My Best Partner

My Best Partner
Bab 84


__ADS_3

Selesai bercerita banyak hal dengan Dion, Dinda pamit pulang. Awalnya Dion menawarkan untuk mengantar Dinda pulang, namun dia menolak. Dinda selalu ingat pesan Kean untuk menjaga marwahnya sebagai seorang istri. Dia tak ingin terjadi salah paham jika di antar pulang oleh laki-laki yang bukan muhrimnya.


" Selain berubah penampilan, ternyata Lu juga lebih agamis ya, Din?" ujar Dion.


" Ya, bagaimana lagi. Gue hanya ingin belajar menjadi istri saleha saja, dan menjaga ketentraman rumah tangga gue."


" Sepertinya Dinda si tomboi sudah bucin akut, deh!" ledek Dion dengan menahan tawa.


" Gimana nggak bucin coba punya suami bagaikan pangeran yang limited edition! Sudahlah, jomblo kayak kamu nggak akan mengerti!, " timpal Dinda yang justru meledek Dion balik.


" Ya ... Ya ... Terserah lu aja deh! Ngomong sama orang yang udah bucin akut emang ... hanya bikin iri saja!"


Hahahaha


Dinda tertawa melihat sahabatnya itu pasrah.


" Makanya, jangan jadi jomblo. Biar nggak iri sama keharmonisan orang lain. Yasudah, gue balik dulu! Udah kangen sama suami tercinta!" Dinda memang sengaja memanas-manasi Dion karena dia dulu juga seperti itu biar Dinda cemburu. Terus mau menerima cintanya, tapi bukannya cemburu, Dinda justru cuek saja karena dia memang tidak ada perasaan sama Dion. Bagi Dinda, Dion hanya di anggap sebagai sahabat, tidak lebih ataupun kurang, sedang sedang saja.


Melihat taksi online yang dia pesan sudah datang, membuat Dinda segera masuk ke dalam mobil. Sebelum mobil pergi, Dion menitipkan pesan kepada sang supir.


"Pak, anterin temen saya sampai tujuan dengan selamat ya. Jangan sampai lecet sedikitpun, kalau sampai lecet bapak bisa di penggal sama suaminya!"


"Dion!" seru Dinda.


" Sudah pak, kita jalan saja. Jangan dengarkan ucapan pria gila yang kesepian itu!" sarkas Dinda.


Kemudian, mobil yang di tumpangi Dinda pun melaju ke jalanan. Dion masih saja menatap ke arah mobil Dinda yang sudah menjauh.


Kini, dia harus benar-benar mengubur rasa cinta itu. Karena hati wanita yang dia cintai sudah sepenuhnya menjadi milik orang lain.


" Semoga kamu bahagia terus, ya Din." Dion bermonolog, lalu menghembuskan nafas beratnya.

__ADS_1


...☘️☘️☘️...


Sesampainya di rumah, Nala segera merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan menatap langit-langit kamarnya. Ucapan Lean terus saja menari dalam pikirannya.


Apakah dia benar-benar sudah menyukai Lean? Bukan hanya sekedar melaksanakan sebuah nazar ataupun tantangan untuk menjadi Dokter cinta?


Jika iya, apakah dia siap menikah muda? Benar, sejak merasakan hidup dengan Ibu yang menjadi seorang Dokter sukses sampai lalai mengurus keluarganya. Impian Nala untuk menjadi Dokter telah pupus.


Dia tidak ingin, kelak anaknya merasakan apa yang dia rasakan. Sehingga membuat Nala berpikir... Jika suatu saat dia menikah dan menjadi seorang ibu, Nala tidak ingin menjadi istri yang berkarir di luar rumah. Dia ingin menjadi istri dan Ibu yang bisa mengurus keluarganya, tapi apakah iya dia sudah siap menikah muda?


Nala menutup matanya sejenak untuk merilekskan pikirannya. Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar dadi luar.


"Nal, apa kamu di dalam sayang?" panggil mami Senja dari balik pintu.


" Iya, Mi. Masuk aja, kamarnya tidak di kunci," ujar Nala yang malas bangun dadi tempat tidur.


Tak lama kemudian, pintu kamarnya terbuka. Memperlihatkan seorang wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik. Meskipun sudah hampir kepala empat, Senja memang masih terlihat sangat cantik dan jauh lebih muda dari usianya. Karena dia memang tipe wanita yang suka merawat diri.


" Gimana ujiannya? Apakah lancar?" tanya Mami senja yang sudah duduk di tepi ranjang putrinya.


"Mi," panggil Nala.


"Iya sayang, kenapa?"


" Mi, nikah mudah itu enak nggak sih?"


Mami senja mengerutkan keningnya, ketika mendengar Nala bertanya soal nikah muda. Karena Nala tipe anak pendiam yang hanya suka berbicara tentang ilmu kedokteran atau pelajaran baru yang dia dapat. Bahkan, sampai usia 16 tahun, Nala tak pernah membahas soal pria.


"Kenapa Nala tiba-tiba bertanya soal itu?"


" Gapapa, hanya ingin bertanya."

__ADS_1


" Apakah Putri mami ini sedang jatuh cinta?" goda Senja karena usia seperti Nala ini sudah usia di mana mengerti cinta. Walaupun kadang hanya cinta monyet atau cinta masa sekolah.


" En-nggak kok! "jawab Nala sedikit gugup.


Mami senja tersenyum ketika melihat Nala yang terlihat gugup.


" Kalaupun iya, juga gapapa. Asalkan tahu batasan mana yang boleh di lakukan dan tidak. Usia seperti kamu ini, usia di mana masih menggebu-gebu ketika jatuh cinta. Padahal hanya cinta monyet, tapi jika sampai salah pergaulan akan bisa merusak masa depan."


" Tapi, Mami yakin kalau putri Mami ini tahu mana yang boleh di lakukan dan mana yang tidak boleh. Jangan sampai terjerumus pergaulan bebas. "


" Mi ... Kenapa tadi mami bilang cinta monyet? Apakah monyet juga bisa jatuh cinta? "tanya Nala dengan polosnya.


Meskipun sudah membaca artikel tentang bagaimana menggaet pria, dan sikap - sikap pria ketika sudah jatuh cinta. Tapi, Nala memang tidak mengerti kenapa orang bisa mengatakan cinta di usia remaja itu di sebut cinta monyet.


Apakah cintanya seperti monyet, dan kenapa harus monyet? Kan masih banyak hewan yang lebih lucu daripada monyet. Karena perasaan cinta itu memang lucu dan aneh.


Senja tertawa ketika mendengar pertanyaan polos dari putrinya ini.


" Kenapa di maksud dengan cinta monyet, karena rasa cintanya memang seperti monyet yang suka berpindah dari satu pohon ke pohon yang lain, rasa cinta ini juga mudah berpindah hati atau bisa dibilang sementara."


"Dalam perasaan cinta monyet seseorang dapat dengan mudah merubah perasaan seiring berjalannya waktu. Hal ini biasa di sebut dengan sifat yang labil, tapi cinta monyet juga bisa berbahaya jika salah di artikan," jelas Mami senja untuk memberikan penjelasan kepada putrinya.


Terkadang, kita sebagai orang tua memang harus memberikan edukasi seperti ini kepada anak yang sudah remaja. Karena anak remaja itu masih mudah terpengaruh, dia masih belum bisa berpikir panjang jika tidak di berikan pengertian. Makanya banyak anak masih remaja sudah hamil duluan. Mungkin itu terjadi karena kurang adanya edukasi dari orang tua.


Nala kemudian terdiam dan berpikir lagi. Apakah cintaku kepada kak Kean sebelumnya juga di katakan cinta monyet? Karena aku dengan mudahnya bisa melupakan rasa itu, dan sekarang justru punya perasaan aneh dengan kak Lean.


" Mi, selain cinta monyet ada cinta apa lagi?" tanya Nala yang mulai penasaran.


" Ada cinta pada pandangan pertama, dan juga Cinta sejati mungkin!" jawab Mami Senja asal.


" Cinta sejati? Apakah cinta seperti mami dan papi?" tebak Nala.

__ADS_1


" Bisa dikatakan seperti itu, tapi Nal kenapa kamu tiba-tiba bertanya soal cinta? Jujur sama Mami, apakah kamu sedang jatuh cinta? Terus sama siapa? "tanya Mami Senja yang juga ikut kepo.


...****************...


__ADS_2