
" Harum sekali ... perutku jadi semakin terasa lapar, " gumam Nala saat mencium aroma harum dari masakan suaminya.
Lean mengusap puncak kepala Nala, dengan lengannya.
" Sabar ya ... Istri kecilku. Sebentar lagi sudah matang kok buburnya," ucap Lean sembari mengaduk bubur.
Nala mengangguk dan terus menemani Lean memasak di dapur. Sebenarnya Lean menyuruhnya menunggu di meja makan saja, tapi Nala menolak. Dia ingin membantu sekalian belajar bagaimana cara memasak bubur ayam. Nala juga ingin bisa memasak agar tidak terus bergantung pada Lean jika mereka sudah tinggal sendiri.
Tak lama kemudian, bubur pun sudah matang. Nala yang sudah tidak sabar ingin mencicipi masakan suaminya, segera membantu untuk meracik bubur ke dalam dua mangkuk.
" Wah ... Pengantin baru kenapa sudah ada di dapur pagi-pagi," ujar Oma Anita.
"Oh, Nala sudah kelaparan Oma," jawab Nala tanpa malu-malu.
" Kelaparan?" ulang Oma dan di jawab sebuah anggukan oleh Nala.
" Oma mau Lean ambilkan sekalian, buburnya masih banyak kok," tawar Lean. Dia memang sengaja membuat cukup banyak agar yang lainnya juga bisa menikmati bubur buatannya.
" Boleh juga," ucap Oma Anita.
Setelah itu, mereka bertiga makan bubur bersama di meja makan.
Oma Anita sangat menikmati bubur buatan lean.
__ADS_1
" Gimana Oma, apakah enak?" tanya Lean.
" Enak sekali, ini seriusan kamu yang buat?" tanya Oma Anita.
" Serius dong Oma." Bukan Lean yang menjawab, melainkan Nala. Sedangkan Oma Anita hanya bisa tersenyum bahagia melihat Nala yang sekarang sangat ceria. Tidak seperti dahulu yang pendiam, dan jarang berbicara banyak seperti sekarang. Sepertinya, Lean benar-benar membawa perubahan besar bagi hidup Nala.
Selesai sarapan, mereka berdua kembali ke kamar untuk siap-siap. Nala yang harus berangkat ke sekolah, dan Lean bekerja.
" Kak, apakah sudah siap?" tanya Nala yang sudah menunggu di sofa. Sedangkan Lean berada di ruangan walk in closet.
" Sudah, ayo berangkat," ajak Lean sembari mengulurkan tangannya. Nala meraih uluran tangan itu dan berjalan keluar dari kamar dengan bergandengan tangan.
Di meja makan, terlihat Opa Dimas, Mami Senja, Papi Rian dan Nathan sedang sarapan bersama.
"Selamat pagi, Mi, Pi, Opa," sapa Nala.
" Iya, Pi," jawab Lean dan Nala bersama.
Setelah itu, Mereka berdua berpamitan dengan menyalami semua orang.
" Kak, aku nebeng ya," ujar Nathan tanpa rasa malu atau sungkan.
" Kamu nggak berangkat sama supir aja, Nath? " saran Papi Rian.
__ADS_1
" Memangnya kenapa, Pi? Kan satu arah juga," ujar Nathan polos.
" Yaudah kalau mau bareng, ayo," ajak Lean.
Setelah itu, mereka bertiga pergi bersama.
Papi Rian dan Mami Senja terus memperhatikan cara berjalan Nala untuk mencari sesuatu, dan ternyata tidak berbeda. Masih sama seperti biasanya.
" Tuh, kan ... Papi juga udah bilang kalau Lean itu pasti bisa mengontrol!" ujar Papi Rian.
Mami Senja menghembuskan nafas lega. " Iya, tapi kuat sampai kapan dia?" tanya Mami Senja yang terlihat masih was-was.
" Ya, terserah lah Mi. Lagian, kenapa Mami sangat khawatir? Mereka itu sudah menikah jadi sah-sah saja kalau mau melakukan hal itu," ujar Papi Rian.
" Mami kan, hanya khawatir saja. Nala itu masih kecil, dia___"
" Lean juga seorang Dokter jadi dia pasti juga faham dengan itu semua," sela Papi Rian.
Mami Senja terdiam, lalu beranjak bangun dari duduknya. Dia malas berdebat dengan suaminya itu. Lean memang seorang Dokter, tapi kan bukan Spesialis kandungan.
Apakah dia tahu tentang rahim, dan lain sebagainya?
Ketakutan seorang ibu itu memang jauh lebih besar. Dia ingin melihat putrinya bahagia, tapi masih ada rasa khawatir kalau sampai Nala hamil di usia dini. Mau menyarankan minum pil kb, Nala juga masih terlalu, takut ada efek jangka panjangnya.
__ADS_1
Jika Lean sendiri yang datang untuk konsultasi, dia akan menjawab dan memberi masukan. Tapi jika tidak ada, Mami Senja hanya bisa diam saja karena dia sudah tidak ada hak dan wewenang pada Nala.
...****************...