My Best Partner

My Best Partner
Bab 44


__ADS_3

"Ada pakaian dalam juga, nggak?" Karena malu Dinda langsung mengatup wajahnya rapat-rapat. Begitupun dengan Kean yang wajahnya langsung memerah saat mendengar Dinda mengatakan pakaian dalam.


Setelah cukup lama hening, Dinda mulai membuka jari-jari tangannya untuk mengintip apa yang terjadi sampai membuat suaminya ikut hening. Dan ternyata netra mereka saling beradu, membuat Dinda menutup kembali wajahnya. 


Sedangkan Kean  mencoba membuka wajah Dinda yang tertutup. Saat Kean berhasil, Dinda justru menutup matanya rapat-rapat.


"Kenapa di tutup? Kamu malu?"


Dinda mengangguk, membuat Kean tersenyum melihatnya.


"Nggak usah malu, nyium abang aja kamu nggak malu. Masak hanya___"


"Abang ...," Dinda kembali memukul Kean saat melihat dia kembali menjahilinya. Ingatan sebelumnya terlintas kembali di mana Dinda refleks mencium pipi pria itu setelah mendapatkan perhatian yang berbeda.


"Din, cukup!" Kean menghentikan aksi Dinda. "Kenapa kamu suka kdrt sama suami sendiri, sih?"


"Apaan yang kdrt? Itu hanya ungkapan rasa kesal karena abang sudah menggoda Dinda! Lagian aku baru tahu kalau seorang Keane ternyaa suka menggoda," cetus Dinda.


Kean tersenyum, entah kenapa dia memang selalu ingin menggoda Dinda untuk mengalihkan kesedihannya. Mungkin juga bisa di katakan kalau Kean merasa nyaman dengan wanita yang saat ini sudah sah menjadi istrinya. Karena biasanya Kean tak pernah bersikap seperti ini, kecuali dengan Anne.


Saat mereka masih beradegan romantis , tiba-tiba ponsel Kean berbunyi, membuat dia bangun dari duduknya untuk mengangkat panggilan itu. Ternyata dari Aksa yang membicarakan tentang pekerjaan.


Melihat Kean masih sibuk menelpon, membuat Dinda merapikan alat sholat mereka, mengingat Kean adalah pria yang sangat rapi. Sambil menunggu Kean menelpon, Dinda duduk di sofa dan main game dari ponselnya. Selesai teleponan dengan Aksa, Kean segera menghampiri istrinya.


"Lagi ngapain?" tanya Kean yang sudah duduk di samping Dinda.


"Main game," jawab Dinda tanpa menoleh ke arah Kean.


" Apakah seru?" Kean mendekatkan wajahnya untuk melihat game apa yang di mainkan oleh Dinda. Saat Dinda menoleh, bibirnya kembali mencium pipi Kean yang ternyata ada di sampingnya.


Merasakan Dinda mencium pipinya kembali membuat Kean menoleh, dan membuat jarak wajah mereka begitu dekat sampai hembusan nafas Dinda saja terasa di kulitnya.


Jantung Dinda kembali berdetak begitu kencang saat melihat jarak mereka yang begitu dekat seperti ini. Hembusan hawa panas mulai menerpa tubuh keduanya. Melihat bibir ranum Dinda yang sedikit terbuka, membuat jakun Kean naik turun. Karena takut khilaf, Kean langsung memundurkan tubuhnya, membuat suasana antara mereka menjadi sedikit canggung.


"Abang mau telfon seseorang dulu." Kean beranjak bangun dari duduknya untuk mengurangi rasa canggung.


Dinda langsung mencakup wajahnya yang memerah dan panas itu. "Sumpah! Itu tadi dekat banget, tapi kenapa tidak terjadi sesuatu seperti di drama-drama? Apakah Abang tak mempunyai has*rat denganku?"


Sebenarnya bukan tak punya, tapi Kean mencoba menahannya. Dia ingin hubungannya bersama Dinda step by step, mengingat mereka menikah secara dadakan dan dalam kondisi yang seperti ini. Di tambah, Kean juga belum berpengalaman soal seperti ini.


Kean mencoba menelpon seseorang untuk membawakan beberapa baju buat Dinda. Ketika ingat Dinda juga mengatakan butuh pakaian dalam, membuat pipi Kean memerah kembali.


"Halo Kean, ukuran dalaman istrimu berapa?" tanya seseorang di ujung telepon.

__ADS_1


"Sebentar Tan."


Kean berjalan menghampiri Dinda, lalu memberikan ponsel itu kepadanya. Kean mengatakan kalau Dinda bilang saja berapa ukurannya agar di bawakan sekalian. Kebetulan, butik teman papanya itu dekat dengan toko penjual dalaman wanita sehingga bisa sekalian titip di belikan.


Selesai berbicara, Dinda memberikan ponselnya kepada Kean lagi.


"Sudah selesai?"


Dinda mengangguk.


"Bang," panggil Dinda.


"Iya, ada apa?"


"Makasih ya," ucap Dinda dengan tersenyum.


"Sama-sama."


...☘️☘️☘️...


Di tempat lain, setelah panggilan telepon dari Kean di matikan. Sinta segera mengemas beberapa pakaian untuk Dinda. Mengingat Dira juga memesan pakaian untuk di pakai Dinda pas akad juga kepada Sinta. Jadi memudahkan dia untuk mencari ukuran baju buat Dinda. Setelah semuanya siap, Sinta pergi ke toko sebelahnya, membatu membelikan dalaman untuk Dinda.


Saat berada di toko itu, tiba-tiba Sinta menyeringai tipis saat melihat lingerie yang begitu seksi.


"Sepertinya aku kasih kado pernikahan ini saja. Biar hubungan mereka semakin lengket, toh tadi juga belum ada pakaian tidur, kan? Jadi, lebih baik ini saja. Biar Ken dan Dira segera menimang cucu!" gumam Sinta yang kemudian memanggil pramuniaga di toko itu untuk memberikan beberapa set lingerie.


Setelah menempuh perjalanan sekitar 25 menit, Sinta sampai juga di kediaman Fabio. Kedatangannya di sambut hangat oleh Dira yang sudah sibuk menyiapkan keperluan untuk acara pengajian yang sebentar lagi di laksanakan.


"Akhirnya kamu ke sini, juga!" ucap Dira setelah mereka berdua selesai berpelukan dan cipika cipiki.


"Iya, maaf tadi aku masih sibuk. Lagian ya, kalian itu seneng banget ngabarinnya mendadak. Jadi, aku ya tidak ada persiapan."


Dira tersenyum. "Jangankan kamu, aku saja yang mamanya kaget! Karena memang ini sangat dadakan sekali."


"Tapi, ya ... ternyata itu benar-benar keinginan terakhirnya sebelum meninggal. Aku turut bebela sungkawa," ujar Sinta.


Sinta memang tahu tentang cerita ini dari pegawainya yang mengurus pakaian Dinda. Jadi, saat mendengar berita kalau ibu sang mempelai wanita langsung meninggal saat doa ijab qabul selesai, membuatnya merinding dan ikut merasakan bagaimana sedihnya.


Dira mengangguk. Dia juga bersyukur karena masih bisa mengabulkan keinginan bu Nada untuk terakhir kalinya.


"Oh ya, si pengantin baru di mana?" tanya Sinta saat tak melihat ada Kean.


"Di kamarnya. Oh, ya ini kenapa kamu bawa banyak sekali paper bag?" tanya Dira yang baru menyadari kalau Sinta membawa banyak sekali paper bag.

__ADS_1


"Itu, tadi Kean telepon, minta tolong untuk mengantarkan pakaian buat istrinya."


"Astagfirullah, aku sampai lupa kalau menantuku tak bawa apa-apa pas datang ke sini. Makasih banyak loh ya, jadi ngerepotin."


"Tenang, kayak sama siapa saja! Lagian aku juga berniat mau datang ke sini kok. Sekalian bawain hadiah buat pengantin baru," ujar Sinta.


Dira mengerutkan keningnya saat melihat seringai licik dari Sinta. Dia tahu kalau ada udang di dalam rempeyek. Lalu mama Dira bertanya apa yang sedang dia rencanakan, dan Sinta pun berbisik pada Dira. Membuat Dira terkejut sampai memukul Sinta.


"Santai chin ... ," seru Sinta.


"Kamu seriusan?" Dira mencoba untuk memastikan kembali kalau apa yang dia dengar itu benar, dan Sinta mengangguk tanpa dosa. Membuat Dira geleng-geleng kepala.


Setelah itu, Sinta meminta Dira menemaninya pergi ke kamar Kean sambil membantu membawakan barang-barangnya. Sesampainya di kamar Kean, Dira mengetuk pintu pelan.


Tak perlu menunggu lama, pintu pun sudah terbuka. Memperlihatkan Dinda yang hanya memakai kaos Kean yang kebesaran di tubuhnya.


"Mama," sapa Dinda saat melihat mamanya yang datang.


Dira dan Sinta masih terdiam sambil memperhatikan penampilan Dinda yang begitu menggemaskan bagi mereka. Apalagi Dira tahu kalau Kean itu tipe orang yang tidak suka barang miliknya di pinjam, tapi dia meminjamkan pakaian kepada Dinda? Ini sungguh bagaikan gunung es yang mulai mencair. Ternyata mereka tidak salah menyetujui Kean menikah dengan Dinda.


"Ma," panggil Dinda lagi saat melihat ibu mertuanya hanya diam saja.


Mendengar Dinda memanggilnya lagi, membuat lamunan Dira dan sinta buyar.


"Eh iya, ada apa, Din?"


"Loh, kok mama yang justru tanya ada apa?" Dinda jadi ikut bingung saat melihat Ibu mertuanya yang terlihat bingung.


"Kamu istrinya Kean?" giliran Sinta yang bertanya.


Dinda mengangguk,. membuat Sinta tersenyum


"Pantes saja si kutub utara langsung mau nikahin! Ternyata kamu menggemaskan begini." Sinta mencubit pipi Dinda karena merasa sangat gemas.


Melihat wanita asing ini mencubit gemas pipinya, membuat Dinda sedikit terkejut.


"Kean mana, Din?" tanya mama Dira.


"Oh, lagi mandi, Ma."


"Mandi?" seru mama Dira dan Sinta serentak. Lalu mereka berdua saling pandang karena melontarkan ucapan yang sama dan berbarengan .


...****************...

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya ya..


Maaf belum bisa crazy up karena kondisi tubuh sedang tidak vit. In sya Allah kalau ada kelebihan imajinasi author akan crazy up😁


__ADS_2