
Waktu terus berjalan, bumi juga ikut berputar pada porosnya. Siang dan malam silih berganti datang menghampiri. Kisah sedih, dan bahagia terus datang silih berganti.
Di sebuah apartemen, terlihat sepasang kekasih tengah menikmati waktu luang bersama.
" Bang....," panggil Dinda pada suami tercinta.
" Hm,"
" Kok cuek, sih?"
" Iya ada apa, Nda ...,"
" Kalau misalnya aku nggak kunjung hamil lagi gimana?"
" Berarti belum rezekinya, nikmati saja waktu-waktu saat masih berdua seperti ini. Anggap kita sedang pacaran dalam konteks halal," pungkas Kean seraya mengusap puncak kepala istrinya.
Dinda seketika mengubah posisi duduknya, menghadap pada sang suami. " Em ... Kalau gitu, kita keluar yuk? Katanya nikmati waktu pacaran. Tapi ___ aku pengen naik motor aja, ya ... ya ... " bujuk Dinda dengan menarik-narik lengan kekar suaminya.
" Emangnya nggak dingin, malam-malam naik motor?"
" Pakai jaket dong, biar kayak anak muda pacaran pada umumnya. "
Melihat wajah penuh harap dari istrinya, membuat Kean mengiyakan permintaan itu. Akhir - akhir ini, Dinda memang lebih sering sekali mengajak Kean pergi dengan menggunakan motor. Katanya lebih romantis, dan bosan juga naik mobil terus. Untungnya, motor sport miliknya masih ada terparkir di garasi Fabio dan kini sudah di bawa ke apartemen miliknya.
Ya begitulah hidup mereka berdua, masih belum menetap tinggalnya. Kadang di apartemen, kadang di kediaman bersama kedua orang tuanya.
Selesai bersiap-siap, mereka berdua segera turun ke tempat parkiran. Tak butuh waktu lama, motor sport hitam itu sudah melaju ke jalanan kota Jakarta.
__ADS_1
Dinda ingin mencoba kencan, di kulineran street food kota Jakarta. Tempat itu, memang cukup jauh dari apartemen mereka. Namun, setelah melihat surga makanan, maupun jajanan yang sangat menggiurkan, itu bisa di anggap setimpal lah.
" Masya Allah, surga makanan," ucap Dinda seraya menelan salivanya.
Begitulah Dinda yang memang pecinta kuliner, akan tergiur sekaligus bahagia ketika melihat makanan lezat. Bahkan, dia lebih memilih di ajak kulineran daripada shoping tas branded yang menurutnya tidak bisa membuat perut kenyang, tapi menghabiskan uang sangat banyak.
" Kamu bahagia?" tanya Kean yang segera di jawab anggukan kepala oleh Dinda.
Tanpa berlama-lama, Dinda segera menarik tangan Kean berjalan membeli makanan untuk menyenangkan cacing-cacing di dalam perutnya.
...☘️☘️☘️...
Di sebuh restoran yang cukup mewah, terlihat seorang pria dan wanita tengah menikmati Dinner mereka.
" Oom, sepertinya anda salah mengajak orang deh," cetus Nala ketika melihat tempat yang dia datangi adalah restoran di mana para pasangan sedang mengadakan dinner romantis mereka.
" Ya, coba Oom Al lihat," Nala memberi kode dengan ekor matanya agar Aldret melihat suasana di restoran itu. Aldert pun menurut untuk.melihatnya, tapi baginya tidak ada yang aneh.
" Aneh, kan? Apa kita pergi saja?"
" Tidak ada yang aneh sama sekali Normal seperti biasanya. "
" Apakah mata Oom mulai buram? " tanya Nala yang membuat Al mengerutkan keningnya.
" Mata saya masih normal, Oke! Jadi, tidak usah banyak bicara. Kamu pesan makanan saja," pungkas Al sembari membuka menu makanan.
" Kalau normal kenapa tidak bisa melihat bahwa semua yang datang di restoran ini adalah pasangan. Seharusnya Oom mengajak pacar, bukan mengajak keponakan," ketus Nala yang semakin merasa tidak nyaman berada di tempat ini. Karena matanya sudah ternodai dengan adegan-adegan romantis dari pasangan-pasangan itu.
__ADS_1
Sedangkan dia, hanya bisa gigit jari karena ke tempat ini bersama paman dinginnya.
" Saya tidak punya kekasih," jawab Al singkat. Tapi, Nala hanya diam, menundukkan wajahnya.
" Apakah kamu tidak nyaman berada di sini?" tanya Al lagi saat melihat wajah kusut Nala.
" Bukankah aku sudah bilang sejak tadi?" lirih Nala.
" Bukankah tempat ini bagus? Lalu, apa yang membuatmu merasa tidak nyaman?" tanya Al yang masih belum mengerti kenapa Nala tidak merasa nyaman. Padahal, kata bawahannya, tempat ini sangat rekomended jika ingin membawa pasangan karena suasananya sangat romantis.
Nala mendongakkan wajahnya.
" Tempat ini memang bagus jika datangnya bersama kekasih, sangat romantic, tapi menjadi tidak bagus jika datangnya sama Oom!" ketus Nala dengan wajah kesal.
Melihat Nala yang terlihat tidak suka karena datang bersamanya ke tempat ini, membuat Al merasa sakit hati.
" Apakah Oom terlalu tua untuk datang bersamamu ke tempat ini? "
Nala mengerutkan keningnya, dia semakin tidak mengerti dengan paman angkatnya ini. Kenapa dia bisa menjadi sensi seperti ini?
Kenapa Oom Al jadi kayak wanita yang sedang pms aja, sensitif!
" Nal, apakah kamu belum paham juga jika kita sedang di jodohkan?"
"Huh?"
...****************...
__ADS_1