My Best Partner

My Best Partner
bab 64


__ADS_3

Selesai sarapan bersama, Kean dan Dinda pamit pergi ke kantor duluan. Ketika berada di dalam mobil, Dinda hanya diam tanpa kata.


“ Kamu kenapa, Nda?”


“ Gapapa,kok!” jawab Dinda singkat .


Kean sedikit melirik ke Dinda lewat ekor matanya, terlihat jelas kalua istrinya itu sedang kesal. Kean hanya bisa menghembuskan nafas Panjang, Dinda mungkin kesal  soal dirinya yang tak memberikan kelonggaran untuk pergi honeymoon.


“ Kamu masih kesal karena Abang tidak menyetujui usulan dari papa?”tebak Kean.


Dinda hanya diam.


“ Abang hanya tidak mau memanipulasi nilai dan tugas kuliah kamu saja. Peraturan  awal tetap berlaku sampai kamu selesai magang.”


Mendengar ucapan Kean , membuat Dinda semakin merasa kesal. Tangannya sudah di lipat di depan dada, bibirnya mengerucut, serta tatapannya menatap ke arah jendela.


Dasar! Kalau mode bos dingin dan kejamnya keluar, sangat mengesalkan! Gerutu Dinda dalam hati.


Kean mencoba menahan senyumnya, ketika melihat Dinda semakin merasa kesal. Tiba-tiba ide tengilnya muncul.


“ Ah, padahal niatnya mau  liburan di akhir pekan, tapi nggak jadi soalnya ada yang ngambek!” Kean mencoba memancing Dinda, dia ingin tahu bagaimana reaksinya ketika mendengar kalau Kean sebenarnya ingin mengajak liburan.


Ya, sebenarnya Kean juga mempunyai sedikit sifat tengil, hanya saja sifat dingin dan cueknya lebih dominan. Sehingga hanya orang-orang terdekat


saja yang tahu  sifat  Kean itu.


Liburan? Ini beneran atau hanya lelucon abang saja? Batin Dinda.


Melihat Dinda yang diam saja, tanpa reaksi membuat Kean mengeluarkan jurus pamungkas.


“ Yasudah deh, gagalkan saja boking villanya!” lanjut Kean. Lalu, dia memakai headset seperti sedang mau menelfon.


“ Halo, selamat pagi kak. Saya mau___”


Ucapan Kean terhenti ketika Dinda tiba-tiba melepaskan headset Kean. Kemudian, Dinda terdiam tatkala tak ada suara sedikitpun di headset itu.


“ Abang ..!!! Teriak Dinda dengan nada kesal.


Sedangkan Kean hanya bisa tertawa lepas karena berhasil menjahili istrinya itu. Melihat Kean yang tertawa, membuat darah Dinda semakin mendidih.


Kebetulan mobil mereka sedang berhenti di lampu merah dekat kantor PT Fabio Grup. Setidaknya , Dinda tidak akan capek kalau harus keluar dari mobil dan jalan kaki menuju kantor.


Toh, sebelumnya Dinda juga minta di turunkan lebih


dahulu agar tak ada yang tahu kalau mereka berangkat bersama ke kantor. Karena Dinda

__ADS_1


masih kekeh ingin merahasiakan pernikahan mereka sampai masa magangnya selesai.


Tanpa banyak kata, Dinda segera melepaskan seat bealtnya,. lalu keluar dari mobil. Melihat hal itu, Kean panik dan ikut keluar dari mobil. Namun, lampu hijau sudah menyala sehingga mau tidak mau, Kean harus kembali masuk ke dalam mobil karena banyak sudah banyak mobil yang membunyikan klakson.


Dengan perasaan kesal,Dinda berjalan menuju kantor Fabio dengan jalan kaki. Kali ini, dia benar-benar kesal dengan Kean.


Kean menghentikan mobilnya di lobi depan kantor PT Fabio grup dan menyuruh scurity yang memarkirkannya. Ingin rasanya Kean berlari menghampiri Dinda, tapi banyak karyawan yang sedang lalu lalang menyapanya. Membuat Kean harus memperlihatkan sikap dingin, dan wibawa seperti biasanya.


Awas saja kamu, ya … akan ku beri perhitungan nanti karena sudah berani meninggalkan suami tanpa izin! Gumam Kean dalam hati dengan


tatapan tajam.


Sesampainya di meja kerjanya, Aksa menyambut kedatangan Dinda.


“ Selamat pagi Nyonya,” sapa Aksa.


Dinda mengerutkan keningnya ketika mendengar Aksa memanggilnya dengan sebutan Nyonya. Sepertinya Aksa sudah tahu kalua Dinda sekarang


adalah istri Kean. Meskipun tidak hadir saat acara akad dadakan, pasti Kean sudah memberitahunya.


“ Pagi juga pak Aksa, tapi panggil saja Dinda seperti biasanya, ya. Tidak perlu pakai nyonya,” tegas Dinda. Dia memang merasa tidak nyaman ketika mendengar Aksa memanggilnya dengan sebutan Nyonya. Meskipun sekarang dia memang istri bos. Jika ada karyawan lain yang mendengar, bukankah percuma saja dia menutupi pernikahannya?


“ Tapi__”


Aksa hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena bingung antara mengikuti perintah Dinda atau tidak. Sebenarnya bukan hanya


bingung, dia juga masih terkejut dan tak habis pikir ketika mendengar kabar kalau Kean dan Dinda sudah menikah. Pasalnya mereka tak terlihat seperti orang yang saling cinta atau memliki hubungan khusus.


Jika Dinda yang tertarik pada Kean itu wajar saja, tapi kalau Kean yang mencintai Dinda itu___ ibaratkan sesuatu yang mustahil tapi nyata


terjadi.  Bosnya itu memang misterius dan


sulit di tebak apa isi hati dan pikirannya. Namun, selama ini banyak  kolega wanita yang tertarik padanya saja selalu di tolak. Lah, Dinda___


Tapi, kalau di perhatikan lagi. Dinda juga memang tidak jelek sih, apalagi penampilan Dinda yang sekarang, membuatnya semakin terlihat sangat cantik dan anggun. Seperti batu kerikil yang


berubah menjadi batu permata.


“ Apa mau saya buat buta matamu Aksa!” sungut Kean saat. melihat Aksa memandangi istrinya tanpa berkedip.


 Aksa terkejut saat melihat Kean sudah berdiri tepat di depannya dengan raut wajah menyeramkan.


“ Ti-dak Bos,” jawab Aksa dengan gagap.


“ Selamat pagi, Bos”lanjut Aksa yang lupa menyambut kedatangan Kean.

__ADS_1


“ Kalau saya lihat kamu menatap istri saya seperti itu lagi, saya donorkan mata kamu!” ancam Kean dengan penuh keseriusan.


Aksa hanya bisa menelan salivanya kasar ketika mendengar ancaman dari Kean yang terdengar serius.


Sepertinya, bos memang mencintai Dinda. Buktinya dia cemburu saat  melihatku menatap


istrinya, ternyata si bos posesif juga jika menjadi suami. Gumam Aksa dalam hati.


“ Dinda masuk ke ruangan saya!” titah Kean, namun tak ada tanggapan dari Dinda.


Kean menengok ke arah Dinda yang masih sibuk berkutik dengan keyboard komputernya. Hal itu membuat Kean semakin merasa kesal, karena melihat Dinda tak mau mendengarkan perintahnya. Berhubung di lantai ini hanya ada mereka bertiga,


tanpa berpikir panjang Kean menarik kursi Dinda lalu menggendong tubuhnya ala bridal


style menuju ke ruangannya.


Aksa hanya bisa melongo dan geleng-geleng kepala melihat sikap Kean yang tak seperti biasanya.


 Apakah mereka sedang bertengkar? Ah, masak sih? Bukannya pengantin baru itu biasnya masih sweet dan romantis, ya. Masak sudah bertengkar?" Aksa berargumen sendiri.


Dinda mencoba memberontak, namun Kean tak memperdulikannya.


“ Abang turunin!” gerutu Dinda yang tak di hiraukan Kean.


Kemudian, Kean menjatuhkan tubuh Dinda ke sofa, karena Dinda terus memberontak dan tak mau diam. Untung saja sofanya empuk jadi tidak terlalu sakit. Di saat Dinda ingin bangun dari duduknya, Kean sudah mengunci tubuh Dinda agar tak


bisa ke mana-mana.


“ Pak Keane yang terhormat, tolong minggir. Nanti kalau adakaryawan yang datang, lalu melihatnya bagaimana?” Dinda mencoba mencari alasan. Padahal. dia tahu, kalau tidak akan ada karyawan yang bisa masuk tanpa persetujuan dari Kean.


“ Tinggal bilang saja kalau kamu istriku! Beres, kan!”


pungkas Kean dengan santainya.


Dinda hanya bisa melongo ketika mendengar jawab dari Kean. Dia. tak habis pikir kalau Kean akan berbicara seperti itu, seakan dia tak peduli sama sekali jika ada yang melihat mereka dalam posisi seperti ini. Akhirnya Dinda memilih mengalah daripada buang energi dan tenaga menghadapi Kean yang sudah tak meu mengalah.


“ Gitu dong jadi istri itu harus patuh!”


Dinda mengalihkan pandangannya, karena dia tak mau menatap wajah Kean.


...****************...


Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya ya..


Tembus 50 komentar dan 100 like dalam waktu dua jam akan author kasih bonus up.

__ADS_1


__ADS_2