
Melihat Anne yang tertawa terbahak-bahak membuat Nala mengerucutkan bibirnya.
"Anne sudah, kamu tuh ya tega banget jadi sahabat. Ada temennya patah hati malah asyik ketawa sendiri!" gerutu Nala.
Anne menghentikan tawanya saat melihat wajah Nala yang begitu kesal.
"Iya, Maaf. Lagian aku tahu kok kamu nggak mau sama kak Lean karena Sabrina juga, kan?"
Nala mengangguk. Sabrina juga menjadi salah satu alasan kenapa Nala tak mau berurusan hati dengan Lean. Dia tahu bagaimana Sabrina sangat menyukai Lean, bahkan dia berani memproklamirkan secara terang-terangan, tidak seperti dirinya yang hanya cinta dalam diam.
" Tapi ya Nal, Aku bersyukur banget karena kamu nggak jadi kakak ipar ku!" lanjut Anne.
Nala mengerutkan keningnya ketika mendengar ucapan Anne.
"Kenapa?"
" Misalnya nih, ya kalau kalian berdua beneran jadi kakak ipar ku bukankah kalian akan menindasku dengan lebel kakak ipar?" canda Anne yang langsung mendapatan jitakan dari Nala.
" Au, sakit tau!"gerutu Anne sambil mengelus keningnya.
" Habisnya kalau ngomong seenaknya aja!"
" Bercanda kali! "sungut Anne.
" Membicarakan Sabrina jadi kangen sama dia, bagaimana ya kabarnya anak itu di luar Negeri? "
Anne hanya menaikkan bahunya, karena dia juga tak tahu bagaimana kabar Sabrina sekarang. Sejak pindah ke Los Angeles mereka sudah jarang berkomunikasi karena perbedaan zona waktu yang cukup banyak.
" Tapi, kira-kira Sabrina bakalan seperti aku apa nggak, ya?"
" Maksud kamu patah hati?" tebak Anne.
Nala mengangguk.
" Bisa Iya, bisa tidak. Tapi, dari penglihatan aku selama ini, Kak Lean juga tidak pernah baper sama Sabrina. Kamu juga tahu pertama, kita beda agama, kedua Kak Lean menganggap kalau kalian itu seperti adik sendiri. Ya seperti kak Kean, dia tidak pernah menganggap kamu itu sebagai wanita yang akan dia sukai, melainkan seorang adik. "
" Makanya, selama ini kan aku selalu bilang ke kalian untuk jangan terlalu berharap dengan kedua kakakku itu. Umur kita terpaut jauh say ... "
Nala hanya manggut-manggut. Selama ini, Anne memang sering mengatakan hal itu kepada meraka. Bukan karena dia tak ingin sahabatnya menjadi kakak ipar, melainkan Anne tidak mau mereka patah hati jika tak berjodoh. Kalau soal cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu, kalau tak berjodoh? Sekeras apapun berjuang, juga akan sulit untuk bisa bersama.
Kenapa sulit? Karena jodoh masih bisa di ubah, tergantung usaha kita kepada Allah. Namun, jika sudah berjuang sekuat tenaga, tapi tetap tak berjodoh. Mungkin, ada jodoh yang jauh lebih baik dari Allah daripada orang itu.
...☘️☘️☘️...
Selesai sholat isya, Kean menyuruh Dinda untuk segera meminum obatnya agar dia cepat sembuh. Namun, Dinda menolak karena Dinda paling tidak bisa yang namanya minum obat.
__ADS_1
" Cepat minum obatnya," ujar Kean dengan menengadahkan tangannya yang terdapat sebutir obat.
Dengan wajah cemberut, Dinda mengambil obat itu, lalu meminumnya.
"Pinter," Kean mengusap kepala Dinda seperti anak kecil yang berhasil minum obat.
Setelah itu, Dinda segera naik ke atas ranjang, menarik selimut dan tidur membelakangi Kean. Dia merasa kesal dengan Kean yang dominan, tapi tak romantis. Dinda mengira Kean akan bersikap seperti adegan di drama china yang dia tonton. Jika tak bisa minum obat, akan di bantu meminumnya lewat mulut.
Ah ... Punya suami dingin janganlah membayangkan adegan romantis seperti itu Dinda. Adegan seperti itu hanya ada di dalam drama saja! Jadi, sudah cukup ngehalunya, Dinda berdecak sendiri dalam hati.
Ketika melihat Dinda yang seperti sedang ngambek, membuat Kean hanya geleng-geleng kepala. Ternyata menghadapi istri yang masih labil, harus ekstra sabar.
"Tidur memunggungi suami itu dosa, loh!"
Melihat tetap tak ada pergerakan dari Dinda, membuat Kean terpaksa harus mengalah dan melawan egonya agar permasalahannya tidak semakin panjang. Masak baru sehari menikah sudah perang dingin?
Kean naik ke atas kasur dan membaringkan tubuhnya di belakang Dinda serta melingkarkan tangannya memeluk perut Dinda. Melihat hal itu, membuat Dinda tersenyum tipis, tapi dia mau jual mahal sebentar dengan mencoba memindahkan tangan Kean. Tapi, Kean justru semakin memeluknya dengan erat, membuat Dinda merasa menang.
"Cepat tidur, jangan gerak-gerak terus. Nanti takut ada yang bangun kan susah jadinya!"
Dinda tak menghiraukan ucapan Kean, dia justru membalik tubuhnya menjadi memeluk Kean.
"Kamu sudah nggak marah?" tanya Kean saat melihat Dinda yang berubah posisi memeluknya.
Dinda menatap Kean dengan tersenyum. Sebenarnya dia tidak marah, hanya ingin mengetes bagaimana reaksi Kean jika dia ngambek.
"Abang ... kok di tarik?" gerutu Dinda sambil memegang hidungnya.
"Biar tambah mancung sedikit!" candanya.
Dinda mengerucutkan bibirnya saat mendengar Kean secara tidak langsung sedang menghinanya kalau dia itu pesek.
Melihat Dinda yang mengerucutkan bibirnya, memicu hasrat Kean ingin menciumnya. Tapi, dia tahan, karena takut kebablasan.
" Sudah tidur!" Kean mencoba memejamkan matanya. Tapi, Dinda justru menatap Kean, bukannya tidur.
Mereka memang sama-sama polos, dan baru saling mengenal satu sama lain. Tapi, mereka berdua berusaha untuk menciptakan rumah tangga yang harmonis. Jadi, tak ada kata tidur berbeda tempat, atau yang lainnya.
Dinda masih terdiam, sambil mantap wajah tampan suaminya yang tak ada cacat sama sekali. Justru sangat sempurna baginya, sampai tak pernah ada bayangan sedikitpun kalau dia bisa memiliki suami setampan ini.
Jari telunjuk Dinda mulai meraba seakan menggambarkan bentuk wajah Kean dengan alis tebal, hidung mancung, bibir merah alami karena Kean tak pernah merokok serta kulit putih. Lalu tiba-tiba sepasang bola mata dengan warna abu-abu yang sedikit kebiruan itu terbuka.
"Kenapa bangun?" tanya Dinda tanpa dosa.
"Bagaimana Abang bisa tidur jika kamu terus meraba wajah abang, hu?"
__ADS_1
Dinda tersenyum. "Habisnya, Dinda sangat kagum dengan ketampanan suamiku ini!"
Blush
Wajah Kean memerah saat mendengar pujian dari Dinda seakan banyak kupu-kupu yang sedang menggelitik di perutnya. Padahal dia sering mendengar ucapan itu, tapi entah kenapa mendengar Dinda yang memujinya, membuat Kean tersipu malu.
"Kamu juga cantik."
"Oh ya? Bukankah aku pesek?" sarkasnya.
"Cantik itu tidak harus mancung! Abang lebih suka cantik dari hati."
"Tapi aku tidak keduanya."
"Kean menjitak kening Dinda pelan, membuat Dinda merasa kesal.
" Jangan pernah insecure, atau merendahkan diri sendiri. Kamu punya sisi cantik tersendiri. "
" Oh, ya. Apa itu? "
" Rahasia! Nanti kalau abang bilang, kamu akan melayang tinggi! "
" Abang ...," rengek Dinda
" Sudah, ayo tidur. Biar besok nggak kesiangan bangunnya. "
" Ini juga belum terlalu malam, Dinda belum mengantuk! Apa Abang biasanya tidur jam segini? "
Kean menggeleng karena biasanya Dia masih bekerja jam segini. Kean akan tidur sekitar jam 10 malam jika tidak sibuk dan insomnia, kalau sibuk akan lebih dari itu.
Karena belum ada yang mengantuk. Kean memutuskan bangun dari tidurnya, lalu duduk bersandar di kepala dipan, begitupun dengan Dinda. Seperti tadi siang, Dinda duduk sambil memeluk tubuh Kean. Memeluk Kean seakan menjadi candu bagi Dinda.
"Apakah memeluk abang senyaman itu, sampai tak mau lepas?"goda Kean saat melihat istrinya yang begitu agresif.
Dinda mengangguk.
"Abang sendiri juga tahu kalau Dinda tidak pernah mendapatkan pelukan hangat dari seorang ayah. Jadi, ketika mendapatkan perhatian, dan kasih sayang dari Abang, membuat Dinda langsung merasa sangat nyaman."
Wanita seperti Dinda memang akan mudah tergantung pada seseorang yang bisa membuatnya merasa nyaman.
Kean mengelus lembut pucuk kepala Dinda. Mendengar cerita Dinda membuat Kean terenyuh. Apa yang di katakan bu Nada benar, Dinda memang terlihat kuat di luar, tapi kenyataannya dia rapuh. Di dalam.
Sebenarnya sifat tomboi Dinda juga hanya untuk membuat dia seakan tak peduli dengan penampilan cantik layaknya wanita pada umumnya, sekaligus menutupi kerapuhan dan kelemahannya. Karena sejak kecil, dia sudah di tuntut menjadi anak yang kuat. Tapi, sejak bersama Kean, dia seakan merasa punya pelindung dan tempat curhat.
...****************...
__ADS_1
Maaf ya baru update karena lagi kurang vit.