
Dinda,” panggil seseorang dari kejauhan.
Mendengar ada suara tak asing memanggilnya, membuat Dinda. menghentikan langkahnya. Lalu membalikkan tubuhnya, untuk melihat siapa orang yang memanggilnya itu.
“ Huh ... ” nafas Dion tersengal-sengal karena sedikit berlari untuk menghampiri Dinda.
“ Lu kenapa? Habis lari maraton?” ketus Dinda saat melihat Dion ngos-ngosan.
“ Iya, lari maraton gara-gara ngejar Lu yang di panggil-panggil
nggak denger! "pungkas Dion setelah nafasnya sudah teratur.
“ Oh ya? Tapi gue kok nggak dengar? Lagian lu kok bisa mengenali gue dari belakang?” tanya Dinda yang penasaran. Karena dari depan saja, Tante Mirna sempat tak mengenali dirinya karena penampilannya berubah, tapi Dion
dari belakang saja sudah bisa mengenalinya. Sungguh mengejutkan, padahal mereka belum pernah bertemu sejak penampilan Dinda berubah.
“ Oh, itu! Tentu saja kenal, orang gue gitu! "Dion mulai membanggakan dirinya, padahal dia sudah melihat wajah Dinda sebelumnya, makanya tahu.
" Mulai deh, emangnya gimana caranya?" Dinda masih kepo.
" Dari cara lu jalan sama tinggi badan lu aja masih saja, hanya penampilan saja yang sudah berubah lebih terlihat seperti wanita."
Dinda memukul Pundak Dion.“ Emangnya gue dulu bukan wanita!” sungut Dinda berdecak pinggang yang kesal dengan ucapan Dion.
“ Ya kan, kalau dulu wanita jadi-jadian!” ledek Dion yang langsung lari ketika melihat Dinda melotot kearahnya.
Di karenakan sudah lama tak mengobrol, mereka memutuskan untuk
pergi ke tempat biasa mereka berdua
mengerjakan tugas dengan wifi gratis, cukup membeli camilan atau minuman saja. tapi, sesampainya di sana, tempat itu tutup.
Jadi, terpaksa pergi ke café yang tak jauh dari sana. Berhubung habis dapat uang jajan, jadi gapapa lah pergi ke café yang makanannya cukup mahal bagi Dinda
dulu.
Sesampainya di sana, Dinda memesan begitu banyak camilan dan juga minuman tanpa memperdulikan harga lagi. Mungkin karena sudah terbiasa di ajak Kean makan di tempat yang makanannya jauh lebih mahal dari ini. Jadi, dia sudah biasa saja, andaikan itu dulu mungkin ogah Dinda mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk membeli camilan yang tidak mengenyangkan menurutnya. Dion hanya diam melongo saat melihat Dinda memesan makanan begitu banyak.
Jadi istri orang kaya mah, memang beda kali ya, batin Dion.
“ Din, tumben lo pesan makanan banyak sekali. Mentang-mentang sudah jadi
__ADS_1
istrinya orang kaya, jadi nggak peduli lagi ya dengan harga mahal,” sindir Dion.
“Bukan gitu juga, gue emang lagi pengen makan itu semua sampai ngiler. Kalau
lu mau, pesan aja, gue yang traktir! ” tawar Dinda dengan tersenyum.
“ Emangnya di kasih jatah berapa sih, sama suami lu sampai seorang Dinda berani mentraktir gue? Kalaupun lu mau traktir gue ya harus yang lebih mahal, lah!” goda Dion.
“ Dasar, temen nggak tau diri!” sungut Dinda, sedangkan Dion hanya bisa tertawa melihat Dinda kesal dengan candaannya.
Melihat raut wajah Dinda yang terlihat lebih bahagia, dan jauh lebih baik dari sebelumnya. Membuat Dion
ikut bahagia, setidaknya sekarang dia sudah tidak hidup susah seperti dulu lagi.
“ Gimana rasanya nikah sama orang kaya? pasti enak ya, sampai
lupa sama temen sendiri!” ketus Dion.
“ Gue, lupa?” ulang Dinda. “ Bukannya gue yang lupa, tapi lu aja yang lebay, masak hape aja di bawa pacar. Asal lu tahu ya, waktu gue kirim pesan, pacar Lu malah bilang gini sama gue Dinda tolong jauhi Dion, Lu kan juga tahu kalau dia sudah punya pacar. Jadi, jangan jadi benalu dalam hubungan kita. " Dinda berkata dengan penuh penekanan.
" Sumpah, gue syok dan sedikit kesal di katain benalu sama pacar lu, padahal hanya mau tanya tentang kuliah, " ungkap Dinda.
" Ya, gue jawablah. Oh, maaf ya ... sekarang gue udah punya suami yang jauh lebih dari Dion. Jadi nggak mungkin gue jadi benalu dalam hubungan kalian, dan gue tadi hanya mau nanya soal kampus, nggak lebih!. Skak mat lah dia," ungkap Dinda.
Saat itu, pacar Dion memang langsung tak membalas hanya di baca saja.
Dion tertawa mendengar celotehan Dinda yang tak berubah sama sekali jika merasa kesal. Dia akan berterus terang dan cerewet seperti ini.
Beberapa hari yang lalu, Dinda memang
sempet mengirim pesan kepada dion untuk menanyakan tentang kampus, tapi dia tidak tahu kalau yang memegang ponsel Dion adalah pacarnya. Dan ketika mendapatkan penghinaan seperti itu, dia marah sampai mengirim fotonya sama Kean biar pacar Dion percaya.
“ Ya begitulah, punya pacar over protektif. Tapi gue udah putus sama dia,” ucap Dion dengan santai.
“ Kenapa?”tanya Dinda yang penasaran.
“Udah nggak kuat aja gue menghadapi dia, masak gara-gara tau gue khawatir waktu lu ilang nggak ada kabar , dia marah, terus besoknya langsung mengambil ponsel, dan baru di kembalikan beberapa hari lalu karena dia baru pulangdari dinas. Gila nggak sih!?” curhat Dion.
Dinda hanya tertawa mendengarnya. Setelah itu, makanan yang mereka pesan sudah datang sampai memenuhi meja mereka karena terlalu banyak. Soal porsi makan Dinda yang banyak, Dion sudah terbiasa , tapi soal melihat Dinda memesan makanan cafe sebanyak ini ya … itu baru tidak biasa. Karena biasanya dia makan banyak di warteg yang harganya murah, tapi porsinya banyak. Kalau di cafe paling hanya pesan minuman saja.
“ Lu lagi doyan makan atau gimana, Din?”
__ADS_1
Dinda hanya mengangguk saja karena mulutnya penuh makanan,
Dinda memang seperti itu. Tak ada anggun-anggunnya kalau makan , hanya
pakaiannya saja sekarang yang anggun, tapi tingkahnya masih sama saja.
“ Wow ternyata camilan di sini memang enak-enak! pantes saja ramai yang datang walaupun harganya cukup mahal, dan tempatnya juga memang nyaman, sih! Jadi, nggak heran kalau banyak yang datang dan foto-foto. Sepertinya
bisa ke sini lagi sama abang."
“ Apa tadi, abang?” ulang Dion yang mencoba memastikan karena Dinda bicaranya sedikit pelan.
“ Iya, abang suami," jelas Dinda yang tak ada malunya jika bersama Dion.
“ Sepertinya lu cinta banget ya Din, sama dia sampai makan enak aja ingat.”
“ Tentu saja, kan suami sendiri."
“ Boleh lihat nggak foto suami Lu, gue jadi penasaran seperti apa wajah pria yang bisa membuat hati seorang Dinda luluh, bahkan sampai sangat mencintainya. Karena gue aja nggak bisa!”
Dinda hanya mencebik ketika Dion membahas soal itu, dulu Dion memang pernah mengungkapkan bahwa dia menyukai Dinda, tapi Dinda menolak,
bahkan menjauh. Karena tak kuat di jauhi oleh Dinda, Dion memutuskan untuk
menjadi sahabat Dinda saja, tanpa ada rasa. Jika berkata rasa, sebenarnya masih ada. Bahkan saat mendengar bahwa Dinda menikah pun, ada sedikit rasa patah hati, tapi melihat Dinda yang terlihat begitu bahagia, dia ikhlas.
“ Ayolah Din, lihat sebentar foto suami lu!”
“ Cari aja sendiri, di google juga ada fotonya.”
“ Yaelah pelit amat, gue juga nggak akan nikung kali. “
Dinda melongo mendengar ucapan Dion. “ Tentu saja tidak akan menikung, masak iya Lu doyan sesama sosis!?” ups Dinda segera menutup mulutnya karena
sudah keceplosan .
Dion tercengang dan geleng-geleng kepala mendengar Dinda yang perkataannya lebih vulgar dari sebelumnya.
“ Emang ya, kalau orang udah nikah itu, beda!” tandas Dion.
...****************...
__ADS_1