My Best Partner

My Best Partner
Bab 74


__ADS_3

Kini, kondisi tubuh Brian sudah jauh lebih baik. Saat dia sedang berjalan-jalan mencari udara segar, tanpa sengaja bertemu dengan seorang gadis yang tengah melukis. Gadis itu mengingatkan Brian kepada Anne. Tiba-tiba, dia sangat ingin mendengar kabar gadis itu. Brian mencari-cari nomor telepon Anne.


Brian : Selamat sore, Anne. Bagaimana kabarmu? "


Anne : Baik, kabar kakak ketiga sendiri gimana? Apakah sudah jauh lebih baik? Kenapa sudah lama sekali baru memberi kabar. Apakah Kakak sudah melupakan adikmu yang cantik ini?


Brian tersenyum ketika membaca pesan Anne. Dia masih tetap sama seperti dulu. Narsis, blak-blakan, tanpa ada rasa malu sedikitpun. Sejak Anne sering ikut mama Dira menjenguk Brian, mereka berdua memang semakin dekat.


Karena Mamanya sudah menganggap Brian seperti anaknya sendiri, maka Anne juga berusaha menganggap Brian seperti kedua kakaknya. Sejak saat itu, dia sering memanggil Brian dengan sebutan kakak ketiga.


Di mata Anne, Brian adalah kakak ketiganya. Namun, bagi Brian Anne bukan hanya sekedar adik, tapi juga wanita yang sudah membuat hidupnya penuh warna dan mempunyai semangat hidup kembali.


Brian : Puji Tuhan sudah jauh lebih baik. Sepertinya begitu, tapi aku tiba-tiba teringat padamu ketika melihat seorang gadis melukis.


" Dasar pria aneh! Kalau dia sudah lupa, kenapa masih menghubungiku?" gerutu Anne.


Anne : Oh, Kalau begitu tidak perlu lagi menghubungiku!


" Anne ... Kenapa kamu sungguh menggemaskan sekali! Ternyata kamu tidak pernah berubah, tetap gadis kecil yang moodnya cepat sekali berubah." Brian bermonolog seraya menatap layar ponselnya.


Brian : Astaga, Kenapa kamu pemarah sekali gadis kecil!


Anne : Biarin 😛😛😛


" Astaga Anne, hanya saling berkirim pesan denganmu saja sudah membuat aku tertawa bahagia. Aku jadi ingin segera bertemu denganmu. Aku merindukanmu langit cantikku!" gumam Brian seraya menatap foto Anne yang sudah menjadi wallpaper layar ponselnya.


Setelah itu, Brian menanyakan bagaimana kabar mama Dira dan anggota keluarga yang lain, serta bagaimana perkembangan lukisan Anne. Dia benar-benar berharap bisa melihat Anne memiliki pameran tunggal di waktu yang dekat, karena Brian tak tahu sampai kapan dia bisa bertahan hidup.


...☘️☘️☘️...


Ketika melihat Anne sudah pulang, Lean langsung menarik tangannya masuk kedalam kamarnya. Lean ingin mengintrogasi Anne tentang Nala. Dia benar-benar cukup terganggu dengan kejadian di rumah sakit.


" Kak pelan-pelan napa! Kalau tanganku putus gimana?!" protes Anne saat Lean menarik tangannya secara paksa.

__ADS_1


" Ya kalau putus, nanti di ganti dengan tangan palsu saja, beres!" ketus Lean.


" Ha? Enak aja tangan palsu. Nanti kalau ada yang menghina aku gara-gara aku pakai tangan palsu, gimana? Kakak tega, lihat adiknya nangis terus akibat di buli!" Anne mula men drama dengan wajah sedihnya.


" Sudah, nggak usah drama deh! Tanganmu juga tidak akan mudah putus hanya karena di tarik seperti tadi, "pungkas Lean yang sudah tak tahan dengan sikap Anne.


Anne sudah menyilangkan tangannya di depan dada ketika melihat wajah Lean yang terlihat seperti ingin berbicara sesuatu.


" Kakak mau bicara apa? Buruan, aku capek, ingin segera merebahkan tubuh di atas kasur empukku"


" Sore-sore nggak boleh tidur, nanti kena penyakit ayan, mau?!"


" Nauzubillahi min dzalik! Tega banget nyumpahin adiknya kena penyakit ayan, lagian aku itu hanya mau merebahkan badan, bukan mau tidur! "pungkas Anne.


" Bukan nyumpahin, hanya mengingatkan. Rebahan kalau keterusan juga jadi ketiduran. "


Ya beginilah jika bicara dengan Anne, harus ada drama kolosal terlebih dahulu. Tidak bisa to the poin, karena pasti ada saja bahan untuk mereka berdebat terlebih dahulu.


Lean hanya bisa menghembuskan nafas panjang, lalu menyuruh Anne duduk di sofa biar tidak capek berdiri terus. Setelah itu, Lean baru membuka pembicaraan. Dia langsung bertanya pada intinya, tanpa berbelit-belit seperti benang ruwet.


" Memangnya kenapa kakak masih bertanya lagi? Bukankah ucapan Nala tadi sudah cukup jelas, jangan-jangan telinga kakak kotorannya penuh lagi, makanya tidak bisa mendengar dengan jelas," ledek Anne.


Lean terbelalak ketika mendengar Anne yang meledeknya. " Anne jangan fitnah ya, telinga kakak bersih, cek aja kalau nggak percaya. " Lean mendekatkan telinganya agar Anne mau mengeceknya secara langsung bahwa telinganya itu bersih, namun Anne segera menjauh.


Padahal Anne hanya ingin menggoda kakaknya saja, tapi tumben tumbenan Lean menyikapinya serius. Biasanya dia akan membalas dengan candaan atau ejekan balik. Sepertinya kakak tengilnya ini memang sedang ingin berbicara serius tentang Nala.


" Iya ... Iya ... aku percaya. Tapi, apakah kakak beneran belum paham juga? Kalau Nala itu sedang men___ membantu kakak agar tidak terlihat jomblo di depan si pecel lele itu!" tukas Anne.


Hampir saja dia keceplosan kalau Nala sedang mengejar, pasti kak Lean akan ke ge-eran. Untung saja otaknya tidak loading saat seperti ini. Jadi, rencana yang baru saja dia susun tidak akan gagal.


" Memangnya kenapa kalau kakak terlihat jomblo di depan Lea? Dari dulu dia juga tahu kalau kakak singel karena menyukainya," lirih Lean ketika berada pada kata menyukainya.


" Bukankah kakak sedang patah hati karena dia? Sampai tidak pulang ke rumah dua hari. " kini Anne sudah tak lagi bisa menyimpan unek-uneknya dalam hati.

__ADS_1


" Anak kecil sok tau! Lagian siapa juga yang sedang patah hati, kakak baik-baik saja kok," elak Lean.


Tanpa basa basi, Anne langsung menyodorkan ponselnya dengan memperlihatkan sebuah foto di mana Lean sedang mempersiapkan lamaran untuk Lea. Tapi, Lea datang di saat Lean sudah pergi karena dia telat datang dua jam lebih di waktu sebenarnya.


Anne baru mendapatkan semua bukti foto dan vidio dari cctv hari ini. Anne memang masih berusia 17 tahun, dan tidak pandai dalam hal meretas cctv atau apapun. Tapi, dia punya orang yang pandai melakukannya.


Lean terkejut ketika mengetahui bahwa Anne dan Kean sudah tahu semuanya. Dia tahu kalau yang sudah berhasil meretas cctv itu adalah kakak kembarnya, karena tidak mungkin jika Anne meminta bantuan papa atau orang lain.


Jadi, Lea datang pada hari itu? Berarti dia tahu jika aku sedang menyiapkan lamaran untuknya. Tapi, kenapa dia justru membuat alasan palsu seakan tak datang ke sana?


" Kenapa kakak diam saja? Kakak kaget kalau Anne tahu semuanya?"


" Jadi___ Nala melakukan hal itu hanya untuk membantu kakak saja? Bukan untuk menjadi___"


"Tidak!" potong Anne sebelum Lean menyelesaikan ucapannya. "Nala tidak tahu soal foto dan vidio ini. Dia melakukan itu semua punya alasan sendiri, bukan karena hal ini," pungkasnya. Anne memang tidak memperlihatkan foto dan video itu pada Nala.


" Bolehkah kakak tahu apa alasannya?"


Anne mendekatkan wajahnya ke Lean seakan ingin memberitahunya, namun itu hanya tipuan saja.


" Itu___ RAHASIA! "tukas Anne,lalu bangun dari tempat duduknya.


Lean mencekal tangan Anne, " Anne, katakan! " Lean sungguh sangat penasaran jika Anne tidak memberitahunya bisa kepikiran terus dia.


Anne melepaskan tangan Lean yang mencekal tangannya." Jika kakak penasaran, cari tahu sendiri atau tanya Nala. Karena aku tidak akan bilang," tandas anne dengan menjulurkan lidahnya. Lalu pergi dari kamar Lean.


Dia merasa senang sekali karena sudah membuat kakaknya penasaran. Setidaknya itu akan membuat Lean mendekati Nala.


Kamu memang cantik dan pintar Anne. Pujinya dalam hati.


...****************...


Maaf telat upnya karena lagi PMS. Perut + pinggang sakit sekali.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya hang banyak ya biar author semangat.


Crazy up hari ini selesai, besok lagi.


__ADS_2