
Dasar Anne tukang keceplosan! Terus aku harus menjawab apa? Ya Allah, begini amat punya adik yang nggak bisa jaga rahasia! Gumam Lean dalam hati.
" Le, apakah kamu sudah punya calon? Siapa?" tanya Mama Dira penasaran.
Bukannya menjawab Lean justru menatap Anne dengan tatapan menghunus, sedangkan Anne memutar bola matanya jengah. Dia tak peduli mau di tatap tajam, penuh cinta, menghunus, atau yang lainnya oleh Lean, karena dia mengatakan yang sejujurnya.
Hehehehe
" Mama nggak usah percaya omongan Anne, dia itu hanya hoax," elak Lean.
Lean belum siap untuk cerita ke semua orang, karena dia sendiri saja belum terlalu yakin dengan jawaban dari setiap sholat istikharahnya yang bagaikan cerita pendek di masa depan. Lean akan cerita ketika dirinya sudah benar-benar siap dan yakin.
" Apa___"
" Anne!" bukan Lean yang memotong pembicaraan, melainkan kakak dinginnya dengan sorot mata menghunus. Anne sudah tidak berani berbicara jika tatapan Kean sudah seperti itu. Kakaknya itu diam, dan sayang padanya, tapi ketika sudah marah sangat menakutkan.
" Mama sama Papa doakan saja yang terbaik, biar Lean bisa segera menyusul. Sebelum dia berbicara ke kita, janganlah menanyakan soal pernikahan. Lean sendiri juga pasti sudah siap dan ingin segera menikah. Namun, jodoh setiap orang itu tidak sama. Ada yang cepat, ada yang sedikit terlambat, sekalipun kita kembar," jelas Kean.
Begitulah Kean, dingin, irit bicara, tapi ketika sudah berbicara bisa membuat semua orang bungkam.
Ini baru saudara kembarku, menolong di saat kondisi genting! Decak kagum Lean dalam hati sembari menatap penuh cinta dan ucapan terima kasih ke arah Kean, sedangkan Kean biasa saja.
Melihat dari sikap Lean yang mengelak, membuat Kean paham jika adik kembarnya itu belum siap untuk mengatakannya kepada seseorang. Mungkin saat ini dia sedang ikhtiar untuk mencari jawaban, karena Kean juga seperti itu sebelum akhirnya memberanikan untuk bercerita jujur.
Karena Kean sudah membantunya, Lean juga membalasnya dengan segera menghubungi salah satu perawat bagian resepsionis untuk mendaftarkan nama Kean dan Dinda dalam pemeriksaan Dokter kandungan.
" Jadwal Dokter kandungan wanita adanya sore, dan aku sudah membantu mendaftarkannya!" pungkas Lean seusai membantu mendaftarkan nama Kean dalam antrian.
" Terimakasih," ucap Dinda.
...☘️☘️☘️...
Saat masih sibuk mengerjakan pekerjaannya, tiba-tiba telepon di meja Dinda berbunyi, dan itu dari pihak resepsionis.
" Halo, Dinda ada seseorang yang ingin bertemu denganmu di lobi," ucap petugas resepsionis itu.
" Oh ya? Siapa?" tanya Dinda yang sedikit terkejut saat mendengar ada yang ingin bertemu dengannya. Karena setahunya, dia sedang tidak ada janji temu dengan siapapun.
" Saya juga kurang faham, tapi dia terus memaksa ingin bertemu kamu. Jadi, kamu temui saja dulu sebentar, ya. Siapa tahu penting."
__ADS_1
Setelah itu panggilan terputus, Dinda melihat jam yang melingkar di tangannya. Di karenakan siang ini Dinda sudah ada janji makan siang bersama Kean. Jadi, dia harus menemui orang itu terlebih dulu, sebelum jam makan siang tiba.
Dinda bangun dari tempat duduknya, lalu meminta izin pamit sebentar pada Aksa. Meskipun dia sudah menjadi istri Kean, ketika berada di kantor, Dinda tetap bawahan Aksa yang harus izin terlebih dahulu jika ingin pergi saat jam kerja.
" Boleh, tapi jangan lama-lama, nanti di cariin sama bos, " ujar Aksa yang di jawab anggukan kepala oleh Dinda.
Setelah itu, Dia segera pergi menuju lobi bawah untuk menemui orang itu. Saat melihat Dinda datang, seorang wanita paruh baya segera berjalan menghampiri Dinda dan langsung menamparnya dengan keras.
Dinda memegang pipinya yang terasa sakit akibat tamparan tiba-tiba, baru saja Dinda mau melihat siapa orang yang menamparnya, wanita itu sudah menjambak hijab Dinda sampai hampir terlepas, membuat dia meringis kesakitan.
Si resepsionis ingin membantu Dinda, namun ada beberapa wanita yang menghalanginya. Begitupun dengan scurity yang telah di halangi oleh dua bodyguard wanita itu. Sepertinya rencana mereka memang sudah di persiapkan dengan matang.
" Dasar pelakor! Berani-beraninya kamu merebut suamiku, huh!" teriak wanita itu membuat beberapa karyawan yang berlalu lalang tercengang. Mereka yang awalnya ingin membantu, langsung mengurungkan diri saat mendengar wanita paruh baya itu mengatakan bahwa Dinda adalah pelakor.
" Maksud ibu apa? "tanya Dinda yang masih memegangi rambutnya yang di tarik oleh wanita itu.
Kemudian, wanita itu mendorong tubuh Dinda sampai jatuh tersungkur di lantai, membuat Dinda memekik kesakitan. Perutnya seketika terasa kram, wanita masih belum puas, dan kembali menampar wajah Dinda berkali-kali lipat. Dia benar-benar totalitas dalam berakting agar semua orang percaya.
Dinda tidak bisa melawan karena rasa sakit perutnya semakin kuat.
Abang ... Tolongin aku, perutku sakit sekali .... Jerit dinda dalam hati seraya terus memegangi perutnya.
Mendengar ada keributan, ada beberapa karyawan yang penasaran dan ingin tahu apa yang terjadi.
Mendengar hal itu, banyak bisik-bisik para karyawan yang tidak menyangka bahwa asisten baru Direktur utama mereka adalah seorang pelakor.
" Pantes saja, baru beberapa hari kerja, penampilannya sudah sangat berubah! Branded semua, ternyata jadi simpanan suami orang to!"
" Sungguh, aku tidak menyangka, kirain wanita baik-baik yang sedang hijrah. Eh tahunya wanita nggak bener."
" Padahal dia masih anak kuliahan yang magang loh, kok sudah berani-beraninya membuat gaduh kantor ini! "
" Semoga saja, pria idamanku tidak tergoda dengan wanita itu, "
" Yaelah, tentu saja tidak. Pak Kean yang begitu dingin dengan wanita, mana mempan sama rayuan wanita murahan seperti itu! " sahut yang lainnya.
Dari sudut lobi, ada ketiga wanita yang tersenyum puas sembari terus merekam adegan tersebut.
Melihat banyak para karyawan yang berkumpul di waktu jam kerja, membuat Papa Ken mengerutkan keningnya.
__ADS_1
" Apa kalian tidak bekerja? Kenapa berkumpul di sini!?" tanya Papa Ken dengan penuh penegasan.
" Maaf Pak presdir," beberapa karyawan segera pergi dari sana ketika melihat ada presdir mereka.
Bola mata papa Ken membulat sempurna ketika melihat seorang wanita yang sangat dia kenal, tengah duduk di lantai dengan memegang perutnya.
" Dinda!" Papa Ken segera berlari menghampiri Dinda.
Ketika ingin menolong Dinda, tangan Papa Ken sudah di cekal lebih dulu oleh seorang wanita.
" Hei mau apa kamu?" Tidak usah sok jadi penolong buat wanita pelakor!" cerca wanita paruh baya itu yang masih mencekal tangan papa Ken.
Nino asisten Papi Ken segera melepaskan tangan wanita itu secara kasar.
" Siapa yang kamu bilang pelakor? "tanya Papa Ken dengan tatapan tajam, membuat bulu kuduk wanita itu berdiri. Sedangkan Nino segera mendekati Dinda.
" Pak Nino___"lirih Dinda sebelum pingsan.
Melihat Dinda yang pingsan serta darah segar mengalir di kaki Dinda, membuat Nino panik.
" Hei, siapa saja panggilkan Pak Kean. Katakan istrinya mengalami pendarahan!" Titah Nino dengan suara baritonnya.
Mendengar Nino mengatakan bahwa Dinda pendarahan, membuat papa Ken segera menggendong tubuh Dinda.
" Jangan lepaskan wanita itu!" titah Papa Ken sebelum pergi.
Sedangkan karyawan yang lainnya hanya bengong karena terkejut mendengar Nino mengatakan bahwa Dinda adalah istri Kean.
Melihat semuanya diam, tanpa aksi membuat nino ikut geram.
" Apakah kalian semua tuli, huh! Panggilkan Pak Kean! "bentak Nino yang seketika membuat sang resepsionis kelabakan dan segera menelpon ke ruangan Kean.
Merasa bahwa dirinya sedang dalam bahaya, membuat wanita paruh baya itu ingin melarikan diri, namun tangannya segera di cekal oleh Nino.
" Mau pergi ke mana kamu, huh?"
Ketika para pengawal wanita itu ingin menolong, semua scurity dan para karyawan pria membantu mengamankannya.
...****************...
__ADS_1