
"Mandi?" seru mama Dira dan Sinta serentak. Lalu mereka berdua saling pandang karena melontarkan ucapan yang sama dan berbarengan .
"Iya, Ma. Kan sudah sore," jelas Dinda.
"Oh ... Mama lupa kalau ini sudah sore," ungkap Mama Dira yang salah paham dan menatap ke arah Sinta.
" Yasudah kalau begitu, ini pakaian buat kamu. Apa mau mama bantu taruh ke dalam sekalian?" tawar Mama Dira.
"Biar Dinda saja, Ma." Dinda mengambil paper bag yang ada di tangan Dira dan juga Sinta.
Setelah itu, mereka berdua segera pergi karena merasa canggung. Sedangkan Dinda membawa semua paper bag itu ke sofa.
"Kenapa banyak banget ya?" gumam Dinda yang mulai membuka satu persatu apa isi di dalam paper bag itu.
Di luar, Sinta dan Dira tertawa bersama karena pikiran mereka yang terlalu traveling.
"Sumpah! Kenapa otak kita begitu traveling ya," ujar Mama Dira.
"Ya lagian kalaupun habis ngapa-ngapain juga gapapa kali. Mereka kan sudah sah jadi suami istri," kata Sinta.
"Ya tapi... Kalau sekarang terlalu cepat, soalnya kamu juga lihat, kan? Mata Dinda aja masih bengkak seperti itu, masak iya Kean langsung menerkamnya!" ungkap Mama Dira.
"Kayak mangsa aja di terkam!"lontar Sinta.
" Tapi, ya Dir. Jujur aku tuh masih terkejut loh saat mendengar kamu bilang Kean yang mau nikah. "
" Oh ya? Memangnya kenapa?"
" Ya, kamu kan tahu. Kean itu seperti kutub utara yang sangat dingin, tidak mau berdekatan dengan wanita. Eh tiba-tiba menikah? Siapa coba yang nggak kaget. Awalnya aku malah mengira Lean yang bakalan nikah duluan, "jelas Sinta.
Selama ini, Sinta memang tahu betul bagaimana sikap Kean. Karena dia juga sangat dekat dengan keluarga Fabio.
Dira hanya tersenyum, karena dia sendiri juga kaget saat Kean izin mau menikah. Di tambah waktu lamaran kemarin, Kean sempat seperti di tolak oleh Dinda. Dan keesokan harinya, tiba-tiba Kean bilang mereka mau menikah hari ini. Untungnya Dira tak punya serangan jantung, kalau tidak entah bagaimana jadinya.
Mungkin ini yang di namakan Takdir, sesuatu yang terjadi tanpa disangka-sangka. Begitu juga dengan pribahasa kalau jodoh tak akan kemana, sepertinya kedua kalimat itu cocok untuk menggambarkan kisah Kean dan Dinda hari ini.
__ADS_1
...☘️☘️☘️...
Di dalam kamar mandi, terlihat seorang pria yang gelisah karena lupa membawa pakaian ganti ke kamar mandi. Kean terus mondar, mandir sambil berpikir bagaimana caranya dia keluar tanpa Dinda tahu.
Andai dia bisa melakukan teleportasi, pasti sudah dia lakukan, tapi itu hanya imajinasi saja.
"Ah, bisa masuk angin aku kalau terus berada di kamar mandi. Sepertinya tidak masalah keluar seperti ini, toh kita sudah suami istri yang sah, Kan?" Kean bermonolog. Jika biasanya seorang wanita yang malu, berbeda dengan Kean. Jujur, dia tak pernah bertelanjang dada seperti ini di depan orang lain.
Kean menghembuskan nafas panjang, lalu membuka pintu kamar mandi. Saat melihat Kean keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang dililitkan di atas pinggang, membuat Dinda tercengang.
Tubuh yang begitu bagus penuh dengan roti sobek itu, membuat Dinda hanya bisa menelan saliva nya dalam-dalam. Sungguh pemandangan yang sangat indah dan sayang jika di lewatkan.
Tuhan nikmat mana lagi yang bisa ku dustakan? Sungguh kau benar-benar baik padaku, karena memberikan suami sempurna layaknya aktor hollywood yang begitu sexy dan menggoda iman. Melihat tubuh suami sendiri, halal kan? Dinda bergumam sendiri dalam hatinya, tanpa berkedip.
Melihat Dinda yang terus memandangnya tanpa rasa malu, membuat Kean mengerutkan keningnya.
"Din," panggil Kean saat melihat Dinda hampir saja mengeluarkan air liurnya.
"Ah, iya." Dinda segera menelan air liurnya, dan kembali sadar dari lamunannya.
Melihat begitu banyak paper bag di depan Dinda, membuat Kean berjalan menghampirinya.
"Aunty Sinta?" ulang Dinda yang tak mengenal siapa orang itu.
"Iya, orang yang membawakan baju-baju ini bukankah aunty Sinta."
"Oh... Jadi, tante yang mencubit pipiku tadi namanya aunty Sinta,"gumam Dinda.
" Mencubit? Siapa yang mencubit mu? " Kini Kean sudah duduk di sofa depan Dinda. Ke kepoan Kean membuatnya lupa kalau saat ini dia masih belum berpakaian.
" Abang nggak ganti baju dulu, nanti masuk angin loh! " pungkas Dinda.
Kean melihat tubuhnya dan tersadar kalau dia ternyata belum memakai baju. Dengan refleks, Kean menutup tubuhnya dengan menyilang kan kedua tangannya.
Melihat Kean yang bersemu merah, membuat Dinda tersenyum
__ADS_1
" Abang malu? "goda Dinda.
Melihat Dinda yang tersenyum dan biasa-biasa saja, membuat Kean mengerutkan keningnya, lalu mencoba mendekati Dinda. Dia tatap bola mata itu, dan mencoba mencari tahu kenapa Dinda terlihat biasa saja ketika ada pria dewasa bertelanjang dada di depannya.
"Abang mau ngapain?" tanya Dinda saat Kean terus saja mendekatinya.
" Kamu kenapa tidak merasa malu, ketika melihat seorang pria dewasa bertelanjang dada?" selidik Kean.
Dinda mengerutkan keningnya. " Buat apa aku malu aku justru sering melihat__" Dinda menutup mulutnya yang hampir saja keceplosan kalau dia justru suka melihat tubuh sexy para aktor hollywood kesukaannya.
Dinda memang polos dalam soal cinta, dan hubungan yang lainnya. Tapi, dia tak polos soal drama yang mengandung keromantisan dan tubuh pria seksi. Dinda seperti para gadis muda pada umumnya, meskipun tak pernah pacaran karena selalu memiliki cinta sepihak. Tapi, Dinda termasuk pecinta drama korea yang sweet dan romantis. Jika aktor hollywood dia hanya suka bodynya yang sexy saja, ketika terlintas di beranda instagramnya .
"Kamus sering melihat apa?"
Dinda menggeleng dan masih menutup mulutnya rapat-rapat agar tidak keceplosan lagi.
"Jawab, atau___"
Dinda masih berpegang teguh untuk tidak mengatakannya. Dia takut kalau Kean akan mengira dia adalah wanita cabul yang matanya telah ternodai.
"Dinda ... tidak menjawab pertanyaan suami itu dosa!" Kean justru semakin mendekatkan wajahnya ke Dinda. Membuat dia membuka bekapan mulutnya, lalu mencoba mendorong tubuh Kean untuk menjauh.
Melihat Dinda mendorong tubuhnya, membuat Kean kesal dan justru menarik tubuh Dinda ke dalam dekapannya.
" Kamu kenapa justru dorong Abang?" tanya Kean dengan tatapan tajam. Dia sedikit kesal karena Dinda tak mau menjawab pertanyaannya, justru mendorong tubuhnya.
"Habisnya Abang__" Dinda tak melanjutkan ucapannya karena bibirnya telah di bekap oleh bibir Kean.
Melihat bibir ranum Dinda yang begitu menggoda, membuat Kean tak mampu menahan has*ratnya lagi. Apalagi merasakan betapa manisnya bibir itu, membuat Kean merasa candu dan terus ingin menyesapnya. Dinda yang juga merasakan hal yang sama, mulai mengalungkan tangannya ke leher Kean dan membalas ciuman itu. Di karenakan baru pertama kali ciuman, membuat mereka cepat sekali kehabisan nafas.
Nafas Kean dan Dinda tersengal-sengal saat ciuman mereka terlepas. Sengatan listrik dan hawa panas mulai menjalar ke tubuh mereka berdua.
"Maaf," ucap Kean setelah nafasnya mulai kembali normal
...****************...
__ADS_1
Ah... Jangan traveling yah.
Author udah kasih bonus. Jadi harus like, komen, vote, dan kasih hadiahnya yang banyak. 👌