My Best Partner

My Best Partner
Bab 57


__ADS_3

Tante Mirna mengajak Kean dan Dinda masuk ke dalam rumah agar mereka lebih nyaman ngobrolnya. Sebelum duduk, Kean memberikan oleh-oleh yang mereka beli di perjalanan menuju kos kosan Tante Mirna. 


"Astaga, kenapa harus repot-repot segala. Tapi, makasih loh oleh-olehnya, Tante terima." 


Setelah mendudukkan bokongnya di sofa, Kean perlahan membuka kaca mata hitam dan maskernya. Karena terlihat tidak sopan jika dia masih terus memakainya di dalam rumah. 


Ketika masker dan kaca mata hitam itu terbuka, Tante Mirna tercengang sampai tak berkedip sedikitpun. Bahkan air liurnya hampir jatuh menetes karena terpesona dengan ketampanan Kean. 


"Tante!" panggil Dinda ketika melihat air liur Tante Mirna hampir saja jatuh. 


Spontanitas   Tante Mirna menyeruput air liurnya kembali. Melihat wajah tampan Kean yang bagaikan aktor  hollywood, membuat Tante Mirna senyum-senyum sendiri. 



"What is your name?" tanya Tante Mirna dengan bahasa inggris yang sedikit medok. Dia mengira bahwa suami Dinda adalah bule karena melihat wajah dan bola mata  Kean yang berwarna abu kebiruan. 


Dinda menahan tawanya ketika mendengar Tante Mirna berbahasa inggris saat mengajak  Kean berbicara. Sedangkan Kean tetap dengan wajah datarnya yang tanpa ekspresi. 


"Nama saya Kean, Tante," jawab Kean. 


Mendengar Nada bicara Kean yang terlihat sangat fasih, membuat Tante Mirna merasa canggung. Dia mengira bahwa Kean tak bisa berbahasa Indonesia, tapi ternyata dia sangat fasih. Tentu saja fasih karena dia asli orang Indonesia. 


" Kamu ternyata fasih juga bahasa Indonesianya, Tante kira tadi tidak bisa, Karena wajah kamu terlihat seperti bule." 


"Saya asli orang Indonesia, Tan bukan bule." 


"Oh, ya?" Tante Mirna terkejut sekaligus canggung karena salah menebak lagi. 


Tapi, Kean sudah biasa saja jika ada yang mengira dia adalah orang bule. Karena wajahnya memang dominan terlihat seperti orang barat, bukan orang lokal. Lagi pula, itu semua juga karena gen dari papanya yang tak terlihat seperti orang Indonesia. Padahal, dia keturunan blasteran bukan pure orang barat sepenuhnya.


Melihat Tante Mirna yang terlihat canggung, membuat Dinda jadi tak enak hati. 


"Biasa aja, Tan. Lagipula bukan hanya Tante saja kok yang berbicara seperti itu. Wajah suamiku memang tidak seperti pria lokal, jadi wajar kalau Tante salfok (salah fokus)." 


Dinda mengatakan hal seperti itu bukan hanya sekedar menenangkan Tante Mirna agar tidak canggung. Melainkan mengatakan apa adanya, andai Kean bukanlah bossnya. Dinda juga akan mengira bahwa suami perfectnya itu adalah orang bule. 


" Jadi, kamu seriusan orang Indonesia?" tanya Tante Mirna untuk memastikan lagi. 


Kean hanya menjawab dengan anggukan kepala. 

__ADS_1


"Punya om, saudara atau siapa yang single atau duda yang gantengnya seperti kamu nggak?" cerocos Tante Mirna yang sudah tak lagi canggung. 


Melihat Dinda yang biasa saja, bisa mendapatkan pria berparas bule yang begitu tampan. Membuat Tante Mirna juga ingin dihangatkan dengan pria seperti Kean, apalagi dia sering mendengar bahwa kekuatan pria bule itu di atas rata-rata. Membuat Tante Mirna membayangkan yang tidak-tidak saja. 


Kean menatap ke arah Dinda, dia bingung harus menjawab apa. 


"Kalaupun ada juga memangnya mau sama Tante yang kalau ngomong kayak toa?" ledek Dinda. 


Tatapan Tante Mirna tiba-tiba begitu tajam dan menghunus. Dia tak terima dengan perkataan Dinda seakan menjelekkannya di depan Kean. Andai dia bisa mendapatkan suami baru yang seperti Kean, suara toanya pasti akan dikurangi. 


" Bercanda Tan, jangan dianggap serius!" imbuh Dinda ketika melihat tatapan Tante Mirna yang begitu mematikan.


" Walaupun bercanda jangan begitu juga, dong. Itu namanya mematikan pasaran!" ketus Tante Mirna. 


Dinda hanya bisa manggut-manggut dan menahan tawa agar tak semakin melebar ke mana-mana. 


Setelah itu, Dinda pamit ke kamarnya untuk Mengemasi barang-barangnya. Awalnya Kean ingin ikut, tapi Tante Mirna melarang. Karena peraturan di kos ini, tidak boleh ada pria masuk ke kawasan  kamar cewek-cewek. 


Dengan berat hati, Kean tetap duduk di ruang tamu bersama Tante Mirna. Ketika Dinda beranjak pergi, Kean seakan tak mau melepaskan genggaman tangannya. Dia takut di godain sama tante-tante. Entah kenapa Kean paling takut berduaan saja dengan Tante-tante girang. Jika wanita muda, Kean masih mudah menyingkirkannya. Tapi, kalau sudah Tante-tante,  janda kesepian atau ibu-ibu genit, dia menyerah dan mohon ampun. 


Mau bersikap kasar takut dibilang tidak punya sopan santun. Diam saja, dia juga risih karena mereka sudah bagaikan siput yang lengket dan sulit dilepaskan. 


Melihat tatapan Kean seperti anak kucing yang tak mau ditinggal oleh ibunya. Membuat Dinda merasa gemas dan ingin mengabadikan wajah Kean seperti ini. Dia terlihat sangat menggemaskan sekali. Dinda mengelus pipi Kean agar dia mau di tinggal. 


" Tante, awas jangan macam-macam loh ya! Ini suami Dinda."


"Nggak janji!"goda Tante Mirna. 


" Tante ..., "gerutu Dinda dengan wajah kesalnya. 


" Iya, iya. Kamu tenang saja! Walaupun suami orang itu lebih menantang dan menggiurkan, tapi Tante bukan wanita yang suka godain laki orang!"tandas Tante Mirna.


Pada dasarnya, Tante Mirna memang paling benci dengan wanita model begitu. Di balik sikapnya yang seperti itu, Tante Mirna adalah wanita elegan dan tahu batasan, karena dia juga jadi janda karena seorang pelakor. Jadi, tak mungkin dia akan menjadi wanita seperti itu.


Dinda tersenyum, lalu pergi meninggalkan Kean dan Tante Mirna. 


Wajah datar Kean, terlihat begitu tegang saat hanya berduaan bersama Tante Mirna di ruang tamu. 


" Santai saja Kean, Tante tidak akan memakan mu kok. Wajahmu terlihat dingin dan datar, tapi kenapa begitu tegang saat berduaan dengan janda cantik dan bahenol seperti ini?" goda Tante Mirna untuk mencairkan suasana.

__ADS_1


" Saya tidak tegang kok  Tante," elak Kean. Sebenarnya bukan tegang, melainkan punya pengalaman tak mengenakkan! gumam Kean dalam hati. 


" Apa Kamu punya pengalaman tak mengenakkan?" tebak Tante Mirna. 


Kean mengerutkan keningnya, dia sedikit terkejut ketika mendengar ucapan Tante Mirna yang seakan bisa membaca pikirannya. 


" Kamu tenang saja, saya tidak seperti wanita yang membuatmu trauma! " lanjutnya ketika melihat Kean diam saja.


Kean masih diam saja, dia jadi merasa tak enak dengan Tante Mirna. Kelihatannya dia merasa tersinggung. 


"Titip jaga Dinda, ya!" ucap Tante Mirna seusai diam beberapa menit. 


" Meskipun dia hanya tinggal sebentar di sini. Tapi, Tante sudah sedikit tahu bagaimana sifatnya. Dia itu bukan anak yang biasa mengerjakan pekerjaan rumah, ceroboh, dan di banguninnya juga sulit. Jadi kamu harus extra sabar ketika menjadi suaminya." 


"Iya, Tan." 


Dinda yang mendengar ucapan Tante Mirna seperti itu, merasa terenyuh. Di balik sikapnya yang suka teriak-teriak, marah-marah, dan menghukum seperti ibu tiri. Ternyata hatinya juga lembut. Dinda keluar dan berjalan menghampiri Tante Mirna, lalu memeluknya. 


Melihat Dinda yang tiba-tiba memeluknya seperti ini, membuat Tante Mirna sedikit terkejut. 


"Kamu kenapa sih, Din? Tiba-tiba kok meluk kek gini!" ucap Tante Mirna seraya melepaskan pelukannya.


Tapi, Dinda justru semakin mengeratkan pelukannya. Tante Mirna itu sudah seperti ibu kedua bagi Dinda karena sifatnya sama seperti almarhum ibunya. Suka marah, teriak-teriak, tapi hatinya juga lembut dan baik. 


" Makasih ya, Tan. Sudah mau mengizinkan Dinda tinggal di sini selama beberapa hari. Bahkan banyak pelajaran yang Dinda dapat di sini." 


"Ah …  iya sama-sama. Kamu jangan seperti ini, nanti Tante sedih. Kalau sampai Tante nangis dan terlihat jelek gimana? Malu dong, di lihat brondong tampan."


" Tante ...," ujar Dinda dengan wajah manyunnya.


" Sudah, Kamu harus jadi istri yang baik. Jangan malas-malasan seperti sebelumnya. Semoga rumah tangga kamu bisa langgeng dan bahagia selalu. Jadi seorang istri harus bisa berpenampilan cantik seperti ini biar suami tak tergoda wanita di luar. Kalau masih ada pelakor yang datang, kamu harus siapkan pedang yang sangat tajam! Jangan mau kalah sama pelakor, apalagi punya suami setampan ini___ harus pinter-pinter menjaganya!" nasehat Tante Mirna.


" Siap, Tan. Akan Dinda selalu ingat nasehatnya. Kalau suamiku sampai berani selingkuh, ku potong juniornya! " canda Dinda.


Tante Mirna dan Dinda tertawa bersama, sedangkan Kean menelan ludah kasar dan memegang juniornya. Meskipun Kean tak akan selingkuh, mendengar junior yang akan di potong, membuat Kean ikut membayangkannya. Dia tak pernah mengira bahwa istrinya bisa berkata vulgar dan sadis seperti itu.


...****************...


Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya ya...

__ADS_1


__ADS_2