
Selesai Dinner, Lean langsung mengantarkan Nala pulang ke rumah. Sesampainya di rumah Nala, ternyata Papi Rian dan Mami Senja sudah menunggu kedatangan mereka berdua.
" Kakak nggak mampir dulu?" tawar Nala sebelum keluar dari mobil Lean.
" Sepertinya tidak usah, sudah malam," tolak Lean.
Saat Nala keluar dari mobil, tiba-tiba scurity menyampaikan pesan bahwa Lean di suruh mampir terlebih dahulu. Sebelumnya, Papi Rian memang sudah memberikan mandat pada scuritynya jika Nala pulang, Lean di suruh menemui dirinya. Akhirnya, Lean mampir juga, membuat Nala tersenyum.
" Kok sepertinya kamu bahagia sekali melihat kakak jadi mampir, masih belum rela pisah, ya ... " goda Lean.
" Gr! Aku itu tersenyum karena melihat kakak sudah menolak untuk mampir, eh taunya sama Papi di suruh mampir. Bukan karena nggak rela pisah! " jelas Nala.
" Oh, ya? " tanya Lean mencoba untuk memastikan.
" Kalian sudah pulang? "tanya Papi Rian saat melihat Nala dan Lean datang.
" Assalamualaikum, Om, Tante" salam Lean sembari mencium tangan Rian dan Senja.
" Waalaikumsalam," jawab mereka berdua bersamaan.
__ADS_1
Setelah itu, Papi Rian menyuruh mereka berdua untuk duduk karena ada yang ingin di bicarakan.
" Oh, ya, Le. Apakah Om boleh bertanya?" tanya Papi Rian to the poin.
" Silahkan Om." Lean mempersilahkan.
" Begini, bukannya Om mendesak atau bagaimana. Hanya ingin bertanya saja, rencananya kalian mau nikah cepat atau___" Papi Rian bingung bagaimana menjelaskannya.
" Kalau Lean, kapanpun sudah siap, Om." pungkas Lean mantab tanpa ada keraguan karena dia memang sudah siap lahir batin. Mau cepat alhamdulillah, masih lama ya ... pengertiannya saja.
" Kalau Kamu Nala?" kini Papa Rian beralih bertanya pada Nala karena jawaban darinya juga di butuhkan.
Nala menghembuskan nafas dalam. " Kalau Nala____" semua orang sudah menunggu jawaban Nala. Bahkan, Mami Senja harap-harap cemas dengan jawaban putrinya itu.
Entah kenapa Lean merasa lega dengan jawaban dari Nala. Seakan memberikan kode bahwa dia sudah siap jika di ajak untuk menikah.
Sekarang, keputusan final berada di tangan Papi Rian karena dia adalah ayah sekaligus kepala keluarga.
" Sepertinya kalian memang sudah siap betul jadi ... lusa bawa seluruh keluargamu ke sini untuk melamar Nala secara resmi."
__ADS_1
"Lusa?" seru Mami Senja yang sangat terkejut dengan perkataan suaminya.
" Papi, bukankah itu terlalu cepat? Kenapa tidak menunggu Nala sampai lulus terlebih dahulu saja?" sanggah Mami Senja yang masih belum siap.
Sebelumnya, Papi Rian memang tidak konfirmasi terlebih dahulu pada Mami Senja. Jadi, dia mengira bahwa Papi Rian mendengarkan pendapatnya tentang menikahkan Nala setelah lulus, tapi nyatanya dia justru memberikan keputusan yang sangat mengejutkan.
Lusa, itu artinya dua hari lagi Nala akan di lamar secara resmi? Bagaimana caranya mami Senja mengatakan pada kedua orang tuanya jika cucu mereka sudah di pinang ketika belum lulus sekolah SMA?
Lean dan Nala hanya bisa saling pandang saat melihat perdebatan antar suami isteri di mulai.
" Memangnya kenapa jika lusa? Mau sekarang, besok, lusa atau nanti. Bukankah sama saja Nala akan menikah secepatnya? Jadi, lebih cepat lebih baik agar ___"
" Agar apa? Lagian Nala juga nggak hamil duluan, jadi buat apa menikah dadakan? Kelulusannya juga tinggal dua minggu lagi, masak iya Lean tidak sabar menunggu sampai waktu itu tiba?" tukas Mami Senja dengan emosi yang sedikit memburu, sampai membuat dia lupa kalau masih ada Lean dan juga Nala di sana.
Ini kenapa jadi aku yang kena? Bukankah Om Rian yang mengusulkan? Batin Lean. Padahal, baru saja dia ingin merasa senang karena Rian pengertian sekali dengan mempercepat pernikahannya dengan Nala. Eh, nggak taunya malah terjadi perdebatan antara suami istri.
Karena tidak enak berdebat di depan anak dan calon mantu, membuat papi Rian membawa Mami Senja untuk menjauh dari Lean dan Nala.
...****************...
__ADS_1
Lah kira-kira jadi lamaran lusa nggak ya?
Jangan lupa sajennya biar author semangat untuk up.