My Best Partner

My Best Partner
Bab 38


__ADS_3

"Dinda kenapa?" tanya Lean saat melihat Dinda terbaring lemah di atas ranjang pasien.


"Pingsan karena Shock dan kekurangan energi."


"Kok bisa?"


Setelah itu, Kean menceritakan kalau sebelum berangkat ke sini sepertinya Dinda belum menyelesaikan sarapannya. Saat itu, Kean sudah sangat panik. Jadi, tidak terlalu memperhatikan Dinda sudah selesai makan apa belum. Di tambah sesampainya di sini, dia terus di kejutkan dengan berita yang membuatnya terkejut tanpa henti. Jadi, batin dan pikirannya masih belum mampu mencerna semuanya.


"Kau sepertinya sangat mencintainya, Kak."


Kean mengerutkan keningnya, ketika mendengar adiknya justru menggoda saat dia sedang berbicara serius. Ketika melihat ada sebuah cincin berlian yang melingkar di jari Dinda, membuat Lean tersenyum.


"Ternyata lamaranmu sudah di terima, Kak?" lanjut Lean.


"Tentu saja!" jawab Kean yang terlihat sedikit bangga.


"Ck, kenapa Dinda menerimamu begitu cepat sebelum berjuang?" ujar Lean dengan melingkarkan kedua tangannya di depan dada.


"Apa maksudmu seperti berbicara seperti itu? Apakah kamu tidak suka jika kakakmu ini sudah di terima lamarannya?" sungut Kean yang sedikit kesal mendengar perkataan Lean.


Lean mengangguk, membuat wajah Kean terlihat marah, lalu dia mendekatkan diri ke Kean. "Karena aku berharap kamu berjuang mati-matian dulu, baru bisa mendapatkannya," bisik Lean yang segera pergi dari ruangan UGD.


Kean melotot saat mendengar bisikan Lean. Ingin rasanya dia memukul wajah tengilnya itu, tapi dia tahan. Saat ini mereka sedang berada di rumah sakit, Kean tak mau imagenya terlihat buruk hanya gara-gara di goda oleh adiknya.


"Dasar jomblo! Bilang saja kalau iri," desis Kean.


"Siapa yang jomblo?"


"Ha?" Kean terkejut saat mendengar Dinda berbicara.


"Kamu sudah sadar?" Kean mencoba memastikan kembali kalau Dinda memang sudah sadar.


Kemudian, perlahan Dinda membuka matanya. Dia tersenyum saat melihat pria dingin ini masih setia menjaga dan menemaninya. Di balik sikap dinginnya itu, ternyata dia juga bisa menjadi penghangat bagi orang - orang yang disayanginya.


Dinda bersyukur bisa bertemu dengan pria sebaik Kean dalam hidupnya, dia bagaikan cahaya terang di saat kegelapan sedang menerpanya. Andai tak ada Kean, mungkin saat ini Dinda tak tahu harus bertumpu pada siapa.


"Aku ingin melihat Ibu, Bang," ujar Dinda.


"Kamu yakin nggak mau istirahat dulu? Atau kita cari makan dulu untuk mengisi perutmu, ya," tawar Kean.

__ADS_1


Dinda menggeleng, mana bisa dia makan di saat kondisi seperti ini.


"Din, kamu harus kuat dan nggak boleh ikut sakit juga. Biar bisa merawat Ibu," nasehat Kean.


Dinda tersenyum. "Aku sudah kuat kok, asalkan Abang tetap menemaniku si sini ya," pintanya.


Entah mengapa tiba-tiba ada desiran halus seakan menggelitik hatinya. Kean merasa bahagia saat mendengar bahwa dia bisa menjadi penguat bagi Dinda.


"Abang akan temani kamu," pungkas Kean dengan tersenyum.


Saat ini, senyuman dari pria itu seakan bisa menjadi mood booster bagi Dinda. Karena dia tidak akan mendapatkan senyuman itu jika bukan orang yang penting di hati Kean.


"Terimakasih Bang."


Kean mengangguk.


Setelah itu, mereka berdua kembali ke ruangan dimana bu Nada di rawat. Saat mendengar alat Elektrokardiograf masih berbunyi normal, membuat hati Dinda sedikit lega. Setidaknya, ibunya saat ini masih hidup.


Dinda duduk di kursi samping ranjang, lalu menggenggam tangan pucat nan kasar Ibunya. Tangan itu memperlihatkan kalau pekerjaan dan hidupnya terlalu keras.


Nada bukanlah wanita berpendidikan tinggi, jadi dia hanya bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan kasar, asalkan bisa mendapatkan uang. Meskipun bukan wanita berpendidikan tinggi, dan memiliki ilmu agama yang baik. Nada masih berpedoman untuk selalu mencari rezeki yang halal bagi anak-anaknya.


"Bu, sadarlah. Jangan tinggalkan Dinda sendiri di sini. Dinda masih ingin membahagiakan Ibu. Dinda janji akan mencari Devan sampai ketemu, asalkan ibu mau bangun dan sembuh. Meskipun Dinda tidak bisa membalas semua jasa-jasa Ibu. Setidaknya berikan kesempatan Dinda untuk bisa membahagiakan Ibu ya."


Mendengar ucapan Dinda kepada Nada, membuat hati Kean terenyuh. Semoga apa yang di inginkan Dinda bisa terwujud.


Ternyata alam bawah sadar Nada masih berfungsi dengan baik. Jadi, dia masih memberikan respon saat mendengar perkataan Dinda. Melihat tangan Nada yang bergerak, membuat Dinda merasa senang.


"Bu, Ibu sudah sadar?" tanya Dinda yang berharap bahwa Nada sadar.


Kondisi Nada memang kritis, tapi dia tidak sampai mengalami koma. Tak lama kemudian, sepasang bola mata Nada terbuka. Membuat Dinda langsung memeluk Nada saat melihat dia sudah sadar kembali.


Melihat Dinda begitu bahagia, membuat Nada ingin sekali membalas pelukannya. Namun, tubuhnya terlalu lemah untuk bisa melakukan itu.


Setelah merasa cukup, Dinda melepaskan pelukannya. Melihat Kean juga masih setia menunggu di ruangan tersebut, membuat Nada menatapnya intens seakan ada yang ingin dia bicarakan.


"Ibu kenapa menatap Abang seperti itu? Apa ada sesuatu yang ingin Ibu katakan?" tanya Dinda saat menyadari bahwa Nada terus menatap ke arah Kean.


Nada mengedipkan matanya, seakan memberikan kode apa yang di ucapkan Dinda benar. Melihat hal itu, Dinda langsung menyuruh Kean mendekat.

__ADS_1


Tiba-tiba Dinda teringat pada ucapan Dokter yang mengatakan untuk memberikan berita-berita positif saat pasien sadar agar keinginan untuk sembuhnya bisa kembali. Tapi, jangan memberikan berita buruk karena akan membuat pasien semakin down.


"Bu, Dinda ingin memperkenalkan status abang yang baru. Sekarang bang Kean bukan hanya boss Dinda, tetapi juga tunangan Dinda," ujarnya seraya memperlihatkan cincin berlian yang melingkar di jari manis Dinda.


Dinda berharap, berita ini bisa membuat Nada memiliki semangat lagi. Nada tersenyum, sebelumnya Kean memang sudah meminta izin terlebih dulu kepada Nada untuk melamar putrinya.


"Se__lamat," lirih Nada.


Nada berusaha untuk mengusap lembut wajah putrinya, akhirnya dia bisa merasa sedikit tenang sekarang. Karena putrinya sudah menemukan pria yang baik sebagai pendamping hidupnya. Meskipun di satu sisi dia juga masih memikirkan bagaimana kondisi Devan. Nada hanya bisa pasrah dan berdoa semoga Tuhan bisa menjaga putranya di mana pun dia berada.


"Din," panggil Nada.


"Iya, Bu ada apa?"


"Ibu ikut baha__gia bi_sa melihat kamu baha_gia," ucapnya.


"Dinda juga bahagia bisa melihat Ibu bisa sadarkan diri lagi. Dinda berharap Ibu bisa sembuh secepatnya biar bisa melihat Dinda menikah. Dinda masih ingin membahagiakan Ibu. Jadi, apapun yang Ibu inginkan, Dinda akan berusaha mengabulkannya."


Nada tersenyum dan bersyukur saat melihat Dinda tumbuh menjadi seorang putri yang baik. Meskipun kadang dia cerewet, dan marah-marah, tapi Nada sangat menyayangi Dinda.


" Apa ada sesuatu yang Ibu inginkan? Jika urusan Devan, Ibu tenang saja. Dinda akan mencarinya sampai ketemu,"ujar Dinda mencoba meyakinkan Nada kalau dia bisa menemukan Devan agar Nada tidak terlalu kepikiran soal adiknya.


Nada berkedip menandakan bahwa dia percaya.


" Ibu__ hanya in__gin melihat ka__mu meni_kah, " tandas Nada.


Nada memang memiliki harapan ingin melihat Dinda menikah, sebelum Tuhan menjemput ajalnya.


Kean dan Dinda terkejut dan saling pandang satu sama lain saat mendengar permintaan Nada.


"Ibu ingin kita segera menikah?" tanya Kean mencoba memastikan kembali.


Nada kembali mengedipkan matanya. Menandakan bahwa apa yang di ucapkan Kean benar.


...****************...


Ehm... Bagaimana gengs? Kira-kira mereka jadi menikah nggak ya?


Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya ya...

__ADS_1


Novel ini akan up setiap hari jam 7: 00 dan 14:00. Untuk yang minta crazy up, tunggu saja ya. Kalau sudah waktunya nanti bakalan crazy up.


__ADS_2