
Melihat Kean langsung peegi menyusul Dinda, membuat Lean, Nathan dan anne penasaran apa yang akan terjadi kepada mereka. Jadi, mereka ingin mengikutinya, namun langkah itu terhenti ketika mendengar suara barinton yang mencegahnya.
"Kalian mau kemana?" tanya Papa Ken saat melihat Anne, Nathan dan lean ikut beranjak pergi.
"Mau mengikuti Kak Kean, Pa."
"Buat apa? Apa kalian lupa kalau kakak kalian itu sudah menikah?" ungkap Papa Ken.
Mereka semua menggeleng karena tidak lupa kalau Kean sudah menikah.
"Terus, ngapain mau mengikutinya?"
" Kita hanya takut akan ada perang dunia kedua seperti kata kak Lean. Jadi ingin menengahi, " jawab Anne dengan polosnya. Sedangkan Lean dan Nathan tepuk jidat ketika melihat Anne begitu polos dan jujur.
"Nggak kok, Pa! Lean cuman mau ke kamar, istirahat bukan ke kamar kak Kean!" elak Lean.
"Tidak usah mengelak, sekarang duduk kembali!"
"Tapi Pa___" rengek Anne.
"Tidak usah membantah! Mau terjadi perang dunia kedua, ketiga, kelima ataupum sepuluh sekalian, kalian tetap di sini. Itu biar jadi urusan kakak sendiri, dan tidak ada yang boleh ikut campur."
Anne, menundukkan kepalanya. Dia takut melihat wajah menyeramkan papanya ketika dingin seperti ini. Setelah itu, papa Ken dan Rian pergi dari mereka.
" Kamu yakin tidak mau melihat Kean, Ken? Nanti kalau__"
Ucapan Rian terhenti saat melihat Ken menatap ke arahnya dengan tatapan tajam. Damage pria ini sama saja dengan kean, kalau sudah tanpa ekspresi wajahnya menyeramkan.
"Lagian tidak akan ada perang dunia yang kalian pikirkan, paling juga gempa lokal!" Papa Ken sudah tak sanggup menahan tawanya.
Melihat Ken yang justru tertawa setelah memasang wajah garangnya, membuat Rian menjadi bingung. Lalu mencoba mencerna ucapan Ken barusan.
Bukan perang dunia, melainkan gempa lokal? Gumam Rian.
" Maksudmu___?" Rian mencoba menebak jawabannya. .
"Kamu pasti paham lah apa maksudku!"
"Kamu yakin, Ken? Bukannya tadi kamu melihat sendiri kalau Kean kalah telak main game di depan semua orang, loh?" Rian mencoba meyakinkan kembali.
"Aku paham betul bagaimana sifat Kean," tandas Ken.
Karena dia hampir mirip denganku? Alih-alih perang dunia, pasti lebih memilih gempa lokal sebagai hukumannya! Batin Ken seraya tersenyum miring.
__ADS_1
Di ruangan keluarga, Anne dan Nathan terlihat begitu cemas kalau Kean akan bertengkar dengan Dinda. Apalagi mereka kan masih pengantin baru, masak bertengkar karena kalah main game sih!
Sedangkan Lean, ikut penasaran apa yang akan terjadi dengan mereka berdua? Apalagi tadi, Lean melihat raut wajah Kean terlihat sangat kesal ketika menyusul kepergian Dinda.
"Kak, gimana nih? Masak iya mereka akan perang dunia kedua?" Anne menggoyangkan lengan Lean
"Doakan saja semoga tidak, paling hanya akan perang dingin!" ungkap Lean.
"Ayo cari cara biar bisa menguping ke kamar kak Kean," usul Nathan.
"Nggak mau ah, takut! Apa kamu tadi nggak lihat wajah papaku yang sudah menyeramkan itu?" pungkas Anne yang bergidik ngeri, mengingat kembali bagaimana raut wajah Ken tadi saat memperingati mereka.
Ken, bukan tipe ayah pemarah. Tapi, ketika raut wajahnya sudah datar seperti itu, menandakan bahwa ucapannya harus patuh dan tidak boleh di langgar sedikit pun kalau ingin selamat.
...☘️☘️☘️...
Di dalam kamar, ponsel Dinda terus berdering, tapi saat ingin mengangkatnya panggilan telah di matikan. Sepasanh bola matanya terbelalak tatkala melihat berapa banyak panggilan dan pesan masuk dari Tante Mirna, Dion dan teman kos lainnya.
Isi pesan-pesan itu hampir sama, menanyakan di mana Dinda sekarang kenapa semalam tidak pulang.
"Astaga! Gue lupa tidak pamit dan kasih kabar ke mereka kalau tidak pulang."
Saat ingin menelpon Tante Mirna kembali, Dion sudah lebih dulu meneleponnya.
"Halo Dion."
Lu tahu nggak sih Gue dan semuanya itu khawatir cariin Lu." Rentetan pertanyaan langsung terucap dari seseorang di ujung telepon.
Dion udah seperti seorang emak-emak yang tidak dan sabaran langsung nyerocos terus. Tapi, dia tidak salah juga karen Dinda sudah mengilang tanpa memberikan kabar.
" Maaf ya, kalau sudah buat semuanya khawatir. Soalnya dari kemarin gue nggak ngecek ponsel sama sekali. Jadi, nggak tahu kalau banyak pesan dan panggilan telepon dari. kalian.
" Tapi Lo baik-baik saja, kan? " tanya Dion dengan nada penuh ke cemasan.
Sejak kemarin dia benar-benar merasa cemas dan khawatir karena tak bisa menemukan Dinda sama sekali. Sampai membuat Dion frustasi dan tidak bisa tidur memikirkan Dinda.
"Gue baik kok, Lu tenang saja dan nggak usah khawatir."
Melihat Dinda sangat serius teleponan dengan seseorang, membuat Kean segera menghampirnya. Sangking seriusnya, Dinda tak sadar kalau Kean masuk ke kamar. Kean langsung memeluk Dinda dari belakang, membuat Dinda terkejut.
" Din, Lu kenapa? Apa terjadi sesuatu ?" tanya Dion cemas saat mendengar Dinda berteriak kaget.
Mendengar suara seorang pria yang sedang menelpon Dinda, membuat Kean semakin kesal.
__ADS_1
"Abang, nga__" ucapan Dinda terhenti saat bibirnya sudah dicium rakus oleh Kean. Merasakan ciuman Kean yang sangat kasar, tidak seperti biasanya, membuat Dinda memberontak dan ingin melepaskan diri.
Emmp... Dinda terus memberontak saat Kean tak ada lembut-lembutnya. Terpaksa Dinda menggigit bibir Kean agar dia melepaskannya ciumannya. Kean mengusap bibirnya yang sedikit berdarah akibat gigitan dari Dinda.
"Abang gila ya!" bentak Dinda saat melihat Kean seperti orang yang kerasukan setan.
Bukannya menjawab, Kean justru kembali mencium Dinda. Namun, dengan cara yang lebih lembut dari sebelumnya. Rasa kesal sekaligus cemburu melihat istrinya berbicara lembut dengan seorang pria, membuat Kean tak bisa mengendalikan emosinya dan mencium Dinda dengan rakus.
Entah setan apa yang sudah merasukinya sampai membuat Kean meluapkan emosinya ke dalam ciuman.
Ketika menyadari Kean yang sudah kembali lembut, membuat Dinda menikmati dan membalas ciuman itu. Kini Dinda sudah mengalungkan tangannya ke leher Kean, karena merasa tak nayaman dengan posisinya sekarang. Kean mengangkat tubuh Dinda agar sejajar dengannya.
Ciumam itu masih saja belum terputus sampai Kean membawa Dinda ke atas ranjangnya. Nafas mereka sama-sama tersengal ketika ciuman itu terlepas. Dinda maupun Kean segera mengambil oksigen banyak-banyak sebelum kembali berciuman.
Hawa panas sudah menjalar ke seluruh tubuh mereka, gairah Kean semakin tak terkendalikan lagi. Dia ingin segera memiliki Dinda seutuhnya, toh mereka juga sudah halal untuk melakukannya.
Apakah hari ok ini aku akan pecah perawan? Sakit nggak, ya?
"Nda ... apakah boleh?"
Suara Kean terdengar sangat seksi di telinga Dinda, membuat dia juga menginginkan pria itu.
Dinda mengangguk.
" Apa kamu tidak akan menyesalinya?"
Dinda menggeleng, lalu menakup wajah tampan suaminya.
" Buat apa aku menyesal karena melayani suamiku sendiri?"
Kean tersenyum. Baru saja ingin melakukan pemanasan, telepon Dinda susah terdengar beebunyi kembali dan sangat kencang, mengakibatkan konsentrasi mereka pecah.
Kean mencoba menahan emosinya, karena telepon itu berbunyi lagi. Tanpa basa basi Kean bangun dan mengambil. Ponsel yang sudah terjatuh di lantai karena ulahnya.
" Halo, bisa tidak jangan telepon istri orang terus! Tenang saja, Dinda aman!" bentak Kean.
" Kamu siapa? Main bentak-bentak saya? " terdengar suara cempreng seorang wanita di ujung telepon .
Kean menjauhakan ponsel Dinda dari telinganya, lalu membaca nama penelpon di layar yang sudah retak itu.
Tante Mirna'?
" Siapa, Bang?" tanya Dinda seraya menghampiri Kean yang mematung.
__ADS_1
...****************...
Jangan lupa like, komen, vite dan hadiahnya ya...