My Best Partner

My Best Partner
Bab 50


__ADS_3

Di lantai bawah, terlihat dua keluarga yang sudah ramai berkumpul. Semalam keluarga Rian memang menginap di sini. Para orang tua sedang duduk santai sambil menikmati kopi dan camilan pagi.


Lean dan Nathan sedang bertanding main PS( Play Station) 5. Sedangkan Nala dan Anne menjadi supporter di belakang mereka sambil teriak-teriak.


Melihat mereka akur dan main bersama seperti ini, seakan nostalgia saat mereka.masih kecil dulu yang sering main bersama.


"Tidak terasa ya Ken, anak-anak ternyata sudah besar sekarang," Ujar Rian seraya menatap ke arah anak-anaknya.


"Iya benar, dan tanpa sadar ternyata Kita sudah tua! Bahkan aku sudah punya menantu," sahut Ken.


Rian menoleh ke arah Ken. "Yang tua kamu saja Ken, aku masih muda kok!" canda Rian.


Ken menatap tajam ke arah Rian. " Nggak usah sok muda, umur kita juga hanya beda sedikit!"timpal Ken.


"Tapi kan tetap tua kamu Ken, anakmu saja sudah menikah dan sebentar lagi kau akan menjadi opa," ledek Rian.


"Ya, walaupun aku sudah mau menjadi opa, tapi ketampanan dan keperkasaan masih sama!"


Rian hanya geleng-geleng kepala melihat sahabatnya yang tidak mau mengalah dan di anggap. Rian tak pernah menyangka, mereka yang dulunya saingan cinta, justru menjadi sahabat sampai tua.


" Kau tak ada rencana mau menjodohkan anak kita, Ken?"


Ken menatap ke arah sahabatnya ini, kenapa tiba-tiba dia membahas perjodohan. Padahal selama ini tak ada sedikitpun ada pembahasan ini di antara mereka.


"Kenapa tiba-tiba kamu berbicara seperti itu? Apa kamu seperti Chika yang ingin anakku menjadi menantunya?"


Rian menghembuskan nafas panjang. " Memangnya kenapa? Apakah anakku tidak masuk kriteria menjadi menantu keluarga Fabio?"


"Bukannya tidak masuk, anakmu baik, tapi kamu tahu sendiri kalau aku tak mau memaksakan kehendak ku. Biarkan mereka memilih jodohnya sendiri, aku hanya akan membantu memberi saran. Jika baik akan aku setujui, begitupun sebaliknya."


"Misalnya nih, ada salah satu dari mereka berempat ada yang minta izin menikah, apakah kamu akan merestui?"


"Tergantung!"


"Kok tergantung, sih? Kenapa tidak tergandeng saja! Di gantung nggak enak tau," canda Rian.


"Karena nggak cocok!"


"Kok bisa?"


"Pikir saja sendiri! Masak iya akau mau bilang tergandeng mereka saja, nggak cocok, kan?"


Rian tertawa terbahak-bahak saat mendengar jawaban Ken.


...☘️☘️☘️...


Ketika keluar dari kamar mandi, Kean melihat Dinda sudah berpakaian rapi hanya belum memakai hijab saja.

__ADS_1


" Kamu tidak pakai hijab, Nda? "ucap Kean seraya memeluk Dinda dari belakang yang sedang berdiri di depan kaca.


Nda adalah panggilan sayang dari Kean yang berasal dari tiga huruf terkahir panggilan Adinda. Semalam, Dinda protes karena Kean masih memanggilnya Din, sama seperti yang lainnya. Sedangkan dia di suruh memanggil Abang.


Dinda juga pengen punya panggilan sayang, awalnya Dinda minta di panggil beb, tapi langsung di tolak oleh Kean. Katanya terlalu alay dan lebay. Dia mau memanggil sayang atau Nda, dan akhirnya Dinda memilih Nda karena biar berbeda.


" Bukankah hanya sarapan di rumah? Apakah di rumah juga harus memakai hijab?"


Kean mengangguk.


"Kenapa?"


"Karena di bawah masih ada keluarga om Rian."


"Mereka menginap di sini?"


"Kamu harum." Kean mencium tengkuk leher Dinda, membuatnya menggelinjang, dan ingin menjauh. Tapi Kean justru terus menciuminya karena gemas. Padahal aroma mereka sama karena sabun yang di pakai juga sama.


"Abang geli ...," protes Dinda.


"Bukankah kamu suka seperti di film semalam?"


Dinda membalikkan tubuhnya menghadap Kean.


" Aku suka, tapi geli kalau terus-terusan. Lagian, abang nggak takut handuk itu jatuh? " Dinda melirik ke bawah, membuat Kean baru sadar kalau dia masih hanya memakai handuk yang di lilitkan ke pinggang.


Ketika Kean mengganti pakaian, Dinda juga mengambil kerudung yang sudah di siapkan juga oleh aunty Sinta. Karena sebelumnya, Kean memang meminta di siapkan hijab dengan warna senada sesuai bajunya.


Semalam, Dinda sudah setuju saat Kean memintanya untuk berhijab mulai sekarang. Karena mulai sekarang yang akan menanggung dosa Dinda ketika keluar dari rumah tanpa menutup auratnya adalah Kean.


Tak lama kemudian, Kean sudah selesai dengan kaos polos dan celana panjang.


"Kamu kenapa menatap abang seperti itu? Apakah ada yang aneh?"


Dinda menggeleng. "Aku suka style abang seperti ini, terlihat simpel dan tampan."


"Oh ya? Memang biasanya tidak tampan?"


"Tampan, tapi seperti kulkas dua pintu!" goda Dinda.


Mendengar Dinda memanggilnya kulkas dua pintu lagi, membuat Kean kesal dan menggelitik Dinda.


"Abang ... geli," rengek Dinda yang sudah tak kuat.


"Mangkanya besok lagi, di larang nyebut abang kulkas dua pintu!"


"Iya, suamiku yang paling ganteng."

__ADS_1


Kean tersenyum ketika mendengar Dinda memanggilnya suamiku. Seperti ada kebahagian tersendiri saat mendengar panggilan itu. Mungkin karena masih pengantin baru, jadi panggilan suamiku masih sangat berarti. Setelah itu, mereka berdua turun ke lantai bawah bersama.


...☘️☘️☘️...


Di ruang keluarga, Lean dan Nathan masih asik bertanding.


"Ayo kak, lawan," teriak Anne yang mensupport kakaknya.


"Yey ...," sorak Anne ketika Lean menang lagi.


"Gimana Nath, masih mau tanding nggak?" goda Lean. Dia merasa sangat bangga karena menang tiga kali ronde.


"Ah, coba lawan kak Kean pasti kakak kalah!" ledek Nathan untuk mengalihkan pembicaraan.


Lean terdiam sejenak. "Tentu saja kalah lah, orang kulkas 10 pintu memang rajanya dalam main game! Bahkan bukan hanya main, buat saja dia bisa!" ungkap Lean.


Selama ini, Lean memang selalu kalah jika main game dengan Kean. Soal seperti ini, memang Kean rajanya. Tapi, soal ilmu medis, psikologi Lean jagonya. Mereka berdua mempunyai kelemahan dan kelebihan masing-masing.


" Siapa kulkas 10 pintu! " seru Kean dari belakang.


Mendengar suara berat itu, membuat Lean dan Nathan segera menengok ke sumber suara.


"Yaelah, pengantin baru jam segini baru keluar dari kandang!" ledek Lean.


Kean memicingkan matanya saat mendengar Lean mengejeknya. Tiba-tiba sebuah sentilan mendarat di kepalanya, membuat Lean mengernyit.


"Kamu kira kakak ternak apa! baru keluar dari kandang!" lontarnya yang tak terima.


"Halo kakak ipar," sapa Anne.


Dinda yang belum pernah ketemu Anne hanya membalas dengan senyuman yang sedikit canggung.


" Perkenalkan dia adik bungsuku yang sama-sama cerobohnya kayak kamu!" ledek Kean saat mengenalkan Anne.


Mendengar Kean mengatakan Dinda ceroboh, sebuah cubitan kecil mendarat di pinggangnya, membuat Kean merintih kesakitan.


"Kok di cubit sih, Nda," lirih Kean seraya menatap Dinda kesal karena di cubit.


"Siapa suruh menghinaki," jawab Dinda dengan tersenyum palsu ke arah Kean.


Melihat ada yang berani mencubit dan memarahi Kean, membuat Anne dan Lean tersenyum puas. Sedangkan Nala masih ada sedikit rasa sakit ketika melihat Kean mesra dengan istrinya.


"Sepertinya ada yang mulai jinak, tapi bukan jinak jinak merpati. Melainkan suami takut istri!" ledek Lean yang di sambut gelak tawa oleh Anne dan Nathan.


...****************...


Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya ya...

__ADS_1


__ADS_2