya mendapatkan balasan pesan. Siap kakak ganteng ... Dasar gadis kecil yang menggemaskan! Batin Lean.


Padahal, Lean sudah sering mendapatkan pujian seperti itu, tapi entah kenapa rasanya jauh berbeda. Apa karena dia adalah ...


Ternyata benar, sesuatu yang memang sudah ditakdirkan itu akan di dekatkan dan terasa jauh lebih indah. Tapi, sesuatu yang memang bukan untuk kita, akan selalu di jauhkan.

__ADS_1


...****************...


.


__ADS_2