My Best Partner

My Best Partner
Bab 126


__ADS_3

" Non, Tuan Lean terus menelpon saya," ucap supir Nala.


" Tidak usah di angkat, Pak. Kalau bisa matikan saja ponselnya biar dia tidak bisa menghubungi," pungkas Nala.


" Terus kita mau ke mana, Non?" tanya sang supir yang tak tahu harus kemana.


Saat Nala menelponnya untuk datang menjemputnya lagi di rumah sakit, membuat sang supir menjadi bingung. Pasalnya, yang dia tahu bahwa nona mudanya itu mau pergi bersama suaminya.


Lalu, kenapa menelpon suruh di jemput lagi? Apakah mereka bertengkar?


Apalagi saat melihat Nala masuk ke dalam mobil dengan wajah sembab, membuat dia semakin bingung dan pemasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Ingin bertanya, takut tidak sopan.


Setelah capek berkeliling tanpa tujuan, akhirnya Nala memutuskan untuk pulang ke rumah saja. Soalnya, mau pergi ke rumah Oma Anita, takut di tanya macam-macam kenapa dia bisa datang ke sana sendiri? Mana suaminya,, sudah izin apa belum? Pasti akan banyak pertanyaan yang semakin membuatnya pusing harus menjawab apa, karena statusnya sekarang bukan lagi gadis singel lagi yang bisa seenaknya datang sendiri ke sana.


Mau ke hotel, mana bisa buka kamar orang nggak punya ktp. Masak iya, minta tolong ke supir. Mau menghubungi Anne, juga sama saja. Saat ini, dia belum siap untuk menjawab pertanyaan dari orang lain, ada apa dengan dirinya? Jadi, pilihannya tetap pulang ke rumah dan harus berani menghadapi Lean.


***


Di rumah, Lean terlihat sangat cemas sekali ketika belum juga mendapatkan kabar tentang kepergian istrinya. Untungnya, Papi Rian dan Mami Senja sedang pergi keluar kota sehingga tidak akan ada yang bertanya kenapa Lean mencari Nala.

__ADS_1


Tak lama kemudian, terdengar pintu rumah terbuka, membuat Lean segera melihat siapa yang datang. Saat melihat istrinya pulang, Lean segera berlari menghampiri Nala. Ketika Lean ingin memeluk, Nala spontan menghindar, membuat Lean jadi bingung.


" Bee, Kamu kenapa?" tanya Lean bingung.


" Aku capek, mau kembali ke kamar." Nala segera berlalu pergi meninggalkan Lean.


Dahi Lean berkerut saat melihat tingkah istrinya yang begitu aneh. Biasanya, jika Lean pulang dari kerja, Nala akan selalu menyambut kedatangannya dengan sebuah senyuman manis dan pelukan hangat, bukan bersikap dingin seperti itu.


Ada apa dengan Nala? Lalu, dari mana dia?


Tanpa berlama-lama, Lean segera pergi menyusul Nala ke kamar mereka. Sesampainya di kamar, terlihat Nala sedang duduk bersandar di ranjang.


" Stop!"


langkah Lean terhenti saat mendengar aba-aba stop dari Nala.


" Lebih baik kakak mandi yang bersih sana, bau wanita!" ketus Nala dengan wajah datar.


Lean mencoba mencium bau badannya, namun tak ada yang aneh, sama seperti biasanya.

__ADS_1


" Kamu kenapa, Bee? Apakah ada yang salah? Terus, kamu tadi habis dari mana, kenapa___"


Nala menutup matanya sebentar.


" Bukankah aku tadi menyuruh kakak untuk mandi, bukan mengomel!" tandas Nala.


Lean terperangah saat mendengar perkataan Nala yang sejak tadi terdengar ketus dan tidak sopan.


Apakah dia sedang PMS? Tapi, ini bukan jadwalnya, karena Nala baru selesai menstruasi sehari sebelum mereka menikah.


Lean memang melihat jadwal menstruasi Nala agar tahu kapan masa subur istrinya, karena dia sedang melakukan kb alami tanpa harus minum obat dan memakai pengaman. Masak iya, baru pertamakali sudah langsung pakai pengaman? Nggak asik dong!


Karena tak mau ribut, Lean lebih memilih untuk mandi. Nanti, setelah mandi baru dia akan bertanya secara baik-baik. Ada apa dengan istri kecilnya itu.


Saat melihat Lean sudah masuk ke dalam kamar mandi, Nala mengusap wajahnya kasar. Sebenarnya, dia juga tidak ingin berbicara kasar seperti ini. Tapi, saat mengingat kejadian tadi, hatinya kembali terasa sakit, dan emosinya juga tidak di kondisikan.


...****************...


Maaf baru update, soalnya ada pekerjaan lain

__ADS_1


__ADS_2