
Dinda masih terus menggenggam tangan suaminya yang mulai basah dan dingin. Sepertinya, meskipun sudah di tutup matanya Kean masih memiliki kecemasan dan ketakutan ketika berada di tempat yang tinggi.
Kean mencoba menarik nafas perlahan, lalu menghembuskannya guna merilekskan ketakutannya. Untungnya, rasa ketakutan terhadap ketinggian yang Kean dan Lean alami sudah tidak terlalu parah seperti dulu.
Ingatan kejadian-kejadian yang menakutkan itu kembali terlintas. Di mana Kean kecil yang baru berusia lima tahun jatuh dari tangga sampai mengalami cidera dan harus menjalani terapi selama berbulan-bulan agar bisa kembali berjalan normal seperti sebelumnya. Lalu, di usia tujuh tahun mereka harus kehilangan mamanya yang saat itu jatuh dari tebing yang sangat tinggi.
Setelah badai angin reda, dan tak kunjung mendapatkan mayat Mama Dira. Papa Ken mengajak semua orang datang ke tebing itu untuk melepaskan kepergian mama Dira.
Karena tak ada kuburan wujud yang bisa di datangi, membuat semua orang akan datang kembali ke tebing itu setiap tahun di tanggal yang sama. Di tahun ke tujuh kepergian Mama Dira, Papa Ken hampir saja kehilangan Lean dan Kean yang saat itu terpeleset dari tebing karena tanah yang mereka pijak luruh. Tapi, untungnya mereka berdua masih bisa terselamatkan.
Sejak saat itu, Kean dan Lean mulai takut berada di ketinggian. Dalam pikiran mereka tertanam bahwa jatuh dari ketinggian akan mengakibatkan sakit yang sangat parah, bahkan bisa sampai meninggal.
Awalnya, phobia mereka sangat parah. Jika berada di tempat yang tinggi akan merasakan sesak, keringat dingin bercucuran, pusing, bahkan sampai pingsan tatkala masih menjalani pengobatan. Meskipun belum sembuh total, phobia yang mereka alami sudah tidak terlalu parah. Bahkan, sudah hampir terlihat seperti orang normal, namun masih tetap ada perasaan takut jika di suruh menaiki wahana yang tinggi, apalagi bianglala.
Sejak menjalani pengobatan, mereka memang selalu gagal mengatasi ketakutan jika menaiki wahana yang ekstrim dan berada pada ketinggian.
" Jadi, semua itu karena kejadian yang pernah Abang alami?" tanya Dinda lagi setelah mendengar cerita dari suaminya.
Kean mengangguk.
" Tapi, bukankah Mama Dira sudah kembali lagi? Dan dia selamat dari tebing yang tinggi itu?"
__ADS_1
" Mama memang sudah kembali dan dalam keadaan selamat, tapi memori kejadian yang lainnya masih terekam sangat jelas. Bahkan, seperti sebuah kaset yang akan terputar otomatis," jelas Kean.
" Tapi, Bang. Bukankah menaiki bianglala sama seperti naik pesawat? Buktinya Abang dan Lean tidak takut? "tukas Dinda.
" Mereka berbeda Nda... Abang sama Lean itu mengalami fobia ketinggian atau biasa di sebut akrofobia, bukan aviophobia ketakutan untuk naik transportasi udara, " jelas Kean.
" Jadi, mereka berdua berbeda? " tanya Dinda yang masih belum paham.
Kean mengangguk, lalu tersenyum. Kecemasan yang ia rasakan mulai memudar, karena teralihkan dengan Dinda yang banyak bicara.
" Sepertinya ketakutan abang mulai memudar," ujar Dinda saat menyadari bahwa suhu tangan suaminya sudah kembali normal.
Tiba-tiba Dinda mempunyai Ide, siapa tahu itu bisa membantu mengobati phobia Kean.
" Nda ... Kamu ngapain?" tanya Kean yang langsung menutup matanya tatkala Dinda membuka penutup mata itu. Kean meminta penutup matanya di kembalikan, namun Dinda tidak memberikannya.
Dinda menangkup wajah suaminya.
" Bang, mulai saat ini lupakan semua kejadian yang menakutkan itu menjadi sebuah kenangan indah. Karena berada di tempat ketinggian, tidak selamanya menakutkan."
Setelah itu, Dinda mencium bibir Kean dengan penuh cinta dan kelembutan . Menyadari bahwa Dinda menciumnya, membuat Kean membalas ciuman itu juga. Di balik ciuman itu, Dinda tersenyum dan berharap bahwa suaminya akan melupakan kenangan pahitnya.
__ADS_1
Dinda melepaskan pagutan bibirnya, lalu menyuruh Kean untuk membuka matanya. Awalnya, Kean menolak, tapi Dinda terus membujuk sampai akhirnya Kean memberanikan diri untuk membuka mata.
Hal pertama yang Kean lihat adalah senyuman manis dari istrinya, lalu Dinda memperlihatkan pada Kean bahwa pemandangan kota London dari atas sangatlah indah.
" Sangat indah, bukan?" tanya Dinda saat melihat Kean tak berkedip sedikitpun.
" Sangat indah," lirih Kean.
" Jadi, simpanlah kenangan bahwa kita pernah bercumbu di tempat ketinggian dengan pemandangan kota London yang sangat indah," ucap Dinda yang kembali mencium bibir seksi suaminya.
Aku akan selalu mengingat kenangan indah ini. Batin Kean yang semakin memperdalam ciumannya.
...****************...
Sudah ya guys... Sampai sini saja. Udah bonus 6 part lho...
Jadi jangan lupa like, komen, vote, dan beri rating bintang 5.
Yang pengen lihat vidio Lean, papa Ken dll. Bisa cus follow ig author oke.
__ADS_1